
.
.
.
Sesampainya di dalam terlihat sebuah pedang besar nan pajang terpajang di sebuah kayu, mata pedang bewarna biru tua, Raja Tin Hui mulai menjelaskan tentang pedang tersebut.
"Ini merupakan pedang legenda kepemilikan ku yang dibuat dari esensi Hiu 5000 tahun yang mendiami lautan di Benua Pesisir, aku mendapatkanya sewaktu menghadiri acara lelang di Benua Pesisir, aku harus merogoh koin sebanyak banyak nya agar bisa memiliki pedang ini." Raja Tin Hui mengangkat pedang Mata Biru yang tertidur.
Ukiran garis dari mata pedang sampai ke gagang bersinar biru saat Raja Tin Hui menyentuh gagang pedang, Guru Daisho dan anak anak bisa merasakan udara segar dalam pedang yang di pegang Raja Tin Hui.
"Jadi pedang anda ini termasuk dalam jenis Langka yang mulia Tin Hui ?" Tanya Youn memberanikan diri.
Raja Tin Hui menengok ke arah Youn lalu mengangguk beberapa kali sebelum memberikan penjelasan lebih lanjut.
"Benar, senjata ini masuk jenis Langka, dimana terbuat dari hewan usia 5000 tahun." Raja Tin Hui meletakan kembali pedangnya di tempat asal.
Raja Tin Hui kembali mengajak Guru Daisho dan rombongan nya mengenal senjata lain yang terpajang di dalam ruangan, anak anak mengamati tiap senjata dengan semangat.
__ADS_1
"Banyak sekali senjata yang bagus dan nampak berbahaya." Bisik Hoshan kepada Youn.
"Benar, jika kau diberikan kesempatan untuk mengambil salah satu senjata, kau ingin mengambil yang mana ?" Tanya Youn pada Hoshan.
"Yang itu." Hoshan membelokan jari telunjuk nya ke arah kiri dimana sebuah senjata tombak bewarna emas.
Youn memandang tombak berukiran naga itu, Raja terus mengenalkan senjata yang ia miliki pada anak anak sampai salah satu perut anak mulai berbunyi.
Grukkkk\~
Para mata teralihkan pada anak itu, terlihat wajah sang anak merah karena malu, semua mata memandangi dirinya dengan bunyi perut yang terkesan agak keras, Raja Tin Hui pun mengajak Guru Daisho dan anak anak menyantap makan siang terlebih dahulu.
Guru Daisho dan anak anak mengikuti langkah kaki Raja Tin Hui, setelah semua orang berada di luar ruangan, segera Raja Tin Hui mengunci ruangan persenjataan miliknya.
Raja Tin Hui mengarahkan Guru Daisho dan anak anak menuju ruang makan, Hoshan dan Youn kembali berbincang ringan.
"Wah kita akan makan siang bersama Raja Tin Hui." Hoshan membagikan kebahagianya pada Youn.
"Ya ini benar benar meyenangkan, kita akan makan satu meja dengan penguasa Benua Bawah." Youn berkata pelan agar tidak di dengar yang lain.
__ADS_1
"Aku dengar masakan kerajaan sangat enak enak, aku sudah tidak sabar." Qiena menyahut dari sebelah Hoshan.
"Haah aku sudah tidak sabar untuk menyantap banyak masakan yang disediakan kerajaan." Renny yang ada di sebelah Youn ikut menyahut.
Youn memandang Renny dengan tatapan datar lalu menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Ey jaga tingkah laku mu, jangan bertindak sembarangan." Youn menasehati Renny.
Renny berdecik sambil memalingkan wajahnya mengarah ke lain, mereka semua akhirnya sampai di sebuah ruangan besar, bau masakan masuk ke dalam hidung anak anak dan Guru Daisho saat mereka menginjakan kaki di ruang tersebut.
"Mari kita makan." Raja Tin Hui berjalan menuju kursi mewah di ujung meja makan.
Guru Daisho dan anak anak berjalan mengikuti langkah Raja Tin Hui lalu duduk di kursi yang disediakan, saat semua orang telah menduduki kursinya barulah masakan mulai disajikan ke meja.
.
.
.
__ADS_1
Thanks for read