
.
.
.
Saat semua orang mulai terlelap di malam hari, Guru Daisho yang tak bisa memejamkan matanya bangun dari tempat tidur.
''Aku tidak bisa tidur, walau sudah makan banyak sekalipun'' ujar Guru Daisho sambil berjalan keluar kamar.
Meraih gagang pintu lalu menariknya perlahan, keluar Guru Daisho dari dalam ruangan.
''Mungkin berjalan kecil di malam hari mampu membuat ku mengantuk '' terlintas hal tersebut dalam pikiran Guru Daisho.
Ia pun berjalan keluar dari penginapan, menghirup segar udara malam hari di Benua Tengah, Guru Daisho melangkahkan kaki lebih jauh dari penginapan sekitar 15 meter.
...****************...
Sebuah tempat.
''Hah, mengantuk nya '' ucap seorang pria gendut besar yang tengah mabuk.
'' a-aku y-yang terhebat hahaha '' pria gendut berteriak sekeras mungkin.
Orang dalam tempat itu hanya diam tak merespon, wajah mereka tiba tiba putih pucat saat pria gendut berjalan sempoyongan, takut mereka akan di-celakai pria gendut, siapa sebenarnya pria gendut ini.
Mungkin akan di-bahas setelah ini.
Pria gendut itu berjalan keluar dari sebuah bangunan yang terlihat seperti rumah hiburan malam, terus berjalan dengan kepala berputar hingga bertemu dengan seorang pria, kisaran umur 37 tahunan.
''D-diakan g-guru anak anak bedebah itu, akan ku habisi dia '' niat pria gendut
Pria gendut mengeluarkan sebuah tongkat dari dalam dantian, bewarna jingga disertai permata jingga pada pucuk tongkat.
Tanpa aba aba pria gendut menyerang pria yang tak bersalah apa apa saat berada 10 langkah kecil dari-nya.
''TONGKAT TANAH JINGGA : PUKULAN ARWAH '' Pria gendut menyerang pria nahas tersebut.
__ADS_1
''Eh apa apa apa-an ini, KUBUS PELINDUNG '' pria dengan cekatan membuat pelindung agar aman dari pukulan pria gendut.
TRAKKKKK...BUGHHHHH
Pelindung pecah, tepat di bagian paru paru pukulan berhasil di sarang-kan, langsung hancur bagian internal pria nahas tersebut, membuat pernafasan berhenti.
GEDEBUGGGG
''LEMAH SEKALI '' tanpa rasa bersalah pria gendut meninggalkan mayat pria nahas begitu saja.
...****************...
Penginapan
Semua orang terbangun, bukan karena sinar mentari melainkan keributan di luar penginapan, banyak orang berlari menuju sebuah tempat.
''Terlalu dini untuk kebisingan '' Ketua Shuyi menguap seraya menggosok mata.
''Mari kita lihat '' Gung Min membuka kelopak mata menyeluruh.
Keluarlah para penghuni penginapan untuk me-ngecek peristiwa apa yang terjadi pada dini hari ini, terdapat juga puluhan prajurit istana Menhua.
Gung Min meneteskan air mata tanpa ia sadari, tak lama kemudian datang-lah mereka yang tertinggal, melihat apa yang terjadi di-depan, mereka histeris.
Hoshan, Youn Qiena dan Renny lah yang tak terima dengan kejadian di hadapan mereka, batin mereka masih belum bisa menerima orang terpenting dalam hidup mereka di mana orang tersebut dengan sabar memberikan pengetahuan dan wawasan ke-pemilikan diri-nya pada Youn dan teman teman demi masa depan mereka sudah terbujur kaku dengan kondisi pucat keseluruhan pada tubuh-nya.
Air mata tak henti mengalir dari mereka, rela menangis hingga air mata kering sekali pun.
''Pukulan ini pastilah dari tongkat tanah jingga milik Patriark Anrue Hongtau '' ucap seorang pria kepada pria lain di-sebelah.
''Tak salah, entah kapan kita bisa hidup bebas, Sekte Kambing Hitam selalu menghantui, apalagi setelah melihat kejadian ini, membuat ku semakin was was'' pria sebelah mulai panik.
Hoshan dengan emosi meluap bangkit dari tempat ia bertekuk lutut, dengan nada tegas ia bertanya mengenai lokasi Sekte tersebut.
''Dimana lokasi Sekte tersebut berada ?!'' Dengan nada dingin Hoshan bertanya.
''Barat Daya Kota Menhua '' balas pria yang memberitahukan informasi, bahwa dalang di balik semua ini tak lain perbuatan Sekte Kambing Hitam.
__ADS_1
''Sebaiknya jangan nekat sebelum terlewat '' saran pria was was.
''Langit akan bewarna jingga dalam gelap gulita, suara teriakan akan terdengar hingga pagi tiba, tanah tak luput dari warna merah '' ujar Hoshan.
''Tenangkan diri kalian, mari kita gotong tubuh ini menuju istana setelah itu baru kita membahas acara penangkapan Sekte Kambing Hitam.'' Ujar salah satu prajurit.
Mereka menggotong tubuh pria yang tak lain Guru Daisho menuju Istana Menhua, selepas upacara pembakaran baru-lah membahas siasat menangkap Sekte Kambing Hitam.
Hoshan tidak me-nyanggupi jika Sekte Kambing Hitam hanya di tangkap dan di ganjar hukuman seumur hidup, dengan emosi meluap di kepala ia keluar dari istana Menhua.
''Tidak ada penghukuman yang layak selain menghabisi Sekte Kambing Hitam'' Hoshan melangkah semakin jauh.
...****************...
Area Akademi :
Ju Daisho
Gung Min
An Shuyi
Lulu Bae
.
.
.
__ADS_1
Thanks for read