Dendam Cinta Sang Kapten

Dendam Cinta Sang Kapten
Belajar menjadi munafik


__ADS_3

"Bagaimana, apa kau sudah memutuskan, langkah apa yang akan kau ambil?" tanya Berto, sudah dua hari Arjuna berada di rumahnya, dan dia seperti masihbelum bisa menerima kenyataan yang terjadi.


"Aku akan membuat perhitungan dengan wanita itu, aku akan menghancurkan karirnya dan menyeretnya ke dalam penjara sesuai janji yang pernah aku ucapkan pada Luna, kalau aku akan membalaskan semuanya." Ujar Arjuna penuh keyakinan.


"Kau yakin akan melawannya? Bukankah kau mencintainya? Kau akan menyakiti diri mu sendiri jika kau menyakitinya, percayalah!" kata Berto santai, usia Berto jauh lebih tua di banding Arjuna, dari segi pengalaman dalam hal pekerjaan dan urusan cinta jelas dia lebih paham dan lebih senior.


Berto berani bertaruh, dia sangat yakin kalau Arjuna tak bisa menghilangkan perasaan cintanya pada Chery begitu saja, dan rasa bencinya saat ini adalah ungkapan kemarahannya, lagi pula jujur saja Berto juga menaruh rasa iba pada Chery yang menurutnya tidak sepenuhnya bersalah dalam hal ini, Berto bahkan menugaskan beberapa anak buahnya di Ibukota untuk menyelidiki masalah ini secara diam-diam.


"Cih, anggap saja itu kesalahan terbesar ku, mencintai wanita licik pembunuh calon istri ku." Decih Arjuna berusaha mengingkari kalau perasaan itu masih ada dalam hatinya.


"Oke terserah lah, tentang perasaan mungkin hanya kau yang tau, tapi untuk sebuah kebenaran, setidaknya kau perlu pembuktian lain, kau perlu memakai logika mu, bukan amarah mu, kau tidak bisa buru-buru menuduh kalau itu murni kesalahan wanita itu, terlalu banyak kebenaran yang kau abaikan hanya karena ego mu." Berto mencoba mengingatkannya sebagai teman.


Namun Arjuna sepertinya sudah berubah menjadi bebal, "Tentu saja aku akan mencari bukti lainnya, setelah itu menjebloskannya ke dalam tahanan."


"Kalau kau ingin mencari bukti lebih banyak lagi, sebaiknya kau ikut permainan ku, kau akan mendapat banyak bukti dimana itu semua akan membuat mu membuka mata dan bisa menentukan sikap mu pada wanita mu itu." ujar Berto menyampaikan idenya.


"Permainan apa?"


"Terima tawaran ku untuk di jodohkan dengan Ines Hartono, putri tunggal dari keluarga Agung Hartono." Tantang Berto.


"Kau gila, apa kau pikir masalah ku tidak cukup rumit, sehingga kau malah ingin menambah masalah baru pada ku, kau memanfaatkan ku yang sedang kesudahan ini untuk misi mu sendiri, teman macam apa kau ini, aku malas berurusan dengan jendral tak beres seperti dia!" kesal Arjuna.


"Percayalah, ini bukan hanya sekedar misi ku, tapi juga bisa menguntungkan mu dalam memecahkan masalah mu, kau pikir masalah ini bisa hilang begitu saja dari catatan kepolisian tanpa ada campur tangan pejabat tinggi di kepolisian? Kau pikirkan lagi, jendral polisi mana yang paling dekat dengan Hasan Basri?" Berto mulai membuat Arjuna goyah dengan pikirannya sendiri, benar kata Berto, ini pasti ada campur tangan atasan di kantornya, dirinya yang hanya sebagai perwira menengah itu tak akan punya kekuatan apa-apa jika harus adu kekuatan dengan para petinggi di kantornya.


"Apa kau berpikir kalau Agung Hartono terlibat dalam masalah ini?" tanya Arjuna mulai tertarik dengan pembahasan Berto.

__ADS_1


"Aku tidak tau pasti, namun kecurigaan ku mengarah ke sana, sebaiknya kau cari tau secara langsung, bagaimana, kau setuju dengan tawaran ku? Percayalah, kau akan banyak di untungkan jika mengikuti permainan ku kali ini, aku akan mengatur pertemuan mu dengan mereka besok, jika kau setuju." Tawar Berto.


"Besok?" Arjuna mengerutkan keningny, dia tak mengira kalau akan secepat itu.


"Hemh, besok akan ada pertemuan khusus para petinggi kepolisian dan juga intelejen, kau akan ikut dengan ku, dan selanjutnya itu akan menjadi urusan ku, kau hanya perlu berpura-pura tertarik dengan Ines, itu saja. Tenang saja, dia tak terlalu buruk, kok. Meski tak secantik si artis mu itu." Canda Berto.


Arjuna hanya tersenyum malas, tidak ada pilihan lain untuk dirinya selain setuju dengan ide Berto.


Tiba di waktu yang di tentukan, Arjuna dan Berto terbang ke Ibukota, menghadiri pertemuan yang di adakan di sebuah villa, entah bagaimana Berto mengurusnya, putri jendral yang bernama Ines itu benar-benar ikut ke acara itu mendampingi ayahnya.


"Apa ini, teman baik anda yang sedang patah hati dan ingin di jodohkan dengan ku itu?" seloroh Ines saat mereka baru saja bertemu, sepertinya Berto sudah melobikan Arjuna langsung pada ayahnya.


Arjuna sedikit tercekat, dia juga agak grogi karena bertemu dengan jendral tinggi seperti Agung Hartono yang hanya bisa dia dengar cerita-cerita track record buruknya di kalangan para teman kantornya dulu, namun kini dia berhadapan secara langsung.


"Terimakasih Jendral." Arjuna mengangguk tanda hormat.


"Aku juga suka, dia tampan dan gagah, sesuai dengan kriteria ku, ayo kita mengobrol di tempat lain, biarkan mereka membicarakan masalah negara, kita berbicara masalah masa depan kita saja!" Ajak Ines, dia wanita yang cukup berani dan berinisiatif, mungkin karena di besarkan di keluarga kaya raya dan di takuti, jadi dia terkesan agak liar dan seenaknya.


Arjuna hanya bisa mengikuti krmana Ines membawanya, tak ada ketertarikan sedikitpun dengan wanita yang dengan santainya bergelayut manja di tangan kokohnya itu, ini semua demi misi, sehingga dia harus membiarkan wanita itu bersikap semaunya.


Arjuna mencoba mengimbangi obrolan Ines, seperti yang di perintahkan Berto, dia juga menunjukkan rasa ketertarikannya pada wanita yang mengaku berusia 28 tahun itu, sudah lumayan matang untuk ukuran wanita, hanya terpaut dua tahun lebih muda saja darinya.


"Aku merasa cocok dengan mu, dan aku ingin mengenalkan mu pada semua keluarga ku, beberapa hari lagi ayah dan ibu ku akan mengadakan acara anniversary pernikahan mereka, kamu akan aku perkenalkan sebagai calon suami ku di sana," kata Ines.


"Aku tidak terbiasa berada dalam suasana seperti itu," tolak Arjuna.

__ADS_1


"Hanya beberapa pejabat negara dan pejabat kepolisian penting yang hadir, mungkin di tambah beberapa para artis papan atas juga, kamu harus terbiasa dengan acara seperti itu, tenang saja ada aku." Ujarnya.


"Ada artisnya?" Arjuna menaikan sebelah alisnya, mendengar kata artis hantinya sedikit terasa seperti di cubit.


"Iya, ibu ku lebih tepatnya tang mengundang mereka, biasa lah. Itu merupakan gengsi tersendiri jika bisa mengundang artis-artis dengan nama besar seperti Chery Arleta, Rey,,,," ucapan Ines harus terhenti, karena Arjuna tiba-tiba menyemburkan minuman yang sedang di sesapnya dan terbatuk karena tersedak ketika nama Chery di sebut oleh Ines.


*Flashback off.


Langkah tegap Arjuna saat menggandeng Ines di acara ulang tahun pernikahan orang tuanya tak setegap hatinya kini, jantungnya berdegub kencang mengingat hari ini mungkin dirinya akan bertemu dengan Chery untuk pertama kalinya setelah hampir dua bulan berpisah, matanya bahkan sesekali menyapu seluruh ruangan berharap bisa menemukan sosok Chery, namun bayangannya pun tak dia lihat di sana.


Arjuna duduk bersama keluarga besar Hartono, beserta tamu-tamu kehormatan lainnya, tadinya Arjuna pikir dirinya akan satu meja juga dengan Chery, mengibgat kini Hasan Basri beserta istrinya juga duduk satu meja dengan dirinya, Lagi-lagi harapannya untuk bertemu Chery kandas.


Dirinya sangat membenci gadis itu, tapi mengapa alam bawah sadarnya selalu seolah mengharapkan kehadirannya, ini membingungkan, dia sepertinya belum sepenuhnya bisa mengendalikan perasaannya pada Chery saat ini.


Sampai pada akhirnya, keinginannya di kabulkan Tuhan, dari kejauhan Arjuna sudah dapat melihat Maya yang tak lain ibu dari Ines mengapit lengan Chery dan menuju ke meja mereka, gadis itu terlihat seperti bintang yang paling bersinar di antara para tamu, dengan balutan gaun hitam panjang membuat penampilan Chery begitu anggun, model kerah sabrina yang memamerkan bahu mulusnya membuat Arjuna mendengus kesal, dia merasa tak suka jika bagian tubuh Chery itu di lihat banyak orang di sana, tapi semakin Chery mendekat, tayangan video itu muncul jelas di benaknya, membuat dia akhirnya memalingkan wajahnya berpura-pura tak menghiraukan kehadiran gadis yang sejak tadi paling di carinya itu.


Wajah Chery terlihat pucat dan menegang saat melihat dirinya, namun gadis itu juga terlihat sangat terluka saat Maya memperkenalkan Arjuna sebagai calon menantunya, rasa sakit yang di rasakan Chery saat ini sepertinya ikut juga di rasakan Arjuna, apalagi saat dirinya bersikap seolah tak mengenal Chery dan mengucapkan kata-kata menyakitkan untuk gadis itu, lagi-lagi ucapan berto benar, setiap kata menyakitkan yang dia lontarkan pada Chery, ternyata dirinya ikut merasakan sakit yang sama, namun dirinya harus belajar menjadi orang yang munafik mulai saat ini, meskipun itu sulit.


Arjuna pamit untuk ke toilet saat Chery bergegas meninggalkan meja dengan mata berkaca-kaca, dia ingin mengikuti kemana Chery pergi, masih ada rasa khawatir jika Chery melakukan tindakan bodoh, apalagi saat dia lihat Chery setengah berlari ke arah balkon, hatinya cemas jika sampai Chery berpikiran pendek dan memilih untuk nekat loncat dari atas sana, dari bahunya yang mengguncang, Arjuna bisa menebak kalau saat ini Chery sedang menangis.


"Sayang, kenapa ada di sini, bukannya tadi dari toilet? Ayo, saatnya berdansa!" Ajak Ines.


Membuat Arjuna terpaksa meninggalkan Cheri di Balkon sendirian, namun hatinya tiba-tiba terasa panas seperti terbakar saat tiba-tiba di sela-sela kegiatan berdansanya, dia melihat Chery menghilang di tubuh seorang pria, Arjuna sungguh penasaran siapa pria yang kini hanya nampak punggungnya saja itu, hati Arjuna terasa seperti terbakar hebat.


*Flashback off.

__ADS_1


__ADS_2