Dendam Cinta Sang Kapten

Dendam Cinta Sang Kapten
Skenario apa lagi?


__ADS_3

Seminggu berlalu begitu saja, patroli malam di laksanakan atas kepemimpinan Arjuna demi terciptanya keamanan bagi masyarakat sipil.


Selama seminggu pula entah mengapa para bandit itu tak berani berbuat ulah setelah di hari pertama patroli mereka mengamuk dan melempari kaca jendela kantor polisi dengan batu, namun Arjuna ternyata tak melepaskan para pelaku dengan begitu saja, dia berhasil meringkus para pelaku hanya kurang dari empat jam saja, dia bahkan sampai masuk ke tengah hutan demi menangkap para pelaku pelemparan kantornya itu, kini mereka sudah mendekam dalam jeruji besi hasil dari kegigihan Arjuna yang bertekad tak akan berhenti sebelum para prlaku itu teetangkap, baginya dia akan merasa kehilangan harga diri jika kantor tempatnya bekerja di perlakukan seperti itu oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab.


"Ndan, salah satu orang yang di tangkap anda adalah kerabat prmumpin bandit terkenal disini, sepertinya kita harus waspada dan bersiap jika ternyata mereka akan mengerahkan banyak anak buahanya untuk menyerang kantor kita lagi," Tores membuka pembicaraan saat mereka hendak ke kota membeli kebutuhan harian kantor sekaliaan membeli stok makanan untuk di rumah dinas yang mereka tinggali.


"Waspada dan bersiap itu bukan hanya karena alasan itu saja, tapi waspada dan bersiap itu harus di lakukan setiap hari, bukankah itu yang di pelajari saat pendidikan dulu," ujar Arjuna datar, membuat Tores akhirnya terdiam karena yang di sampaikan Arjuna adalah benar.


"Kenapa ramai sekali di sini?" Tanya Arjuna saat melihat segerombolan orang yang berkerumun menghalangi jalannya.


"Pak polisi tolong, tolong kami!" seseorang mencegat laju mobil patroli yang Arjuna dan Tores tumpangi.


"Ada apa?" Tanya Arjuna seraya turun dari mobil yang lantas di susul Tores yang segera meninggalkan kursi kemudinya untuk mengekor sang atasan, tangan Tores bahkan kini bersiap di pinggang tempat dimana senjatanya berada, dia takut kalau ternyata yang berkerumun itu adal;ah para bandit yang sengaja menghalau jalan mereka.


"Mobil kami di rampok dan salah seorang teman kami di culik!" kata salah satu dari sekitar sepuluh orang yang di dominasi para pria itu dengan panik menceritakan apa yang terjadi pada mereka.


"Ceritakan perlahan," ujar Arjuna seraya menyodorkan sebotol air mineral agar orang yang berbicara dengannya itu merasa tenang dulu.


"Ka- kami kru film dari ibukota, membawa keperluan untuk syuting di tepi hutan sana, namun tiba-tiba puluhan orang menghadang mobil kami dan membajaknya, bahkan artis kami di bawa serta oleh mereka." Terang orang itu menceritakan kronologi kejadian yang di alaminya.


"Kalian dari ibukota? Apa kalian tahu kalau wilayah sini berbahaya? Dan apa kalian sudah mendapat izin dari pemerintah dan aparat kepolisian setempat untuk mengadakan syuting di tempat ini?" cecar Arjuna,

__ADS_1


"Ya, kami dari ibukota, kami hanya kru, untuk urusan izin dan segala macamnya itu urusan atasan kami pak,"


"Dimana atasan kalian dan kru yang lainnya?" Tanya Arjuna lagi.


"Mereka baru akan terbang ke sini nanti sore, sedangkan kami berangkat duluan karena mempersiapkan set untuk lokasi,"


Tak berapa lama beberapa anggota berdatangan ke tempat itu, rupanya mereka datang karena panggilan dari Tores yang khawatir kalau orang-orang yang sedang mereka hadapi itu kawanan bandit.


Arjuna menoleh ke arah Tores meminta penjelasan dengan bahasa matanya.


"Maaf Ndan, saya yang memanggil teman-teman ke sini untuk berjaga-jaga." Jawab Tores.


Sementara Arjuna hanya bisa menghela nafas kasar, sungguh ajudannya kali ini sangat berbeda dengan Fajar yang selalu bersikap santai dan tenang dalam menghadapi masalah, Tores yang selalu panik dan penuh ketakutan itu membuat Arjuna merasa dirinya lebih nyaman jika tanpa ajudan saja.


"Tolong temukan teman kami pak polisi, dia juga terluka di kepalanya akibat melawan para perampok tadi, malang sekali nasib mu Chery,,, bagaimana aku menjelaskan semua ini pada bos, jika kanu tak di ketemukan?" ratap pria itu.


"C-Chery?" beo Arjuna, dia merasa mendengar pria itu menyebut nama Chery, rasanya tak mungkin jika dirinya salah dengar.


"Kau tadi sebut Chery?" tanya Arjuna lagi meyakinkan kalau apa yang di dengarnya memang tak salah.


"Iya, Chery Arleta, artis terkenal itu, anda pasti seting melihatnya di televisi, kan? Dia di culik para perampok itu, saat dia melawan, salah satu perampok memukul kepalanya dengan gagang senjata, semoga dia baik-baik saja, dia berdarahdarah tadi, kami tak sempat menyelamatkannya, karena kami di todong senjata,"

__ADS_1


"Kami tak pernah mrnonton televisi, dan tak tau artis ibukota," jawab Arjuna dingin, sisi jahat dirinya sungguh tak ingin mencari dan menyelamatkan wanita yang sangat di bencinya itu, ingin sekali dia membiarkan saja sang artis mati dan bahkan menjadi santapan para baandit itu, anggap saja itu sebagai karma buruk yang harus di dapatnya atas perbuatannya.


Namun ternyata jiwa perwiranya tak terima, karena dalam hal ini, dia tak boleh memilahmilah dalam melaksanakan tugasnya, entah itu kawan ataupun lawan, jika memang membutuhkan bantuan, sudah menjadi kewajibannya untuk membantu.


Takdir dan permainan apa lagi yang sedang Tuhan rencanakan untuknya, bahkan saat dirinya yang sudah pergi jauh dari wanita itu masih saja harus di pertemukan kembali, tidak bisakah dirinya di biarkan tenang sebentar saja, bahkan masalah para bandit saja sudah membuat kepalanya berdenyut setiap saat, kini dirinya harus menyelamatkan wanita yang di bencinya dari para bandit kejam itu.


"Apa ada masalah, Ndan? Atau sebaiknya saya ikut anda saja?"Tanya Tores, karena kini Arjuna terlihat hanya diam melamun.


"Oh, tidak, tidak perlu. Kau urus saja mereka dan berbelanja kebutuhan, biar aku dan yang lainnya mengurus rekan mereka yang di culik itu." Jawab Arjuna.


Meski berat hati, dan sebenarnya ingin ikut bersama atasannya tapi apa mau di kata, atasannya itu menugaskan tugas yang lain untuk dirinya.


Arjuna mencoba berdiskusi dengan hatinya sendiri, meyakinkan kalau apa yang akan di lakukannya kini adalah semata tiada lain hanya karena tugas saja, sungguh gejolak dalam dirinya kini tak dapat tertahankan, dirinya harus menyrlamatkan orang yang sangat di bencinya, apa tak ada skenario lebih baik lagi yang Tuhan berikan padanya? Protesnya.


"Ayo berangkat, sebelum sore dan keburu malam." Ajak Arjuna setelah memastikan mobil jenis apa yang di rampok, ke arah mana para perampok melarikan diri, dan lain sebagainya sebagai penunjang dan untuk mempermudah prncarian.


Arjuna dan ketiga anggotanya segera meninggalkan tempat itu menuju hutan dengan mengendarai motor, meski dalam menjalankan tugasnya kali ini Arjuna merasa setengah hati, namun dia akan merasa mempunyai beban jika dirinya tak menemukan Chery, sambil berusaha menata hati dan mengesampingkan ego dirinya, Arjuna teris melajukan motornya menembus hutan melalui jalan setapak.


Hingga akhirnya Arjuna menghentikan laju motornya dan memberi tanda pada ketiga anggotanya untuk menghentikan motor mereka juga.


Telunjuk Arjuna mengarah ke sebuah gubuk yang di depannya terparkir mobil van putih yang ciri-cirinya seperti yang di sebutkan kru film tadi.

__ADS_1


Sepertinya itu tempat persembunyian mereka, dan Arjuna kini sedang mengatur strategi dengan ke tiga anggotanya, membicarakan apa yang akan mereka lakukan.


Namun sialnya saat mereka sedang asik berdiskusi justru lima orang bersenjata menodongkan pucuk senjata mereka ke arah kepala Arjuna dan ketiga rekannya tanpa mereka sadari dan tanpa sempat menghindar.


__ADS_2