
.
.
.
Sesuai janji Ketua Shuyi pada Youn, hari ini mereka akan pergi berburu, tentu saja pilihan hutan jatuh pada hutan Smahua, tak diragukan lagi hewan yang hidup di hutan tersebut sangat pas menjadi bahan perburuan belum lagi esensi yang ada pada hewan mampu membuat orang mana saja memburu hewan tersebut bisa naik ranah tingkat berikutnya.
Youn bangun lebih dini, ia berlari kecil mengitari penginapan sebelum pergi menuju kediaman Ketua Shuyi, ia juga sudah izin kepada pak Kong dan bibi Chan bahwa ia langsung berangkat pagi hari ini untuk berburu.
Tak perlu membersihkan badan karena nantinya bakal berlumuran darah, entah itu hasil Youn sendiri maupun dari hewan yang akan ia habisi nantinya.
"Yah aku mulai menyukai dunia ini, tentu saja dengan tubuh orang ini, sudah ku tepaki selama 10 tanun semenjak benda aneh hitam tak berwujud itu menyeret ku ke sini." gumam Youn dalam hatinya.
Youn pun sampai di kediaman Ketua Shuyi, mengetuk pintu sambil menunggu Ketua atau Peiyu yang membuka benda tersebut.
KRIETTTT
Pintu terbuka, memperlihatkan Peiyu dengan pakaian pendek, Youn memejamkan matanya, bukan bermaksud tak suka. Namun hal tersebut sudah melekat pada Youn bahkan sebelum ia hidup di dunia antah berantah ini.
__ADS_1
"Eh kenapa kamu menutup mata seperti itu ?” Tanya Peiyu bingung.
Youn segera membalas pertanyaan Peiyu, berharap bahwa anak gadis itu segera pergi.
"Apakah Ketua Shuyi sudah bangun ?" Tanya Youn.
"Sudah, akan aku panggilkan." Peiyu dengan baju yang terbilang mantap pergi meninggalkan Youn.
Entah kenapa pertumbuhan anak anak di dunia ini sedikit cepat, wanita dan pria tumbuh menjulang, tak lama kemudian datanglah Ketua Shuyi dengan peralatan lengkap mulai dari topi kerucut, sebuah senjata pada pingganya dan tak lupa juga sebuah karung.
"Kau jaga rumah ya, aku ingin pergi berburu dahulu." Ketua Shuyi membalikan badanya lalu berbicara singkat pada Peiyu.
Ketua Shuyi berjalan melewati Youn. Anak laki laki itu pun ikut melangkahkan kakinya mengikuti jejak Ketua Shuyi.
"Apakah ada yang salah pada diriku, kenapa ia menutup mata pada awalnya ?" Tanya Peiyu sambil melihat badanya, mencari penyebab Youn memejamkan matanya.
Sedikit menjauh dari kediamanya Ketua Shuyi menyerahkan senjata di pinggganya kepada Youn, ia bisa menggunakan senjata tersebut pada saat berburu. Tajam dan indah dengan lekuk yang di tempa sebaik mungkin, sebuah belati.
"Nah itu belati jenis umum, pasti kau sudah belajar mengenai hal beginian bukan ?" Tanya Ketua Shuyi pada Youn.
__ADS_1
"Tentu Ketua, Guru Daisho sangat rinci menjelaskan senjata hingga kami paham dengan tingkat senjata sekaligus paham dengan penggunanya yang bersyarat." Jelas Youn sambil sedinit memuji Guru Daisho.
"Tak sia sia ku meletakan Daisho di kelas mu." Ketua Shuyi tersenyum mendengar jawaban Youn.
Tak terasa pemandangan dari rumah warga saling berdempetan satu sama lain kini teralihkan pada rimbunya hutan. Ketua Shuyi mengajak Youn berbicara ringan agar menghilangkan rasa bosan.
Perjalanan berlangsung lancar tanpa ada gangguan entah dari hewan maupun bandit.
"Jadi Guru Hoshan tinggal satu penginapan dengan kalian?" Tanya Ketua Shuyi setelah mendengar cerita Youn mengapa ia dan Guru Daisho mulai akrab.
"Benar, ada alasan kenapa beliau tinggal di penginapan namun saya masih belum bisa memahami alasan dari Guru Daisho, kata kata masih sulit di cerna otak saya." Youn berdalih
.
.
.
Thanks for read
__ADS_1