Dendam Cinta Sang Kapten

Dendam Cinta Sang Kapten
Firasat buruk


__ADS_3

Chery hanya menyeringai menatap punggung Arjuna yang semakin menjauh dan menghilang di telan gelapnya malam.


Di balai desa ada sekitar dua belas orang wanita dan beberapa anak-anak yang memang sengaja mengungsi di sana karena takut menjadi sasaran gerombolan bandit Ribo, mereka tak merasa aman jika berada di rumah, makanya memilih untuk menginap di balai desa, sementara para pria ikut berjaga di luar balai desa bersama para anggota yang bertugas.


Sebagian besar yang berada di ruangan itu sudah tertidur lelap di atas karpet, sementara beberapa orang masih terjaga karena sedang menyusui anaknya yang masih bayi.


Seperti biasa, Chery tak bisa memejamkan matanya jika malam tiba, namun kali ini penyakit insomnia-nya kambuh bukan karena traumanya, melainkan karena di kepalanya di penuhi pikiran tentang wajah tampan dan tubuh kekar Arjuna, kali ini dia benar-benar mendalami perannya sebagai kekasih yang sedang menghawatirkan pasangannya yang sdang berjuang di medan perang.


Chery memilih duduk di ujung ruangan di dekat pintu memandang ke arah luar, berharap Arjuna segera kembali.


Malam telah berganti pagi, namun mata Chery masih setia terjaga, Tores datang membawa secangkir teh panas dan sepiring singkong rebus untuk sarapan.


"Makanlah nona, jangan terlalu menghawatirkan kapten, dia pasti baik-baik saja, tentunya anda pasti lebih tau kalau Kapten adalah anggota terbaik di kepolisian, dan beliau adalah salah satu tim khusus yang pernah di kirim ke negara konflik yang lebih mengerikan dari pada di sini, Kapten pasti baik-baik saja, komandan memang keren." Kata Tores memuji dengan ekspresi bangga.


Berbanding terbalik dengan wajah muram Chery, sungguh dia tidak tau apa-apa tentang prestasi Arjuna, yang dia tahu kalau Arjuna adalah seorang anggota kepolisian, titik. Bahkan pangkatnya apa juga dia tak tahu.


Chery hanya meminum teh saja pagi itu, tenggorokannya bahkan menolak untuk di lewati makanan hanya karena memikirkan Arjuna yang sepertinya juga belum makan sampai saat ini, sungguh pemikiran yang lebai, berlebihan, untuk seorang asing seperti dirinya dan Arjuna.


Waktu dengan cepatnmya berlalu, matahari sudah pulang ke peraduannya, berganti malam yang gelap, sunyi dan mencekam, sementara Arjuna belum juga kembali pulang.


Seorang pria muda berlari terengah-engah ke arah balai desa, nafasnya tersenggal-senggal sepertinya dia telah berlari dalam jarak yang sangat jauh.


"Gawat,,,gawat,,, Ribo menyerang penduduk di desa ku di ujung, banyak warga yang terluka, bahkan beberapa petugas juga terluka parah, sepertinya mereka kalah jumlah, karena Ribo membawa banyak sekali anak buahnya turun gunung." lapor pria itu.


Tentu saja itu membuat semua orang yang ada di sana kaget, tidak terkecuali Chery.

__ADS_1


Seorang anggota yang sepertinya pimpinan di antara para anggota yang bertugas menjaga balai desa lantas mengumpulkan beberapa anak buahnya lalu pergi dengan motor mereka, kini tinggal sekitar 5 orang petugas yang berjaga TermasukTores, di tambah para warga pria yang lebih meningkatkan kewaspadaannya karena petugas yang berjaga kini semakin minim akibat sebagian banyak dari mereka di perbantukan ke desa ujung.


"Tores, kenapa kau tak ikut mereka?" tanya Chery.


"Maaf nona, semua sudah di atur komandan, dan tugas saya di sini melindungi nona dan warga yang berada di balai desa." Jawab Tores.


"Apa tak sebaiknya kita menyusul ke tempat komandan mu berada sekarang?"


"Saya tidak berani nona," tolak Tores tegas.


"Tapi firasat ku tak enak malam ini, aku takut terjadi apa-apa dengan dia." Kata Chery, namun Tores bergeming dan tak ingin pergi kemana-mana, karena bagaimana pun Arjuna sudah menugaskan dirinya di sana, dan hanya operintah dia yang akan Tores patuhi, tak peduli Chery kekasih atasannya.


Chery mengalah, dia patuh pada keinginan Tores untuk tetap berada di sana meski hatinya tetap merasakan firasat aneh, dalam hal ini dia memikirkan Arjuna, firasat ini dia rasa berhubungan dengan Arjuna, dia memang jarang merasa firasat aneh seperti ini, namun biasanya hal buruk benar-benar terjadi setelahnya.


"Semoga dia baik-baik saja, Tuhan." Gumamnya.


"Kenapa kamu tak ikut ngopi bersama teman-teman mu yang lain dan para pria di sana, aku tidak apa-apa, tak perlu terlalu menghabiskan waktu mu untuk selalu menjaga ku," trlunjuk Chery mengarah ke arah para pria dan sisa anggota yang bertugas yang sedang menikmati kopi dan cemilan yang di buat oleh pria muda tadi , sepertinya pria itu benar-benar gampang bergaul di sana.


"Tidak, lambungku jelek, seperti komandan, tidak kuat meminum kopi terlalu banyak, tadi siang aku sudah minum kopi." Kata Tores seraya mengusap halus perutnya.


"Kalian sama-sama pria payah!" ejek Chery.


Namun rak lama dari itu, tiba-tiba keadaan menjadi sangat mengerikan, karena para pria dan ke empat anggota yang berjaga yang sedang mengobrol sambil meminum kopi itu tiba-tiba satu satu tumbang bergeletakan tak sadarkan diri.


"Tolong-tolong!" pria muda tadi berteriak histeris saat melihat beberapa orang tumbang di hadapannya.

__ADS_1


Merasa ada yang tidak beres dan terpanggil oleh teriakaan bocah tadi, Tores berniat hendak menghampiri mereka ke sana, namun tangannya di cekal Chery.


"Tidak, itu berbahaya, tetap di sini. kemungkinan besar mereka di bius." Chery mengajak Tores mengendap-endap ke sisi bangunan balai desa yang agak tersembunyi.


Para wanita dan anak-anak yang berada di kantor balai desa kini jumlahnya kurang dari sepuluh orang, karena mereka merasa aman untuk pulang dulu ke rumah malam ini saat mendengar kawanan bandit Ribo berada di desa ujung.


"Di bius? Siapa yang melakukannya?" Tores tak percaya dengan kata-kata Chery yang di anggapnya hanya bualan.


"Aku rasa pemuda yang tadi datang itu mencurigakan," kata Chery dirinya puluhan tahun bergelut di dunia akting, segala bentuk wajah kepura-puraan sudah dia lihat, dan dia menyadari kalau pemuda itu sedang ber-akting sejak kedatangannya pertama kali, namun terlalu tak berani mengungkapkannya.


"Tapi dia sepertinya ketakut--"


Belum saja Tores menyelesaikan ucapannya, pemuda itu menggeledah ke empat temannya dan merampas senjata yang di bawa mereka, Tores seperti kehabisan kata, bagaimana bisa kekasih atasannya itu dengan mudah mengetahui dengan mudah kalau pemuda itu berbohong, dia tak tau saja kalau Chery ahlinya dalam dunia tipu-tipu, Tores hanya mengira kalau semua itu karena Arjuna telah dengan baik melatih kekasihnya selama ini.


Beberapa menit kemudian, gerombolan bandit di bawah pimpinan Ribo yang terkenal kejam dan sadis itu datang dari berbagai arah, jumlahnya sekitar lebih dari tiga puluh orang.


"R-Ribo, itu bandit Ribo yang memakan daging manusia itu!" cicit Tores gemetar, jika selama ini dia hanya melihat gambar pimpinan bandit sadis itu di halaman utama buku catatan laporan kejahatan di kantor, kini dia melihatnya secara langsung, badannya yang tinggi besar seperti raksasa, wajahnya yang di tumbuhi bulu membuat kesan sangar sangat melekat kuat pada dirinya.


"Hahaha,,, para petugas bodoh itu ternyata sangat mudah di di tipu hanya dengan anak kecil seperti dia, apakah ada yang lolos?" suara Ribo terdengar menggelegar dan agak berat.


"Tidak ada tuan," jawab pria muda yang tadi berakting seolah dia korban yang lolos dari desa ujung, ternyata dia salah satu komplotan dari mereka.


"Bagus, ikat mereka semua, jangan di bunuh. kita perlu cadangan makanan segar, kita hanya perlu memasaknya satu persatu, saat di perlukan."


Sungguh ucapannya itu membuat Tores dan Chery merinding mendengarnya, mereka berdua juga mendengar jeritan para wanita dari dalam bangunan, entah apa yang para bandit itu lakukan di sana, Chery dan Tores bahkan tak berani hanya untuk sekedar melihat dari jendela kaca yang berada di atas tempat mereka bersembunyi kini.

__ADS_1


Hati Chery teriris mendengar jeritan para wanita dan anak-anak di sana, tapi sepertinya tenaga dirinya dan Tores tidak akan mampu melawan puluhan bandit yang kesetanan malam itu.


Berada di situasi yang sangat sulit seperti ini membuatnya sangat tertekan, sisi jiwa kemanusiaannya meronta-ronta ingin menolong, tapi itu tidak mungkin, sementara untuk menolong dirinya sendiri saja sepertinya akan sangat tipis harapan, dirinya dan Tores kini terjebak di bangunan samping balai desa tak bisa kemana-mana karena anak buah Ribo yang kini sedang menyebar menyisir sekitar tempat itu, yang artinya cepat atau lambat dirinya dan Tores pasti akan tertangkap juga, dan berbasib sama dengan para korban lainnya, tubuhnya hanya akan berakhir di penggorengan para bandit untuk di jadikan menu santapan mereka.


__ADS_2