Dendam Cinta Sang Kapten

Dendam Cinta Sang Kapten
penyangkalan yang gagal


__ADS_3

"Ish siapa pula pria ini Chery, tampan tapi tatapannya menyeramkan, apakah dia saingan cinta komandan?" tanya Tores cuek.


Sean semakin mendelik dan menatap sinis Tores yang seolah tak berdosa telah menyampaikan perkataan yang menyinggung perasaannya itu.


"Ah, Tores-- ini pengacara yang membantu ku, namanya Sean Malik, dan Sean, ini Tores, dia emh--teman ku." Chery bingung memperkenalkan Tores sebagai apa, meskipun kebersamaan mereka tidak begitu lama, namun Chery bisa merasakan ketulusan Tores, pria itu terkesan polos, namun di balik semua kepolosannya menyimpan rasa solidaritas yang tinggi terhadap temannya.


Tores menyodorkan tangannya untuk menyalami Sean dengan mimik lugunya, namun Sean menerima uluran tangan Tores dengan wajah yang asam, sepertinya dia kurang menyukai Tores, entah dengan alasan apa.


"Tores, kenapa kau berada di sini? Lantas benarkah apa yang aku dengar dari pengelola apartemen kalau kau desersi dari tugas mu di kepolisian?" Chery mempersilahkan kedua tamu prianya itu untuk duduk di sofa ruang tamu.


"Aku menemukan pekerjaan yang lebih menantang, aku sekarang tergabung dalam perusahaan jasa penyewaan bodyguard, sudah tiga hari aku di pindahkan di Ibukota, dan aku baru melihat berita tentang kasus yang sedang di hadapi oleh mu, apa kamu berminat untuk menyawa jasa ku? Aku akan memintakan potongan harga khusus untuk mu pada atasan ku, kamu pasti perlu aku untuk menjaga mu, Chery." Ceroscos Tores bercerita.


"Dia tak perlu bodyguard atau apapun itu, nonsense! Aku bisa menjaganya." Sambar Sean.


"Aku akan menghubungi perusahaan mu, dan menyewa mu sebagai pengawal ku." Putus Chery.


"Chery, kamu tidak boleh gegabah, bisa saja dia---"


"Sean, aku percaya pada Tores, dia pria yang baik." kata Chery penuh keyakinan, membuat hidung Tores kembang kempis karena mendapat pujian dari Chery.


"Hmmm,,, terserahlah!" Sean mengangkat kedua bahunya dan berdiri, lantas berpamitan, sepertinya dia merasa kesal dengan keputusan Chery yang keukeuh berniat menjadikan Tores si pria berkulit gelap yang menurutnya songong itu sebagai pengawalnya.


"Apa Arjuna tahu kau berada di Ibukota?" tanya Chery selepas kepergian Sean dari sana, sejak tadi dia ingin menanyakan hal itu namun merasa tak enak hati dengan Sean yang sepertinya selalu menampakan wajah kurang bersahabat jika membahas tentang Arjuna, dan Chery rasa, ketidak sukaan Sean terhadap Tores pun itu karena di awal pertemuan mereka Tores sudah membahas dan membawa-bawa nama Arjuna sebagai pembanding dirinya.

__ADS_1


"Tidak, aku belum sempat memberi tahunya, lagi pula, malas rasanya kalau harus menemui nya di kantor polisi atau di rumah dinasnya yang berada di lingkungan perumahan para anggota, aku kan sudah bukan anggota polisi lagi." Kata Tores, polos seperti biasanya.


"Apa tidak sayang, kau keluar dari instansi, sementara ada banyak orang yang ingin menjadi anggota kepolisian seperti mu dan tidak lolos ujian masuk? Walaupun ya-- semua keputusan hidup mu memang sepenuhnya berada di tangan mu," karena merasa sudah lumayan dekat dengan Tores, Chery tak merasa sungkan mempertanyakan hal yang sebenarnya merupakan ranah pribadi Tores.


"Aku hanya mencoba mengikuti kata hati saja, ternyata pekerjaan seperti ini yang aku inginkan. Lagi pula dengan begini aku jadi bisa berkumpul lagi dengan nona Chery, toh?" selorohnya menyeringai menampakkan barisan gigi putihnya.


***


Hari ini Sean dan Chery mendatangi kantor polisi, untuk menyerahkan berkas-berkas yang di perlukan untuk melengkapi syarat penangguhan tahanan Chery.


Penangguhan tahanan Sean untuk Chery berhasil di setujui oleh penyidik, penuntut umum dan juga Hakim, dengan Sean sendiri yang menjadi jaminannya, apalagi Sean juga dapat membuktikan surat keterangan dari rumah sakit atas kondisi Chery yang trauma pasca kecelakaan dan ingatannya banyak yang hilang, Sean yang memang bisa di katakan memang ahli dalam urusan otak-atik hukum itu akhirnya sekali lagi bisa membuktikan kemampuannya dalam mempertahankan sebutan pengacara hebat, karena lagi-lagi kasus yang di tanganinya berhasil di menangkannya.


Pergolakan batin Arjuna lagi-lagi di uji saat ini, di satu sisi dirinya bahagia karena akhirnya Chery bisa bebas dari hukuman, namun di sisi lain dirinya juga harus menelan pil pahit karena keadilan untuk Luna tidak berhasil dia berikan, membuat pria yang nampak gagah dengan seragam kebesarannya itu banyak terdiam dan hanya membolak-balikan lembaran-lembaran kertas di tangannya, membacanya berulang kali demi menghindari kontak mata dan berkomunikasi dengan Chery juga Sean.


"Selamat atas kebebasan mu, semoga hari-hari mu ke depan lebih baik." Arjuna mengembalikan berkas-berkas itu ke hadapan Chery.


"Aku akan datang." Jawab Arjuna.


"Chery, ada hal yang ingin aku bicarakan dengan kapten Arjuna, apa kamu tidak keberatan?" Sean memberi kode kalau dia ingin berbicara dengan Arjuna tanpa ada Chery di sana.


"Saya akan menjaga nya untuk anda," Fajar yang kebetulan berada di ruangan itu sigap membawa Chery keluar ruangan Arjuna, meninggalkan kapten polisi dan pengacara handal itu berdua saja dalam ruangan itu.


"Apa yang ingin kau bicarakan dengan ku, bukankah nanti malam kita akan bertemu dan bicara di acara konferensi pers klien mu?" Arjuna terkesan seperti ogah-ogahan berbicara empat mata dengan Sean.

__ADS_1


"Aku mengerti atas kehilangan yang anda rasakan, tapi aku harap anda berhenti menyiksa Chery." Kata Sean tak ingin berbasa basi.


"Menyiksa seperti apa yang kau maksud?" Arjuna terperangah dengan kata-kata yang di ucapkan Sean.


"Aku sudah melacak siapa orang pertama yang mengirimkan video itu lewat media, dan aku yakin anda lebih tau tentang itu, namun tenang saja-- aku tak mengatakan tentang semua itu pada Chery, tapi aku juga tak menjamin akan tetap menutup mulut ku, jika sampai ini terulang lagi."Nada bicara Sean terdengar lebih serius dari sebelumnya.


"Kau mengancam ku?" Arjuna berusaha menyembunyikan rasa kagetnya dengan cara menunjukan sikap defensif-nya, sikap bertahan yang biasanya muncul ketika seseorang melakukan kesalahan tapi enggan mengakuinya, alih-alih mengakui, dia justru menunjukkan sikap seperti merasa tertuduh dalam sebuah perbuatan buruk yang memang di perbuatnya.


"Ini bukan ancaman, aku hanya tak ingin anda merasa menyesal pak komandan, aku yakin, jauh di dalam hati mu sebenarnya anda juga menyangkal kalau Chery bersalah dalam hal ini. Meski juga tidak bisa di katakan benar, tapi anda jelas tau pasti kalau kesalahan bukan sepenuhnya milik Chery." Sean terus mengejar Arjuna dengan argumennya dengan khas gaya pengacaranya.


"Tetap saja dia bersalah dalam hal ini, dia pengemudinya, dia yang sudah---"


"Kekasih mu berjalan tanpa melihat kiri kanan, dia sibuk dengan ponselnya, itu terlihat jelas di video, jika aku mau, aku bisa menjadikan itu sebagai alasan untuk membebaskan Chery dengan mudahnya, tapi aku tidak menggunakan cara itu karena aku tau itu dapat menjatuhkan dan lebih menyakiti mu, aku harap kita sama-sama menghargai, Chery sudah cukup menderita, dia sudah hancur saat ini, aku yakin anda juga ikut hancur bukan, melihat dia seperti sekarang ini?" kata-kata Sean lumayan menohok hati Arjuna membuatnya terpaksa meng-iyakan pernyataan Sean meski hatinya mati-matian menyangkalnya.


"Kau berengsek!" Arjuna hanya bisa memaki Sean saat dirinya benar-benar merasa di pojokkan oleh Sean.


"Aku memang berengsek, tapi setidaknya aku tidak pernah menyakiti orang yang aku sayangi, dan aku tidak pernah munafik, cobalah untuk lebih jujur pada diri anda sendiri kalau sebenarnya anda tersiksa dengan ego anda ini."


"Sok tau!" Arjuna bersikeras, dia memalingkan wajahnya jauh ke arah jendela, tak ingin mimik gugupnya terbaca oleh Sean.


Namun Sean hanya tersenyum meski dirinya terus mendapat makian,


"Jika anda mencintai seseorang, maka anda harus berani menghadapi isi hati dan ego anda sendiri, jika anda tidak punya keberanian diri, sebaiknya lupakan saja perasaan itu, lepaskan dia."

__ADS_1


"Omong kosong, aku punya kekasih dan kau juga tau itu. Aku tak punya hubungan apa-apa dengan Chery." Sangkal Arjuna.


"Pak Kapten, kita memang tidak bisa mendengar suara detak jantung kita sendiri, namun kita bisa mendengar suara hati kita sendiri, dengarkan kata hati anda, jangan terus membohongi diri." Sean mengakhiri perbincangannya dengan kalimat pamungkas yang berhasil membuat Arjuna terdiam seribu bahasa dan tak mampu lagi berkata-kata melawan Sean yang memang jagonya bermain kata.


__ADS_2