Dendam Cinta Sang Kapten

Dendam Cinta Sang Kapten
Kamu pikir, aku tak tau?


__ADS_3

Hari ke tiga Chery di balik jeruji, rasanya ini seperti siksaan selama tiga puluh tahun bagi Chery, waktu berjalan seolah sangat lambat di dalam sel, membuat Chery yang terkurung itu seakan tak punya semangat hidup lagi, tak ada yang datang mengunjunginya, bahkan Arjuna pun tak menampakan batang hidungnya.


Sementara saat ini Arjuna berdiri di balik pilar yang menyembunyikan tubuhnya saat menatap ke ruang tahanan wanita, sudah tiga hari ini, Arjuna bolak-balik dan kadang pulang hampir pagi dari bangunan itu sekedar untuk melihat Chery dari dari kejauhan dan memastikan keadaannya baik-baik saja di dalam, meskipun itu mustahil, tak akan pernah ada orang yang baik-baik saja jika kebebasannya di renggut paksa.


Kadang Arjuna mencaci dirinya sendiri saat melihat Chery berderai air mata dengan tatapan kosong sambil memeluk lututnya sendiri di lantai tahanan yang dingin, ingin rasanya Arjuna berlari dan memeluknya , namun ego itu seolah selalu menahannya, rasa bersalah jutaan kali hadir dalam dirinya, dan mempertanyakan kegilaan apa yang di deritanya hingga dia menyakiti wanita yang di cintainya hingga seperti itu.


Seorang pria tampan terlihat mendekat ke arah penjaga piket di ruang tahanan, dan dia duduk dengan tidak sabar di ruang temu tahanan.


Pria itu bangkit dari duduknya dan segera berhambur menyambut Chery yang datang bersama dua orang petugas yang mengantarnya.


"Chery,,, maafkan aku, aku baru mendapat kabar mu, aku langsung terbang pulang saat tau apa yang menimpa mu."


"Sean Malik?" gumam Arjuna yang terus mengikuti langkah Chery dari kejauhan dan tentu saja sembunyi-sembunyi.


"Sean, tolong aku. Aku takut!" air mata Chery menganak sungai, berderai begitu saja mengalir di pipinya, dia memeluk erat pinggang Sean dan untuk kedua kalinya menumpahkan kesedihannya di dada pria itu.


Kalimat yang di ucapkan Chery begitu familiar di telinga Arjuna, gadis itu beberapa kali mengatakan hal yang sama saat dia mengalami mimpi buruk dalam tidurnya, ekspresinya pun sama seperti yang saat ini Chery tunjukkan, yang membedakan hanyalah dada tempat Chery bersandar dan pinggang yang dia peluk erat untuk mencari kekuatan, Arjuna merasa terbakar saat posisinya kini di ambil alih oleh Sean, tanpa dia sadari kalau dia sendirilah yang secara tidak langsung menyerahkan posisinya saat ini pada Sean.


Gemuruh kemarahan dan kesedihan membuncah di dada Arjuna, masih jelas terdengar perkataan Cheri padanyakalau dia lebih memilih mati dari pada harus mengemis pertolongan darinya, dan kini Chery meminta tolong pada pria lain, dia bahkan menangis di dada pria itu, gadis itu kerakutan selama ini akibat ulahnya, tapi selalu berusaha terlihat se kuat karang di lautan yang tetap berdiri meski di terpa ombak dan badai.


"Aku di sini, aku pasti akan menolong mu, tenanglah. Ceritakan pada ku apa yang terjadi aku di sini, aku di pihak mu dan aku mempercayai mu." Ujar Sean.

__ADS_1


Duarrrr!


Ucapan Sean terdengar bagai gemuruh yang memekakan telinga Arjuna, bagaimana bisa dirinya yang mengaku mencintai Chery itu tak pernah mencoba bertanya secara baik-baik, dia tidak percaya padanya dan dia mrmperlakukan Chery sebagai musuh.


Rentetan cerita mengalir dari mulut Chery, tak terdengar ada kebohongan di sana, tidak ada sorot dusta juga di matanya, mulai dari cerita dirinya yang berniat menemui ibubya di rumah Hasan, lantas ayah tirinya yang mencoba kurang ajar padanya, dan dirinya yang tiba-tiba pusing di tengah jalan dan matanya tak bisa fokus melihat jalan, juga tentang cerita Dion dan ibunya yang meyakinkan kalau orang yang di tabraknya seorang pria, semua Chery ceritakan dengan gamblang sesuai dengan apa yang dia alami.


"Apa kamu sedang sakit malam itu?" tanya Sean.


"Tidak, aku dalam keadaan sehat, seingat ku, aku hanya meminum sirup di rumah ayah tiri ku itu dan menjadi pusing, saat aku ingin pulang, dia mencoba melecehkan ku, aku berlari dan mengemudikan mobil ku dengan kecepatan tinghi karena anak buah Hasan mengejar ku." Beber Chery.


Kepala Arjuna menjadi sangat pusing mendengar cerita yang di tuturkan Chery pada Sean dan dia mencuri dengar secara diam-diam itu, apakah dia sudah berlaku tidak adil pada Chery? Jika apa yang di ceritakan Chery barusan adalah sebuah kebenaran, bukankah dia sudah berlaku tidak adil pada Chery, karena ini bukan sepenuhnya salah gadis itu.


"Kenapa kau mencari ku ke sini, bukankah aku sudah bilang kalau aku sedang di sini jangan pernah mencari atau mengganggu ku."Arjuna terlihat sangat marah, dia merasa Fajar telah merusak acara pengintaian yang di lakukannya.


"Miss Ines mencari anda sejak tadi, dia terus mendesak saya untuk menemukan anda, Ndan."


"Akh,,, wanita itu apa tak punya pekerjaan lain selain mengganggu ku!" kesal Arjuna membuat Fajar merasa bingung, mengapa Arjuna seperti tak terlihat suka setiap di datangi oleh Ines, lantas jika bukan Ines yang di bicarakan saat Arjuna mabuk di klub, lantas wanita mana lagi, karena jelas-jelas Arjuna mengatakan kalau itu bukan Luna, dan sepertinya juga bukan Ines.


"Sayang, dari mana saja, aku sangat khawatir mendapat kabar kalau kamu di panggil ayah tadi, apa ayah ku menyulitkan mu? Memarahi mu? Katakan, aku akan langsung menegur ayah ku sekarang juga." Benar saja, Ines sudah menghadangnya di depan ruang kerjanya.


"Ehemm,,, maaf mengganggu waktu anda kapten, apa bisa kita bicara sebentar?" entah kapan datangnya, Sean tiba-tiba sudah berdiri di balik punggungnya.

__ADS_1


"Tentu saja sangat mengganggu." Sinis Ines.


"Ines maaf, aku harus menerima tamu ku dulu, aku yakin ada hal yang sangat penting yang ingin pak pengacara terkenal seperti pak Sean Malik ini bicarakan dengan ku," ujar Arjuna, jujur saja dia tidak terlalu senang harus berbicara dengan pria yang baru saja memeluk Chery di depan matanya itu, namun dengan menerimanya untuk berbicara, Arjuna jadi punya alasan untuk menghindar dari Ines yang terus saja seperti berputar di sekitarnya setiap saat.


"Apa aku tidak cukup penting bagi mu?" Ines merajuk.


"Ines ayolah, ini jam kerja, kita bisa berbicara saat aku pulang kerja, oke!" bujuk Arjuna, bagaimana pundia masih membutuhkan wanita itu untuk membantu misi Berto.


Dengan berat hati Ines mengalah, setelah menghentakkan kakinya, dia pergi dengan wajah yang sangat kesal.


"Apa yang ingin anda bicarakan dengan ku, pak Sean?" Arjuna berpura-pura tak tau akan maksud Sean menemuinya, padahal dia sudah bisa menebak kalau itu pasti tentang Chery.


"Tentu saja tentang Chery, aku ingin mengajukan penangguhan penahanan atau menjadikan Chery tahanan kota," kata Sean santai.


"Maksudnya?" Arjuna mengernyitkan kening.


"Ah, aku pikir anda sudah bisa menebaknya saat anda melihat kami berbincang, sebenarnya tadi aku ingin berbicara langsung dengan anda saat anda di gedung tahanan, namun anda tiba-tiba menghilang." ujar Sean tersenyum samar.


"Oh itu, tadi aku hanya mengantar berkas ke sana, dan terburu-buru kembali ke sini karena kekasih ku menunggu ku di sini, seperti yang anda lihat tadi. Aku bahkan tak tau anda ada di sana." jawab Arjuna bohong, dia tidak menyangka jika keberadaannya di gedung tahanan tadi ternyata di ketahu oleh Sean, tapi Arjuna tetap berusana kalem.


"Oo." Jawab Sean singkat namun sarat makna, kata Oo yang Sean maksud seperti terdengar ambigu antara pengacara itu percaya dengan ucapan Arjuna atau hanya kata lain dari 'Kamu pikir aku tak tau?'

__ADS_1


__ADS_2