
.
.
.
Youn, Hoshan, Qiena dan Renny saling berpandang pandangan satu sama lain dengan mulut terbuka, mereka berada di kamar Hoshan
"Aku bingung, apa yang akan kita lakukan sekarang ini ?" Hoshan ingin kebosanan yang ada dalam dirinya hilang.
Renny, Qiena dan Youn berpikir sejenak, jika mereka bermain ingin bermain apa, jika mereka tidur mereka sudah melakukanya kemaren dengan waktu yang terbilang cukup panjang, jika ingin jalan jalan mereka tidak mempunyai koin, pastilah mereka membeli cemilan yang disuguhkan para pedagang pasar.
"Lebih baik kita membersihkan badan dulu, ciumlah bau badan yang tak sedap dari tubuh Youn, bahkan para serangga pun dibuat tak berdaya ahaha." Renny kembali membuat guyonan mengatas namakan Youn.
"Eh kau tak sadar, lihatlah dirimu sendiri, seperti daun tua yang penuh dengan sobekan." Youn kembali melempar guyonan kepada Renny.
"Ahaha" sontak Qiena dan Hoshan tertawa.
Sedangkan Renny memandang ke arah lain dengan cemberut, mereka berempat pun memutuskan keluar dari kamar, mereka langsung menuju area belakang, membersihkan diri mereka.
"Eh Youn bisa bantu aku menggosok punggung bagian belakang ku, tangan ku tak sampai." Hoshan meminta bantuan.
__ADS_1
"Setelah itu gantian, setuju ?" Tawar Youn.
"Baiklah baiklah." Hoshan menyetujui tawaran Youn.
Segera Youn menggosok punggung Hoshan, setelah selesai dan melihat permukaan punggung Hoshan licin kini giliran Youn, ia berbalik membelakangi Hoshan, anak laki itu langsung menggosok punggung Youn, setelah selesai langsung mereka membilas tubuh mereka dengan air yang disediakan.
Mereka memakai baju saat badan mereka sudah kering, langsung Youn dan Hoshan berjalan ke dapur menghampiri bibi Chan dan Pak Kong, terlihat Renny dan Qiena dengan rambut basahnya tengah di minta tolongi bibi Chan.
"Bisakah bibi minta tolong kepada kalian untuk membeli beberapa bahan yang tercantum di kertas ini, saat ini bibi sedang sibuk membersihkan dan merebus daging untuk bahan isian, belum lagi mencincang cincang daging sampai halus." Bibi Chan menyerahkan selembaran kertas kepada Qiena.
Pak Kong melihat ke arah Hoshan dan Youn yang terdiam menatapi kedua anak gadis tersebut, langsung pak Kong menyuruh Hoshan dan Youn agar ikut dengan Renny, Qiena pergi ke pasar.
Qiena setuju dengan perkataan pak Kong namun tidak dengan Renny yang tetap pada pendirianya.
"Tidak kami bisa melakukanya sendiri, Youn tidak akan berguna jika dia ikut." Renny mulai memancing keributan.
Youn tertawa kecil sambil menunjuk Renny lalu membalas pernyataan gadis tersebut.
"Ahaha, kita lihat saja nanti siapa yang berguna atau tidak, jangan hanya bicara segera saja kita pergi." Youn membuktikan dirinya berguna.
Hoshan mengikuti Youn setelah itu Qiena barulah Renny, bibi Chan dan pak Kong hanya menggelengkan kepala mereka melihat keributan di pagi hari.
__ADS_1
Mereka mulai berjalan menuju pasar, Renny mengimbangin Youn lalu menatapnya dengan tajam, Youn membalas tatapan Renny kembali.
"Matanya sangat indah." Gumam Renny saat ia memandangi wajah Youn.
FOHHHH\~
"Eh apa ini." Renny memejamkan matanya saat Youn meniup matanya tiba tiba.
"Aku pikir kau sedang sakit mata makanya aku tiup, sedari tadi kau terus menatap ku, bahkan aku lelah membalas tatapan tajam dari mu." Youn mengakui kalah dari Renny.
"Kurang ajar aku tidak sakit mata, aku hanya melihat mata mu itu." kali ini Renny jujur.
"Oh begitu." Youn mengalihkan arah pandangnya ke depan.
.
.
.
Thanks for read
__ADS_1