
Aroma harum masakan menyelusup masuk ke dalam indra penciuman Chery yang kali ini bisa tertidur dengan lelapnya karena obat yang biasa dia minum sudah di dapatkannya kembali semalam dari tangan Arjuna.
Kadang Chery berpikir kalau semua itu tak masuk di akal, bagaimana bisa para bandit itu mengembalikan baju-bajunya, ponsel, bahkan obatnya, bukankah mereka terlalu baik hati untuk di sebut bandit? Tapi Chery juga tak mau mempermasalahkan hal itu, yang penting baginya dia tidur dengan lelap dan memakai pakaian miliknya sendiri, dia takut jika berlama-lama mengenakan pakaian Arjuna di setiap harinya, karena hal itu akan membuat dirinya merasa terbiasa dan semakin nyaman.
Sangat sulit untuk mengelak dari pesona pria tampan nan gagah seperti Arjuna, 'bullsh*t' jika dirinya sebagai wanita normal tidak tertarik atau paling tidak mengangumi sosok pria idaman setiap wanita itu, terlebih mereka tinggal satu atap dan Chery pernah merasakan bibir lembut Arjuna yang sampai sekarang sepertinya menjadi ciuman termanis sepanjang hidupnya, membuat dia gagal move on dari kejadian tak sengaja itu.
"Sepertinya obat itu bekerja dengan baik, sehingga malam ini aku tak harus mendengar teriakan histeris mu," Kata Arjuna tanpa membalikan tubuhnya yang sedang menghadap penggorengan, namun dia cukup yakin dan menyadari kalau saat ini Cheri sedang berdiri di balik punggungnya.
"Ahh sial, apa punggung mu mempunyai mata, kenapa kau bisa merasakan kehadiran ku meski kau tak membalikkan tubuh mu? Atau jangan-jangan aku memang selalu hadir di hati mu?" Merasa malu karena tertangkap basah sedang memperhatikan pria itu diam-diam, Chery tak kuasa untuk melontarkan kata-kata penuh godaannya.
Bagaimana dia tak terkesima, melihat pria tampan bertubuh tegap berotot itu mengenakan apron, dan sibuk dengan wajan dan masakannya membuat jantungnya meronta-ronta ingin memeluk pria itu dari belakang seperti adegan romantis di film-film.
"Ckk,,, pagi-pagi udah menebar godaan, hati-hati, jangan di biasain godain pria kaya gitu, gak semua pria kuat iman di goda seperti itu." Seloroh Arjuna menempatkan hasil masakannya di piring dan menghidangkannya di meja, sesuai janjinya selama dua hari ini dia akan memasak sebagai permintaan maafnya yang telah menuduh Chery yang bukan-bukan.
"Cuma pak kapten yang pernah aku godain, habisnya terlalu menggoda untuk di anggurin, udah ganteng, pinter masak pula, sayangnya calon suami orang!" Chery memasang wajah cemberut saat dirinya mendudukan bokongnya di kursi makan.
"Ya, tapi kau seharusnya menjadi wanita paling beruntung,aku tak pernah menunjukkan kemampuan memasak ku pada wanita lain, bahkan calon istri kusaja tak pernah merasakan masakan ku di seumur hidupnya," suara Arjuna agak tercekat saat dirinya mengingat-ingat kembali jika dia belum pernah memasakan sesuatu untuk Luna, kekasihnya itu tak pernah mengizinkanya mengerjakan pekerjaan rumah meskipun Luna tau Arjuna bisa melakuakan semua itu, baginya melayani Arjuna dan memanjakannya adalah tugasnya, dia tak akan pernah mengizinkan Arjuna bahkan untuk sekedar memegang sapu sekali pun.
"Owh, benarkah? Suatu kehormatan, aku akan meminta maaf pada calon istri mu suatu saat jika bertemu, karena aku menjadi wanita pertama yang mencicipi masakan mu." Mata Chery berbinar cerah, tiba-tiba dia merasa lebih beruntung dari calon istrinya Arjuna, atau bahkan merasa lebih beruntung di bandingkan wanita manapun juga, karena dia yang pertama, hal se-receh itu ternyata bisa membuat Chery bahagia.
"Tapi sepertinya kau tak akan pernah bertemu dengan dia," wajah Arjuna berubah mendung.
"Oh ayolah, aku tak akan membocorkan masalah tragedi di gubug itu, tenang saja, aku hanya penasaran dengan wanita beruntung itu,"
"Dia sudah meninggal, tertabrak tepat di malam pernikahan kami." Jawab Arjuna berusaha untuk tetap kuat saat bercerita.
"Sorry for your loss," hanya kata itu yang keluar dari bibir Chery, selebihnya mereka hanya menghabiskan sarapan mereka tanpa obrolan lagi sama sekali, hening, hanya sesekali terdengar suara sendok yang beradu dengan piring.
Chery mulai menghubung-hubungkan kejadian marahnya Arjuna semalam, dia merasa kalu kemarahan Arjuna tentang kecelakaan yang di lakukan dirinya ternyata telah memicu trauma pada diri pria itu atas kehilangan seseorang yang di cintainya.
__ADS_1
Chery bahkan sampai merinding saat membayangkan betapa terlukanya Arjuna yang harus kehilangan calon istrinya tepat di malam pernikahannya, itu terlalu mengerikan, dan dia tak dapat membayangkan jika hal itu terjadi pada dirinya.
Tok tok tok!
Setelah memikirkan hal ini beberapa saat, Chery memutuskan untuk menemui Arjuna yang seharian mengurung diri di kamarnya, sungguh dia mengerti dengan kesedihan yang di rasakan Arjuna, tapi dalam hal ini, dia merasa bersalah dan ingin meminta maaf karena telah mengungkit kenangan pahitnya.
"Apa aku mengganggu mu?" Tanya Chery berdiri mematung di depan pintu saat Arjuna membukakan pintu kamarnya.
Sepasang kacamata berbingkai emas bertengger di hidung mancungnya, sebuah dokumen terselip di genggamannya, membuat aura ilmiah dan terpelajar Arjuna memancar dengan kuatnya, tadinya Chery pikir melihat Arjuna dalam balutan segam dan saat pria itu mengenakan apron ketika di dapur adalah pemandangan paling mempesona dari diri Arjuna, namun ternyata ada sisi lain Arjuna yang lebih membuatnya terpesona dan tak pernah Chery lihat dari pria manapun, hanya dengan pakaian santai yang di kenakan pria di hadapannya, bisa membuat jantung Chery Arleta menggila.
"Aku hanya sedang memeriksa laporan, dan sudah selesai." Ucap pria itu membuka kacamatanya dan menaruh kertas-kertas di tangannya ke atas meja.
"Apa kita bisa bicara sebentar?" tanya Chery lagi, dia tiba-tiba kehilangan fokusnya.
"Oke, kita bicara di teras sambil minum teh." Arjuna menyetujuinya.
"Emh, Juna. Ah sorry, apa aku boleh memanggil mu dengan nama Juna saja?"tanya Chery saat Arjuna baru saja datang ke teras sore itu dengan dua cangkir teh di tangannya.
"Aku minta maaf karena tadi sudah menyinggung atau membuat mu mengingat kembali hal yang mungkin membuat mu terluka, aku sungguh tidak bermaksud seperti itu," sesal Chery.
"It's okay, aku tau kau tak bermaksud seperti itu, lagi pula kau tidak tahu tentang itu, lupakan saja."
"Baiklah aku lega jika aku sudah meminta maaf seperti ini, tadinya aku pikir kau marah dan mengurung diri karena tak mau menemui ku,"
"Kenapa, kau takut tak ada yang memasakan mu makan malam?" canda Arjuna.
"Aku hanya sedang memeriksa laporan mingguan saja." Sambungnya.
Sedang asik mengobrol di sore yang cerah itu, Tores datang dia antara mereka dengan senyuman yang tak kalah cerahnya dengan langit sore itu, deretan gigi putihnya tampak terlihat kontras dengan kulit gelapnya.
__ADS_1
"Selamat sore Ndan, saya ikut senang melihat anda berdua mengobrol santai sambil minum teh di teras seperti ini," sapanya sambil cengengesan.
"Apa maksud mu?" tanya Arjuna dingin.
"Ah, maaf Ndan tidak ada maksud apa-apa hanya senang saja, anda berdua serasi." Tores menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Katakan, ada perlu apa?"
"Maaf Ndan, saya hanya menyampaikan undangan pemangku adat, beliau mengundang anda untuk datang ke upacara adat yang akan di laksnakan malam ini." Ujar Tores.
"Kenapa mendadak sekali?" Arjuna mengerutkan keningnya.
"Maaf Ndan, saya juga tidak tahu, saya hanya di suruh untuk menyampaikan pada anda."
"Malam ini? Tapi---" Arjuna terlihat ragu, lantas menoleh ke arah Chery, ada rasa tak tega untuk meninggalkan gadis itu sendirian di rumah, namun untuk mengajaknya juga dia sungkan.
"Bagaimana kalau nona, eh Chery di ajak saja, Ndan, sekalian hiburan, kasihan dia tidak pernah kemana-mana, sekalinya keluar malah hiburannya nonton longsor dan tawuran bandit," seloroh Tores.
"Lantas kenapa tak kau saja yang pergi mengajaknya hiburan ke sana?"ujar Arjuna dingin.
"Tidak bisa karena yang datang ke sana khusus untuk yang ber---" Tores mengerem ucapannya tiba-tiba.
"Maksud saya, saya tidak bisa datang ke acara itu karena saya jatah piket di perbatasan desa malam ini, dan tentu saja tidak bisa menemani Chery di rumah jika anda tidak mengajaknya," ralat Tores.
"Pergilah, aku di rumah saja." kata Chery tak ingin menjadi penghalang Arjuna untu melaksanakan kegitannya hanya karena dirinya.
"Tapi Ndan, akan sangat berbahaya jika nona, eh Chery di tinggalkan sendirian di rumah, apalagi para bandit itu sepertinya sangat marah dan mengincar anda berdua, terlebih Chery yang sudah dengan berani menembak tangan adiknya Ribo, mereka pasti akan mencari-cari celah agar bisa membalas dendam, saran saya mending anda berdua berangkat bersama, lagi pula tak enak dengan pemangku adat jika anda tidak menghadiri undangannya," Tores memprovokasi.
Arjuna diam sejenak, setelah mendengar kata-kata Tores yang penuh provokasi, tak ayal membuatnya menjadi agak was-was juga untuk meninggalkan Chery sendirian di rumah, benar kata Tores, Ribo dan kawanannya pasti saat ini tengah menargetkan dirinya dan Chery.
__ADS_1
"Oke, aku dan Chery akan pergi ke pesta adat itu nanti malam." putus Arjuna.
Membuat Tores bersorak sorai dalam hatinya saat ini.