
.
.
.
Setelah menjalani hari kedua di panti dan mendapatkan beberapa teman baru, perasaan Youn sedikit lebih bahagia, ia sangat senang jika dirinya kembali merasakan masa kanak kanak.
Karena Youn tidak harus berpikiran mengenai apapun, selain makan, tidur dan belajar.
Kini Youn tengah berada di kelas, kali ini bibi Liao menguji kemampuan berhitung anak anak panti, ia juga membawa 5 buah ranting dan meletakanya di meja.
Bibi Liao memanggil nama anak anak panti satu persatu, anak anak panti sangat antusias dalam pelajaran menghitung hari ini.
“Renny ayo sekarang giliran kamu” bibi Liao memanggil Renny.
Gadis kecil itu berjalan menuju bibi Liao, sesampainya di hadapan bibi Liao, Renny langsung diberikan sebuah pertanyaan dari bibi Liao.
__ADS_1
“Renny bibi akan bertanya kepadamu, jika dua buah ranting kayu ini digunakan Youn dan Hoshan, tersisa berapakah ranting kayu yang ada di meja yang bisa digunakan anak anak lainya untuk bermain ?” bibi Liao memberi sebuah pertanyaan ringan untuk Renny.
Renny membuat raut wajah masam saat mendengar nama Youn disebutkan bibi Liao, setelah satu hembusan nafas keluar dari hidung Renny, ia langsung menjawab pertanyaan bibi Liao dengan mantap.
“Sisa tiga bibi” senyum mengiringi perkataan Renny.
Bibi Liao mengangguk kemudian menyuruh Renny untuk duduk kembali di kursinya, murid lainya setelah Renny mulai dipanggil bibi Liao satu persatu, sampai giliran Youn.
“Youn sekarang giliran mu” bibi Liao tersenyum kepada Youn.
Segera Youn bangkit dari tempat duduknya, setelah sampai di depan meja bibi Liao, Youn langsung diberikan sebuah pertanyaan mudah oleh bibi Liao.
Youn Tanpa ragu Youn menjawab pertanyaan yang di lontarkan bibi Liao kepadanya, Youn menjawab bahwa tersisa 2 ranting yang bisa di gunakan dua anak panti lainya jika ingin bermain.
“Tersisa dua ranting yang bisa digunakan untuk bermain” Youn menjawab dengan antusias.
Bibi Liao tersenyum puas sebelum menyuruh Youn kembali duduk ke mejanya, setelah menguji kemampuan berhitung anak panti, bibi Liao mengakhiri kelas seperti biasa beliau memberikan salam lalu berjalan terlebih dahulu keluar kelas.
__ADS_1
Youn dan Hoshan serta dua anak gadis yang tak lain Renny dan Qiena berjalan menuju kamar, Hoshan tidak henti hentinya membicarakan rencanaya saat berumur 7 tahun, ia ingin pergi ke akademi untuk menimba ilmu di sana, menguatkan dirinya agar bisa melindungi senyuman orang orang.
“Aku tidak sabar ingin cepat cepat besar dan mendaftarkan diriku di akademi saat umur 7 tahun nanti, apakah kau memiliki tekad yang sama seperti ku, Youn ?” Tanya Hoshan dengan nada penuh keingintahuan.
Youn mengangguk, ia juga ingin mendaftarkan dirinya di akademi setelah mengetahui batasan umur yang mereka perlukan untuk menjadi anggota akademi.
“Tentu saja, kita bisa saja menjadi teman yang hebat nantinya, mungkin akan ada sebuah pertarungan antar akademi mungkin” jelas Youn dengan membuat sandaran tangan lalu meletakanya di belakang kepala.
“Mungkin saja, jika ada maka akan semakin menyenangkan haha” Hoshan tertawa.
Anak laki laki tersebut berbincang ringan sedangkan Renny dan Qiena hanya mendengarkan apa yang mereka bicarakan, sampai mereka berempat sampai di kamar, Youn dan yang lainya segera pergi menuju kasur masing masing.
.
.
.
__ADS_1
Thanks for read