Dendam Cinta Sang Kapten

Dendam Cinta Sang Kapten
Super Hero


__ADS_3

Sementara di tempat lain, Arjuna yang baru saja kembali dari desa ujung karena ternyata tak mendapatkan para bandit di sana, meski dia dan para angota lainnya sudah menyisir seluruh desa, harus menghentikan laju kendaraannya karena saat di perjalanan kembali ke balai desa mereka berpapasan dengan para anggota lainnya yang dia tugaskan untuk berjaga di balai desa,


"Kemana kalian pergi?" Tanya Arjuna heran.


"Komandan, kalian baik-baik saja?" anggotanya malah balik bertanya.


"Tentu saja, kami baik-baik saja, dan dalam perjalanan kembali ke tempat kalian, kenapa kalian malah meninggalkan tugas beramai-ramai seperti ini?" tegur Arjuna.


"Kami mendapat informasi kalau desa ujung di serang, katanya banyak petugas dan warga yang terluka akibat penyerangan itu, sehingga anda meminta bantuan personil untuk di perbantukan ke sana, makanya kami menyusul kesana untuk membantu." Terang salah satu anak buahnya.


"Ah sial! berapa anggota yang tersisa di sana?" tanya Arjuna panik, dia merasa kalau ini adalah jebakan.


"Empat Ndan," jawabnya polos namun terlihat bingung.


"Cepat kembali, mereka dan para warga mungkin dalam bahaya saat ini!" seru Arjuna memerintah pada semua anggotanya untuk secepatnya kembali ke balai desa.


Tanpa membuang waktu lagi Arjuna memacu motornya sekencang mungkin, menembus kegelapan, mengabaikan ranting dan dahan yang menghalangi jalannya, bahkan beberapa kali tubuhnya tergores ranting kering yang di lewatinya, tentu saja luka goresan tak akan berarti apa-apa untuknya, saat ini keselamatan anggota yang tersisa dan para warga menjadi fokus utamanya.


Semua anggota berbalik dan mengikuti Arjuna dari belakang, sepertinya mereka mulai menyadari kalau semua hanyalah jebakan, karena target para bandit adalah warga di sekitar balai desa.


Beruntung jarak mereka kini ke balai desa tidak terlalu jauh, mungkin hanya kurang dari satu jam mereka akan segera sampai ke balai desa mengingat tingginya kecepatan kendaraan yang di pacu Arjuna saat ini.


Di Bali desa,

__ADS_1


Sebagai anggota yang baru saja lulus dan sama sekali belum berpengalaman dalam 'perang' secara nyata selain teori dan simulasi di tempat pendidikannya, Tores merasa nyalinya agak ciut, apalagi mengingat kini hanya tinggal dirinya aparat yang tersisa, berbanding terbalik dengan Chery yang lebih tenang di bandingkan dengan Tores, sehingga itu menjadikan pacuan Tores untuk bersikap tenang juga meskipun itu rasanya sulit, Chery yang sudah sangat sering berada di situasi seperti itu namun pada sebuah lokasi syuting hanya bisa menganggap kalau saat ini dirinya sedang menjalani syuting agar mentalnya tak begitu terbebani.


Tores bahkan tak bisa menahan tubuhnya yang bergetar hebat saat tiga orang anak buah Ribo berjalan ke arah tempat persembunyian mereka dengan masing-masing membawa parang yang sangat besar di tangannya membuat Tores membayangkan yang tidak-tidak.


Beruntung Chery berhasil mengingatkannya untuk tetap tenang, jari telunjuk Chery masih berada di depan mulutnya mengisyaratkan agar Tores tetap tenang, dan itu berhasil. Para bandit itu tak menyadari keberadaan mereka yang berdiri merapat di antara celah bangunan samping dan tembok pembatas yang sangat sempit, untungnya tubuh Chery yang ramping tak kesusahan untuk masuk ke sana, begitupun tubuh kurus Tores yang bisa menyesuaikan dengan tempat sempit itu.


Dari tempat mereka bersembunyi dapat dengan jelas melihat bagaimana para bandit mengikat satu persatu tangan dan kaki pria-pria yang sudah tak sadarkan diri itu, dan mengumpulkan mereka di halaman balai desa menjai satu bagai karung yang saling bertumpuk satu sama lainnya.


Begitu pun para wanita kini di ikat dan di kumpulkan menjadi satu disana, suara tangis anak anak membuat hati Chery tersayat-sayat, apalagi saat melihat beberapa wanita yang sudah tak berpakaian lengkap, mereka sengaja di jadikan tontonan di area luas seperti lapangan itu, benar-benar biadab.


Tak jauh dari tempat mereka bersembunyi seorang anak perempuan berusia sekitar 3 tahun berjalan sendirian, entah dari mana datangnya, bahkan anak itu tak menangis sama sekali, mungkin orang tua anak itu adalah salah satu tawanan yang berada di halaman balai desa itu, sehingga bocah itu berjalan menuju ke sana.


Tak ingin terjadi apa-apa pada bocah perempuan itu, Chery akhirnya nekat mengendap-endap keluar dari pesembunyian dan mendekati bocah itu, jika nyawanya memang harus berakhir di tempat ini, setidaknya dirinya mati karena menolong seseorang dan berguna, bukan mati sebagai seorang pengecut yang membiarkan seorang bocah menuju bahaya demi menyelamatkan diri sendiri.


"Nona!" pekik Tores, tak mengira jika Chery akan bertindak se berani dan se nekat itu.


Chery di kejutkan dengan anak permpuan yang masih berada di pelukannya, dan hampir kembali menangis, namun seseorang dengan cepat membekap mulut anak itu dan memberikannya ke seseorang di belakangnya, untuk di ambil alih.


"Bawa anak itu ke tempat aman!"


Saat itu Chery baru menyadari kalau yang menarik dirinya tadi adalah Arjuna, dan dia juga baru menyadari kalau ternyata ada beberapa orang lain lagi yang bersembunyi di sana, mereka mengenakan seragam serba hitam sama seperti yang di kenakan Arjuna saat ini, sehingga keberadaan mereka tersamarkan oleh gelapnya malam dan pepohonan yang rindang.


"J-Juna---" cicit Chery tergagap.

__ADS_1


"Jangan banyak bicara, kau sangat ceroboh, kau pikir ini lokasi syuting, dan kau sedang berperan sebagai super hero, huh?" mata Arjuna bahkan membelalak ke arah Chery yang kini berada di hadapannya, jarak mereka sangat dekat sehingga Chery dapat merasakan nafas Arjuna, membuat dia seakan terhipnotis dan hanya bisa diam sambil memandangi wajah pria yang lagi-lagi menyelamatkan nyawanya dalam kegelapan.


"Jangan bertindak gegabah lagi, kau bukan hanya akan mencelakakan diri mu sendiri, tapi juga akan membahayakan nyawa orang lain," sambung Arjuna.


Sebenarnya tadi Arjuna sudah melihat bocah perempuan itu dan hendak menyelamatkannya, namun entah dari mana datangnya Chery justru mendahuluinya mengambil anak itu tanpa memperdulikan keadaan, membuat dirinya mau tidak mau akhirnya tadi harus menyelamatkan 2 nyawa sekaligus.


"Maaf," cicit Chery lirih.


"Dimana Tores?" tanya Arjuna, Chery hanya mengarahkan jari telunjuknya ke arah tembok pembatas samping balai desa yang berada di sebrang mereka.


"Siapa lagi selain kalian yang berada di sana?" tanya Arjuna, namun Chery hanya menjawabnya dengan gelengan kepala tanpa suara.


"Hanya kalian berdua?"


Chery menganggukan kepalanya satu kali, dan masih tanpa suara.


"Apa kau bisu? Aku bertanya pada mu sejak tadi tapi kau hanya menggeleng dan mengangguk!" kesal Arjuna.


"Bukannya kau bilang aku tak boleh bicara, aku hanya berusaha patuh dengan perintah mu tapi kenapa apapun yang aku lakukan selau salah di mata---"


"Cukup, aku hanya menyuruh mu menjawab pertanyaan ku dengan singkat, bukan berpidato panjang lebar!"


Chery tak bisa melanjutkan kata-katanya lagi karena kini tangan Arjuna membekap mulut Chery dengan kesal.

__ADS_1


Namun tiba-tiba keriuhan terjadi dari seberang mereka, sepertinya anak buah Ribo menemukan persembunyian Tores, bocah malang itu di seret dari celah antara tembok pembatas, kepalanya bahkan beberapa kali di hantam gagang senjata, Chery yang sudah pernah mengalami hal itu beberapa hari lalu meringis, rasa ngilu di kepalanya akibat pukulan senjata anak buah Berto bahkan belum hilang rasanya.


"Tores," pekiknya tertahan oleh telapak tangan Arjuna yang masih membekap mulutnya, secara spontan bahkan kedua tangan Chery meremas lengan Arjuna saat melihat Tores di pukuli di depan matanya, pria muda itu sangat baik padanya dan selalu menjaganya, dia teringat kalau Tores ketakutan, tapi dia malah meninggalkannya sendirian di tempat itu.


__ADS_2