Dewa Langit : Dari Dunia Lain

Dewa Langit : Dari Dunia Lain
Hutan Rimbun


__ADS_3

.


.


.


Perjalanan pun dimulai pada hari ini, semua orang di akademi Pohon Suci di kumpulkan di lapang terbuka, menyaksikan Fondasi Dunia dan Banteng Coklat berangkat membawa nama Akademi Pohon Suci ke Benua Tengah, para Master atau guru pendamping lebih akrabnya juga ikut dalam perjalanan Benua Tengah.


Mereka yang tak ikut hanya bisa berharap dan memohon kepada Dewa agar nasib kebaikan menimpa Fondasi Dunia dan Banteng Coklat agar menang dalam pertandingan. Tak perlu dua tim yang menang, satu pun mereka sudah bahagia. Apalagi jika dua.


"Kami pergi dahulu, dan untuk mu. Jagalah akademi sebaik mungkin seperti hal nya aku menjaga kalian semua." Ujar Ketua Shuyi sambil meletakan tangan kananya di bahu seorang wanita. mungkin ia seorang wakil Ketua.


"Tentu Ketua Shuyi, saya usahakan menjaga Akademi Pohon Suci walau tidak sebaik anda menjaganya." Balas wanita dengan hangat kepada Ketua Shuyi.


"Baiklah kalau begitu, aku titip anak anak Akademi Pohon Suci lainya ya, selagi aku pergi jangan bermalas malasan, bukan hanya untuk mu tapi untuk kalian juga. petinggi." Ketua Shuyi menatap tajam sebagian petinggi Akademi.


Mereka yang ditatap Ketua Shuyi dengan tajam mulai berkeringat dingin sampai keringat jatuh ke celana karena derasnya, bukan baju lagi.


Ketua Shuyi sering melihat petinggi akademi yang saat ini tengah ditatapnya. Bermalas malasan pada saat mengerjakan tugas.


Ketua Shuyi bersama Fondasi Dunia dan Banteng Coklat menaiki kereta kuda, sekitar 3 kereta kuda dengan kusir telah di persiapkan di depan akademi. Agar lebih cepat dan terjangkau sampai di Benua Tengah.

__ADS_1


Derapan kaki kuda dengan penumpang di dalamnya beranjak pergi meninggalkan sorak sorai dari penghuni Akademi Pohon Suci, semakin jauh semakin hilang suara sorak sorai tersebut. Hanya tersisa keheningan dan langkah langkah kuda.


Pemandangan rumah rumah penduduk tersuguh pada mereka yang berada dalam kereta, sebelum rumah penduduk mulai terlihat jarang dan sepenuhnya digantikan dengan rimbunya hutan nan gelap.


Hari terlihat seperti malam walau sebenarnya masih pagi, banyak burung burung bersahutan satu sama lain, tapi paling mendominasi burung gagak dan hantu, membuat suasana mulai mencekam.


GAK-GAK-GAK


...****************...


Kereta Banteng Coklat.


Xin We dan Peiyu berpelukan pada saat mendengar suara burung hantu dan gagak bersahut sahutan, bulu kuduk seketika bergidik hebat.


"J-jangan di tegur Bozan." Han Long sendiri pun takut.


"A-apa salahnya ?" Bozan semakin diselimuti ketakutan.


...****************...


Kereta Pondasi Dunia.

__ADS_1


"Apakah kau mempunyai keberuntungan tanpa batas Youn, ayo sekali lagi." Hoshan menantang Youn bermain gunting batu kertas.


"He ayo." Youn menjawab tantangan Hoshan.


Mereka kembali bermain batu gunting kertas, jauh jauh Youn membaca pergerakan Hoshan. Membuat benda apakah Hoshan. Menampilkan jari tengah dan telunjuknya, sudah pasti Hoshan membuat gunting.


"Dia membuat gunting." Youn lantas membuat batu.


"Hhh tak ada hentinya, aku selalu kalah." Hoshan tertunduk menatapi kekalahanya dalam gunting batu kertas.


"Jadi begini caranya agar kau bisa menang Hoshan, ada sebuah cara kecil yang bisa kau gunakan saat bermain gunting batu kertas." Youn memberi tahukan cara kecil mengapa ia bisa menang secara beruntun melawan Hoshan.


Hoshan mendengar penjelasan Youn dengan saksama berharap tak ada yang terlewatkan.


"Ah mudah ternyata, lain kali aku coba." Hoshan mengacungkan jempol kepada Youn.


.


.


.

__ADS_1


Thanks for read


__ADS_2