
"Kak, ada mba Ines di depan." Fajar membangunkan Arjuna di kamarnya.
"Kenapa kalian mengganggu tidur ku di hari libur seperti ini?" kesal Arjuna karena merasa kepalanya masih terasa sangat berat akibat minuman beralkohol yang semalam dia tenggak.
"Kak, apa wanita yang semalam kakak bicarakan itu mba Ines?" tanya Fajar penasaran, dia memang tahu jika Arjuna sedang pendekatan dengan Ines, sebenarnya Fajar juga cukup terkejut saat Arjuna memberi tahunya kalau dia sedang dekat dengan Ines, tanpa memberi tahu tentang misinya dengan Berto, Fajar hanya berpikir kalau itu artinya Arjuna sudah mulai move on, namun Fajar tak menyangka jika perasaan Arjuna sudah sedalam itu pada Ines, saat mendengar racauannya semalam.
Fajar sama sekali tidak tahu tentang hubungan singkat namun mendalam yang terjadi antara Arjuna dengan artis idolanya.
"Wanita? Apa yang aku bicarakan?" Arjuna mengernyit dan mencoba mengingat-ingat, namun kepalanya malah terasa bertambah sakit.
"Wanita yang katanya baik, pemberani, penyelamat nyawa kakak, namun kakak sakiti,"
Wajah Arjuna berubah menjadi tegang, dia tak menyangka jika saat mabuk dirinya meracau tentang Chery, beruntung dia tak menyebutkan namanya, karena buktinya Fajar menyangka wanita itu adalah Ines.
"Ckk, kau salah dengar, lagi pula ucapan orang mabuk itu tak perlu di dengarkan, ngawur itu." Kilah Arjuna.
"Semalam kamu mabuk, sayang?" Ines tiba-tiba sudah berada di dalam kamar dan menyela pembicaraan Arjuna dan Fajar di minggu pagi itu.
"Ah itu, kak Juna ke klub dengan saya semalam, mba." terang Fajar.
"Kak? Mba? Hey kau itu ajudan Arjuna dan memanggilnya dengan sebutan kak? Lalu memanggil ku yang merupakan kekasih atasan mu dengan sebutan Mba? Apa kau lupa kalau aku anak Jendral Agung Hartono?" mata Ines membelalak.
Fajar yang memang baru kali ini bertemu secara langsung dengan Ines, langsung merasa serba salah, dia ingin sekali marah, tapi kenyataannya dia memang kekasih atasannya dan juga merupakan putri dari jendral, dan sekarang Fajar hanya bisa diam tertunduk pasrah.
"Panggil dia Tuan, dan kau panggil aku Miss, mengerti!"
"I-iya Miss." Jawab Fajar, dia mulai berpikir, bagaimana bisa Arjuna menyukai wanita seperti Ines yang sifatnya sangat buruk seperti itu.
"Ines, dia sudah aku anggap adik ku sendiri, di luar pekerjaan kami terbiasa dengan panggilan itu, jangan di permasalahkan, oke." Kepala Arjuna yang sakit semakin bertembah sakit dengan ocehan tak jelas Ines.
__ADS_1
"Tidak bisa, itu tidak boleh di biasakan, kamu akan di sepelekan oleh bawahan mu jika kamu memberi peluang pada mereka untuk kurang ajar seperti itu." Ines tiba-tiba duduk di sisi ranjang, rapat dengan tubuh Arjuna yang juga duduk di sana.
"Dia tidak pernah kurang ajar pada ku, dan satu lagi, aku tak suka wanita yang sembarangan masuk ke kamar pria, itu terkesan kurang ajar di mata ku!" Arjuna berdiri dan langsung menuju kamar mandi.
"Kamu kolot sekali sayang, untuk pasangan kekasih dewasa seperti kita itu merupakan hal yang wajar bahkan jika melakukan hal yang lebih dari itu." Goda Ines.
"Aku mandi dulu, sebaiknya kamu tunggu aku di ruang tamu." Tegas Arjuna, entah wanita seperti apa yang di jodohkan Berto padanya itu, Ines terasa sangat agresif dan mengerikan bagi Arjuna.
Mau tidak mau, akhirnya Ines pun mengikuti kemauan Arjuna, sejak pertama kali ayahnya menunjukkan foto Arjuna untuk di kenalkan padanya, wanita itu sudah sangat tertarik, apalagi saat melihat tampilan asli Arjuna yang terlihat lebih gagah dan tampan dari foto yang di lihatnya, dia bersumpah untuk tak akan melepaskan Arjuna.
Hari libur yang biasanya di habiskan Arjuna untuk beristirahat, terpaksa harus menemani Ines untuk berbelanja ke sebuah Mall ternama, layaknya para wanita kelas atas yang hoby shopping dan menghamburkan uang, begitu pun kehidupan Ines selama ini, tak lepas dari hura-hura dan foya-foya.
Chery yang menyelesaikan adegan syutingnya dengan cepat akhirnya memutuskan untuk berjalan-jalan ke Mall bersama Dion, meskipun Chery bukan termasuk wanita yang suka nge-Mall, namun kali ini dia memang sedang merasa suntuk, belum lagi dia juga ada janji bertemu dengan salah seorang desainer yang ingin menggunakan Chery sebagai modelnya di peragaan busananya.
Chery tiba di restoran korea yang berada di Mall tersebut, tempat dimana dia membuat janji bertemu dengan desainer itu.
Mereka berbincang masalah pekerjaan sambil menikmati makanan khas negeri gingseng itu.
"Maaf, aku masih ada kegiatan lagi setelah ini." Ujar Chery menolak halus untuk meminum minuman beralkohol itu, sebagai gantinya dia mengangkat gelasnya yang berisi bir 0% alkohol.
Namun seorang pelayan menyenggol tangan sang desainer yang memegang gelas berisi soju segingga semua isinya tumpah di baju Chery, warna minuman itu memang bening tak akan meninggalkan noda, namun aroma alkoholnya tercium sangat menyengat.
"Aku permisi ke toilet sebentar." Pamit Chery berniat ingin membersihkan bajunya dari bau alkohol.
Chery yang berjalan sendirian di lorong toilet merasa sangat yakin tak akan ada yang mengenalinya, karena dia mengenakan masker di wajahnya dan topi untuk menyamarkan penampilannya, begitulah nasib jadi artis terkenal, dia bahkan tak punya kebebasan hanya untuk sekedar jalan-jalan di Mall.
"Kenapa dunia ini seakan terlalu sempit, sehingga aku harus terus bertemu dengan mu di setiap tempat."
Suara pria yang masih sangat jelas Chery ingat siapa pemiliknya itu pasti sedang berbicara dengan nada sinis kepadanya, tak ada orang lain di sana selain mereka berdua.
__ADS_1
"J-Juna," cicit Chery menahan nafasnya, tiba-tiba dia merasa sesak seperti tercekik.
"Kau masih mengenali suara ku, rupanya." Ucapan sinis Arjuna yang tanpa segaja bertemu di sana kembali terdengar.
"Dan kau masih mengenali wajah ku meski aku memakai masker dan memakai topi, harusnya kalau aku tidak istimewa di mata mu kau tak akan mengenaliku dengan baik." Balas Chery, hatinya masih sangat sakit saat Arjuna mengatakan kalau dirinya bukan orang istimewa meskipun dirinya anak dewa sekalipun saat di pesta,Chery tak ingin mengalah lagi, chery tak ingin terlihat bodoh dan lemah lagi,dia tidak salah dalam hal ini, adapun yang menyalahi hubungan mereka adalah Arjuna yang berjanji untuk datang membawa cinta padanya namun setelah di tunggu dia malah datang membawa luka dengan wanita lain di sisinya yang dia pamerkan sebagai calon istri, harga diri Chery sudah hancur berkeping-keping malam itu, dia tak mau lagi tertipu dengan Arjuna, pikirnya.
Mendengar jawaban Chery yang lugas seperti iasanya, seakan bagai pukulan telak baginya, Arjuna hanya bisa menelan ludahnya dengan kasar, seperti ada duri tersangkut di tenggorokannya, sehingga Arjuna berniat untuk pergi meninggalkan Chery tanpa ingin berkata-kata lagi.
"Tunggu!" cegah Chery.
Seperti biasanya, gadis itu memang tak pernah bisa menahan rasa penasaran di hatinya, dia ingin menanyakan apa yang dari semalam menjadi pertanyaan besarnya.
"Apa kau benar-benar akan menikah dengan anak tante Maya? Kalian sudah lama berpacaran?" tanya Chery, kebetulan suasana lorong toilet itu sepi.
"Ines maksud mu? Ya." jawab Arjuna santai dan dingin.
"Lalu apa artinya kebersamaan kita? Apa arti janji-janji mu?" Mata bulat dan indah Chery tampak menyorot tajam ke arah Arjuna.
"Kebersamaan kita? Bukankah kau bilang itu hanya sekedar ciuman dan lumrah terjadi? Dan untuk janji, aku tak pernah menjanjikan apapun pada mu." Demi apapun Arjuna tampak sangat menyebalkan di mata Chery saat ini, dia bahkan menyesal pernah mengenal pria se-berengsek Arjuna.
"Oke, anggaplah kau tak pernah berjanji padaku, aku pun tak sudi untuk mengingatnya kembali,"
"Kau sepertinya terlalu banyak mabuk dan berhayal, lihatlah, bahkan masih siang seperti ini kau sudah tercium bau alkohol!" cibir Arjuna mengipaskan telapak tangannya di depan hidungnya.
"Itu bukan urusan mu, dan kau tak berhak menuduh ku pemabuk hanya karena aku tercium bau alkohol, jika seseorang tercium bau parfum, apakah berarti orang itu telah meminum parfumnya?"
Chery langsung membalikan tubuhnya dengan kasar dan berjalan menjauh dari Arjuna yang saat ini hanya bisa terdiam mematung. Gadis itu menumpahkan tangisnya di toilet, hatinya terasa nyeri, dia sungguh tak menyangka jika Arjuna yang mempunyai tempat spesial di hatinya justru mampu menyakitinya sedalam itu.
Begitu pun dengan Arjuna yang dendamnya selalu menggebu-gebu dan selalu ingin menyakiti Chery, padahal dia tak kalah sakitnya dengan apa yang dilakukannya itu.
__ADS_1
Hubungan mereka terlalu rumit, situasinya sudah berubah semakin kacau, bahkan semesta pun hanya bisa diam saat melihat mereka saling menyakiti dan saling menghancurkan satu sama lain, meski pun hati mereka masih saling terpaut dengan satu alasan yang sama, yaitu 'sayang'.