Dewa Langit : Dari Dunia Lain

Dewa Langit : Dari Dunia Lain
Benua Tengah


__ADS_3

.


.


.


Hutan telah luluh lanta, pertarungan merobohkan itu memakan korban dari pihak kami dan Panda, beristirahat dengan tenang kusir, kami telah membalaskan kematian kalian tuntas dengan terbakarnya Pong Pong sialan itu.


Pong Pong, aku tak tahu menahu apa yang membuat mu melakukan semua ini, apakah itu tentang makanan, harta atau lain sebagainya. Entah lah, aku tak bisa bertanya karena kau sudah tiada. Suatu berkah bagi kami kau sudah musnah, terlalu cepat bahagia ? Masih banyak monster ganas dengan Fondasi kuat lainya yang masih berkeliaran mencari mangsa.


Jangan terlalu cepat berbahagia, karena kegelapan masih memiliki sejuta misteri yang datang kapan saja...


...****************...


Akhirnya semua orang bangun setelah Renny menepuk perlahan pipi mereka satu persatu.


"Uh oh dimana kita, EH PANDA, WAA KITA AKAN MUSNAH?" Bozan langsung histeris.


"Hey tidak akan ada yang musnah, sudah terlebih dahulu Pong Pong musnah dan menjadi abu." Jelas Renny menenangkan Bozan.


"Syukurlah kita masih melihat sinar matahari kehidupan." Bozan mengehela nafas lega.

__ADS_1


Setelah semua orang dipastikan siuman barulah perjalanan di lanjutkan menuju Benua Tengah dengan perjalanan kaki, tidak mungkin bagi mereka untuk naik kereta lagi, mengapa? Karena yang tersisa hanyalah rodanya saja.


Youn bangkit lalu membakar jasad Kusir dengan Kuda mereka masing masing, berharap jiwa mereka melayang langsung menuju alam peristirahatan.


Perjalan pun berlanjut.


...****************...


Benua Tengah.


Youn dan rombongan memandang biasa bangunan di depan mereka, sebuah bangunan besar nan menjulang melindungi sekitaran wilayah yang ada di dalam bangunan tersebut, kokoh dan perkasa layak nya, ah sudah lah.


Mari tinggalkan kata kata bercabang tersebut. Saat ini mereka tengah di lontarkan beberapa pertanyaan oleh penjaga gerbang sekitar.


"Meyakinkan, baiklah kalian boleh masuk, selamat datang di Benua Tengah dimana lebih besar dari Benua Bawah." Penjaga menyempatkan diri meledek Youn dan rombongan.


Tangan Youn memencarkan api merah ia tersenyum ringan seribu niat, penjaga merasakan aura api panas 900 derajat itu bisa kapan saja meleburkan tulang tulang mereka.


Di tambah lagi ranah Youn berada di Sabit, bisa dengan mudah menghabisi penjaga yang paling tinggi berada di tingkat Baru tahap akhir.


"M-maaf silahkan masuk." Penjaga benar benar bergidik hingga lemas sampai ke lutut.

__ADS_1


"Terima kasih." Youn menghilangkan tinju api lalu berlalu masuk.


Mereka berjalan memasuki gerbang, lebih meriah dan padat. Itulah gambaran di benak mereka yang memasuki Benua Tengah, mulai dari pedagang, para pengerajin, para petani maupun lain sebagainya.


Tapi sebagian tatapan dari mereka membuat Youn dan rombongan sedikit risih, tatapan merekan berisyarat seperti memandang rendah orang lain.


"Kenapa tatapan orang terlihat sinis kepada kita ?" tanya Renny pelan kepada Youn.


Jujur mereka berdua semakin akrab, mendengar pertanyaan Renny lantas Youn membalas.


"Ya mungkin mereka mewaspadai kita karena asing bagi mereka melihat wajah kita yang baru saja memasuki Benua Tengah, tenang saja pasti akan teralihkan." Youn menjawab seraya mengedarkan kembali arah pandangnya ke depan.


Renny mengangguk, mereka terus berjalan mencari penginapan untuk beristirahat sejenak sebelum turnamen yang akan di selenggarakan besok.


Akhirnya usaha mereka mencari penginapan membuahkan hasil, tepat di hadapan Ketua Shuyi dan rombongan terlihat sebuah bangunan besar nan mewah, pastilah sebuah penginapan kelas atas.


.


.


.

__ADS_1


Thanks for read


__ADS_2