
.
.
.
"Tak apa bibi Chan lagi pula kami berdua tak ada kerjaan." Saat ini Renny tengah membujuk bibi Chan agar mau di bantu.
"Betul bibi Chan, biar saya dan Renny membantu anda agar semua lebih cepat selesai." Qiena mendukung permintaan Renny sebelumnya.
Bibi Chan menghela nafas. Mencoba menolak kebaikan dua anak gadis itu selembut mungkin, bibi Chan hargai usaha mereka mau membantu bibi Chan.
"Tidak nak, kalian istirahat saja. Lagi pula sebentar lagi bibi selesai kok." Dalih bibi Chan kepada Renny serta Qiena.
Padahal di belakang masih banyak benda berhamburan, partikel partikel kecil mendominasi. Bahkan piring sisa sarapan pagi belum sempat di cuci bibi Chan.
Renny dan Qiena tanpa menunggu panjang lagi. Qiena mengambil pel sedangkan Renny mengambil lap kering, mereka membasahi kain tersebut lalu mengusap benda benda berdebu yang tak sedap di pandang mata.
Setelah itu mengemasi lainya. Merapikan pot tanaman, mencuci piring serta menata ulang kayu bakar yang bertebaran di mana mana.
"Kalian ini." Bibi Chan tersenyum sambil melanjutkan kembali kegiatan bersih bersih penginapan.
Jika satu orang saja membersihkan penginapan ukuran sedang ini, bisa dipastikan malam nya orang tersebut akan minta di pijat.
...****************...
Sungai.
__ADS_1
"Kenapa pancingan ku tak bergerak sama sekali, haruskah memakai jagung atau roti ?" Hoshan bingung kenapa tak satupun ikan mau mematuk umpanya.
"Tunggulah beberapa saat Hoshan, mungkin ikan sedang memilih ingin makan apa saat ini, umpan ku, umpan mu, umpan pak Kong atau Guru Daiso." Balas Youn sedikit mencandai Hoshan.
"Kau pikir ikan itu berpikiran besar seperti kita,jika mereka berpikiran besar mana mungkin mau di tangkap." Canda Hoshan balik.
"Ya siapa tau." Balas Youn singkat sambil menyengir.
Hoshan menghela nafas, Guru Daisho bersama pak Kong hanya tertawa pelan melihat tingkah laku kedua anak yang kini telah tumbuh menjadi remaja.
"Senang bisa melepas penat seperti ini. Tugas hari ini benar benar banyak." Guru Daisho berbagi cerita kepada pak Kong mengenai kepadatan jawdal nya hari ini.
"Demi beras kita harus berusaha kan Guru
Daisho, ingin rasanya ku kembali memiliki
yang sudah tak muda lagi." Pak Kong
memandang tubuhnya yang saat ini sudah
memiliki beberapa kerutan di mana mana.
"Yah usia emas untuk anda saat ini pak Kong. Tapi saya kagum dengan anda, fisik dan rupa anda masih terlihat seperti 40 tahunan." Guru Daisho terkesan dengan pak Kong yang terlihat awet muda.
"Aiya kau berlebihan Guru Daisho, aku sudah nampak seperti kakek kakek haha." Pa Kong malu malu mendengar pernyataan Guru Daisho.
"Haha." Guru Daisho ikut tertawa pelan.
__ADS_1
Mereka berempat memancing sampai matahari menenggelamkan sinarnya, banyak ikan di ember pak Kong, Hoshan, Youn dan Guru Daisho. Hasil jerih payah mereka menunggu dan di gigit nyamuk.
...****************...
Penginapan.
"Aduh aduh." Renny menahan benjolan besar di kepalanya.
"Tahan tahan nak Renny, sebentar lagi sembuh." Bibi Chan mengusap minyak di jidat Renny.
"Kami pulang !!" Suara 4 orang pria secara bersamaan datang disertai langkah mereka yang masuk ke dalam penginapan.
Youn, Hoshan, pak Kong dan Guru Daisho pun meletakan ember di lantai. mendekati bibi Chan dan Qiena yang tengah mengobati benjolan kecil di kepala Renny.
"He." Youn mulai iseng.
Melirik kesana kemari mengamati situasi sebelum menekan benjolan di jidat Renny. Gadis itu berteriak sekuat tenaga. Youn berlari meninggalkan ember penuh ikan menuju kamarnya.
"KYAAAAA, KURANG AJAR KAU YOUN, AWAS SAJA KAU !!" Renny marah sampai matanya keluar air karena pedih, kepalanya di tekan Youn.
.
.
.
Thanks for read
__ADS_1