Dendam Cinta Sang Kapten

Dendam Cinta Sang Kapten
Aku membenci mu


__ADS_3

"Aku tidak mengantuk," jawab Chery jujur.


"Kenapa, apa karena rumah ini tak senyaman hotel bintang 5?" sinis Arjuna.


"Tidak, bukan begitu,"


"Atau kau merasa bosan karena biasanya di jam jam segini kau masih asik mabuk-mabukan di klub, lantas membuat keributan di sana?" Arjuna kini tersenyum mengejek.


Chery sudah sangat sabar menghadapi Arjuna sejak tadi karena merasa dia adalah orang yang menyelamatkannya dari para bandit, namun jika dirinya terus di provokasi dengan sikap sinis dan sarkasme Arjuna, dia pun punya batasan tersendiri.


"Apa masalah mu dengan ku tuan? Kenapa dari awal kita bertemu kau terus saja bersikap kasar dan sinis pada ku, bahkan saat aku mencoba untuk bersikap baik dan sopan padamu, kau tetap ketus." Cheri tak dapat mengendalikan lagi dirinya, perasaannya sedang tidak baik saat ini, di tambah lagi Arjuna yang di rasanya selalu sengaja menyulut amarahnya, memperlakukannya bagai musuh besar di hidupnya.


"Karena aku membenci mu!" sungguh Arjuna ingin mengatakan alasan karena dia telah merenggut nyawa Luna, sayangnya dia belum punya bukti yang cukup kuat untuk mengatakan semua itu.


"Tuan, apa kau mempunyai semacam gangguan pikiran atau halusinasi, atau apapun itu? Apa kau sudah mencoba memeriksakan diri mu ke rumah sakit jiwa? Bagaimana bisa membenci ku sementara kita tak pernah saling mengenal sebelumnya, lagi pula, kalau kau memang membenci ku, kenapa kau selamatkan aku?" Amarah Chery meledak-ledak.


"Aku menyelamatkan mu hanya karena tugas ku, aku telah di sumpah sebelumnya untuk melakukan tugas dengan baik, andai aku tak di sumpah sebelumnya, aku akan mengabaikan sisi kemanusiaan ku untuk menolong mu, bahkan jika mereka membunuh mu di hadapan mata ku sekali pun!" Entah apa yang menyebabkan Arjuna berbicara se kasar itu pada Chery, dia hanya ingin menumpahkan segala kekesalan dan emosinya saat itu tanpa terkendali, tak peduli Chery si penabrak atau pun bukan, bukankah jelas-jelas mobil yang di pakai Herman saat menabrak Luna adalah mobil mewah milik Chery, jadi dia masih ada sedikit hubungannya lah, ego batinnya membenarkan atas sikap buruknya pada Chery.


"Sakit jiwa! Bagaimana bisa manusia tanpa hati nurani seperti mu menjadi seorang anggota kepolisian yang seharusnya mengayomi masyarakat, tenang saja, besok pagi aku akan pergi dari sini segera untuk kembali ke kota menemui kru. Jika kau bisa membenci ku tanpa alasan, maka kini aku membenci mu juga dengan sejuta alasan!" Dada Chery naik turun karena marah, nafasnya tersenggal-senggal, dia bukan orang yang tak tau terima kasih dengan mengumpat orang yang sudah menyelamatkannya, namun ini pengecualian, sikap Arjuna sudah melampaui batas kesabarannya.

__ADS_1


"Sebaiknya kau buktikan ucapan mu itu, Nona. Aku sudah berbaik hati menampung mu malam ini, semoga tak ada malam lain lagi untuk ku memberikan kebaikan untuk mu."


Chery mendengus kesal, rasanya dia ingin berteriak dan mencabik-cabik pria berlidah tajam itu, orang asing yang selalu menunjukkan sikap permusuhannya di setiap mereka bertemu.


Seluruh pria biasanya akan memuja dan bersikap sangat baik padanya dengan kecantikan dan ketenarannya, namun Arjuna selalu melihatnya dengan tatapan kebencian.


Baru saja dia sedikit terenyuh dengan kebaikan pria itu yang membuatkannya semangkuk mie, memberinya obat alergi dan salep luka bakar, bahkan dia menguruk pikirannya yang menuduh Arjuna laki-laki tak berprikemanusiaan dan tak gentleman, namun sat ini rasanya dia sangat menyesal pernah menarik kata-kata itu, karena kenyataannya dia memang benar-benar berengsek.


Hujan sudah reda, namun begitu sisa-sisa air dari dedaunan akibat hujan deras semalaman masih sering menetes ke tubuh Chery saat pepohonan itu terkena angin atau bahkan tersenggol oleh langkahnya, pagi itu matahari belum menampakan dirinya, tepat pukul enam pagi Chery keluar dari rumah dinas Arjuna, semalaman setelah berdebat dengan Arjuna, pandangannya hanya terus saja menatap jam yang menempel di dinding ruang tamu itu, waktu terasa lama saat dirinya menunggu jarum pendek di angka 6, dan begitu saat itu tiba, Chery langsung keluar dari rumah itu tanpa berpikir panjang lagi.


Chery tak mau lebih lama lagi terjebak dengan pria psikopat seperti Arjuna yang membencinya tanpa alasan, bahkan dia juga tak sudi untuk sekedar berpamitan pada pria itu, semalam dia sudah mengucapkan terimakasih atas pertolongannya pada dirinya, dan dia rasa itu cukup, berbicara lagi dengannya hanya akan menaikan tensi darahnya saja.


Semakin jauh melangkah, rasanya dia hanya berputar-putar saja di sekitar hutan, dia sama sekali tak menemukan tanda-tanda kalau dia akan menemukan jalan besar, bahkan dia tak menemukan seorang pun di sepanjang jalan yang di lewatinya.


Takdir apakah ini, tersesat di hutan, dimana tak ada seorangpun melintas, di tambah kepalanya yang kini mulai terasa berat, sepertinya dia terkena flu karena hujan-hujanan semalam.


Chery tersenyum penuh kemenangan, karena akhirnya dia menemukan jalan yang lumayan besar, saat matahari mulai menampakan dirinya, bahkan samar-samar terdengar suara raungan mesin sepeda motor, namun saat dirinya menengadah dan melihat ke arah suara, cahaya matahari yang menyilaukan mata terasa begitu menusuk matanya, sehingga pandangannya tiba-tiba menjadi gelap, dan dia tak ingat apapun lagi, Chery jatuh pingsan.


**

__ADS_1


Sementara di rumah dinas, seperti biasanya, pukul 06.30 pagi Arjuna sudah bersiap dengan pakaian olahraganya, dia akan berolah raga setengah jam lalu mandi dan berangkat ke kantor.


Saat melihat ke ruang tamu, dia tak melihat Chery di sana, karena penasaran dia pergi ke dapur dan ke kamar mandi memeriksa barangkali gadis itu berada di sana, namun ternyata nihil, bahkan baju nya yang semalam basah kena hujan kini tak ada lagi, dan baju yang semalam dia pinjamkan pada gadis itu tersampir di jemuran tali sebagai gantinya.


"Cih, cukup bernyali juga! Rupanya dia benar-benar pergi. Ayo kita lihat berapa menit dia akan bertahan di hutan, aku yakin tak sampai setengah jam dia akan menyerah dan kembali ke sini." Cibirnya.


Tangan Arjuna meraih pakaiannya yang bekas di pakai Chery, dia berencana akan memasukannya ke ember untuk di cuci sekalian mandi nanti, tak ada mesin cuci di sana.


Namun saat pakaian itu melewati wajahnya tiba-tiba dia seperti mencium bau parfum yang biasa di pakai Luna, dia ingat betul kalau baju itu di berikan pada Chery karena baju itu di cuci tanpa pewangi pakaian untuk menghindari alerginya, dan wanita itu juga tak membawa apa-apa selain tubuhnya, jadi tak mungkin jika Chery menggunakan parfum tadi malam.


Baju itu terus di ciuminya, tak salah lagi, itu bau parfum Luna, tapi luna tak pernah memakai bajunya, Arjuna mengurungkan niatnya untuk memasukan pakaian itu ke ember, dia menyimpannya di kamar, setidaknya baunya akan mengobati rindunya pada Luna.


Satu jam berlalu, namun Chery tak juga kembali ke rumah dinasnya, Arjuna bahkan sampai mengabari orang kantor kalau dia akan berangkat telat karena penasaran apa Chery akan kembali ke sana, dia tak sabar untuk mengejek sampai ke akar-akarnya saat gadis itu kembali.


Dua jam berlalu, leher Arjuna rasanya sudah pegal karena terus menengok ke arah pintu utama yang sengaja dia buka lebar, ada sedikit perasaan cemas kalau-kalau gadis itu bertemu dengan bandit di hutan, lantas di perkosa atau bahkan mungkin di bunuh, bandit-bandit di sana apalagi bandit di bawah kepemimpinan Ribo, mereka sangat sadis dan tak kenal ampun.


Apa dirinya sudah sangat keterlaluan? Sementara tak ada bukti apa-apa yang menunjukan kalau Chery terlibat dalam kecelakaan Luna, namun dirinya sudah menghakimi bahkan menghukumnya dengan begitu kejamnya,?


Rasa cemas itu semakin bertambah dan bertambah ketika matahari sudah menampakan dirinya, namun Chery tak juga kembali, wanita itu hanya gadis kota yang hidup dengan sendok emas semenjak kecil, dia tak akan mungkin bertahan di hutan selama itu, perasaan bersalah pun mulai timbul di hatinya, sepertinya dirinya memang keterlaluan, dia merasa picik karena menindas seorang gadis tanpa alasan, hanya karena perkiraannya yang belum tentu benar.

__ADS_1


__ADS_2