
.
.
.
Saat ini Youn dan Hoshan tengah bersiap siap untuk pergi ke akademi yang berada di pusat kota, Renny dan Qiena juga memutuskan ikut bersama mereka, sebelum mereka benar benar pergi meninggalkan panti, Youn dan yang lainya terlebih dahulu mengucapkan terima kasih kepada bibi Liao karena telah membesarkan mereka dengan senang hati.
“Terima kasih bibi Liao, anda telah mengajari kami dan merawat kami dengan tulus bahkan tanpa dibayar, sampai kami berusia tujuh tahun seperti ini, kami berjanji akan mengunjungi bibi jika memiliki waktu senggang” Youn berkata mewakili perasaan Hoshan, Renny dan Qiena.
Bibi Liao meneteskan air mata, waktu berjalan cukup cepat, tak terasa Youn, Hoshan, Renny dan Qiena sudah tumbuh pesat, ya mereka saat ini sudah berusia 7 tahun.
“Sama sama, bagaimanapun kalian akan selalu menjadi bagian dari bibi, jangan lupakan bibi ya” bibi Liao menyeka air matanya.
Youn dan yang lainya langsung memeluk erat tubuh bibi Liao, mereka berempat pun pergi kemudian, meninggalkan bibi Liao dengan anak panti lainya yang masih berniat tinggal di panti.
Kali ini Hoshan lah yang menjadi petunjuk jalan ke akademi yang akan mereka kunjungi, Renny mulai berpikir untuk menjahili Youn yang tengah menikmati pemandangan yang ramai.
__ADS_1
Qiena menyadari perubahan gerak gerik Renny lantas menasehatinya.
“Renny tidak bisakah kau tidak jahil kepada Youn, kita harus fokus mendaftar akademi sekarang ini” ujar Qiena menasehati Renny.
Renny mulai berdalih, ia mulai membuat sebuah kebohongan dan menyampaikanya kepada Qiena.
“Ah tidak aku tidak akan menjahilinya haha, tenang saja aku tidak akan menjahilinya untuk hari ini” balas Renny namun ia masih memiliki niat untuk menjahili Youn.
Setelah berjalan lumayan jauh dari panti dan memakan waktu 15 menit, mereka berempat akhirnya sampai di sebuah bangunan besar, banyak orang terlihat berlalu lalang masuk dan keluar dari area bangunan tersebut.
“Permisi maaf menganggu waktu anda, bisakah saya mengetahui area pendaftaran murid akademi ?” Tanya Youn kepada seorang pria yang baru saja berselisih dengan mereka.
Pria mengalihkan pandangnya kepada Youn lalu menjelaskan bahwa area pendaftaran berada di lobby.
“Di dalam nak, kau lurus saja ketika masuk, jika kau sudah sampai di dalam dan mendapati seorang pria dengan bola, langsung saja berbaris, pria tersebut juga memutuskan apakah kau dan teman teman mu bisa masuk ke akademi atau tidak, semoga beruntung” pria tersebut pergi setelah memberitahukan beberapa informasi kepada Youn dan teman teman.
Youn beserta teman temanya masuk ke area dalam akademi, benar saja sesampainya di dalam mereka melihat seorang pria dengan bola kuning.
__ADS_1
tengah terduduk, Youn dan teman temanya langsung mengantri. Semua orang yang datang ke akademi hari ini bersama pendamping mereka, seperti ayah maupun ibu, hanya Youn, Hoshan, Renny dan Qiena saja yang tidak memiliki pendamping namun mereka sudah terbiasa dengan hal seperti itu.
Setelah mengantri cukup panjang, akhirnya tiba giliran Youn, pria yang terduduk tersebut menyuruh Zunho meletakan tangan di bola untuk memastikan jiwa bela diri yang akan di kuasai Youn nantinya.
“Letakan tangan mu disini nak” pria menunjuk bola di depanya.
Youn meletakan tanganya di bola, ia merasa ada energi kejut yang datang dari bola tersebut, guncangan demi guncangan semakin besar, pria yang awalnya santai mulai menatapi bola dengan serius sampai sebuah tulisan di bola terlihat.
“Kau tidak memiliki jiwa bela diri nak, aku mungkin akan mempertimbangkan kehadiran mu mu di akademi” ucap pria sambil menyuruh Hoshan untuk duduk.
.
.
.
Thanks for read
__ADS_1