
Keesokan paginya, Tores menghampiri Arjuna yang masih duduk di luar, sama sepwrti tempat semalam dia mengasingkan diri, dengan dalih berjaga-jaga, padahal dia hanya tak ingin terlibat kontak apapun lagi dengan Chery, batinnya masih bergrjolak dan belum bisa menerima keadaan jika dirinya harus memaksakan diri akrab dengan gadis itu.
Keadaan Tores sudah mulai membaik, sejak semalam Chery menjaga dan mengobatinya.
"Izin Ndan, nona Chery belum makan dari kemarin, saya rasa anda harus membujuknya untuk memakan sesuatu, nona juga tidak tidur sejak kemarin malam." Lapor Tores mengatakan yang se jujur-jujurnya, dia sudah berusaha membujuk agar Chery mau makan, tapi gadis itu tak mau memasukan makanan apapun ke mulutnya selain teh panas seperti kemarin pagi.
"Lantas apa hubungannya dengan ku? Jika tak mau makan ya, biarlah. Manja!" Arjuna mendecih acuh.
"Nona sangat khawatir dengan keadaan anda sejak datang ke sini, semalaman nona menunggu anda pulang, sampai pagi dia tak makan, hanya karena memikirkan anda yang mungkin juga belum makan, dan semalam, setelah anda memarahinya, dia menangis tiada henti sampai matanya membengkak sekarang, nona hanya menghawatirkan anda di setiap waktunya," kata Tores, tentu saja dari semua yang di katakannya terdiri dari 50% kejujuran dan 50% kebohongan karangan ceritanya hanya karena ingin melihat Arjuna dan Chery tak lagi bertengkar.
Tentang Chery yang belum makan sejak kemarin itu benar dan tentang Chery yang belum tidur sejak kemarin juga benar tapi tak selebay yang di utarakan Tores saat ini, apalagi sampai mengatakan mata Chery bengkak akibat menangis semalaman, itu omong kosong, Chery memang menangis, tapi itu tak berlangsung lama, setelah beberapa saat dia langsung bisa menangani emosinya sendiri, dia juga membantu beberapa orang lain selain Tores yang terluka semalam, di ruangan itu.
"Ndan, kasihan nona Chery, dia akan jatuh sakit jika tak juga mau makan apapun." Bujuk Tores lagi.
Arjuna berdecak kesal, "Kau itu ajudan ku atau ajudan dia, sebenarnya?" ketus Arjuna dingin, lalu bangkit dari tempat duduknya.
Di dalam ruangan, terlihat Chery sedang duduk melamun di depan jendela yang terbuka, matanya kosong entah menatap apa, tiga hari sudah dirinya berada di pulau terpencil ini, bahkan tak ada seorangpun yang mencari dan menjemputnya ke tempat ini, tak ada seorangpun yang peduli dengan dirinya, bahkan itu Dion yang selalu bersama dengan dirinya selama ini, jika itu ibunya dia tak heran, karena selama ini Siska tak pernah peduli dengan dirinya kecuali dengan uang yang di hasilkan dari kerja keras putrinya.
Memikirkan itu semua, air mata pun tak terasa kembali menetes di pipi mulus itu
Sementara Arjuna yang sejak tadi menghentikan langkahnya untuk mendekati Chery dan malah menatapnya dari kejauhan sedikit merasakan perasaan galau, dan bersalah, "Apa benar, kalau aku terlalu kejam padanya?" pikirnya.
Setelah meraih sepiring singkong dan ubi rebus dari meja yang di sediakan para warga, Arjuna kembali berjalan mendekati Chery dan sengaja berdeham di belakang punggung gadis itu.
Chery yang menyadari ada orang lain di belakangnya segera mengusap air matanya dan melirik ke arah belakangnya.
__ADS_1
"Apa lagi ini? Belum puas kau memarahi ku di depan semua orang?" mata Chery mengarah pada tangan kanan Arjuna yang menyodorkan sepiring ubi dan singkong rebus itu ke hadapannya tanpa kata.
"Di sini tak ada makanan mewah seperti yang biasa kau makan, jika masih ingin bertahan hidup, harus membiasakan diri makan makanan seperti ini, tapi jika kau tak mau, ya terserah!" merasa niat baiknya tidak di terima Chery, piring itu lantas di letakan begitu saja di meja dekat Chery berada lalu berjalan menjauh tanpa ingin memulai lagi perdebatan dengan gadis yang terlihat menyedihkan itu.
"Tunggu!"
Arjuna menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang, "Aku lelah dan sedang tak ingin berdebat dengan mu."
"Cih, bukannya kau yang selalu mengajak ku berdebat dan menganggap ku seolah sebagai musuh terbesar mu?"cibir Chery.
"Kau benar, kau memang musuh terbesar ku!" ujar Arjuna datar.
Namun Chery juga tak punya tenaga lagi untuk beradu argumen dengan pria itu, dia hanya membiarkan Arjuna mengatakan apapun yang ingin dia katakan.
"Nanti sore, setelah semua keadaan di sini aman dan terkendali kau akan langsung aku antar ke kota, jangan khawatir, aku juga sudah tak ingin melihat wajah mu lebih lama lagi, makanlah jika benar kau ingin kembali ke kota, jangan sampai kau sakit atau mati di sini karena kelaparan, itu akan sangat merepotkan kami semua!" kata Arjuna acuh tak acuh.
"Apa kau akan mati jika tak bersikap menyebalkan sekali saja saat berbicara dengan ku!" kesal Chery, namun Arjuna hanya mengabaikannya dan membalas perkataan gadis yang kini mengertakan gginya karena merasa sangat kesal.
"Kenapa kau tertawa-tawa seperti itu?" tegur Arjuna pada ajudannya yang ternyata memperhatikan interaksinya dengan Chery sejak tadi dari kejauhan bak sedang menonton drama kekasih yang sedang bertengkar.
"Anda dan nona Chery sungguh serasi, tampan dan cantik, hanya saja sama-sama gengsi mengakui kalau sebenarnya saling peduli satu sama lain, benar-benar romantis!" kata Tores sambil cengar-cengir.
"Ha, romantis? Romantis dari mananya? Apa otak mu bergeser karena pukulan para bandit itu sehingga kau menjadi bertimgkah tidak waras seperti ini!" Arjuna menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Sore ini setelah semua di rasa aman, aku akan langsung ke kota mengantarkan dia, tolong kau urus para anggota dan warga yang terluka, dan nanti aku akan mampir ke klinik untuk minta bantuan tenaga medis beberapa orang lagi agar menangani pasien dengan luka yang cukup parah di sini nanti," sambung Arjuna.
__ADS_1
**
Sore hari akhirnya tiba, Arjuna sudah bersiap di atas motornya untuk mengantarkan Chery ke kota seperti yang sudah di janjikannya tadi pagi, begitupun Chery yang sudah siap dengan wajah yang berseri-seri segera menuju ke jok penumpang setelah berpamitan pada Tores sebelumnya tentu saja.
"Hati-hati di jalan kapten, sampai jumpa lagi nona Chery!" Tores melambaikan tangannya saat Arjuna mulai memutar tuas gas di stang motornya, dan perlahan punggung Chery tak terlihat lagi dari pandangan Tores, ada rasa sedih dan kehilangan saat Chery harus segera kembali ke kota, dia merasa sudah begitu dekat dengan gadis itu meski mereka baru bersama belum lama, namun Tores dapat merasakan ketulusan Chery, dia tak tahu siapa Chery sebenarnya, dia tak tahu gadis itu seorang artis terkenal, dia tak tahu kalau dia anak tiri dari pejabat negara, yang dia tahu Cheri gadis baik hati itu adalah kekasih atasannya.
Saat matahari menghilang dan berganti malam, Cheri dan Arjuna masih berad di hutan menyusuri jalan alternatif menuju ke kota, tak ada perbincangan apapun di sepanjang perjalanan yang sudah berjalan hampir satu jam lamanya itu, mereka hanya saling terdiam, sibuk dengan lamunan mereka sendiri-sendiri.
Namun tiba-tiba angin bertiup sangat kencang, daun-daun kering berjatuhan, dan tak lama kemudian hujan turun dengan derasnya tanpa aba-aba sebelumnya, padahal saat mereka berangkat tadi, langit terlihat cerah.
Perjalanan sepertinya mustahil untuk di lanjutkan dalam keadaan hujan deras seperti itu, namun untuk berhenti di tengah hutan lebat seperti yang sekatang mereka lewati juga rasanya lebih tak mungkin lagi, tak aad tempat mereka untuk berteduh di sana, belum lagi ancaman binatang buas akan lebih membahayakan.
Malam belum terlalu larut, namun keadaan di hutan terasa sangat gelap dan mencekam, apalagi di tambah suara dahan dan dedaunan yang berdesir karena terkena angin, membuat bulu kuduk Chery merinding.
"Kita tak bisa melanjutkan perjalanan," dengan terpaksa Arjuna menepikan sepeda motornya.
"Ada apa?" tanya Chery, tubuhnya mengigil, bibirnya membiru, rupanya dia kedinginan karena di guyur hujan.
"Longsor, akan sangat berbahaya jika kita terus melanjutkan perjalanan." Arjuna menunjuk sebuah tebing di hadapan mereka yang kini longsorannya menutupi jalan setapak yang akan mereka lalui.
Cahaya dari senter kecil yang di pegang Arjuna akhirnya membuat gadis itu mengerti, sangat mustahil melanjutkan perjalanan ini.
Tapi tungu, apa itu berarti dia harus menghabiskan malam dengan pria jutek, dingin, arogan dan menyebalkan itu sepanjang malam dan hanya berdua?
"Oh tidak, situasi ini bahkan lebih parah di bandingkan peperangan yang terjadi semalam di halaman balai desa," protes Chery pada Tuhan dalam hatinya.
__ADS_1