Dewa Langit : Dari Dunia Lain

Dewa Langit : Dari Dunia Lain
Dewi Langit VS Pemuda Dengan Api


__ADS_3

.


.


.


Angin berhembus kencang saat mereka kembali bertemu di tempat yang berbeda, Dewi Langit mengeluarkan tinju batu uzur segera.


Batu uzur berangsur berubah menjadi hitam seperti penampilan Dewi Langit itu sendiri.


Dewi Langit terbang. Pemuda yang tidak bersayap pun hanya bisa berlari mengarah Dewi Langit yang tinggi-nya 2 langkah kaki kecil.


Sedikit unggul Dewi Langit meninju pipi pemuda setelah ia mengecoh tangkisan lawan yang terfokus pada serangan Dewi yang tidak henti menghujani.


Dewi Langit mementalkan pemuda sampai terhenti pada dinding istana. Cong Min muncul di sebelah pemuda dengan menyemburkan cairan hijau dari kendi di tangan kanan-nya.


''Asam permanen.'' Cong Min merapal mantra setelah ia menjatuhkan cairan hijau pada tangan pemuda yang kian menghilang.


Pemuda meringis hebat tangan kanan-nya hilang setelah cairan asam Cong Min menyentuh kulit tangan-nya. Jatuh pula trisula sang pemuda.


Pemuda menghentikan target sementara pada Dewi Langit, ia terfokus pada Cong Min yang berbahaya dengan kendi asam di tangan kanan-nya.


Pemuda itu perlahan lahan meraih sebuah mantra dari sebalik jubah, setelah-nya ia lempar mantra tersebut pada diri-nya sendiri.


Kehadiran pemuda hilang di depan Dewi Langit dan Cong Min, tapi usaha sang pemuda tergolong sia-sia di karenakan Dewi Langit dan Cong Min mampu melihat pergerakan yang tak kasat sekalipun.


''Hehe kau pikir bisa mengibuli ku.'' Cong Min mulai merapal mantra seraya meniup kendi.


Cong Min teburkan asam dalam kendi mengarah pergerakan pemuda yang datang dari arah jam 5.


Asam berubah menjadi kristal kecil seukuran paku yang banyak, menghujani sang pemuda.


''Gelombang Panas.'' Seru pemuda datar


Gelombang panas merah meluap kemana-mana membuat luluh lanta kristal yang ingin menghujani pemuda.


Cong Min panik ia tidak berhasil melukai pemuda dengan rapal mantra diri-nya yang berada pada tingkat sempurna.


Dewi Langit mencegat pemuda dengan melebarkan sayap kepada Cong Min, pemuda itu melompat lalu memberi pukulan Qi merah dari kiri kepada Dewi Langit yang dia tangkis dengan tangan kanan.


''Terkecoh.'' Pemuda mengayunkan kaki kiri pada pinggul kanan Dewi Langit yang membuat diri-nya melepas tangan pemuda lalu menjauh.


Trisula mendekat layak-nya magnet pada tangan kiri pemuda sebelum tergenggam sepenuh-nya.


''A-ahhhh, Asam Pelindung !! '' Cong Min bergetar hebat saat pemuda kian mendekati diri-nya jarak 1 langkah besar.


Asam pelindung muncul berbentuk tengkorak terselubung sekitaran Cong Min menutupi dia agar terhindar dari pemuda namun.


TRAKKKKK


Energi tusukan trisula lebih besar dari pelindung Cong Min yang mengharuskan diri-nya berakhir dengan mengenaskan dimana tertusuk tepat pada jantung.


BUGGGGGGG


Pemuda di tendang Dewi Langit setelah berhasil mencabut trisula.


Dewi Langit semakin memuncak, istana langit bergetar dengan hebat-nya ketika Dewi Langit memekik keras.


Sial pergerakan Dewi Langit benar-benar cepat setelah ia melepas segala-nya, Dewi Langit menghantam pemuda dari sisi kiri dan kanan.


Setelah itu Dewi Langit hantam pemuda hingga membuat lantai istana berlubang sangat dalam, Dewi Langit tarik pemuda ke atas lalu ia pukul perut pemuda yang jatuh dari atas sekuat tenaga hingga tubuh pemuda menembus atap istana Langit.


BRAKKKKKK


''TERJANGAN BATU GIOK !! '' semburan batu menghujani pemuda dari bawah.


Satu persatu pakaian pemuda sobek dan mencipratkan darah, sebelum diri-nya jatuh kembali ke istana langit namun Dewi Langit tendang pemuda hingga terpental dan berhenti di halaman istana yang cantik.


''Tebasan Lahar I '' tangan Dewi Langit bergetar mengenggam kapak, ia arahkan kapak besar itu kepada pemuda yang tak berdaya di tanah.


Dewi Langit menukik turun dari langit menuju pemuda seraya ia posisikan depan kapak mengarah dada pemuda.


''Phoenix Api Kuning !! '' sembur pemuda yang mencoba menahan pergerakan Dewi Langit.

__ADS_1


Siluet burung kuning keluar dari pemuda, terbang cepat menuju Dewi Langit yang bersedia memberi tebasan.


Dewi Langit tebas phoenix sehingga meledak di udara, ia tembus ledakan tak seberapa itu hingga ia berjarak beberapa meter saja lagi dari pemuda.


''Geh '' pemuda mengganti tangan kanan-nya dengan rantai biru lalu ia jerat Dewi Langit yang dekat sudah dengan diri-nya.


''METEOR API BIRU !! '' seru pemuda kepada Dewi Langit dengan memunculkan tiga buah api kecil dari trisula yang melesat maju menuju Dewi Langit.


Dewi Langit sekuat tenaga menghujani pemuda dengan teknik namun tidak melepas jeratan rantai sang pemuda pada diri-nya.


Ledakan pertama terjadi pada telinga Dewi Langit yang membuat dia mesti kehilangan telinga sisi kiri.


Ledakan kedua terjadi pada sayap Dewi Langit yang mengakibatkan diri-nya tidak bisa terbang dengan efisien lagi.


Ledakan ketiga terjadi tepat di wajah Dewi Langit yang membuat kedua mata-nya sedikit kabur.


''Keparat kau, akan kuhabisi sekaran juga diri-mu.'' Janji Dewi Langit pada diri sendiri.


Bongkahan batu besar di taman entah kenapa bergerak sendiri menuju Dewi Langit, mereka menutup kehadiran Dewi Langit hingga.


RAWRRRRRR


Sebuah raksasa terbentuk, berbadan gempal dengan nyala api lahar sekujur tubuh raksasa.


Raksasa menarik rantai pemuda lalu memukul-nya keras seperti ping-pong.


Pemuda melayang tinggi menembus taman, kebun, dan terakhir sebuah pagoda.


Pemuda itu merasa sakit teramat luar biasa, ia merasa seolah-olah akan meleleh setelah diri-nya di tampar raksasa Dewi Langit.


Raksasa mendarat di hadapan pemuda, ia acungkan kapak besar kepada pemuda yang sudah tak berdaya.


''Kata terakhir ? '' kata raksasa yang seperti-nya mewakili perasaan Dewi Langit.


Pemuda hanya diam tak menjawab sebelum diri-nya terbelah dua.


...****************...


Aku, tak ku percayakan diriku telah pergi lagi untuk kedua kali-nya, Youn mengapa selalu nahas dirimu ini.


Aku berkitar dalam ruang hampa putih yang tak ada siapapun disini, sunyi hanya diriku sendiri yang bergumam menciptakan suara dalam dimensi antah berantah ini.


Aku…aku…aku telah gagal bahkan dalam kehidupan kedua ini.


Lantas mestikah ku terima takdir ini ? Dalam dimensi yang tidak ku ketahui nama-nya, sendiri tanpa ada siapapun di sini. Hanya aku…aku…dan perasaanku.


Mesti ku terima ! Kenapa ! Karena aku sudah pada akhir-nya. Buat apalagi diriku berjuang melawan Dewi Langit.


Mengapa pula aku harus peduli akan sejarah aku di bawa dalam dunia tak berguna ini. Apa untung-nya jika aku mengetahui-nya. Apakah aku akan bahagia selepas itu ?


Hah aku tidak perduli lagi dengan Dunia ini, entah apalah nama-nya, diriku sudah nikmat dalam dimensi ini.


Aku pun merebahkan diriku dalam dimensi putih setelah mengoceh tak jelas selama beberapa menit, tangan ku buat sandaran agar sensasi rebahan semakin nikmat.


Mesti-nya dulu langsung saja aku masuk dalam dimensi ini, tak perlu mentransfer ku dalam dunia aneh penuh dengan kekuatan tidak masuk akal tersebut.


Ku menikmati momen santai tersebut namun…


Kenapa ? Kenapa ku terngiang wajah Hoshan, Qiena dan terlebih lagi Renny ?! Aku mencoba menikmati indah-nya kebebasan namun mereka seolah-olah belengu yang menghambat ku menikmati kebebasan.


Sial ku tak bisa menghentikan rekaman hidupku dengan mereka, setiap menit dan detik kenangan demi kenangan di mainkan dalam pikiran ku, bukan hanya mereka namun juga orang terdekat ku yang lain.


Mengapa ? Mengapa diriku tidak bisa bebas dari mereka ? Apakah tubuh ini sudah di kontrak jiwa dengan dunia ini hingga diriku terus memikirkan mereka ? Atau aku belum rela meninggalkan mereka semua.


''Aku sependapat dengan kalimat terakhir yang kau paparkan, Dewi Langit sudahlah lupa akan kulit-nya Youn, mesti kau binasakan dia, ia bakal meluluh lantakan dunia.'' Suara tak berguna itu bergumam lagi dalam pikiran ku.


Lagi-lagi kau dasar sialan, kucoba bangkit dari posisi santai ku, ku tantang suara dalam pikiran ku agar menampilkan wujud-nya di hadapan ku.


''Kau lucu, selesaikan lah dahulu baru kita bertemu.'' Suara tersebut menyakinkan hal serupa dalam mimpiku sebelum memulai perjalanan menghabisi seluruh anggota Aula Hitam.


Aku bergeming, tak memberi tanggapan senang maupun sedih, diriku netral seperti warna abu, apakah ingin putih yang berarti menyambung penyelamatan dunia ataukah hitam yang berarti akhir dari perjuangan penyelamatan.


Aku berpikir logis seketika, tak mungkin bukan bagi seseorang hidup kembali setelah terpisah dua seperti amoeba ? Walau di berikan kekuatan di luar logika sekalipun.

__ADS_1


Diriku merasa cahaya hebat keluar dari celana, sial apakah itu dari joni ? Lekas ku lihat namun bukan dari depan melainkan belakang.


Seketika.


...****************...


Aku kembali dalam balutan bulu lebat mengenakan trisula Kimia Lambat dan berparuh ? TUNGGU DULU ?!


Paruh ?! SAYAP ?! Diriku menjadi seekor burung kah ?! Bukan aku tidak bersyukur namun bisakah menjadi Youn seperti sedia kala.


Tepat di hadapan ku nampak raksasa jelek dengan tetesan lahar, raksasa yang membuat ku terbelah.


Aku merasa benci melihat muka raksasa itu, ingin ku daratkan kaki di wajah besar songong-nya itu.


EH KENAPA KAU BERGERAK SENDIRI WOY ?! Aku tidak paham, benar benar tak paham.


Tubuhku layak-nya boneka yang di kendalikan, aku menyerang habis raksasa hingga membuat diri-nya bertekuk lutut.


Raksasa nampak kewalahan menghadapi diriku. Wah aku bangga dengan diriku sendiri Walau sempat ku mengeluh akan diriku sendiri tadi-nya.


Aku pun duduk bersila dengan sendiri-nya. Ku tutup mata seraya meditasi hingga.


''Pagar Surga.'' Ku gumamkan kata itu hingga benar-benar turun pagar putih yang sangat putih bersih besar dari langit.


RAWRRRRRR


Raksasa meraung hebat saat ia terkurung, ku bangkit dari tempat ku bersila sebelum-nya. Trisula ku tusukan dalam tanah sampai dengan sendiri-nya mulutku bergumam.


''Paku Surga'' ku paparkan kata tersebut hingga keajaiban turun dari langit.


Aku terngangga ngeri melihat satu paku teramat besar turun dari langit, mengarah tepat pada atas raksasa yang terkurung dalam penjara.


BUMMMMMMMM


Ahh mataku silau, ku tekuk tangan ku dan ku letakan di mata hingga silau hilang, bisa tidak bisa melihat enak-enak lagi aku.


Hal terakhir yang ku dengar ialah teriakan raksasa, ku buka mata saat kurasa silau telah berakhir.


Di udara seorang gadis melayang jatuh dari langit yang kembali memancarkan sinar-nya.


Ku gapai gadis itu dengan tangan-ku, hingga dia dalam pangkuan ku.


Gadis itu membuka mata dan menatap diriku, disaat itu juga tubuhku berangsur kembali jadi manusia. Geh aku sangat bersyukur sekali kembali ke bentuk manusia ku.


''J-jagalah i-istana l-langit u-untuk ku '' ucap Dewi Langit terbata.


Ia benar-benar cantik, hampir saja aku ingin mencium wajah-nya ketika ia menutup kembali mata-nya. Ah itulah alasan ku tidak memiliki kekasih dalam dunia terdahuluku, karena cinta dan obsesi ku sepenuh-nya untuk gadis fantasy setiap novel yang ku baca.


Namun ini nyata bagiku, bukan hanya sekedar gambar saja, dari dekat wajah-nya sangat menawan, sangat jauh dengan Renny yang rusuh.


''T-tapi k-kabulkan satu p-permintaan ku ? '' wajah Dewi Langit berubah menjadi merah walau sedang lemas.


Ah tidak, Aku mesti berpikir positif, tak ingin diriku berprasangka buruk dengan maksud perkataan Dewi Langit barusan.


''Apa itu ? '' tanya aku kepada Dewi Langit.


''Panggil aku Jinglin dan biarkan aku mengecup mu agar aku merasa wanita seutuh-nya.'' Kata Dewi Langit spontan membuat ku tersentak.


''B-baiklah , Jingl-'' belum sempat ku akhiri tiba-tiba sebuah benda manis nan tipis menyentuh bibirku.


Sial, aku tersentuh dengan kepergian diri-nya sebentar lagi. Aku terus memberikan yang terbaik sebelum diri-nya melonggar dari ku.


''Bahkan ketika jiwa tak berada lagi dalam raga mu, kau masih terlihat menawan Putri.'' Puji ku terakhir kali kepada Putri Jinglin yang seutuh-nya sudah tiada.


Aku pun membakar tubuh Dewi Langit dan membiarkan angin menerbangkan abu kemana pun ingin-nya pergi.


Sekarang selesai sudah masalah Aula Hitam, apa yang mesti ku lakukan agar bisa kembali ke dunia ?


''Anda tidak akan bisa kembali.'' Aku merasa seseorang menyahut di belakang.


.


.

__ADS_1


.


Thanks for read


__ADS_2