
"Di mana Chery?" tanya Arjuna saat dia baru saja sampai di apartemen milik gadis itu.
"Tenanglah, dia masih beristirahat di kamarnya. Sepertinya dia sangat kelelahan."Jawab Sean membuat jawaban pria itu terdengar sangat ambigu di telinga Arjuna.
"Apa maksud mu dengan kelehan? Apa yang kalian--- emh, kau lakukan padanya?" jawaban kelelahan yang keluar dari mulut Sean bermakna lain di kepala Arjuna.
"Aku? Ah, apa pikiran mu mengarah ke sana?" mata Sean memicing tajam, di baru menangkap apa yang di pikirkan Arjuna dengan jawaban kelelahan yang di berikannya itu di maknai kelelahan yang bermakna negatif di kepala Arjuna.
"Kenapa bisa-bisanya pikiran mu sampai ke sana? Lagi pula, kalaupun apa yang ada di pikiran mu itu memang terjadi, apa urusannya dengan mu?" Sean malah sengaja memancing di air keruh.
"Bajingan, awas saja jika sampai itu terjadi!" Arjuna menarik kerah baju Sean dan mendorong tubuh pengacara yang sedang menyeringai seolah mengejek dirinya itu sampai punggungnya menabrak tembok dengan kerasnya.
"Hahaha,,, kau marah? Apa hak mu utuk marah, kau bahkan bukan siapa-siapanya Chery!" ledek Sean masih saja berusaha menyulut amarah Arjuna.
"Ndan, bukan saatnya bertengajr dengan pria yang bukan saingan anda, lebih baik kita lihat keadaan nona Chery." Tores mengingatkan Arjuna untuk menahan dirinya, karena saat ini yang harus mereka pastikan adalah segera memaeriksa keadaan Chery.
Arjuna seakan kembali tersadar dan kembali pada fokus tujuannya, dia segera menuju kamar Chery, namun belum sempat Arjuna membuka pintu kamar Chery, lagi-lagi Sean menguji kesabarannya yang setipis kertas jika itu berhubungan dengan Chery.
Sean menghalangi langkah Arjuna dan Tores, dia berdiri di depan pintu dan tidak membiarkan kegia pria itu masuk ke dalam kamar Chery.
"Kalian tidak bisa masuk ke dalam dengan seenaknya, aku keberatan!" ujar Sean.
"Minggir, atau ku hajar kau!" Arjuna kembali meremas kerah baju Sean, bahkan kini kepalan tangannya sudah melayang di udara, siap untuk mendarat di wajah Sean.
__ADS_1
"Kau bahkan nekat menghajar ku demi untuk bisa masuk ke kamar wanita yang jelas-jelas bukan siapa--siapa mu? Cih, bagaimana jika hal ini sampai di ketahui Ines dan ayahnya, apa mereka bisa memaafkan mu?" kata Sean lagi.
"Ba-cot! Minggir ku bilang, atau jangan-jangan kau menyembunyikan sesuatu di dalam?" tuduh Arjuna.
"Aku tak menyembunyikan apapun di dalam, aku hanya tidak mau kedatangan kalian ke dalam kamar Chery malah mengganggu tidurnya, aku hanya ingin dia beristirahat, tolong jangan ganggu dia," pinta Sean serius.
"Aku tak akan mengganggu tidurnya, aku hanya perlu memastikan kalau keadaannya baik-baik saja, tidak lebih, tapi jika kau tetap menghalangi ku untuk masuk, aku malah curiga kalau kau memang menyembunyikan sesuatu, dan aku tak akan pernah melepaskan mu jika sampai itu terjadi!" ancam Arjuna.
Sepertinya ancaman Arjuna membuat Sean akhirnya mengalah dan membiarkan kedua pria itu masuk ke dalam kamar Chery dengan beberapa persyaratan, tidak mengganggunya tidur, dan tidak berlama-lama.
Tidak ada kata setuju dari Arjuna atas syarat-syarat yang di ajukan Sean, persetan dengan syarat-syarat omong kosong itu, dia hanya ingin segera masuk dan melihat juga memastikan dengan mata kepalanya sendiri kalau Chery dalam keadaan baik-baik saja.
"Sejak kapan dia tidur?" tanya Arjuna, saat melihat Chery terlelap dengan pulasnya di atas ranjang, dia masih memakai gaun yang di pakai saat acara amal tadi, yang membuat Arjuna merasa tenang adalah tak ada tanda-tanda baju itu pernah di tanggalkan, sehingga pikiran 'aneh-aneh' yang sempat terbesit di kepanya menyingkir dengan sendirinya.
"Beberapa menit sebelum aku menghubungi mu, dia meminum obatnya," Sean menunjuk botol obat tidur yang biasa di konsumsi Chery di atas nakas sebelah ranjang tempat gadis itu memejamkan matanya dengan tenang.
"Apa yang kau lakukan!" Sean memegangi tangan Arjuna yang terjulur mendekat ke arah ranjang.
"Diamlah! Aku hanya ingin menyelimutinya, agar dia merasa nyaman dan tak kedinginan." Arjuna mengambil selimut yang terlipat di ujung ranjang dan menyelimuti tubuh gadis itu hingga tubuhnya terlindungi, dia tak mau Sean mengambil kesempatan memandangi tubuh mulus Chery yang tertidur karena gaun nya yang sedikit ketat itu.
"Sudah puas sekarang? Cepatlah keluar dan pulang!" usir Sean menarik tangan Arjuna dan Tores keluar kamar.
"Hey, apa-apaan ini!" protes Tores.
__ADS_1
"Biar aku saja yang menjaga Chery di sini, kalian sudah lihat kondisi Chery baik-baik saja, kan? Jadi silahkan pergi dari sini!" Sean kembali mengusir Arjuna dan Tores.
"Apa maksud mu dengan kata menjaga? Tidak, aku tidak akan pergi dari sini, aku akan menjaga Chery, jika kau ingin pulang, pulang saja sana!" Arjuna tak ingin kalah, dia mengatakan kalau dia juga ingin menjaga Chery dan balas mengusir Sean pergi.
"Sebaiknya anda berdua pergi dari sini, biar saya sendiri yang menjaga nona Chery, saya bodyguardnya, saya lebih berhak, kalau anda berdua tetap berada di sini, bukan hanya nona Chery yang terganggu istrirahatnya karena keberisikan kalian yang terus bertengkar, tapi mental saya juga akan terganggu melihat kelakuan anda berdua." Tores akhirnya menengahi dengan menyuruh dua pria dewasa yang akhir-akhir ini selalu bertingkah kekanak-kan saat berdebat itu untuk sama-sama pergi dari apartemen Chery, dia tak ingin kepalanya menjadi pening akibat menonton perdebatan dua pria itu yang mungkin akan berlangsung sampai pagi non stop itu.
Setelah perdebatan yang lumayan cukup alot, akhirnya Arjuna dan Sean setuju kalau mereka akan meninggalkan tempat itu dan mengizinkan Tores untuk menjaga Chery di sana sendirian.
**
Beberapa saat lalu ketika di malam amal,
"Lama tak jumpa, kau terlihat makin cantik saja, aku menahan diri dari tadi dan menunggu saat-saat seperti ini, saat dimana tidak ada orang lain dan hanya ada kita, kau membuat ku gila karena menahan semua rasa di dada ku ini, kau harus bertanggung jawab atas hal itu," ucap pria itu sambil menyeringai.
"Hasan, bajingan lepaskan aku!" suara Chery hanya terdengar menjadi seperti suara gumaman tidak jelas karena mulutnya yang di bekap oleh Hasan, sang ayah tiri yang tiba-tiba saja entah dari mana datangnya dia langsung menyekap dirinya.
"Tenang sayang, tidak usah buru-buru mengatakan kata-kata cinta dan kerinduan pada ku, nanti saja saat kita sudah berada di rumah, kita akan melepas rindu berdua, oke sayang ku?" suara Hasan terdengar sangat menjijikan di telinga Chery, pria tua itu bahkan terus berusaha mencium pipinya sambil terus menyeret dirinya keluar dari gedung lewat lorong sepi dan tak ada seorang pun di sana, sehingga Chery tak bisa meminta tolong pada siapapun.
Chery terus berontak, berusaha sekuat tenaga agar dirinya terlepas dari dekapan pria tua yang seakan ingin memakannya hidup-hidup itu, dua orang anak buah Hasan menyambut kedatangan mereka di ujung lorong, bahkan sebuah mobil van sudah siap menunggu mereka, Chery lantas langsung di seret untuk masuk ke dalam van itu.
"Jangan terus berontak seperti itu sayang, nanti akan menarik perhaian orang-orang, dan kita akan gagal bersenang-senang." Ujar Hasan lagi, namun begitu Chery malah semakin aktif bergerak berusaha meloloskan diri, apalagi setelah tau kalau mereka melewati keramaian di halaman convention hall, namun sayangnya karena kaca film van yang di gunakan sangat gelap, tak ada yang bisa melihat Chery, bahkan saat Chery menggigit tangan Hasan yang terus membekap mulutnya dan lantas berteriak sekencang mungkin, tak ada satupun orang di luar yang mendengar teriakannya, karena sopir sengaja menyalakan musik dengan kencang.
"Kau nakal sekali anak ku tersayang, sepertinya aku harus memberi mu sedikit dosis agar kau merasa tenang dan tak berontak lagi," Hasan mengeluarkan sebuah suntikan kecil berisi cairan entah apa itu.
__ADS_1
"Tenanglah, ini tak akan terasa sakit, hanya seperti di gigit semut, namun setelahnya kau akan merasa relaks, dan nanti saat di rumah akan ku tambah lagi dosisnya agar kau akan menikmati sentuhan-sentuhan penuh cinta ku di tubuh mu." Hasan menyeringai dan memerintahkan anak buahnya untuk memegangi Chery, lantas dia menyuntikan cairan itu di tangan Chery, beberapa menit kemudian, Chery sudah tak melakukan perlawanan lagi, dia tak berontak seperti sebelumnya.
Perlahan-lahan tubuhnya seperti lemas meski dirinya ingin berontak, pikirannya mulai melayang entah kemana, meski terkadang dia ingin berteriak, namun hal itu tak bisa dia lakukan, entah obat atau narko-ba jenis apa yang di suntikan Hasan ke tubuh Chery sehingga gadis itu terlihat sangat menyedihkan dan hanya bisa menitikan buliran bening di sudut matanya tanpa bisa berbuat apa-apa.