
.
.
.
''Wuih tu gadis menyeramkan sekali, hmm tapi bisa jadi lawan tepat untuk Renny barang kali.” Hoshan mulai berkata omong kosong.
Renny menimbulkan tanda perempatan di pelipis kanan tertanda ia mulai kesal, Youn melihat Renny mulai berasap segera mengajaknya pergi ke area tengah karena giliran mereka sudah tiba.
“Renny dari pada kau berkelahi bersama Hoshan lebih baik kau berkelahi sengit dengan lawan saja, terserah kamu ingin mengigit atau menelanya sekali pun.'' Ajak Youn sembari meletakan tangan di bahu Renny.
DEGGG\~
Renny terpaku selama beberapa menit, kepalanya bergerak menoleh tangan Youn, pelan dan pasti ia bergerak menuju tangan Youn.
''Apakah kamu sakit ?'' Tanya Youn saat wajah Renny mulai bersinar merah.
Renny berdiri dari kursi, berlari meninggalkan Youn, Hoshan dan Qiena dengan tatapan bingung. Eh ya maaf terlalu banyak adegan Youn bersama Renny.
Pembawa acara memberi kata sambutan saat Renny dan kawan kawan memasuki area tengah stadiun, seperti biasa kata cemoohan di selipkan pada kata kata sambutan, ingin rasanya pembawa acara di ganti dengan orang yang lebih ramah, namun sepertinya semua orang di Benua Tengah kurang lebih seperti pembawa acara, sebelas duabelas.
Tim lawan pun ikut keluar dari gelapnya lorong di seberang, menampakan wajah mereka yang terkesan lumayan enak di pandang, Youn memandang datar tim di depanya, tatapan serupa juga dilakukan tim Fondasi Dunia.
“Hoshan, Qiena dan Renny, ini saatnya.” Youn tersenyum miring.
__ADS_1
“Mari berpesta dengan mereka.” Balas Hoshan licik.
SWUSHHHHH
...****************...
Qiena
Qiena dengan senyum di bibirnya menatap lawan yang akan dia hadapi.
Kali ini lawan Fondasi Dunia rata rata berjiwa bela diri pedang, satu dan paling tinggi dua.
“Tebasan : Hembusan Ombak Jiwa.” Lawan Qiena yang merupakan seorang pria berlari dengan perhitungan di kepalanya.
SRETTTTT
BUMMM
Qiena melempar lawan ke tembok dengan deras, membuat sebagian penonton tak percaya dengan kejadian di depan mereka, seperti hal nya membersihkan debu kecil pada baju. Qiena mematahkan serangan lawan dengan mudahnya.
Lawan bangkit dengan topangan tangan kanan pada tanah, menyeka tetesan darah kecil di mulutnya. Mulailah lawan Qiena merapal sesuatu di mulutnya.
“Perkasa dan mulia, jadi kan aku dan teman teman sebagai juara, Tebasan : Taring Iblis Hitam.” Lawan melesat cepat.
Seperdetik kemudian lawan tiba tiba saja berada di hadapan Qiena, tersenyum miring sebelum melibas remaja gadis tersebut.
__ADS_1
BUSHHHHHH
Serbuk keluar dari tubuh Qiena, serbuk bewarna merah muda itu mau tak mau di hirup lawan Qiena, seketika sakit kepala muncul di kepala lawan sebelum tumbang dan mengerang erang di tanah.
“Ampun, jangan, jangan buka !” Tanpa sadar celana lawan basah.
“Tenang saja, itu akan berakhir sekitar 1 jam mendatang.” Qiena mengacungkan jempolnya.
Para alkimia mendatangi lokasi Qiena dan lawan, menggotong lawan Qiena menuju ruang pengobatan, Qiena juga memberi tahukan kapan habisnya siksaan lawan. Jadi jangan cemas.
...****************...
''Kenapa kau ini, sakit mata, sedari tadi kedap kedip berulang kali ?” Hoshan bingung dengan gadis di depanya.
''Mataku baik, hanya saja sekarang ini sedang sakit karena melihat objek yang terlalu indah.” Gombal remaja gadis.
“Idih.” Merasa geli mendengar gombal sang gadis.
.
.
.
Thanks for read
__ADS_1