Dewi Abadi

Dewi Abadi
Bab 145 - Gunung Aniun ²


__ADS_3

Kekuatan yang sangat kuat keluar dari dalam tubuh Yun Yunyue. Tanda Dewi di keningnya mengeluarkan cahaya berkedip-kedip halus, tapi sangat kuat dan mendominasi.


Yun Yunyue tahu lawannya lebih kuat darinya, maka itu ia mengeluarkan seluruh kemampuan yang ada di dalam tubuhnya.


"Whuss..." Seorang pria paruh baya muncul dengan jarak sepuluh meter dari hadapannya dengan aura tegas dan berwibawa.


"Hahaha Nak, kamu mau beradu kekuatan denganku?" Sosok itu dengan tersenyum tipis melihat gadis di depannya.


"Kakek tua, jangan berbasa-basi terima ini!" Yun Yunyue langsung melepaskan kekuatan dari keningnya menuju pria paruh baya itu.


Melihat ada serangan yang sangat kuat melesat ke arahnya, pria paruh baya itu dengan gerakan cepat membuat perisai pertahanan untuk menahan serangan tersebut.


"Whuss... Trak... Dhuarr..." Perisai yang mengelilingi tubuh pria paruh baya tersebut hancur berantakan, dengan terdorongnya sosok itu tiga langkah ke belakang.


"Membuatku terdorong tiga langkah, lumayan gadis kecil!" Ucapnya tersenyum tipis. Tidak salah ia memilih datang ke alam rendah ini, untuk menjaga dan melindungi salah satu benda milik Dewi Keabadian.


Yun Yunyue yang mendengar ucapan pria itu hanya membalasnya dengan tersenyum. Ia tahu pria paruh baya itu tidak memiliki niat jahat, karena berkat ingatan dari masa lalunya, ia mengenal siapa pria paruh baya tersebut.


"Terima kasih atas pujiannya, kakek tua. Tapi ini masih belum berakhir!" Yun Yunyue mengikuti permainan pria paruh itu, yang hanya menguji kekuatannya dengan cara bertarung.


"Whuss..." Yun Yunyue melesat dengan kecepatan tinggi dengan Pedang Keabadian yang berada di genggamannya.


Pertempuran dahsyat pun terjadi di di Gunung Aniun, yang mana tempat di sekitarnya sudah berubah menjadi tanah tandus akibat serangan dari kedua kekuatan yang maha dahsyat itu.


Setelah saling bertukar jurus selama lima belas menit, terlihat Yun Yunyue sudah sangat kewalahan menghadapi serangan bertubi-tubi dari pria paruh baya itu.


"Pedang Phoenix Keabadian!" Yun Yunyue memutuskan untuk mengeluarkan serangan terkuatnya.


"Whuss..." Siluet Phoenix Emas keluar dari Pedang Keabadian melesat ke arah pria paruh baya itu dengan mulut terbuka lebar.

__ADS_1


"Phoenix Emas." Batin pria paruh baya itu dengan sangat terkejut. Ia tidak menyangka, sudah puluhan ribu tahun tidak melihat Phoenix Emas yang Agung, kini ia bisa melihat serangan berupa Phoenix Emas di hadapannya meski hanya sebuah siluet.


"Shuittt..." Pekikan Phoenix Emas itu menyadarkan pria paruh baya itu dari alam sadarnya.


Melihat serangan itu semakin mendekat, ia dengan cepat melesat menghampiri sang Phoenix dengan melepaskan serangan terkuatnya.


"Whuss... Dhuarr... Booms..." Kedua kekuatan besar itu bertemu membuat Yun Yunyue dan pria paruh baya itu terlempar beberapa meter menghantam tanah.


"Ugh..." Yun Yunyue mengeluarkan banyak darah dari dalam mulutnya, ia benar-benar sangat kelelahan setelah mengeluarkan serangan terkuat yang di miliki.


Keadaan pria paruh baya itu juga tidak jauh berbeda dari Yun Yunyue, malahan ia lebih parah. Dengan tangan kanan hancur, separuh pakaian hangus terbakar, serta seluruh tubuhnya di penuhi luka-luka bakar yang cukup parah, sungguh keadaannya sangat memprihatikan.


"Ughh... Meski aku jauh lebih kuat dari sang Dewi sekarang, tapi dengan teknik yang di milikinya membuatku sangat kewalahan. Ughh." Pria paruh baya itu terus mengeluarkan darah dari dalam mulut serta tubuhnya.


"Whuss... Whuss..." Long Zhou Yang dan Xiao Mei muncul di hadapan Yun Yunyue dengan raut wajah khawatir.


"Tuan." Long Zhou Yang mengeluarkan Air Suci dari kalung dimensi sang Tuan, lalu di berikannya kepada Yun Yunyue dengan berhati-hati.


"Baik, Nona..." Xiao Mei melesat menuju pria paruh baya itu yang sedang berusaha untuk duduk memulihkan diri.


Setelah membantu kakek tua itu duduk, Xiao Mei juga membantu kakek itu meminum air suci ke dalam mulutnya.


Setelah air suci itu masuk ke dalam mulutnya, tangan yang hancur kembali tumbuh, seluruh luka bakar yang ada di sekujur tubuhnya langsung menghilang seketika.


Begitu juga dengan keadaan Yun Yunyue, yang kini sudah kembali ke puncaknya, ia lalu menatap pria paruh baya itu dengan tersenyum tipis. "Bagaimana kakek tua, apa masih mau di lanjutkan?"


Mendengar ucapan Yun Yunyue, tubuh pria paruh baya itu bergedik ngeri tapi ia berusaha untuk bersikap tenang.


"Hahaha... Luar biasa, bisa membuatku terluka cukup parah seperti ini Dewi. Sudah cukup untuk hari ini." Balas pria paruh baya itu dengan membalas senyum Yun Yunyue.

__ADS_1


"Aku sudah tahu tujuan Dewi datang ke tempat ini. Mari kita masuk ke dalam agar lebih leluasa mengobrolnya." Lanjutnya.


Yun Yunyue menganggukkan kepala setuju, lalu mereka berempat masuk ke dalam perut gunung Aniun.


Di perjalanan, Yun Yunyue terus menanyakan tentang benda yang di jaga oleh pria paruh baya yang bernama Ming An itu, tapi yang keluar dari mulutnya membuat Yun Yunyue dan kedua orangnya harus menahan emosi.


"Nanti Dewi akan tahu setelah tiba di sana." Begitulah jawaban yang keluar dari mulut kakek tua itu.


Setelah berjalan selama beberapa menit, akhirnya keempat orang itu tiba di ruangan yang cukup luas, dengan berbagai ornamen berlapis emas yang ada di dalamnya.


"Hmm lumayan.." Hanya kata itu yang keluar dari mulut Yun Yunyue sambil melihat sekitarnya.


"Hanya lumayan?" Ming An tersentak mendengar ucapan Yun Yunyue.


"Ia lumayan untuk seorang penyendiri sepertimu. Tidak heran kau sangat betah tinggal di tempat ini." Yun Yunyue sengaja menyindir kakek tua yang ada di sampingnya.


"Haha.. Silahkan duduk Dewi." Ming An mengarahkan Yun Yunyue ke tempat duduknya dengan hormat, begitu juga dengan Xiao Mei dan Long Zhou Yang.


Setelah semua orang duduk, Yun Yunyue kembali membuka suara. "Langsung saja Ming An!" Ucapnya menatap Ming An dengan serius.


"Dewi, benda itu berada di dalam ruang bawah tanah, hamba memilih untuk menyimpannya di sana, karena kekuatan yang ada di dalamnya sangat besar, sehingga membuat tempat di sekitarnya mengering dan hangus terbakar-...." Ming An menjelaskannya dengan hati-hati.


Benda itu berbentuk seperti sebuah Kristal yang memiliki sembilan Warna berbeda, benda itu juga yang hanya bisa di kendalikan oleh Dewi Keabadian itu sendiri, yang tidak lain Yun Yunyue.


Lin Yue, Dewi Keabadian sebelumnya, menyebarkan seluruh kekuatannya di alam semesta sebelum memutuskan untuk meledakkan diri untuk berinkarnasi.


Setelah meledakan diri, semua bawahan yang setia padanya menyebar ke seluruh alam semesta, untuk menjaga dan melindungi kekuatan tersebut agar tidak jatuh ke tangan orang yang salah.


Setelah kematian Lin Yue, kekacauan langsung terjadi di Alam Surga setelah mereka tahu Lin Yue, Dewi Keabadian telah meledakkan diri dan memilih untuk berinkarnasi.

__ADS_1


****


Bersambung....


__ADS_2