Dendam Cinta Sang Kapten

Dendam Cinta Sang Kapten
Pengakuan


__ADS_3

Semenjak Tores tak lagi menginap di rumah dinas Arjuna, praktis di rumah itu hanya ada Arjuna dan Chery saja, tak ada orang lain lagi disana.


Tores yang berjanji untuk datang pagi pagi sekali ke rumah itu dalam dua hari terakhir ini memang memenuhi janjinya, tapi kedatangan Tores setiap pagi hanya untuk mengantarkan bahab makanan mentah dan lalu segera pergi lagi, ketika di tanya oleh Arjuna saat di kantor, katanya memasak dan urusan rumah tangga atasan tidak termasuk job desk dia sebagai ajudan, membuat Arjuna hanya bisa menggelengkan kepalanya dan tak bisa berkata-kata lagi karna hal itu memang benar adanya, alasan Tores terlalu tepat mengatas namakan job desk, sehingga Arjuna tak bisa berkutik, padahal di balik semua itu Tores hanya ingin menciptakan romansa antara Arjuna dan Chery, mungkin dia terlalu kebanyakan membaca novel-novel romantis, karena dalam bayangannya Arjuna dan Chery akan menjalin hubungan yang lebih baik jika mereka di berikan waktu yang lebih banyak berdua, bukankah makan adalah kebutuhan wajib dan penting bagi setiap mahluk hidup, Tores berharap mereka akan lebih dekat mungkin salah satunya dengan masak bersama atau saling memuji hasil masakan pasangannya, bukankah untuk memenangkan hati pria adalah memanjakan perutnya?


Sayangnya ada satu hal yang Tores tidak tahu, Chery tak bisa memasak, sehingga alih-alih tercipta romansa yang berawal dari masak memasak, dua hari terakhir ini Arjuna yang sibuk dengan laporan dan pekerjaannya tak pernah ada waktu untuk memasak, dia selalu berangkat pagi dan pulang sore menjelang malam hari, sementara Chery yang sama sekali tak bisa memasak itu hanya bisa memakan roti dan biskuit saat perutnya benar-benar lapar, tak jarang dia juga hanya bisa menahan rasa laparnya saat makanan di lemari habis atau menipis, dia merasa tak enak hati jika menumpang dan menghabiskan stok makanan di rumah Arjuna.


Hari itu Arjuna ada tugas ke pelosok untuk meninjau desa-desa yang terdampak longsor, memastikan tak ada korban luka atau sebagainya, sehingga karena jaraknya yang lumayan cukup jauh, pukul 8 malam dia masih dalam perjalanan pulang, butuh waktu setidaknya satu setengah jam lagi untuk sampai ke rumah.


Sementara di rumah, chery yang kelaparan akibat roti dan biskuit yang biasa dia makan habis kemarin, merasa sangat kelaparan, meskipun setiap pagi Tores mengirim sayuran dan lainnya untuk di masak, namun dia tak ingin mencari masalah di dapur orang, dia sangat paham dengan kelemahannya dalam hal memasak, dan tak ingin membuat kekacauan yang mungkin akan membuat Arjuna murka padanya, jadi dia memilih untuk menahan rasa laparnya.


Malam ini hujan turun tak terlalu deras, namun cukup membuat suasana terasa syahdu, apalagi saat ini Chery sedang duduk di ruang tamu sambil menatap ke luar melalui jendela kaca.


Chery benar-benar merasa sendiri, dan terasing, meskipun dirinya satu atap dengan Arjuna, pria itu seperti sengaja menghindarinya, padahal bukankah mereka sudah sepakat untuk melupakan insiden di gubuk waktu itu, atau mungkin Arjuna merasa tidak nyaman dengan kehadirannya di rumah itu.


Tepat pukul 10 malam saat motor Arjuna berhenti di pelataran rumah, pria itu sedikit kaget saat mendapati Chery duduk di ruang tamunya, meski sudah beberapa hari bersama, dia masih belum merasa terbiasa dengan situasi seperti itu.


"Apa ini, bagaimana ini bisa ada pada mu?" tanya Chery saat Arjuna memberinya sebuah tas besar padanya yang dia kenali adalah tas miliknya yang berisi pakaian yang tertinggal di van saat dirinya di culik.

__ADS_1


"Anak buah berto mengembalikan barang-barang mu, tapi hanya itu yang mereka kembalikan, mungkin barang yang lainnya di anggap berharga dan tak mereka kembalikan karena akan mereka jual." Ujar Arjuna cuek, lantas masuk ke kamarnya begitu saja, bahkan Chery belum sempat mengucapkan terimakasih padanya.


Chery membuka tasnya yang dia ingat itu berisi beberapa potong pakaian tambahan karena kopernya tidak muat. Sebenarnya dia ingin protes kenapa kopernya tidak di kembalikan sekalian, namun kembali lagi, bukankah seharusnya dia bersyukur, setidaknya dia tak harus memakai pakaian milik Arjuna terus menerus, meskipun dia mulai merasa terbiasa dan nyaman dengan t-shirt kebesaran milik Arjuna, namun bisa saja si pemilik tidak suka jika bajunya di pinjam olehnya.


"Apa kau mencari ini?" Arjuna keluar kamar dengan sebotol obat anti depresan milik Chery, tepat ketika gadis itu mengacak-acak isi tasnya.


"I-iya," Chery berniat meraihnya, namun dengan cekatan Arjuna menyembunyikan obat itu dalam genggamannya.


"Katakan pada ku kenapa kau harus minum obat seperti ini? Aku akan memberikan obat ini pada mu jika kau mau berkata jujur pada ku." Arjuna duduk dengan mengambil posisi berhadap-hadapan dengan Chery, dia sangat ingin tahu tentang trauma apa yang terjadi pada Chery, terlebih semalam Chery berteriak histeris ketakutan dan minta tolong seperti kejadian di gubuk waktu itu, membuat Arjuna kembali panik meski sudah pernah mengalami situasi seperti itu sebelumnya.


Chery menghela nafas sangat dalam, dia tak yakin untuk menceritakan masalah ini pada Arjuna yang notabene adalah seorang polisi, sementara apa yang di alaminya bisa di katakan melanggar hukum atau sebuah kejahatan yang sudah di sembunyikan oleh keluarga besarnya dan di wanti-wanti untuk tak menceritakannya pada siapapun.


"Kenapa diam?" Tanya Arjuna tidak sabar.


"Aku hanya merasa tak nyaman dan tak ingin menceritakan trauma dalam hidup ku." Kelit Chery.


"Kau melakukan kejahatan? Kesalahan?" Arjuna mencoba menebak-nebak.

__ADS_1


"Tidak, itu trauma saat aku syuting film horor dua bulan yang lalu, ada adegan yang membuat ku ketakutan dan menjadi trauma," bohong Chery.


"Dua bulan lalu? Tapi obat ini seharusnya kau dapatkan dari psikiater yang menangani mu jauh sebelum syuting film horor 2 bulan yang lalu, bukankah obat ini sudah kau konsumsi lebih dari setengah tahun yang lalu?" intuisinya sebagai penyidik kepolisian yang sedang menginterogasi tersangka mencuat tiba-tiba, dia harus mendapatkan kebenaran malam ini, bagaimanapun sebagai mantan kepala reskrim, kemampuannya dalam menginterogasi tersangka tidak dapat di remehkan, dan itu luput untuk Chery sadari.


Saat ini Chery setengah mati menyembunyikan rasa kagetnya, bagaimana bisa Arjuna mengetahui sejauh itu tentang dirinya, bahkan kemampuan akting yang dia pelajari selama puluhan tahun pun terasa tak dapat membantunya dalam menyembunyikan mimik keterkejutannya itu.


"Hmmm, iya aku mendapatkannya sekitar tujuh atau delapan bulan yang lalu, atas resep psikiater ku." jujur Chery pada akhirnya, dia tahu siapa yang dia hadapi saat ini, akan sia-sia dan konyol jika dia terus bertahan dalam kebohongannya.


"Jadi, syuting film horor mu dua bulan yang lalu atau delapan bulan yang lalu?" tanya Arjuna dingin.


"Emmhh, delapan bulan yang lalu awal aku mengalami trauma, namun semakin parah dua bulan yang lalu saat aku selesai syuting film horor." Chery berusaha tenang menjawab interogasi dadakan yang di lakukan Arjuna padanya.


"Apa yang terjadi pada mu delapan bulan yang lalu?" jantung Arjuna berdegup kencang menunggu jawaban Chery, akankah kecurigaannya selama ini pada Chery benar adanya?


Sejujurnya jauh di lubuk hatinya dia sangat berharap kalau apa yang menjadi kecurigaannya selama ini terhadap Chery adalah sebuaah kekeliruan, entah bagaimana caranya dia bisa memaafkan dirinya sendiri jika ternyata dia hidup serumah dengan pembunuh calon istrinya, bahkan dia sempat melakukan kesalahan yang menurutnya fatal dengan gadis itu.


"Aku, aku bertengkar dengan ayah tiri ku malam itu, dan di perjalanan pulang aku menabrak seseorang," urai Chery, dengan takut-takut.

__ADS_1


Bak di sambar petir, Arjuna sampai terhenyak mendengar pengakuan Chery barusan, membuat dirinya merasa blank beberapa saat.


__ADS_2