Dendam Cinta Sang Kapten

Dendam Cinta Sang Kapten
Tolong, Aku Takut!


__ADS_3

Hujan kembali turun dengan derasnya, keputusan yang tepat untuk tak melanjutkan perjalanan dan beristirahat di gubuk itu, kalau tidak, mereka pasti akan kesusahan di jalan akibat hujan yang cukup deras dan di sertai kilatan petir yang terus menyambar-nyambar itu.


Arjuna bangkit dari posisi berbaringnya, dia sudah tak bisa beristirahat dengan tenang lagi saat ini, karena khawatir longsor kemungkinan akan terjadi kembali dan bisa saja mengancam keselamatan mereka, untuk itu dirinya harus waspada, terlebih tubuhnya kini sudah berangsur membaik tak se menyedihkan sebelumnya.


"Apa ini?" tanya Arjuna saat Cheri menyodorkan sebutir obat dan sebotol air mineral padanya.


"Itu obat mu, harusnya tadi siang kau meminumnya, tapi aku tak tega membangunkan mu." Kata Chery datar.


"Aku tak membutuhkannya, badan ku sudah sehat sekarang." Arjuna masih dengan mode gengsi nya.


"Terserahlah!" ujar Chery putus asa.


Chery duduk di depan pintu gubuk yang terbuat dari anyaman bambu, memandang gelapnya sore menjelang malam, di tambah hujan yang sejak siang tadi menjadi temannya dalam kesepian karena Arjuna terlelap di atas bale-bale, mungkin karena pengaruh obat yang di minumnya, dia pun tak ingin mengganggu tidur Arjuna, dia hanya membiarkan saja pria itu tertidur, setidaknya dengan begitu tubuh Arjuna akan cepat pulih, dan tentu saja dia dapat terbebas dari ucapan-ucapan nyinyir yang menyakitkan dari mulut pria tampan itu.


"Apa ini sudah malam?" Arjuna berjalan, lantas melongok di ambang pintu tempat kini Chery duduk bersila.


"Hemh, hampir," hanya jawaban singkat itu yang keluar dari bibir sensual Cheri.


"Tidurlah di dalam, gantian aku yang berjaga," kata Arjuna, saat teringat kembali kalau gadis itu belum tertidur tiga malam berturut-turut, bahkan lingkaran mata Chery tadi terlihat menghitam seperti zombie saat dia memberinya obat dan air mineral.


"Aku tidak mengantuk!"

__ADS_1


"Bahkan kelelawar saja tidur di siang hari, meski mereka terus terjaga di malam hari,"


"Aku bukan kelelawar!"


"Apa kau mengkonsumsi nark*oba, sehingga kau kuat tidak tidur selama berhari-hari?" tuduh Arjuna.


Chery menengadah menghadap Arjuna yang kini berdiri di belakangnya dan juga sedang melihat ke arahnya.


"Apa hak mu menuduh ku seperti itu?" kesal Chery dengan mata menyipit.


"Aku seorang polisi," jawab Arjuna serampangan, dia terlihat gugup hanya karena ditatap tajam oleh Chery, dia tau kalau saat ini dia sedang menuduh seseorang tanpa bukti, itu semua hanya atas dasar ketidak sukaannya dan pemikiran buruknya saja.


"Bapak Arjuna Bimantara yang terhormat, saya tau anda seorang anggota kepolisian yang bertugas melawan kejahatan, lantas jika anda seorang polisi, lalu semua orang yang bukan polisi seperti aku adalah penjahat, di mata anda?" kesal Chery.


Chery sungguh ingin memberi Arjuna obat tidur saat ini, agar dirinya tenang seperti tadi saat pria itu tertidur lelap.


"Sebuah studi pernah menunjukkan kalau orang yang tidak atau jarang tidur, beresiko mengalami kegagalan jantung dan berakibat kematian." Kata Arjuna.


"Apa kau tak tau kalau di dunia ini ada yang namanya takdir? Terlepas dari tidur atau tidak, jika kontrak kita sudah selesai dengan Tuhan untuk tinggal di bumi ini, maka kita tetap akan mati, dengan cara apapun itu, dan jika aku mati karena aku tak pernah bisa tertidur, ya syukurlah, setidaknya aku sudah merasa kenyang membuka mata dan menikmati dunia sebelum aku meninggalkannya untuk selamanya." Chery berjalan ke arah teras gubuk, menengadahkan tangannya membiarkan air hujan membasahi kedua tangannya, lalu mebasuhkannya ke wajah cantiknya seakan tak pernah takut kalau itu akan membuat semacam iritasi atau hal buruk lain pada kulit mulusnya.


"Rupanya kau orang yang putus asa dan tak takut mati, pantas saja sikap mu selalu ceroboh dalam setiap menghadapi bahaya." Cibir Arjuna seraya mendekat ke arah dimana Chery berdiri kini.

__ADS_1


"Aku tak punya alasan apapun untuk takut mati, toh tak akan ada yang kehilangan atau menangisi ku karena kematian ku, satu-satunya yang mungkin akan menangis mungkin hanya ibu ku, itupun hanya karena dia tak akan lagi mendapatkan uang dari ku, dan Dion,,, harusnya dia tak begitu menangisi ku, karena aset ku akan aku wariskan padanya jika aku mati nanti karena dia sudah mengurus ku selama ini." Mata Chery memerah, membicarakan tentang kematian membuat sisi melankolisnya tersentuh, ada rasa marah sekali gus sedih karena saat membicarakan tentang kematian, mau tidak mau dirinya jadi teringat akan ayahnya yang pergi begitu cepat meninggalkan dirinya yang masih sangat kecil, sehingga dirinya harus menggantikan tugas ayahnya itu menjadi tulang punggung bahkan di usia dia yang masih balita, bukankah itu terlalu kejam dan tidak adil untuknya?


Tanpa sadar Arjuna sejak tadi terdiam dan mendengarkan cerita Chery dengan seksama, pandangannya bahkan tak lepas dari wajah muram Chery dengan kedua mata indahnya yang terlihat berkaca-kaca saat bercerita.


"Kenapa, kau hendak mengejek ku? Menghina ku dengan sinis? Atau mau menuduh ku dengan tuduhan hina apa lagi?" sewot Chery saat merasakan kalau saat ini dirinya sedang di perhatikan oleh Arjuna.


"Tidak, aku hanya ingin mengatakan kalau kau mungkin terlalu lelah, istirahatlah, tubuh mu akan sakit jika kau tak tidur berhari-hari seperti itu," tak di sangka ucapan Arjuna kini tak lagi sinis seperti sebelumnya.


"Apa peduli mu!"


"A-aku--aku hanya peduli, emh--kasihan padamu." Gugup Arjuna, karena dia sendiri pun tak tahu apa yang menjadi alasannya untuk peduli pada gadis itu.


"Aku tak perlu belas kasihan orang lain, lagi pula aku bukan keluarga mu, bukan teman mu dan bukan kekasih mu, untuk apa peduli pada ku, basi!" Chery melengos dan segera masuk ke dalam rumah.


"Hey, kau keterlaluan, aku berusaha baik pada mu tapi seperti itu tanggapan mu pada ku? Aku hanya peduli karena atas dasar sesama manusia, lagi pula kau akan merepotkan ku kalau kau sakit dan mati di sini!" Tak ingin kehilangan muka karena mendapat jawaban sinis dari Chery, Arjuna berusaha kembali membentengi dirinya dan kembali menggunakan sikap sinisnya sebagai senjata untuk melawan gadis itu.


"Bagaimana rasanya, setelah berbuat baik namun di balas dengan keburukan? Bahkan yang kau lakukan pada ku lebih parah, setelah aku merawat mu semalaman!" teriak Chery dari dalam, membuat Arjuna seketika mengatupkan mulutnya rapat-rapat dan tak berani lagi bersuara.


Merasa kesal dengan Arjuna, Chery meebahkan dirinya di bale-bale tempat tadi Arjuna tertidur pulas, seperti terhipnotis, beberapa menit dia berbaring di sana, matanya tiba-tiba terasa berat dan mengantuk, lama kelamaan napasnya semakin teratur dan mulai tertidur, mungkin efek dari beberapa hari tak tidur tubuhnya secara alami beristirahat meski dia tak ingin tertidur.


"Cih, itu yang katanya gak ngantuk!" cibir Arjuna saat kembali masuk ke dalam gubuk dan mendapati Chery tengah meringkuk di atas bale-bale, tubuh wanita itu meringkuk hampir seperti bola, angin dan hujan sepertinya membuat tubuh Chery kedinginan.

__ADS_1


Entah kesambet setan apa, tiba-tiba Arjuna merasa kasihan dan berniat menyelimuti tubuh Chery dengan baju kering yang dia ambil dari ranselnya, lagi pula kemarin wanita itu sudah merawat dirinya semalaman, anggap saja ini sebagai balas budi, pikirnya.


Namun baru saja dirinya membungkukan tubuhnya di samping tubuh Chery dan hendak menyelimutinya, tiba-tiba Chery menjerit histeris, dia terlonjak dari tidurnya dan langsung memeluk tubuh Arjuna yang kebingungan, sementara Chery terus menangis sesenggukan dan menyembunyikan wajahnya di tubuh pria itu sambil terus mengucapkan kata " Tolong, aku takut!" secara berulang-ulang dalam isak tangisnya membuat Arjuna semakin merasa kebingungan menghadapi Chery yang biasanya tenang, santai, dan kadang berani itu kini tiba-tiba menunjukkan sisi lain dari dirinya, gadis itu terlihat sangat lemah dan ketakutan, entah apa yang Chery takuti saat itu, Arjuna belum bisa bertanya pada gadis yang masih terus menangis itu, kini Arjuna hanya bisa mengusap-usap pelan punggung Chery berharap itu bisa sedikit meredakan tangis dan rasa takutnya saat ini.


__ADS_2