Dendam Cinta Sang Kapten

Dendam Cinta Sang Kapten
Apa yang terjadi?


__ADS_3

Sampai di kediaman Hasan, kondisi Chery masih seperti tadi di dalam mobil, otaknya masih bisa bekerja meski lemah, namun tubuhnya benar-benar lemas, bahkan untuk menggerakan rangannya saja sepertinya Chery merasa kesulitan, sehingga anak buah Hasan leluasa menurunkan dan memapah Chery ke paviliun belakang, sengaja Chery di bawa ke sana, tempat yang terlarang untuk anggota keluarga yang lain termasuk Siska, sehingga tak akan ada orang rumah yang melihat keberadaan Chery kecuali beberapa anak buah terdekat Hasan dan orang-orang krpercayaannya saja.


Baru saja Hasan ingin melampiaskan hasrat yang lama di pendamnya, namun tiba-tiba anak buahnya mengabarkan kalau ada Ines mengunjunginya, andai saja yang datang itu bukan anak dari pejabat kepolisian yang sangat dia butuhkan sebagai pegangan untuk memayungi semua usaha hitamnya, sepertinya dia akan sangat marah dan kesal karena acara senang-senang yang baru akan di mulainya dengan Chery harus terhenti, namun begitu dia terpaksa menemui Ines yang sudah bisa di pastikan kedatangannya untuk membeli obat terlarang padanya seperti biasanya.


Saat Ines berjalan melewati sebuah kamar yang pintunya setengah terbuka, dia melihat Chery duduk dengan lemas dengan wajah dan gesturw yang dia tahu kalau Chery sedang dalam keadaan mabuk, dia mengira kalau Chery memang diam-diam ternyata prmakai seperti dirinya, dan dia tak ingin ikut campur lebih jauh lagi, cukup tau saja pikirnya, makanya dia hanya cuek saat melihat Chery dalam keadaan seperti itu di sana.


"Nona Ines tadi sempat melihat putri anda di sana," lapor salah satu anak buah Hasan.


"Ikuti dia, pastikan dia tidak membuka mulutnya tentang apa yang yang dia lihat pada siapapun!" perintah Hasan pada anak buahnya itu.


Ternyata anak buah yang di perintahkan untuk mengikuti Ines melaporkan pada Hasan kalau Ines sepertinya membocorkan masalah Chery pada kekasihnya, atau Arjuna, sehingga dengan berat hati akhirnya Hasan harus melepaskan Chery tanpa sempat dia sentuh, dia hanya menambahkan dosis obat pada Chery sehingga gadis itu tak sadarkan diri, lantas di antarkan ke apartemennya.


**


"Tolong!!!" teriak Chery dari dalam kamar histeris pagi itu, membuat Tores berlari sekuat tenaga ke dalam kamar gadis yang kini menjadi prioritas untuk di jaganya itu.


"Ada apa Chery?" tanya Tores panik.


"Ah, Tores,,, untunglah kamu ada di sini, aku takut, aku di sekap oleh---" Chery terdiam sejenak, dia seperti sedang mengingat--ingat sesuatu tapi terlihat seperti sangat berusaha dalam hal itu.


"Cher, apa kau baik-baik saja?" tanya Tores lagi agak khawatir dengan sikap aneh Chery, "Siapa yang menyekap mu?"


"Kepala ku pusing, kenapa aku tak ingat banyak tentang kejadian semalam," Chery memegangi kepalanya sendiri.

__ADS_1


"Tak usah banyak berpikir dulu, ayo duduk di depan dan minum teh hangat, aku membuatkan mu teh madu agar kau merasa relaks, ini ramuan khusus dari mamak ku, cobalah!" Tores memapah Chery untuk duduk di meja makan dan menyodorkan segelas teh madu untuknya.


Tores mengirim pesan pada Arjuna, mengabarkan kalau Chery sudah bangun dan terlihat aneh seperti orang kebingungan.


Tak sampai satu jam Arjuna datang ke apartemen Chery dengan terburu-buru.


"Chery, apa yang terjadi, ceritakan pada ku, apa yang Hasan lakukan pada mu?" Arjuna tergopoh-gopoh menghampiri Chery yang sejak tadi jadi lebih banyak diam, bahkan tak menceritakan apapun pada Tores meski pria itu terus memancingnya untuk bercerita.


"Dia menutup mulutnya dengan sangat rapat sejak pagi tadi, hanya berteriak minta tolong dan sempat mengatakan kalau dia di sekap saat bangun tidur, tapi tak menjelaskan lebih lanjut apa yang terjadi dan siapa yang menyekapnya." Terang Tores menjelaskan apa yang terjadi.


Sementara Chery yang di tanya hanya terdiam, sesekali dirinya menatap wajah dan mata Arjuna yang berjongkok di hadapannya.


"Apa yang terjadi Chery, tolong katakan pada ku, aku takut, aku khawatir, aku mencari mu semalaman dan tiba-tiba kamu sudah berada di sini," lirih Arjuna menanyai Chery dengan perlahan.


Banyak ketakutan yang ada di kepalanya, ketakutan kalau Hasan telah melakukan hal-hal yang tidak baik padanya, seperti menodainya, atau apaun itu, bagaimana dia bisa melanjutkan hidupnya jika Hasan merusak dirinya.


"Semalam kamu menelpon Sean, kenapa tidak menelpon ku?" ada rasa iri di hati Arjuna, dimana di saat-saat genting seperti itu pun dirinya tak ada dalam daftar prioritas untuk di mintai pertolongan seolah-olah dirinya tak layak dan tak mampu untuk di mintai pertolongan oleh nya.


"Menelpon Sean? Aku sama sekali tak mengingatnya." Chery malah balik bertanya.


"Iya, aku di kabari Sean kalau kamu sudah ada di sini saat aku tengah mencoba menyusul mu ke rumah Hasan."


"Kamu tau kalau aku di bawa ke rumah Hasan?"

__ADS_1


"Ines melihat mu berada di sana, semalam." TerangArjuna.


"Ines? Aku bahkan tak ingat bertemu dengan Ines di rumah Hasan." Chery memukul-mukul kepalanya, memorinya seakan kusut dan seperti ada bagian-bagian yang hilang, sama persis seperti saat kejadian dirinya menabrak Luna, sebagian memorinya seperti hilang.


Arjuna menghela nafas beratnya, dadanya terasa sesak melihat keadaan Chery yang terlihat menyedihkan seperti itu, dia hanya bisa memegangi kedua tangan Chery agar tak menyakiti dirinya sendiri dan memeluknya, dia pun tak ingin terus memaksakan Chery untuk mengingat-ingat kejadianyang terjadi semalam karena itu pasti akan sangat menyakiti Chery.


"Sudahlah,sudahlah, jangan di ingat-ingat lagi, yang penting saat ini kamu sudah aman dan baik-baik saja itu yang paling penting buat ku, tentang apa yang terjadi semalam, lupakan saja jika itu hanya membuat mu merasa tertekan atau tersakiti." Ujar Arjuna.


"Tapi, bagaimana jika Hasan telah merusak ku semalam,? Aku bodoh sekali, aku sama sekali tak ingat apa yang terjadi, aku takut, aku jijik dengan tubuh ku sendiri." Raung Chery menggema di ruangan itu.


"Aku akan menerima mu apa adanya, tak peduli apaun yang terjadi pada mu di waktu lalu," kata Arjuna mencoba menenangkan Chery.


"Lalu, bagaimana dengan Ines?"


Arjuna dan Chery serentak menoleh ke arah Sean yang tiba-tiba sudah berada di ruangan itu.


"Sean?" gumam Chery lirih.


Sementara Arjuna hanya bisa terdiam tak dapat berkata apa-apa, janjinya pada Berto membungkam mulut Arjuna, andai dia bisa mengatakan kalau hubungannya dengan Ines hanyalah sebatas pekerjaannya saja, namun sebagai abdi negara dan juga seorang pria sejati, dia tak akan mungkin mengingkari janjinya sendiri, karena bagi seorang pria, yang di pegang adalah janjinya.


"Kenapa? Tak bisa menjawab? Jangan serakah jadi orang, jika sudah punya pasangan, jangan mencoba merayu wanita lain, hargai pasangan mu, dan hargai juga wanita yang sedang kau rayu itu, apa kau sengaja ingin menjebak Chery agar berada di posisi sulit? Terbuay dengan rayuan mu dan memberikan satu lagi status buruk di mata masyarakat untuknya, yaitu sebagai orang ketiga?" ujar Sean panjang lebar.


"Apa maksud mu, aku tak mungkin melakukan hal seperti itu, karena aku--" bantah Arjuna, namun belum selesai dia mengutarakan bantahannya atas tuduhan Sean padanya, pengacara itu sudah menyambar pembelaannya.

__ADS_1


"Karena kamu mencintai Chery? Tapi jelas-jelas kau bersama Ines saat ini, kau pikir dia wanita murahan yang bisa kau jadikan cadangan? Selingkuhan? Tak cukupkah kau lihat penderitaan yang dia alami saat ini, sampai kau harus menambah penderitaannya?" sambar Sean mematahkan pembelaan Arjuna seperti dia sedang bertugas menjadi pengacara yang menyudutkan lawannya di pengadilan, membuat Arjuna mati kutu dan tak mampu membalas serangan Sean padanya.


__ADS_2