Dewa Langit : Dari Dunia Lain

Dewa Langit : Dari Dunia Lain
Banteng Coklat VS Sayap Bulan I


__ADS_3

.


.


.


Semua orang tengah berkumpul di sebuah stadiun besar nan megah. Mampu menampung 5000 manusia di dalamnya, hari ini merupakan hari penantian semua orang di Benua Tengah maupun Benua Bawah. Turnamen Antar Benua, itulah namanya.


Kali ini semua pasang mata telah berkumpul di tribun, tak lupa juga mereka membawa berbagai macam makanan agar semakin mantap. Yah terserah mereka saja.


Di sebuah ruangan terpisah, Master serta para murid tengah berdiskusi. Membahas berbagai macam strategi.


...****************...


Banteng Coklat.


Mereka terlebih dahulu bertarung kali ini dari pada Fondasi dunia yang mendapat giliran kedua, para Master membagikan beberapa saran kepada anak didik mereka, mulai dari strategi jitu dan mengecoh.


Setelahnya selesai barulah mereka pergi menuju lorong penghubung area tengah Stadiun.


Setelah anak didik mereka benar benar masuk ke tengah barulah para Master kembali pada kursi masing masing seraya menonton perkembangan teknik anak didik mereka.


Seperti biasa pembawa acara dihadirkan untuk memeriahkan jalan nya Turnamen Antar Benua, sedikit banyaknya kata hinaan pembawa acara berikan pada Benteng Coklat.


Tak perlu bagi kita mendengar kata kata tak berguna dan tak berbobot dari pembawa acara, langsung menuju ke pertarungan tim.


"Yakinkah mereka mampu mengalahkan kita ?" Ujar salah satu remaja pada rekan di sebelahnya.


"Aku ragu mereka mampu melakukanya." Sahut rekan yang ada di sebelahnya.


WUSHHH

__ADS_1


Sayap Bulan dan Bateng Coklat meninggalkan jejak kaki di tanah sebelumnya, beradu tinju, tendangan maupun tamparan, pergerakan masih bisa dilihat dengan mata kosong, tapi bagi mereka yang bertarung, pergerakan lawan terkesan cepat.


...****************...


Xin We.


"Sarung Tangan Batu." Ucap seorang gadis saat ia bertatap muka dengan Xin We


Tanpa ragu dan pikir panjang Xin We ikut mengeluarkan sarung tangan kumulonimbus miliknya.


"Sarung Tangan Kumulonimbus." Awan hitam pekat berkumpul di tangan Xin We.


Kedua remaja gadis mulai beradu dengan tangan masing masing terbungkus banyak energi spiritual.


"Heh boleh juga, Awan : Pusaran Penyiksa." Xin We yang bertumpu dengan tangan kananya segera bangkit sembari berkata.


WUSHHHHH


Awan mengelilingi gadis batu, ia nampak tenang melihat awan menampari dirinya satu persatu, hanya tersenyum kecut sebelum benar benar meledakan awan sepenuhnya.


"Terjangan Batu Giok." Lirih remaja pelan dengan merentangkan kedua tanganya menuju Xin We.


BWUSH...BWUSSHHH


"Celaka !!" Panik Xin We


Segera ia memasang pelindung supaya terselamatkan dari batu berbentuk kerucut hitam yang nampak haus akan kemenangan.


"AWAN PELINDUNG." Awan mengitari dan memadat setelahnya.


SRAKKK...SRAKKK...SRAKKK

__ADS_1


Pipi, lengan kanan dan perut Xin We terkena hunusan batu tajam itu, terjatuh sambil melpas batu hitam satu persatu karena ia merasakan energi sudah mulai berkurang, mungkin karena ikut andil si batu hitam.


"Serap habis." Gadis batu mengepal kuat tanganya ke depan.


"TAK AKAN BISA." Xin We membaca postur bibir gadis batu


Walau gadis batu berbicara lirih dan hanya mampu di dengar dirinya sendiri, namun mata dan pemahaman Xin We tentang membaca ekspresi tak usah di ragukan lagi, sangat mumpuni sekali ia berada dalam hal tersebut.


"9 TAMPARAN DEWI AWAN !!" Xin We melesat sekuat tenaga.


Tak perduli dengan tubuhnya yang bersarang batu, Xin We ingin hal ini cepat berakhir.


PLAKKKK...PLAKKKK...PLAKKKKK


Xin We memberikan tamparan beruntun pada lawan, ranah kembali tampil dengan indahnya, membantu Xin We menggilas habis lawan di depanya.


BUMMMMMM...


Gadis batu terlempar 10 meter hingga menabrak dinding stadiun, bukan meringis sakit tapi si gadis tersenyum bahagia, aneh tapi nyata.


"Baru tahap akhir hemm." Disaat itulah gadis menampilkan ranah bulan Sabit miliknya.


Gadis melesat Menuju Xin We, seperdetik kemudian dengan kemampuan cepat yang tak bisa di baca Xin We, gadis batu langsung meninju keras wajah Xin We.


"Tinju Batu Uzur." Gadis mengedipkan sebelah matanya.


Xin We harus menerima kekalahanya dan pingsan.


.


.

__ADS_1


.


Thanks for read


__ADS_2