Dendam Cinta Sang Kapten

Dendam Cinta Sang Kapten
Seribu wajah


__ADS_3

"Aku, aku bertengkar dengan ayah tiri ku malam itu, dan di perjalanan pulang aku menabrak seseorang," urai Chery, dengan takut-takut.


Bagaimana dia tidak takut, jika saat ini dirinya seperti sesang melakukan pengakuan dosa pada petugas yang bisa saja menangkapnya, dia juga takut akan persepsi buruk Arjuna padanya.


Bak di sambar petir, Arjuna sampai terhenyak mendengar pengakuan Chery barusan, membuat dirinya merasa blank beberapa saat.


"Me-menabrak seseorang?" beo Arjuna mengulang dua kata terakhir yang di ucapkan Chery padanya, seakan dirinya ingin lebih memastikan kalau apa yang baru saja di dengarnya adalah benar dan bukan kesalahan pada pendengarannya.


Jantungnya semakin berdegub kencang, dia nyaris saja tak dapat mengendalikan pikirannya sendiri, "Kapan tepatnya itu terjadi, kenapa aku tak mendengar ada laporan tentang kecelakaan itu, harusnya dengan nama besar yang di sandang mu, berita ini akan menjadi berita heboh, apalagi kalau korbannya sampai meninggal dunia." Pancing Arjuna.


"Ibu ku dan manajer ku sudah sepakat menyelesaikannya dengan kekeluargaan, pihak korban pun bersedia untuk melakukan itu." Sangkal Chery.


"Kekeluargaan? Kau pikir nyawa seseorang bisa di ganti dengan uang yang kau dan keluarga mu miliki? Kau tak memikirkan orang-orang yang di tinggalkannya, kau merenggut nyawa seseorang dan dengan santainya menganggap selesai dengan menggunakan uang?" sewot Arjuna tak dapat lagi mengendalikan amarahnya, dia bahkan menendang meja kayu yang ada di hadapannya sampai terjungkal.


Chery terpekik ketakutan, dia tau dia salah, dan dia juga tau kalau Arjuna adalah polisi yang menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan, tapi dia sungguh tidak tahu jika reaksi Arjuna akan se-marah itu mendengar ceritanya, seingatnya dia sudah berbicara jujur dan tidak mengurangi apapun tentang kejadian kecelakaan malam itu, semua sudah sesuai seperti apa yang ibunya dan juga Dion ceritakan padanya, karena ingatannya tentang malam itu banyak sekali yang hilang dan dia tak dapat mengingatnya sama sekali.


Satu-satunya hal yang dia tutupi tentang malam itu adalah percobaan pemerkosaan yang di lakukan Hasan padanya, karena bagaimana pun dia tahu bagaimana kekuatan Hasan, jika dirinya menceritakan hal itu pada Arjuna, lantas Arjuna mengungapnya mungkin bukan hanya jiwanya saja yang terancam, tapi jiwa perwira polisi itu juga akan sama-sama terancam, Hasan Basri bukan tandingan untuk di lawan, sungguh dia sangat tahu bagaimana perangai kejam ayah tirinyanya itu.


"Kenapa kau diam? Kau sedang mencari alasan untuk menghindari kenyataan kalau kau menabrak seseorang sampai meninggal gara-gara kau yang dalam pengaruh obat terlarang?" Arjuna semakin tak sabaran saat melihat Chery yang memandangnya dengan penuh ketakutan.


"Tunggu, apa aku mengatakan kalau korban yang aku tabrak meninggal dunia? Kenapa kau terus membahas masalah nyawa, pada kenyataannya pria yang aku tabrak masih hidup sampai sekarang dan tak kurang suatu apapun, aku bahkan sempat beberapa kali mengobrol dengannya, lewat telepon, hanya saja kami memang belum sempat bertemu muka lagi semenjak kejadian itu karena kesibukan ku dan dia juga tinggal di kota yang berbeda." Urai Chery mematahkan tuduhan Arjuna.

__ADS_1


"Apa kau bilang, seorang pria? Yang kau tabrak seorang pria? Apa kau yakin?" lagi-lagi Arjuna tersentak dengan pernyataan Chery yang sungguh di luar dugannya.


"Tentu saja, untuk apa aku berbohong, kau seorang polisi hebat dan berpengalaman, tentu saja kau dapat membedakan mana pernyataan jujur dan mana kebohongan," tantang Chery yang merasa dirinya memang sudah benar-benar jujur.


"Tapi kau seorang artis yang punya seribu wajah, bisa saja saat ini kau sedang berakting, berpura-pura jujur." Tampik Arjuna tidak merasa puas.


"Apa itu berarti kau sedang meragukan kemampuan mu sendiri sebagai polisi yang secara terang-terangan tak bisa membedakan mana akting dan mana kejujuran? Jika semua artis bisa menipu kalian para polisi, lantas bagaimana dengan para artis yang kalian tangkap dengan berbagai kasus?" Chery memicing menanti jawaban Arjuna yang terjebak dengan pertanyaannya sendiri.


"Ya,,, mungkin itu karena artis yang tertagkap itu tak begitu pandai berakting." Elak Arjuna tak ingin kalah begitu saja, bagaimana seorang penyidik sepertinya bisa kalah dengan seorang gadis yang sebenarnya dia bisa melihat kejujuran di matanya, hanya saja Arjuna merasa tak puas saja dengan apa yang di yakininya.


"Dengan kata lain anda saat ini sedang memuji kalau kemampuan berakting ku sangat baik sehingga bisa mengelabui polisi seperti anda? Pak polisi, saya sudah mengatakan yang sejujurnya, dan saya tidak sedang berakting kali ini, asal bapak tau, bayaran akting saya sangat mahal, jadi saya tidak akan sembarangan ber-akting tanpa ada bayarannya, rugi!" ujar Chery.


Bagaikan langkah skak mat bagi Arjuna, saat ini dia tidak bisa berkutik lagi, 'oh ayolah Arjuna, bukankah sejak awal kau mengharapkan jawaban ini, dari gadis itu?Bukankah kau mengaharapkan jika Chery bukanlah si penabrak yang menyebabkan kematian Luna? Lantas apa lagi yang menjadi masalah?' protes batin Arjuna.


"Tentu saja, namanya Ali, dia berasal dari kota Palu, dia sedang berkunjung ke tempat saudaranya malam itu, andai ponsel ku tidak hilang saat penculikan itu, aku bisa menunjukkan bukti chat aku dengan dia, dan bukti transfer yang aku berikan padanya setiap bulannya," kata Chery.


Namun Arjuna malah pergi ke kamarnya, setelah beberap saat dia kembali dengan ponsel keluaran terbaru di tangannya,


"Kau bisa membuktikan dan menunjukkan kalau ucapan mu benar sekarang juga," Arjuna memberikan ponsel mewah itu.


"I-Ini ponsel ku, kau mengambilnya?" Chery mendelik tak percaya.

__ADS_1


"Anak buah Berto mengembalikannya, aku tadi hanya mengisi dayanya di kamar, dan hendak mengembalikannya pada mu setelah itu." Gagap Arjuna, dia mendadak jadi tidak terlalu mahir dalam berbohong di bawah picingan mata Chery yang menatapnya tajam.


"Itu tidak masuk akal, bukankah seharusnya barang mewah seperti ini mereka bisa menjualnya? Bandit apa sih, mereka sebenarnya," gumam Chery sambil mengotak atik ponselnya lantas memperlihatkan bukti chat dan segala sesuatu tentang korban yang di tabraknya itu pada Arjuna guna membuktikan kalau apa yang di katakan padanya adalah sebuah kebenaran.


"Lagi pula, semahal apapun ponselnya, disini akan tetap menjadi barang rongsok, karena tak bisa di pakai, walkie talkie lebih berharga di banding ponsel mahal keluaran terbaru." Cibir Arjuna, dia tak lagi memperpanjang masalah peristiwa itu setelah Chery berhasil membuktikan kalau apa yang di ucapkan nya itu memang benar adnya, apalagi semua bukti dan juga hasil interogasinya juga menunjukkan kalau Chery tidak sedang berbohong atau sedang menutupi sesuatu.


Setengah jam kemudian setelah Arjuna menghilang dari pandangan Chery, pria itu tiba-tiba datang dengan semangkuk mie rebus di tangannya.


"Makanlah, sejak tadi aku mendengar suara-suara aneh dari perut mu, hari ini aku tugas ke desa, jadi lupa tak sempat membelikan mu roti, lagi pula anggap saja ini permintaan maaf ku karena tadi sempat marah pada mu, aku juga ingin menepati janji ku saat di hutan yang akan memasakan mu mie instan." Kata Arjuna lembut, tak ada sisa-sisa kemarahan sama sekali di wajahnya, sepertinya dia benar-benar menyesal dengan segala tuduhannya.


"Pak komandan, tempramen anda sangat buruk, anda menakuti ku tadi, bagaimana bisa kemarahan mu yang sampai menendang meja di depan ku hanya anda tebus dengan semangkuk mie, itu terlalu menyepelekan," protes Chery, meskipun mulutnya berkata seperti itu, namun tangannya meraih semangkuk mie itu, dia memang benar-benar kelaparan sat ini.


"Lantas, sebagai permintaan maaf yang tulus, bagaimana aku harus menebusnya?" pasrah Arjuna, dirinya memang keterlaluan tadi, dan dia juga merasa bersalah akan hal itu.


"Bukankah besok weekend? Sepertinya aku ingin anda menjadi koki di rumah ini selama dua hari liburan ini, lagi pula, sayang sekali sayuran yang di kirim Tores hanya menumpuk di lemari es, andai saja aku bisa memasak," usul Chery.


"Hanya itu? Tak masalah, aku akan memasak sarapan, makan siang dan makan malam, selama weekend ini, kalau perlu aku juga akan mengajarkan mu memasak, gini-gini aku pintar masak!" Arjuna membanggakan diri.


"Kapten, apa sudah pernah ada yang mengatakan pada mu, kalau anda seribu kali lebih tampan saat anda tersenyum?" goda Chery mengulang ucapannya saat mereka di gubuk malam itu.


"Terimakasih, kau orang ke seribu dua ratus tiga puluh satu yang mengatakannya pada ku," jawab Arjuna.

__ADS_1


Tentu saja pujian itu bukan yang pertama kalinya dia dengar dari mulut Chery, dia masih ingat gadis itu mengatakannya saat di gubuk, namun lagi-lagi dia merasa canggung dan telinganya terasa panas saat menerima pujian itu dari gadis yang wajahnya se-cantik buah cery itu.


__ADS_2