Dendam Cinta Sang Kapten

Dendam Cinta Sang Kapten
Chaos


__ADS_3

"Tores," pekiknya tertahan oleh telapak tangan Arjuna yang masih membekap mulutnya, secara spontan bahkan kedua tangan Chery meremas lengan Arjuna saat melihat Tores di pukuli di depan matanya, pria muda itu sangat baik padanya dan selalu menjaganya, dia teringat kalau tadi Tores ketakutan, tapi dia malah meninggalkannya sendirian di tempat itu.


Chery tak pintar bergaul, hampir di sepanjang hidupnya dia tak mempunyai teman selain asisten dan kru syuting karena hidupnya di habiskan hanya untuk bekerja, bahkan dia tak banyak mengingat siapa saja teman-teman sekolahnya, karena dia sekolah hanya untuk formalitas saja, pihak sekolah pun tak pernah menegurnya saat daftar kehadiran dirinya lebih banyal absen dari pada mengikuti pelajaran, namun karena dirinya yang sebagai publik figur yang di gemari masyarakat dan namanya bisa mendongkrak popularitas nama sekolahnya, pihak sekolah selalu memberinya keistimewaan dan perlakuan khusus, membuat banyak teman-temannya merasa iri dan tentu saja membencinya.


Tores memang belum lama di kenalnya, mungkin hanya baru dalam hitungan jam saja, namun dari ketulusan dan sikap baiknya yang dia yakin kalau Tores tak tau kepopularitasannya sebagai artis, Chery sudah menganggapnya sebagai teman yang polos namun tulus, namun hal buruk dan mengerikan justru terjadi pada teman barunya itu, apakah memang dia tak di takdirkan untuk mempunyai teman? Pikirnya.


"Tetap diam di sini dan jangan kemana-mana," bisik Arjuna tepat di telinga kanan Chery, sebenarnya bukan kata-kata romantis nan lembut yang di katakan pria itu, justru lebih ke sebuah perintah yang di ucapkan dengan nada ketus dan dingin, namun entah mengapa itu semua di telinga Chery terdengar bagai puisi cinta yang indah, bahkan tubuhnya di buat meremang akibat hembusan nafas Arjuna yang mengenai telinga dan kulit lehernya akibat jarak mereka yang sangat dekat.


Setelah mengatakan itu dan memastikan Chery mengangguk patuh, dia melepaskan bekapan tangannya di mulut gadis itu dan mulai memberi kode-kode rahasia pada semua anggotanya yang tentu saja tak Chery ketahui apa artinya, dia hanya bisa melihat kalau beberapa orang berseragam serba hitam itu membentuk kelompok-kelompok kecil dan menyebar ke beberapa titik.


Jumlah pasukan yang di bawa oleh Arjuna ternyata sepertinya cukup imbang, sekitar lebih dari dua puluh personil mengendap-endap di antara pepohonan, Arjuna sangat percaya diri kalau pasukan yang di pimpinnya akan bisa melawan para bandit di bawah kepemimpinan Ribo yang jumlahnya sekitar 30-an orang itu.


Tangan kanan Arjuna mengacung ke udara, dan bersamaan dengan itu pasukannya keluar dari persembunyian mengepung para bandit dengan menodongkan senjata ke arah mereka.


Namun alih-alih ketakutan dan menyerah, para bandit itu justru malah serempak mengacungkan senjatanya saat Ribo sang pimpinan mengintruksikan "Serang!" teriak Ribo memerintahkan para anak buahnya untuk balik menyerang pasukan Arjuna, tak ada kata takut di wajah mereka sama sekali.

__ADS_1


Perkelahian tak dapat lagi di hindarkan antara pasukan di bawah pimpinan Arjuna melawan kelompok bandit sadis itu, suara tembakan saling bersahutan, suara senjata tajam yang saling beradu juga membuat keadaan menjadi semakin mencekam.


Di tengah suasana yang sangat 'chaos' itu, Chery melihat kalau Tores berada di pinggir lapangan mencoba menyelamatkan dirinya yang terluka dari kerusuhan yang mungkin saja bisa membunuh dirinya yang kini tak berdaya, dengan susah payah.


Melihat itu semua Chery tak bisa tinggal diam, dia yang tadi mengangguk patuh untuk tetap menunggu di sana segera melupakan janjinya setelah melihat kondisi Tores yang babak belur.


Chery segera keluar dari persembunyiannya dan menghampiri Tores, tangannya terulur segera meraih lengan Tores saat jarak mereka sudah semakin dekat, namun nahasnya seorang anak buah Ribo melihat pergerakan Chery sehingga dia segera mendekat dan berniat menagkap gadis yang sedang susah payah menarik lengan Tores yang sudah hampir tak sadarkan diri iru.


Pria tinggi itu berusaha mencekal bahu Chery, namun Chery segera menyadarinya, dengan gerakan yang tenang dia dapat melawan dan balas menyerang pria itu, Chery memang tak jago bela diri, namun saat dirinya berperan dalam film action, ada pelatih khusus yang mengajarkan bela diri meski hanya tahap dasar, dan rupanya itu lumayan berguna di saat-saat genting seperti ini, meski tak mematikan lawan, namun setidaknya dia punya kesempatan untuk melarikan diri dan menyelamatkan dirinya sekaligus membawa Tores ke tempat yang lebih aman.


"Nona, maaf saya sudah menyusahkan nona, saya berhutang nyawa," ujarnya lirih.


"Sssttt, jangan terlalu banyak berpikir, siapapun akan melakukan hal yang sama saat melihat kamu dalam kesusahan tadi." Chery meletakan tubuh Tores di antara semak-semak, membiarkannya beristirahat.


"Tidak, tetap saja aku hanya akan berterima kasih pada anda nona, karena anda telah dengan berani mempertaruhkan keselamatan bahkan nyawa anda hanya untuk prajurit rendahan seperti saya ini, saya akan sangat merasa bersalah dan tak tahu harus berkata apa pada kapten jika sampai anda kenapa-napa." Kata Tores sambil meringis menahan sakit di sekujur tubuhnya, selain kepalanya yang tadi beberapa kali di hantam dengan gagang senapan, tubuhnya pun tadi sempat terinjak-injak di tengah pertikaian panas itu.

__ADS_1


Tak lama Arjuna kini sudah berhadapan langsung dengan Ribo, mereka sama-sama mengokangkan senjata mereka ke tubuh lawan, membuat semua anggota mereka masing-masing menghentikan aksi saling serang yang saat ini masih memanas.


"Aku akan melepaskan mu jika kau menarik mundur anak buah mu sekarang juga," Arjuna membuka suara, Ribo tak sesederhana itu, puluhan kali di tangkap dia pasti akan keluar dari tahanan tak kurang dari satu hari, jelas ada orang besar di balik dari aksinya yang hanya bertopeng sebagai bandit sadis, dan Arjuna tak se bodoh itu.


"Apa kau takut? Anak kemarin sore hendak melawan ku, kau cari mati rupanya!" Ribo terkekeh.


"Aku hanya menghormati Berto, dia berpesan dan mewanti-wanti untuk tak membunuh mu meskipun aku sangat mampu, karena Berto ingin membunuh mu dengan tangannya sendiri," Arjuna menyeringai, mendengar nama Berto di sebutkan, membuat wajah Ribo kini menegang.


"Bajingan, kau di pihak dia rupanya, katakan padanya, aku akan menunggu saat-saat itu. Saat-sat dimana aku akan mengulitinya hidup-hidup dan memakan tubuhnya tanpa tersisa!" ucap Ribo penuh marah, entah masalah apa yang terjadi di antara dia dan Berto di masa lalu sehingga kini mereka sama-sama saling menyimpan dendam yang teramat dalam.


Arjuna dan Ribo sama-sama memerintahkan pasukannya untuk mundur,saat menyadari banyak dari anggota mereka yang terluka, terlebih Ribo sepertinya sudah bisa mengukur kalau perkelahian di teruskan, bukan tidak mungkin mereka akan kalah, lain dengan Arjuna, meski dia berpeluang untuk menang, tapi dia memikiran akan lebih banyak warga tak berdosa yang akan menjadi korban di sini, jadi dia sama-sama menarik mundur pasukannya.


Anggota yang selamat membawa para anggota yang terluka ke sisi aman, sementara Arjuna dan Ribo sama-sama bersiaga dengan senjata mereka masing-masing sambil menjaga anak buah mereka memastikan tak akan ada yang memicu ketegangan lagi di antara mereka.


Namun saat mereka sudah sama-sama berbalik badan untuk meninggalkan tempat mereka bertikai, seorang pria berperawakan tinggi besar mirip Ribo namun sepertinya lebih muda dari pimpinan bandit itu, mengayunkan parangnya ke arah Arjuna dari belakang sambil berteriak "Matilah kau!"

__ADS_1


Arjuna yang tak menyadarinya pun sudah tak punya waktu lagi untuk mengelak dari serangan pria yang bersikap pengecut karena menyerang di saat kedua belah pihak setuju untuk menarik pasukan masing-masing itu.


__ADS_2