Dendam Cinta Sang Kapten

Dendam Cinta Sang Kapten
Perang batin


__ADS_3

Tok, tok, tok!


Chery memberanikan diri mengetuk pintu ruang kerja Arjuna malam itu, Arjuna yang katanya datang hanya untuk mengambil dokumennya yang tertinggal nyatanya sampai pukul setengah sebelas malam masih bertahan di ruangannya.


"Boleh aku masuk?" Tanya Chery saat Arjuna membukakan pintu ruang kerjanya.


Arjuna hanya bergeser dan menepi dari depan pintu dan memberi jalan seraya mempersilahkan Chery masuk, meski tanpa kata-kata.


"Apa kamu akan tinggal di sini, atau pulang?" tanya Chery hati-hati.


"Kenapa? Terserah aku dong, mau pulang atau tetap tinggal, ini kantor ku." Ketus Arjuna.


"Bukan begitu, kalau kamu pulang, aku mau ikut nebeng pulang," kata Chery.


"Kau ke sini bersama Tores, kenapa tiba-tiba minta pulang dengan ku?" Arjuna sok jual mahal, padahal sejak tadi matanya sudah mengantuk, tapi dia tidak bisa tenang jika Chery masih di kantornya dan belum pulang ke rumah.


"Tores tidur, gak enak kalau bangunin dia, lagi pula tujuan kita kan sama, jadi gak ada salahnya dong, kalau aku ikut nebeng kamu," Chery memasang wajah memelas, namun Arjuna hanya meliriknya dengan kesal.


"Terus, kau bisa merasa enak dan tak sungkan sama sekali untuk meminta ku mengantarkan mu pulang?"


"Haishhh pak komandan, apa anda lupa, kalau kita pulang ke tempat yang sama, jadi namanya anda bukan mengantarkan ku, tapi kita pulang bersama," nada bicara Chery di buat se manja mungkin, bukan maksud hati untuk menggoda Arjuna, hanya saja, rasanya dia merasa gemas dengan tingkah judes Arjuna, sikapnya yang pura-pura tak peduli tapi menyusulnya saat dirinya tidak kunjung pulang, membuat dirinya kalah taruhan dari Tores.


*Flashback sore tadi,

__ADS_1


Saat Chery minta di antar pulang oleh Tores karena hari sudah sore menjelang malam tadi, pria itu malah mengatakan kalau sebaiknya Chery jangan dulu pulang, karena Tores yakin Arjuna pasti akan menyusulnya ke kantor malam ini, Tores memberi batasan waktu sampai jam 10 malam, jika lebih dari itu Tores akan mengantarkannya pulang.


"Jangan macam-macam lah, mana mungkin atasan mu yang seperti es batu itu mau menyusul ku ke kantor, itu sangat mustahil, kalau sampai itu terjadi aku akan mengantarkan makan siang untuk mu dan untuknya selama tiga hari berturut-turut," keyakinan Tores akan atasannya yang pasti datang ke kantor, membuat Chery mengucapkan sumpah serapah yang tak masuk akal dan kini malah menjadi bumerang untuk dirinya sendiri, karena jam dinding belum menunjukan puluk sembilan malam, Arjuna sudah kedapatan berada di depan jendela tempat berkumpul bersama para anggota lain yang ternyata sangat asik untuk di ajak mengobrol, berada di tengah-tengah mereka, Chery merasa seperti mendapatkan yteman bahkan saudara baru yang tulus, tak memandang dirinya sebagai artis besar, bahkan mungkin mereka tak tau siapa sebenarnya dirinya, mengingat tak ada satu pun yang menyinggung tentang ke artisannya.


Berbeda dengan orang-orang kota di lingkungannya, mereka berlomba-lomba mendekati dan berbuat baik padanya hanya karena ada kebutuhan atau kepentingan tertentu dengannya, dia bahkan tak dapat membayangkan jika dirinya tak mempunyai nama besar seperti sekarang ini, apakah orang-orang di lingkungannya itu masih mau memperdulikannya?


Berbeda dengan mereka yang sekarang berada di pulau terpencil ini, Chery bisa merasakan ketulusan, mereka yang hidup dalam kesederhanaan juga penuh dengan konflik dan ketegangan yang hampir setiap hari terjadi, mungkin membuat mereka tak punya waktu untuk menonton film atau drama yang di bintanginya, pikir Chery.


*Flashback off.


Merasa terpojok dengan ucapan Chery dan merasa tak bisa mengelak dari tatapan Chery yang memohon, pria itu akhirnya berdiri seraya menunjukkan wajah malasnya, seakan ingin menunjukkan pada Chery kalau apa yang di lakukan dirinya saat ini adalah sebuah keterpaksaan.


Beberapa hari hidup bersama Chery, ternyata Arjuna sudah pandai mengeluarkan bakat aktingnya, wajahnya bisa saja menunjukkan raut keterpaksaan, tapi jauh di dalam hatinya dia merasa sangat puas dan bahagia karena akhirnya dia bisa membawa Chery pulang bersamanya, sehingga dia tak perlu menghawatirkan gadis itu lagi karena menunggu-nunggunya pulang.


Pagi sekali Tores sudah datang ke rumah dinas Arjuna, seperti biasanya dia mengantarkan bahan makanan untuk atasannya, hanya saja kali ini Tores datang lebih pagi karena hendak mengajari Chery memasak menu sederhana, Chery harus memenuhi janjinya untuk mengantarkan makan siang selama tiga hari berturut-turut untuk Arjuna dan Tores.


**


"Wah, aku patut berbangga hati, karena aku bisa membuat masakan seperti ini, sepertinya aku sudah bisa beralih profesi menjadi chef," Chery memuji dirinya sendiri saat dia baru saja berhasil membuat mie goreng dengan telur mata sapi setelah percobaan ke sekian kalinya.


Dengan mengendarai motor milik Tores yang sengaja di tinggal dengan alasan ban-nya kempes sehingga Tores berangkat ke kantor bersama Arjuna.


Saat Chery mengetuk pintu ruang kerja Arjuna siang itu, Tores dengan sigap langsung membukakan pintu untuknya, dia tersenyum lebar penuh kemenangan saat melihat Chery datang dengan membawa sebuah plastik yang dapat Tores tebak berisi makan siang untuk dirinya dan Arjuna.

__ADS_1


Sementara Arjuna mengernyit bingung, di merasa kaget karena tak ada hujan tak ada angin tiba-tiba Chery muncul di ruangannya, apalagi saat gadis itu mengatakan alasannya datang adalah untuk mengantarkan makan siang untuk dirnya dan juga Tores, apakah krpala gadis itu terbentur tadi pagi? Pikir Arjuna.


"Makan siang? Bagaimana kau bisa membawakan kami makan siang hasil masakan mu, sementara masak mie instan saja kau tak bisa, jangan-jangan kau menghancurkan dapur ku untuk memasak ini semua," cibir Arjuna.


"Eits,, jangan under estimate dulu, kau bahkan belum melihat hasilnya dan mencicipi masakan ku," Chery membagikan masing-masing sekotak makanan.


Tores membelalak tak percaya saat dirinya membuka kotak makanan di tangannya, lantas dia juga langsung melirik dan memeriksa makanan apa yang di dapatkan Arjuna untuk makan siangnya.


"Ya Tuhan Chery, kenapa kau benar-benar memasak mie instan, bukankah aku sudah mengajarkan mu masak makanan yang tadi pagi aku ajarkan?" geram Tores.


Chery nyengir kuda "Aku sudah berusaha semampu ku, kemampuan terbaik ku dalam hal memasak ternyata hanya sebatas memasak mie instan goreng dan rebus, ini bukan masalah makanannya Tores, tapi lihatlah perjuangan ku untuk mbuatnya penuh cinta kasih untuk kalian," kelit Chery.


"Ishhh jangan lah cinta kasih mu di bagi-bagi seperti itu, cukuplah aku di bagi makanan mu saja, cinta kasih mu berikan saja pada komandan," Tores melirik Arjuna dengan tatapan usilnya.


Sementara pria yang saat ini sedang menjadi topik pembicaraan Tores hanya terdiam sambil memandangi kotak makan siang berisi mie goreng dengan toping telur mata sapi tanpa berniat memakannya.


"Pak komandan, aku memasaknya dengan penuh effort tingkat tinggi, makanan-makanan itu akan tersipu malu jika di tatap terus seperti itu." Goda Chery.


"Aku tak meminta mu untuk memasak dan membawakan ku makan siang, kau boleh memberikannya pada orang lain!" Arjuna bangun dari duduknya dan meninggalkan ruangannya begitu saja tanpa menyentuh sama sekali makanan yang di bawakan Chery.


Perangai pria itu sungguh sulit di tebak, dia bisa tiba-tiba saja bersikap butuk seperti itu, tanpa Chery tahu apa penyebabnya, padahal semalam bahkan tadi pagi saat sarapan, Arjuna baik-baik saja, sangat tak masuk akal jika hanya sekotak makan siang dia menjadi marah seperti itu.


Arjuna memilih pergi ke luar mencari udara segar, mendapatkan sekotak makan siang dari Chery meskipun hanya berisi mie goreng sebenarnya itu tak menjadi masalah baginya, hanya saja yang menjadi masalah adalah ketika dirinya menjadi teringat akan Luna yang kerap membawakannya bekal saat makan siang, hal itu membuat dia sedikit merasa frustrasi, di saat dirinya ingin menerima kebaikan Chery, justru hatinya malah merasa sakit karena mengingat Luna, batinnya terus menuntutnya untuk tetap berada di kubangan duka dan tak mengizinkan siapa pun memberinya penghiburan meski hanya sekilas.

__ADS_1


Arjuna seperti di hadapkan pada situasi perang batin yang terbagi menjadi dua kubu yang bersebrangan, sisi batin yang satu ingin Arjuna tetap berada dalam dunia memori dirinya bersama Luna, sementara sisi yang lainnya ingin Arjuna membuka diri dan tidak terpuruk pada kesedihan hatinya.


Ini sungguh sulit, Arjuna seperti berada di satu persimpangan jalan yang sulit di pilih.


__ADS_2