Dendam Cinta Sang Kapten

Dendam Cinta Sang Kapten
Perdebatan Antar Kekasih


__ADS_3

Baru saja Arjuna bersiap untuk keluar dan menyambar kunci motor hendak mencari keberadaan Chery, Tores datang dengan mengendarai motor sambil berteriak-teriak,


"Kapten,,,Komandan,,,Tuan,,,!" teriaknya tak beraturan memanggil Arjuna serampangan.


"Tolong,,, tolong dia dulu!" Tores menghentikan laju motornya yang berjalan sangat lambat itu, tangannya menunjuk ke arah punggungnya.


Arjuna tersentak, Cheri bersandar lemah di punggung Tores, pinggangnya dan pinggang Tores di ikat dengan tali agar gadis yang sedang tak sadarkan diri itu tak jatuh saat Tores memboncengnya, entah bagai mana cara Tores melakukan itu, yang jelas nyatanya dia berhasil membawa gadis yang di lihatnya pingsan di pinggir jalan itu ke rumah dinas Arjuna, karena itu tempat terdekat dari lokasi.


Motor Tores di penuhi kantung plastik besar belanjaan yang menggantung di depan, sementara di punggungnya seorang wanita cantik bersandar memejamkan mata.


Sejak subuh tadi Tores berangkat dari kota untuk kembali ke desa karena ingat di rumah dinas sudah tak ada lagi persediaan makanan untuk Arjuna, dia menggunakan jalan alternatif lain melewati hutan karena jembatan yang putus.


"Chery!" cicit Arjuna langsung berhambur menghampiri punggung Tores dan membuka ikatan yang menyatukan pinggang kedua orang itu, Tores terlihat sangat kesusahan dengan banyaknya belanjaan yang di bawanya.


"Anda mengenalnya, Ndan?" Tanya Tores.


Namun Tores tak mendapatkan jawaban apapun, karena Arjuna langsung menggendong tubuh kurus Chery ke dalam, Arjuna yang selalu tenang dalam berbagai kondisi itu terlihat sedikit panik, bagaimana pun, ada campur tangan dirinya yang menyebabkan Chery seperti ini, gadis itu pergi akibat kata-kata pedas yang keluar dari mulutnya.


Apakah dia sedang merasakan sebuah penyesalan? Arjuna menggelengkan kepalanya, tentu saja batinnya menolak jika kepalanya berpikiran kalau dirinya merasa bersalah dan sedang merasa menyesal.


Tidak, tidak! Tentu saja ini bukan salah ku, ini salahnya sendiri yang sok tau dan sombong, dia bisa memohon pada ku untuk di antar pulang, tapi nyatanya dia terlalu sombong karena tak melakukan itu dan memilih keluar dari rumah untuk berjalan sendirian.


"Izin masuk, Ndan." Kepala Tores muncul dari balik pintu kamar Arjuna yang terbuka sambil mengangkat dan menunjukan obat di tangannya.


Entah alasan dan pertimbangan apa yang membuat Arjuna akhirnya memutuskan untuk membaringkan Chery di tempat tidurnya, pikirannya tiba-tiba kosong saat mengangkat tubuh lemas Chery, sehingga dia sepertinya tak sadar telah membawa seorang gadis ke atas ranjangnya.


"Dia belum sadar, sebaiknya kau siapkan kompres untuknya, dan tolong bilang ke kantor kalau aku tidak bisa masuk kerja hari ini." Titah Arjuna, matanya bahkan terus saja terpaku pada wajah Chery yang pucat, saat dia berbicara pada ajudannya itu.


Punggung tangannya terasa terbakar saat di tempelkan di kening gadis itu, sepertinya dia mengalami demam tinggi.


"Gadis bodoh, kenapa kau malah pergi kalau merasa badan mu tak enak, merepotkan saja!" gerutunya.

__ADS_1


"Ndan, anda mengenalnya?" Tores mengulangi pertanyaannya yang tadi belum sempat di jawab oleh Arjuna.


Namun Arjuna menggeleng, "Tidak!"


"Maaf sudah membuat anda menjadi repot, saya hanya tak tega melihatnya pingsan di pinggir jalan, dan saya tak punya pilihan lain selain membawanya ke sini, karena hanya rumah ini yang paling dekat dari lokasi." Tores merasa tidak enak karena mendengar gerutuan Arjuna tadi yang mengatakan kalau gadis itu merepotkannya.


"Karena saya yang sudah membawanya ke sini, biar saya yang merawatnya sampai dia siuman dan saya akan membawanya ke klinik di kota." Sambung Tores lagi merasa tak enak hati.


"Terserahlah!" jawab Arjuna acuh tak acuh.


Dia lantas memposisikan diri duduk di kursi yang berada di kamarnya, lantas berpura-pura membaca laporan-laporan pekerjaannya, namun beberapa kali matanya mencuri pandang ke arah Tores yang sedang mempersiapkan handuk kecil untuk mengompres Chery.


"Tunggu!" cegah Arjuna saat Tores hendak menempelkan handuk itu di dahi Chery.


Arjuna mengambil handuk kecil itu dan menciumnya.


"Itu bersih Ndan, dua hari lalu saya baru mencucinya, wangi, kan?" ujar Tores polos.


"Jangan pakai itu," larang Arjuna dingin.


Tores menerimanya dan mengganti handuk kecil miliknya dengan saputangan milik Arjuna, dia mencium handuk kecil miliknya, dia merasa tidak ada yang salah dengan handuk miliknya itu, bersih dan wangi, pikirnya. Namun bagaimana pun Arjuna atasannya, dia harus patuh dan tunduk padanya, apalagi mengingat pangkat Arjuna yang jauh di atas dirinya, kapan lagi melayani seorang Kapten yang namanya cukup di kenal di dunia kepolisian karena prestasi-prestasinya yang mengagumkan, di kalangan para polisi, Arjuna begitu terkenal atas kemapuannya yang di atas rata-rata itu, bahkan polisi pelosok seperti Tores saja mengidolakan sosok Arjuna.


Tak heran jika karirnya sangat cemerlang, hanya saja entah petinggi mana yang telah dia usik, sehingga tiba-tiba saja dia di buang ke pulau terpencil seperti itu.Bukan rahasia umum jika anggota yang tidak sejalan dengan para atasannya akan di buang ke tempat-tempat yang berkonflik sebagai hukuman, tapi untuk kasus Arjuna sepertinya tak ada anggota lain yang tau kesalahan apa yang di lakukannya, bahkan Arjuna sendiri pun tak tau apa kesalahannya, dia hanya menjalankan semua ini atas nama tugas negara, tanpa ada pikiran buruk apapun.


"Tak usah banyak berasumsi, cepat bikinkan sarapan, kau sudah belanja bahan makanan, bukan?" kata Arjuna yang mulai merasa lapar, karena dia belum sempat sarapan sejak tadi.


Sore hari Mata Chery terbuka, matanya beberapa kali mengerjap karena menyesuaikan dengan cahaya lampu kamar yang sudah di nyalakan karena langit mulai gelap sore ini, sementara Arjuna masih mengerjakan laporannya di kamar yang sama, lantas Tores sedang menyiapkan makanan untuk makan malam.


"Dion, aku haus," leguhan Chery yang mencari-cari sosok Dion mengalihkan konsentrasi Arjuna, mungkin dalam pikiran gadis itu dia tengah berada di apartemennya.


Secara spontan Arjuna menyingkirkan tumpukan map di pangkuannya dan menyimpannya ke meja, dia segera mendekat ke arah Chery.

__ADS_1


Arjuna menyodorkan sebotol air mineral ke hadapan Chery tanpa berkata apapun, sebenci apapun dia pada gadis itu, tak mungkin dia akan menindas gadis yang sedang demam, dia masih seorang pria sejati.


"Kau, kenapa kau ada di kamar ku? Kau menyelinap ke kamar ku?" bentak Chery yang sepertinya masih merasa linglung.


"Nona, sepertinya kau harus benar-benar membuka mata mu dulu sebelum mengatakan sesuatu yang konyol!" Meski tak berniat menindas Chery, namun Arjuna belum bisa merubah nada sinisnya saat berbicara pada gadis itu.


Chery melihat sekeliling ruangan yang terasa asing, dan itu benar-benar bukan kamarnya, apakah dia masih berada di rumah perwira tak berhati itu? Karena seingatnya dia sudah pergi jauh sekali tadi, dan sepertinya tadi dia pingsan.


"Cih, apa kau merasa bersalah sudah mengusir ku dan akhirnya kau membawa ku kemari saat aku tak sadarkan diri?" tuduh Chery lagi, rasa kesalnya atas sikap Arjuna semalam kembali terngiang-ngiang di kepalanya, bagaimana dia di bentak, di remehkan, membuatnya merasa sangat kesal dan benci setengah mati pada sosok tampan itu.


"Nona, yang pertama, aku tak mengusirmu, kau yang memutuskan untuk meninggalkan rumah ini, dan yang kedua, aku tak membawa mu kembali kesini, jangan terlalu besar kepala," sangkal Arjuna.


"Tapi bagaimana mungkin aku tiba-tiba berada kembali di sini kalau bukan kau yang---"


"Maaf nona, saya yang membawa anda kembali kesini." Suara Tores menginterupsi perdebatan antara Chery dan Arjuna, dia berdiri menegang di ambang pintu kamar memperhatikan perdebatan sengit antara atasannya dengan seorang gadis yang katanya tak di kenalnya, tapi dari interaksi dan obrolan mereka sepertinya mereka mengenal satu sama lain.


Tadi saat Tores sedang memasak di dapur, tiba-tiba dia mendengar suara orang sedang berdebat, rumah itu tak terlalu besar, sehingga meski obrolan itu terjadi di kamar Arjuna, Tores yang sedang berada di dapur masih bisa mendengarnya meski samar-samar, dia lantas memeriksa ke sana, dan benar saja atasannya itu sedang terlibat adu argumen dengan seorang gadis yang kini dia simpulkan sebagai kekasih Arjuna namun mereka bertengkar semalam, kira-kira begitu pikiran Tores berasumsi dan mengambil kesimpulan dari perdebatan mereka yang dia tangkap.


Tores mengingat-ingat lagi, betapa paniknya wajah atasannya itu saat menggendong gadis itu turun dari motor, dan betapa posesiv nya Arjuna yang tak mengizinkan Chery di kompres menggunakan handuk kecil miliknya, ilmu cocoklogi Tores berjalan di kepalanya dengan sangat liar.


"Saya menemukan anda tergeletak di pinggir jalan, dan saya membawa anda ke sini," sambung Tores lagi.


Arjuna menatap penuh intimidasi ke arah Chery, tatapannya seakan mengatakan kalau gadis itu telah menuduhnya sembarangan.


Merasa malu, Chery tidak bisa menahan diri untuk tidak


menundukan kepalanya dan mengakui kebodohannya kali ini.


"Jangan menggigit tangan orang yang memberi mu makan, kau sudah menuduh ku dengan seenaknya!" ketus Arjuna tak terima dan semakin membuat Chery merasa bersalah.


"Silahkan selesaikan masalah anda berdua, kalau sudah selesai, makanan sudah siap di meja makan. Tak baik bermusuhan lama-lama, sesungguhnya anda berdua sungguh serasi." Ucap Tores seraya menutup pintu kamar atasannya, memberi Arjuna ruang untuk berbicara dengan Chery, dia tak ingin terlibat pertengkaran antar kekasih, pikirnya.

__ADS_1


"Hmmm,, perdebatan antar kekasih memang selalu rumit, seolah saling benci tapi sebenarnya saling menghawatirkan satu sama lain." Cicit Tores pelan, namun kedua orang di dalam kamar itu masih bisa mendengarnya.


Sementara Arjuna dan Chery hanya bisa saling pandang dan ternganga mendengar ucapan Tores barusan.


__ADS_2