Dendam Cinta Sang Kapten

Dendam Cinta Sang Kapten
Aku menyakitinya.


__ADS_3

"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Sean saat tangis Chery mereda.


"Sepertinya akan terdengar bohong jika aku mengatakan kalau aku baik-baik saja," Chery tersenyum sumir, raut kekecewaan dan kesedihan masih tampak jelas di wajah cantiknya, sungguh dia tak bisa menyembunyikan semua itu dari Sean, meskipun Chery belum bisa menceritakan apa yang terjadi padanya, Sean jelas tahu kalau saat ini Chery sedang dalam masalah.


"Apa kamu ada masalah dengan Ines? Apa dia mengganggu mu? Ku lihat kamu terus melirik ke arah Ines, atau kamu ada masalah dengan Kapten Arjuna?" tanya Sean, membuat Chery sontak mengangkat wajahnya yang sejak tadi tertunduk menyembunyikan mata sembabnya.


"K-kamu kenal Arjuna?" cicit Chery.


"Haish,,, rupanya dia yang bikin kamu menangis seperti ini? Aku pikir putrinya Kamil merundung mu lagi," Sean tersenyum sekilas.


"Siapa bilang aku menangisinya, aku hanya tanya apa kamu mengenalnya, apa itu berarti aku menangis karena dia, dan sejak kapan aku pernah menangis karena Meta, mana ada!"


"Kamu lupa kalau aku seorang pengacara, tentu saja sering berurusan dengan kepolisian, kebetulan di beberapa kasus aku terlibat langsung dengannya. Dan juga, mantan mertua ku dulu juga seorang polisi." Terang Sean.


"Oo!" bibir Chery hanya membulat membentuk huruf O.


"Apa yang bisa ku bantu untuk mu?" tanya Sean menawarkan bantuannya.


"Bawa aku keluar dari sini, tanpa ada wartawan yang melihat, jangan sampai mata sembab ku menghiasi halaman utama di setiap media, aku pasti terlihat sangat jelek saat ini," racau Chery menutupi wajahnya dengan clutch hitam yang di pegangnya.


"Haha, kamu masih terlihat sangat cantik, meski riasan mu luntur di mana-mana," ledek Sean.


"Ishhh, mana ada make up mahal begini, luntur!" Chery tak terima, meskipun dia langsung mengeluarkan ponselnya dan memeriksa riasan wajahnya, sontak saja hal itu membuat Sean tertawa geli.


"Lagi nangis kaya gitu kok sempet-sempetnya memeriksa riasan wajah!"


"Diam lah, cowok mana paham!" ketus Chery yang merasa kesal karena ternyata Sean menipunya, riasannya yang anti badai itu masih tetap oke meski sudah terkena air matanya tadi, lagi pula dia tak pernah menggunakan riasan berlebih di wajahnya, kecantikannya yang paripurna tidak memerlukan sapuan make up apapun sebetulnya.


"Ayo, aku selamatkan kamu dari jepretan liar para paparazi yang bisa saja memajang foto sembab mu dengan judul, artis ternama Ibukota Chery Arleta menangis tersedu karena memergoki kekasih tercintanya berdansa dengan seorang putri pejabat tinggi kepolisian." Ledek Sean seraya menyembunyikan Cheri di balik punggungnya dan membawa gadis itu keluar ballroom lewat jalan yang sepi dan mengendap-endap.


Sementara di dalam ruangan, mata Arjuna kembali melirik ke arah balkon dimana tempat Chery tadi berada, namun sialnya hanya berpaling sebentar saja, Chery sudah menghilang dari balkon itu, bahkan pria yang tadi menemaninya pun sudah tidak terlihat lagi.

__ADS_1


"Aku lelah, sepertinya aku akan keluar sebentar untuk merokok." Pamit Arjuna, kata hatinya menarik Arjuna untuk segera memeriksa balkon dan mencari keberadaan Chery.


Namun sayangnya Chery benar-benar sudah tidak ada di tempat itu, Arjuna melangkah menuju ke luar gedung, dia ingin menenangkan diri dengan menghisap rokok di luar.


Pikiran Arjuna tiba-tiba terasa kacau, rasa bersalah karena telah menyakiti Chery dengan sengaja bercampur dengan rasa marah pada gadis itu, membuatnya tanpa terasa dia sudah menghabiskan tiga batang rokok di sana.


"Ayah dan ibu ku mencari mu, sayang." tegur Ines yang tiba-tiba saja ada di sebelahnya, mengagetkan Arjuna yang sedang melamun.


"Ah, iya. Aku memang kurang begitu nyaman berada di tempat ramai seperti itu." Kilah Arjuna.


"Oh ayolah, acara seperti ini tak terjadi setiap hari, seharusnya ini juga jadi kesempatan buat mu lebih dekat para atasan mu, itu akan lebih memudahkan mu dalam pekerjaan." Ines meraih lantas menggenggam tangan Arjuna yang sebenarnya merasa risih dengan sikap agresif Ines itu.


**


"Kenapa sih, Cher? Pulang pesta malah cemberut gitu, bukannya tadi kayaknya di anter pulang sama cowok cakep?"Tanya Dion yang sudah menunggunya di loby apartemen, Sean memang mengantarkan Chery pulang, meskipun tidak satu mobil, karena mereka tak mau ada gosip aneh jika sampai ada yang melihat, tapi Sean tetap mengikuti mobil Chery dari belakang seperti seorang pengawal pribadi.


"Gue ketemu si Junaedi sialan!" ujar Chery kesal.


"Junaedi? Kapten Juna?"


"Ganti lagi, tadi Junaedi, sekarang Juned, mana udah ngomong pake lo gue kaya gini biasanya serem, nih." Dion bergidik ngeri, dia sangat paham jika keadan artis kesayangannya saat ini sedang jauh dari kata baik-baik saja, sehingga dia memilih untuk mengurungkan niatnya menemani Chery malam ini dan memilih untuk pamit pergi.


"Eit,, tunggu, temenin gue ke klub!" Chery menarik belakang baju Dion.


"Besok kamu ada syuting pagi neng, mending bobok istirahat." Tolak Dion.


"Gue pergi sendiri kalau lu gak mau nemenin, gue males di rumah!" Chery melengos dan pergi.


"I-iya, iya aku temenin. Bahaya, lagi mode garang begini kalo di lepas sendirian." Cicit Dion, langsung mengekor langkah cepat Chery.


Namun saat mereka baru saja keluar dari lobi apartemen, sosok Sean ternyata masih berdiri di sana.

__ADS_1


"Kamu belum pulang?" tanya Chery cuek.


"Tadinya aku ingin memastikan kalau benar-benar kamu masuk dan naik ke unit mu baru aku pulang, apa kamu mau pergi lagi?"Sean menaikan sebelah alisnya.


"Tuan Sean, anda memang pernah menolong saya, dan saya berterimakasih atas hal itu, tapi kita tidak cukup dekat untuk saling memberi tahu kemana aku pergi, ini urusan ku, aku harap anda bisa menjaga batasan anda, bukankah aku sudah memperingatkannya dari awal pertemuan kita?" tiba-tiba Chery menjadi sangat marah, sikap perhatian Sean padanya justru tidak bisa di terima dengan baik olehnya, saat ini. Mendapat perhatian dari pria tampan itu membuat Chery menjadi teringat kembali masa-masa manisnya dengan Arjuna dan itu membuat dirinya menjadi muak dengan kebaikan yang Sean tawarkan saat ini.


Tak ada yang salah dengan sikap baik yang Sean tunjukan, masalahnya terletak pada emosi diri Chery sendiri yang saat ini sedang tidak baik-baik saja dan di liputi amarah.


"Oke, maaf sudah mengganggu." Sean meninggalkan Chery dengan wajah yang kecewa.


"Cher, kasian tau. Yang bikin marah siapa, yang kena semprot siapa." Dion memandang punggung Sean dengan iba.


Ada sedikit rasa sesal dalam diri Chery karena telah berlaku tidak adil pada Sean, pria asing yang sudah dua kali menolongnya secara tidak sengaja, tapi balik lagi, saat ini Chery tak ingin terlibat hubungan lebih jauh dengan Sean, dia tak percaya jika seorang pria bisa dengan tulus baik padanya, jadi lebih baik dia berjaga-jaga agar kedepannya Sean tak salah mengartikan pertemanan mereka, apalagi Chery juga sedang berada di situasi hati yang rumit saat ini.


Merasa moodnya semakin buruk, Chery memilih untuk mengurungkan niatnya pergi ke club, dia lebih memilih meminum beberapa butir obat dan tidur melupakan kejadian malam ini.


Sementara di sebuah klub malam, Arjuna yang jarang menginjakan kakinya di tempat seperti itu justru sedang duduk menikmati minumannya di temani Fajar yang sejak tadi tak berani bertanya apapun pada atasannya itu.


Arjuna memilih tempat duduk saat terakhir kali dia ke tempat itu untuk membuntuti Chery, kenangannya tentang malam itu dimana Chery bertengar dengan adik dari atasanya tergambar jelas, membuatnya tersenyum sendiri.


"Dia wanita pemberani, Jar. Dia juga baik, dia lucu, dia selalu bisa menghibur ku, dia satu-satunya wanita yang berani membentak ku, melawan ku, dia juga beberapa kali menyelamatkan hidup ku." Racau Arjuna, jarinya menunjuk ke arah meja bar dimana dalam bayangannya Chery berada di sana.


Fajar yang tidak minum dan dalam keadaan sangat waras melihat ke arah tempat yang di tunjuk Arjuna, namun tak ada satu pun wanita di sana, hanya tinggal 3 orang pria mabuk tersisa di sana, ini sudah hampir pagi, dan klub sudah mau tutup, hanya tinggal tiga pria mabuk tadi, Arjuna, dan tentu saja Fajar tamu yang tersisa.


Fajar menghela nafas berat, dia mengira kalau Arjuna pasti sedang teringat dengan Luna dan merasa melihat Luna di sana, tapi selama ini Arjuna tak pernah se-terpuruk ini jika sedang teringat Luna, apalagi sampai mabuk-mabukan seperti sekarang ini.


"Sabar kak, ikhlaskan kak Luna, dia sudah tenang dan bahagia di sana." Kata Fajar dengan tatapan iba, dia tak menyangka jika Arjuna ternyata semakin hancur setelah kepindahan tugasnya, padahal terakhir kali saat mereka bertelepon, Arjuna pernah mengatakan kalau dia lebih baik dan lebih bahagia di sana.


"Tidak, tidak.Dia tidak bahagia, tadi matanya berkaca-kaca, dia juga terlihat syok, aku sudah menyakitinya, aku mungkin menghancurkannya, aku mebuatnya terluka, tapi namanya bukan Luna, dia bukan Luna, tapi dia---" ucapan Arjuna harus terpotong karena seorang pramusaji menyampaikan kalau klub akan segera tutup.


"Apa kau mengusir ku? Kau mengusir ku? Kau tidak tau siapa aku, huh?" di bawah pengaruh alkohol dan perasaannya yang sedang kacau, Arjuna tidak bisa lagi mengendalikan amarahnya, beruntung Fajar sigap dan membawa atasannya segera keluar dari klub.

__ADS_1


Fajar sungguh penasaran dengan nama yang tak sempat terucap dari mulut Arjuna itu, nama perempuan yang mungkin telah membuat atasannya menjadi kacau seperti sekarang ini.


"Aku menyakitinya, Jar. Aku sudah berhasil menyakitinya, tapi mengapa aku malah ikut merasa sakit," racau Arjuna lagi di sepanjang jalan, sambil memukuli dadanya sendiri, sementara Fajar tak bisa berkata apapun ,karena dia tak atau apa yang sesungguhnya sedang di bicarakan Arjuna saat ini.


__ADS_2