
.
.
.
Benar benar senyap, tak ada kehidupan manusia hanya ada suara suara hewan. Kecuali di dalam kereta, disana terdengar banyak canda dan tawa, mengusir rasa bosan yang ada saat perjalanan menuju Benua Tengah.
Untuk masalah makan dan buang air, mereka biasanya menepi terlebih dahulu lalu menyambung perjalanan saat dirasa lega.
Bekal sudah di persiapkan jauh jauh hari. Agar lambung mereka bisa merasakan sentuhan makanan walau tak sebanyak makan di rumah.
Kuda kuda terus terpacu mengikuti kehendak kusir. Mengarah menuju benua Tengah yang semakin dekat, kiranya beberapa jam lagi mereka tiba di Benua Tengah.
HIKKKK \~
Kereta berhenti mendadak, kuda kuda terangkat kakinya. Kusir menenangkan kuda kudanya yang menggila. Pastilah terjadi sesuatu yang tak beres saat ini sehinga menghambat perjalanan Fondasi Dunia dan Benteng Coklat.
"Ada apa tuan kusir ?" Tanya Ketua Shuyi di sebalik jendela kecil yang terhubung dengan kusir di depan.
__ADS_1
"Sekelompok mahluk kecil aneh bewarna merah mengacungkan pedang kepada kita" nada Kusir bergetar hebat, seperti hal nya orang ketakutan.
"Hah?" Ketua Shuyi keluar dari kereta, memastikan kondisi di depan mereka.
Di ikuti Fondasi Dunia dan Benteng Coklat.
Masing masing di hadapan mereka terdapat 30 mahluk berbulu merah dengan pedang rappier di sisi kanan, 30 di depan Kereta Ketua Shuyi dan Master, 30 di depan kereta Pondasi Dunia dan 30 di depan Kereta Banteng Coklat.
"Mahluk apa ini, sepertinya aku pernah melihat mahluk ini, tapi dimana ya ?" Youn menatap familiar hewan di depanya.
"Mereka menggemaskan." Qiena ingin mengelus kepala hewan itu.
Mahluk berbulu merah mengacungkan mata pedang nya mengarah Qiena, sontak ia mundur beberapa langkah sampai menabrak Hoshan.
Panda merah segera menyerang yang ada, kuda, kereta, manusia. Apa saja yang terlihat di hadapan mereka, langsung di habisi sampai tuntas.
Seketika hutan nan diam kini mulai bersuara, suara dentingan mulai bergema, cahaya mulai kelap kelip dengan berbagai macam sinar nya dan teriakan semakin keras.
"Kurang ajar kau mahluk aneh. Paku: Cambuk." Han Long mencambuk panda tanpa henti sampai tumbang dan terpisah badanya.
__ADS_1
"Sial kau mahluk aneh, Bayangan: Air Liur Kadal." Bozan mencela panda merah sembari meludah ke hadapna hewan tersebut.
Muncul pasukan air liur bersenjata pedang di kedua tanganya, menebas panda merah tanpa ampun hingga ke tulang dan mental.
Peiyu dan Xin We bekerja sama, terlebih dahulu Xin We mengaburkan pandangan Panda Merah dengan awan sebelum Peiyu dengan cekatan melesatkan anak panahnya menuju target hanya dengan pergerakan di telinga nya saja, mengesankan.
"Apakah kamu mau menjadi hewan peliharan ku ?" Tanya Youn dengan nada harapan di selingi ejekan kepada Panda Merah di depan matanya.
Panda tak terima ia ingin di jadikan hewan peliharaan. Bermodalkan ranah Bulan Baru, mengangkat pedang setinggi kepala lalu berlari kencang dan menghunuskan pedang di kepala Youn.
"Ingatlah mahluk ranah Baru tidak akan bisa membunuh mahluk ranah Sabit dengan mudah, kecuali kalian disertai berkah Dewa, TINJU API MERAH." Youn dengan santai meninju hewan hewan berbulu merah tersebut.
Satu, dua, tiga. Panda Merah Youn bakar hingga menjadi abu, tanpa ampun dan belas kasihan kepada Panda Merah, semakin banyak korban berjatuhan dari pihak Panda Merah, membuat keberadaan Panda Merah yang bernyawa semakin kian berkurang.
"Kalian tak berakal, kami tak bisa menyalahkan kalian, menyerang tanpa berpikir. Beristirahatlah dengan tenang mahluk mahluk lucu." Hoshan menatap sedih mahluk Panda Panda Merah yang sudah tak bernyawa.
.
.
__ADS_1
.
Thanks for read