
.
.
.
''Kenapa nyala api roh tersisa milik kita saja ? sedangkan Bunga Bangkai dan Macan Hitam padam ? Apakah ini pertanda mereka sudah tiada ? '' tanya khawatir Zhao Za.
Zhao Za merupakan Penatua Aula Hitam yang memegang aula menyeluruh, teman Zhao Za di sebelah pun meyakinkan
''Mungkin saja mereka tidak ingin di ganggu maka mereka padamkan api roh mereka, siapa tahu mereka tengah menembus tingkat sempurna akhir mengingat mereka hanya berada pada tingkat awal.'' Tutur Liang Mo.
''Benar apa katamu, Dewi Langit sebentar lagi array teleportasi bakal hadir, kekuatan array saat ini 81 % '' ungkap Zhao Za pada gadis dengan setelan hitam yang menduduki singgasana tengkorak di depan Zhao Za.
''Di perkirakan bakal menyeluruh 30 menit lagi.'' Imbuh Zhao Za
Dewi Langit tersenyum saja tanpa berbicara, dia benar benar menunggu saat itu datang.
Dewi Langit menenggak anggur sembari menunggu array.
Menunggu kian beberapa menit hingga array mulai menyentuh wujud akhir, disaat itu juga muncul kabut teraliri listrik menutupi seluruh ruang aula.
Zhao Za dengan yang lain segera mempersiapkan senjata, pemandangan aula pun berubah setelah kabut berangsur hilang.
Dengan kekuatan Zhao Za yang di beri julukan besi hitam ia keluarkan tongkat besi panjang lalu ia lemparkan menuju pengendali kabut yang berada jauh beberapa meter dari aula saat ini.
Sontak besi melesat hingga hampir menyentuh dada pengendali kabut ilusi tersebut beruntung ia sempatkan menghindar.
Karena gangguan ilusi menghilang dari pandangan Zhao Za, Dewi Langit dan Liang Mo. Nampak seorang pemuda dengan rambut kuncir kuda berdiri berhadapan dengan wanita paras dewasa itu.
Pemuda itu tanpa ragu melayangkan rantai biru kepada Zhao Za, Dewi Langit dan Liang Mo yang bisa mereka hindari serangan pemuda.
''Betapa lancang diri mu menyerang kami dengan berbekal teknik tak seberapa itu.'' Sembur Zhao Za seraya ia tampilkan ranah bulan sempurna akhir begitu pula dengan Liang Mo.
Berbeda dari Dewi Langit, ia menampilkan siklus bulan kepada pemuda, sebuah tingkat yang mustahil bisa di miliki siapapun terkecuali berhasil menghabisi Dewi Langit.
Dewi Langit tak mengira yang bakal menyerang ia dan teman teman merupakan taksiran dia sewaktu dulu. Namun Dewi Langit tak ingin terpuruk akan keadaan, ia mesti fokus untuk menghabisi pemuda yang kemungkinan menjadi cikal bakal ancaman bagi diri-nya.
__ADS_1
''Wah rupa-nya kau, tak ku sangka orang yang ku taksir bakal menjadi orang yang bakal membuat ku tersingkir, bergetar aku dibuat-nya.'' Dewi Langit menyerang pemuda seperdetik kemudian.
Tepat di samping pemuda timbul dua batu besar hijau dengan ujung tajam mengarah pemuda, Dewi Langit menepuk tangan sekira batu menangkup pemuda.
Dengan rantai ia belah batu hijau tersebut hingga menjadi serbuk.
Seperkian detik Zhao Za berada di belakang pemuda dengan bola besi berbentuk prisma.
''Besi Hitam : Prisma Pembeku.'' Seru Zhao Za yang berhasil menyarangkan prisma tepat tangan kiri pemuda yang mengelak dari serangan.
Tangan kiri pemuda membeku. Rantai terlepas dari genggaman pemuda yang menyisakan satu rantai saja lagi pada tangan kanan.
SRETTTTTT
Akar biru muncul berniat menusuk Zhao Za dan yang lain dari bawah namun mereka berhasil melompat menghindar.
Ketika mendarat di tanah mereka dapati 2 orang wanita bergabung dengan pemuda sehingga antar kedua belah pihak imbang.
''Saya dan Liang Mo bakal urus dua wanita itu, terlihat anda sangat bertekad menghabisi pemuda di depan.'' Ucap Zhao Za menyiapkan dua buah besi hitam panjang.
Dewi Langit menyerang pemuda yang nampak menikmati momen bersama Dewi Langit, sayup-sayup terdengar pembicaraan ringan antar pemuda dan Dewi Langit ketika mereka bertarung.
''Anda rupa-nya Dewi Langit ya, namun sayang sekali anda tergabung dalam Aula Hitam yang mengharuskan saya menghabisi anda.'' Papar pemuda.
''Aku pun demikian, walau sangat di sayangkan.'' Tutur singkat Dewi Langit sebelum ia keluarkan teknik tinju batu uzur
Tangan Dewi Langit terkepal keras lalu mengarah pemuda yang siap pula meninju tangan Dewi dengin teknik serupa.
Tak terelakan dua teknik tersebut bertemu nyaris membuat Aula Hitam hancur sebagian.
Dewi Langit terhuyung, ia seka darah dari mulut karena kuat energi ledak dari Qi pemuda melebihi diri-nya.
Dewi Langit ingin mengeluarkan teknik mumpuni lain namun belum sempat ia keluarkan teknik tersebut ia teralihkan pada Zhao Za dan Liang Mo yang terpojok dengan dua kawan pemuda.
Belum sempat Dewi Langit menolong dua teman-nya tersebut sebuah rantai biru melesat nyaris menghujani mata kiri dia, beruntung ia reflek dengan arah serangan yang bersumber dari sang pemuda.
''Apa yang kalian ingin kan sebenar-nya dari kami ?! '' Dewi Langit bertanya dengan nada bergetar namun bukan takut melainkan memuncak amarah dia.
__ADS_1
''Kematian kalian, itulah yang ingin ku inginkan.'' Datar reaksi pemuda terhadap pernyataan Dewi Langit.
Dewi Langit tak tahan lagi, ia keluarkan sebuah sayap bewarna hitam pekat malam, wujud Dewi pun kian berubah menjadi sosok wanita bertanduk dengan dua buah kapak lahar bertempat di kedua tangan-nya.
''D-Dewi lekas anda pergi, t-teleportasi t-telah t-tibaaa !! '' jelas Zhao Za yang langsung mendapat tusukan dari akar biru yang muncul tiba-tiba.
''CEPATLAH DEWI '' seru Liang Mo sebelum diri-nya diam membeku dengan darah keluar dari mulut, telinga dan mata.
Dewi Langit murka dan bersumpah bakal balas dendam atas kematian teman-teman-nya, ia menghindar dari serangan pemuda yang terarah pada diri-nya.
Langsung bergerak Dewi Langit menuju teleportasi, tak mau Dewi Langit pergi kemana-mana pemuda mengikuti Dewi memasuki array teleportasi yang bakal mengantarkan mereka menuju sebuah tempat.
Namun sebelum pergi pemuda mengambil beberapa serpihan yang keluar dari tubuh Zhao Za dan Liang Mo, baru beranjak pergi mengejar Dewi Langit.
...****************...
''Dewi Langit anda berhasil reinkarnasi, sekarang kita bakal mencari sosok dalam ramalan yang bakal menggeser anda dari kursi istana langit.'' Kata Cong Min saat diri-nya melihat Dewi Langit tiba di istana Langit.
''Lihat-lah yang ada pada diri anda saat ini, kekuatan anda setelah reinkarnasi benar-benar meningkat pesat.'' Imbuh Cong Min
Dewi Langit sama sekali tak merespon Cong Min, ia hanya mengepal keras tangan-nya sembari berputar balik menghadap teleportasi.
''Tak perlu, seperti-nya ramalan yang di maksud ada di depan ku '' kata Dewi Langit menunjuk array teleportasi.
Seorang pemuda keluar dari lingkaran teleportasi dengan menyeret rantai biru dan di tangan kanan pemuda nampak sebuah trisula bewarna kuning emas.
''Akan saya berikan pelayanan khusus kepada anda dengan trisula kesayangan milik saya, Kimia Lambat.'' Tutur pemuda tersebut.
''Bahkan ia berhasil mengembalikan tangan kiri-nya setelah Zhao Za berhasil membuat-nya beku permanen.'' Lirih Dewi Langit.
.
.
.
Thanks for read
__ADS_1