
"Dhuarr..." Jiwa hitam itu terlempar dengan keras.
Jiwa putih yang melihat hal itu terdiam di tempatnya. Ia terus menatap sosok yang sangat mirip dengannya itu.
"Mengapa kita harus saling bertarung merebutkan satu tubuh?" Ucap sosok jiwa putih menatap jiwa hitam yang memiliki keinginan jahat dan terus melepaskan aura kematian.
Terlihat kemarahan serta kebencian yang begitu dalam terpencar dari kedua mata merah itu.
"Bukankah kehidupan yang kamu jalani akan terus bermunculan pertarungan dan pertumpahan darah?"
Sosok jiwa putih menganggukkan kepala, membenarkan ucapan jiwa hitam.
"Apa yang kamu katakan memang benar. Hitam dan putih itu perpaduan, bukan perbedaan. Sama seperti hidup yang bukan hanya terdiri dari satu warna. Tidak semua yang tak sependapat dengan kita itu musuh kita. Hidup bukan cuma hitam dan putih. Ada zona abu-abu dan warna lain.
"Hidup itu adalah pilihan, hitam atau putih adalah sebuah keputusan, hanya bagi kita yang bijaksana saja yang dapat mengambil keputusan yang tepat, di waktu, tempat dan kesempatan yang tepat pula. Hidup ini penuh warna. Setiap warna mempunyai arti tersendiri. Namun, tidak semua bisa dibaca dengan mata biasa.
"Harus dibaca dengan kejernihan hati, kebesaran jiwa, dan kelapangan dada. Ada kematian dan ada kelahiran. Inilah pentingnya menghargai kehidupan. Pertarungan, pertumpahan darah, dan segala sesuatu yang terjadi di dunia adalah warna-warna yang akan terus bermunculan. Semua itu sudah menjadi sesuatu yang wajar." Ucap sosok jiwa putih dengan tersenyum.
Jiwa hitam tersenyum tipis menatap jiwa putih.
"Kau memiliki pemikiran yang terlalu bersih. Aku adalah orang yang haus akan kekuasaan dan kemenangan. Aku tidak menyukai apa itu ketenangan dan menghargai kehidupan orang lain. Aku lebih suka bermandikan darah, dan membuat mereka menangis karena kehilangan orang yang mereka sayangi!"
Sosok jiwa putih terdiam mendengar ucapan itu. Hingga beberapa saat kemudian, ia tersenyum.
"Kemarilah..." Ucap sosok putih pelan, dengan suara bersahabat.
Dengan langkah tenang, sosok jiwa hitam berjalan mendekat.
"Kamu lebih suka kekerasan?"
Jiwa hitam menganggukkan kepala dengan senyum kemenangan.
"Plak..." Tiba-tiba tamparan keras menghantam wajahnya.
"Cih! Bajingan! Apa yang kamu lakukan!" Ucapnya dengan marah.
"Aku hanya ingin melihat bagaimana reaksimu saat orang lain menindasmu." Ucap sosok jiwa putih dengan tenang.
"Mari kita bertarung! Jika kamu menang, aku akan patuh denganmu."
"Bertarung? Bukankah aku sudah mengatakan jika ini semua telah berakhir?" Jiwa putih lalu menggerakkan tangan menghancurkan segel petir hitam.
"Krak..." Segel petir hitam itu hancur berkeping-keping, bersamaan dengan itu roh Phoenix Abadi melesat meraung-raung di atas langit.
Jiwa hitam terlihat sangat terkejut melihat hal itu.
Hingga beberapa saat kemudian, roh Phoenix Abadi menatap dan langsung bergerak menghancurkan.
"Dhuarr... Dhuarr..." Jiwa hitam hancur berkeping-keping menjadi sebuah jiwa baru, yang secara perlahan menampilkan sosok jiwa hitam dengan bola mata putih keemasan.
Jiwa putih menatap sosok itu dengan tersenyum ramah.
__ADS_1
"Hal paling sulit adalah melawan diri sendiri. Aku adalah kamu, dan kamu adalah aku. Kita adalah satu..." Ucap sosok putih dan hitam secara bersamaan.
Perlahan mereka berdua menyatu, dengan roh Phoenix Abadi yang kini mulai di selimuti cahaya emas yang sangat menyilaukan mata.
"Whuss..."
Istana Kekaisaran.
Di halaman taman Istana, terlihat Qin Zhui Ying yang sedang duduk di sebuah gazebo bersama Permaisuri Yin Yiaran.
Beberapa saat kemudian, Kaisar Qin Shan bersama Qin Zhuyao tiba di tempat itu dengan wajah sedih.
"Ayah, kakak, bagaimana? Apa kalian sudah mendapatkan kabar mengenai keberadaan dan keadaan kakak Yue?" Tanya Qin Zhui Ying dengan cepat.
"Ying'er, biarkan ayah dan kakakmu duduk." Ucap Permaisuri Yin Yiaran dengan lembut.
"Baik, Bu..."
Kaisar Qin Shan dan Qin Zhuyao kemudian duduk. Permaisuri Yin Yiaran dengan tenang menuangkan teh mereka.
"Ayah..." Ucap Qin Zhui Ying sekali lagi.
Kaisar Qin Shan tersenyum, mengelus lembut puncak kepala Qin Zhui Ying.
"Belum Nak. Ayah belum mendapatkan kabar mengenai Yue'er." Jelas Kaisar Qin Shan.
Mendengar ucapan itu, membuat Qin Zhui Ying dan Permaisuri Yin Yiaran sangat sedih. Qin Zhui Ying bahkan mulai meneteskan air mata.
Leluhur Han dan semua anggota Fraksi Naga dan Bunga bahkan sama sekali tidak dapat menemukan keberadaan Yun Yunyue.
Saat mereka sedang berbincang-bincang, tiba-tiba Jenderal Tian mendatangi tempat itu.
Jenderal Tian segera memberikan hormat pada mereka semua.
"Jenderal, ada apa?" Tanya Kaisar Qin Shan dengan serius.
"Kaisar, aku baru saja mendapatkan kabar dari Leluhur Han mengenai keadaan Nona Muda Yun Yunyue." Jenderal Tian kemudian segera menjelaskan tentang pesan yang baru saja dia terima.
Dari pesan itu, Leluhur Han mengatakan jika giok jiwa Yun Yunyue yang berada di Goa JungYue telah kembali bersinar terang.
Batu giok jiwa Yun Yunyue memang sebelumnya di kabarkan retak, dan cahaya di batu itu mulai redup. Dimana artinya keadaan Yun Yunyue sedang dalam ambang kematian.
Setelah mendengar ucapan Jenderal Tian, mereka semua akhirnya dapat tersenyum dengan senang.
Meski belum dapat menemukan keberadaan Yun Yunyue, setidaknya mereka semua sudah mengetahui jika keadaan Yun Yunyue saat ini sudah baik-baik saja.
"Em... Aku juga memiliki informasi lain, namun kali ini mengenai tempat tinggal Nona Muda di Benua Timur." Ucap Jenderal Tian dengan suara pelan.
"Benarkah? Apakah rumah kakak Yue sangat indah?" Tanya Qin Zhui Ying terlihat sangat bersemangat.
mereka semua tersenyum mendengar pertanyaan polos dari Qin Zhui Ying.
__ADS_1
"Tuan Putri, tempat tinggal Nona Muda Yun Yunyue adalah markas utama dari kedua Fraksi Naga dan Bunga, pasti akan sangat indah." Jelas Jenderal Tian dengan tersenyum.
"Benarkah? Jika begitu aku akan pergi ke sana untuk melihat tempat tinggal kakak Yue." Ucap Qin Zhui Ying sekali lagi dengan semangat yang berapi-api.
Permaisuri Yin Yiaran dan Kaisar Qin Shan saling berpandangan. Hingga beberapa saat kemudian menganggukkan kepala.
"Jenderal, aku akan pergi berkunjung melihat-lihat tempat tinggal anakku besok pagi. Persiapkan segala sesuatu yang di perlukan!"
"Kaisar, tapi kita tidak memiliki lencan-..."
"Yue'er sudah memberikannya untukku."
"Baik, Kaisar."
Jendral Tian kemudian berpamitan pergi. Sedangkan Kaisar Qin Shan dan keluarganya kembali melanjutkan obrolan dengan menikmati teh.
Di Tempat Lain.
Dunia Spirit, Aula Pertemuan.
Lou Hanzi Rei, empat Leluhur Zhang, dan semua tetua terlihat sangat khawatir. Mereka sangat penasaran dengan apa yang sedang terjadi di dalam ruangan Yun Yunyue dan enam Binatang Suci.
Sudah tiga bulan berlalu, namun mereka belum juga keluar. Bahkan ruangan itu terpasang formasi tingkat tinggi.
"Leluhur, apa yang harus kita lakukan?" Tanya Lou Hanzi Rei dengan cemas.
Para Leluhur menggelengkan kepala, mereka semua juga terlihat bingung.
"Tidak ada yang dapat kita lakukan. Untuk saat ini sebaiknya kita perketat penjagaan di kawasan kaki Gunung Senjie. Dan perintahkan semua murid untuk kembali." Ucap Leluhur Zhang Chie dengan serius.
Saat mereka semua sedang sibuk dengan pikiran mereka masing-masing, tiba-tiba datang seorang tetua yang bertugas menjaga di depan ruangan Yun Yunyue.
Kehadiran tetua itu mendapatkan tatapan dari semua orang.
"Leluhur, Patrick, dan semua tetua, aku merasakan aura yang sangat besar muncul dari dalam ruangan Yang Mulia." Ucap tetua itu dengan wajah serius.
Patrick Lou Hanzi Rei dan keempat Leluhur saling berpandangan, mereka semua kemudian segera pergi menuju ruangan Yun Yunyue.
Di Dalam Ruangan.
Tubuh Yun Yunyue yang berada di siluet Phoenix Emas, perlahan memancarkan kekuatan yang sangat besar.
"Dhuarr..." Ledakan terdengar dari dalam tubuh Yun Yunyue, memperlihatkan aura pendekar ranah Mortal awal.
Di sekitar tubuh Yun Yunyue, energi berwarna emas dan tujuh warna berbeda terus berputar mengitari. Hingga lima menit kemudian, tempat itu kembali tenang dengan tubuh Yun Yunyue yang perlahan menuju tempat tidur.
**
**
Bersambung......
__ADS_1