Dewi Abadi

Dewi Abadi
Bab 84 - Hutan Perbatasan Kedua Benua.


__ADS_3

Menjelang Tengah Malam.


Yun Yunyue dan Jendral Zhiang saling berpandangan.


"Nona, apa kita akan melanjutkan perjalanan sekarang?"


Yun Yunyue menganggukkan kepala, lalu melangkahkan kaki untuk membayar pesanan mereka sebelumnya.


Setelah menyelesaikan pembayaran, Yun Yunyue dan Jendral Zhiang lalu berjalan keluar meninggalkan restoran.


Di dalam restoran, para pengunjung terus saja memperhatikan gerak-gerik Yun Yunyue dan Jendral Zhiang, terutama beberapa orang yang sedang menyamar.


"Kita ikuti mereka!" Ucap salah satu sosok yang sedang menyamar.


Empat sosok itu kemudian ikut keluar meninggalkan restoran.


"Nona.."


"Biarkan saja, terus bergerak dengan tenang!"


"Baik."


Mereka berdua terus berjalan di keramaian kota di bawah rembulan malam.


Setelah berjalan sejauh lima ratus meter menjauhi keramaian, Yun Yunyue menghentikan gerakannya.


"Keluarlah! Aku tahu kalian mengikuti kami!" Ucap Yun Yunyue dengan tenang.


Empat sosok yang sejak tadi mengikuti, segera keluar dari persembunyiannya.


"Nona, tuan, mohon maaf atas perilaku lancang kami yang mengikuti kalian berdua."


"Jelaskan padaku!" Ucap Yun Yunyue dengan membalikkan badan.


Salah satu sosok itu kemudian mengeluarkan Lencana prajurit Kekaisaran. '"Kami di tugaskan untuk mengawasi semua orang yang masuk dan pergi meninggalkan kota."


Yun Yunyue menganggukkan kepala, lalu mengeluarkan lencana Kekaisaran dengan jabatan lebih tinggi di bandingkan dengan lencana mereka.


Keempat sosok itu tiba-tiba menegang, dengan cepat berlutut di hadapan Yun Yunyue.


"Tuan Putri, mohon maaf atas kelancangan kami. Kami siap mendapatkan hukuman."


"Bangunlah... Kalian telah melaksanakan tugas dengan baik. Aku harap kalian saling berkomunikasi dengan pasukan lain, saat merasakan sesuatu yang mencurigakan. Jika hanya kalian berempat, aku rasa hanya kematian yang akan kalian dapatkan." Ucap Yun Yunyue dengan tenang.


"Baik Tuan Putri."


"Whuss..." Yun Yunyue dan Jendral Zhiang menghilang dari pandangan keempat prajurit.


Keempat prajurit kembali bangkit berdiri dengan saling menatap bingung.


"Apa hanya aku yang baru mengetahui jika Kekaisaran Qin memiliki seorang Putri lagi?"


Ketiganya menggelengkan kepala, "Sebaiknya kita segera menemui Jenderal."


Mereka semua kemudian pergi meninggalkan tempat itu menuju markas pasukan, untuk melaporkan kejadian yang baru saja terjadi.

__ADS_1


Di Tempat Lain.


Yun Yunyue dan Jendral Zhiang terus bergerak meninggalkan kota. Setelah bergerak selama beberapa saat, mereka berdua akhirnya mulai memasuki hutan perbatasan.


"Nona, setelah kita melewati hutan ini, kita akan tiba di Benua Tengah." Jelas Jenderal Zhiang.


Yun Yunyue menganggukkan kepala, mereka terus bergerak menjauhi benteng perbatasan yang memisahkan antar kedua Benua tersebut.


Di benteng perbatasan sendiri, sudah mulai di penuhi barak-barak pasukan yang berdiri. Meski tempat itu masih terlihat tenang, namun dapat di lihat dengan jelas raut ketegangan dari kedua pasukan.


Yun Yunyue yang terus bergerak, sedikit penasaran dengan perubahan raut wajah Jenderal Zhiang.


"Jenderal, apa ada yang salah?"


"Nona, mengapa kita tidak langsung bergerak ke depan?"


Yun Yunyue mengerutkan kening, dia menghentikan gerakan menatap serius Jenderal Zhiang.


"Jelaskan padaku, apa yang kamu ketahui tentang wilayah hutan perbatasan ini? Setahuku saat kita melewati perbatasan kedua Benua, akan ada sesuatu bahaya yang memisahkan. Seperti medan yang harus kita lewati, atau sebuah hamparan lautan luas."


"Aku sedikit membaca catatan kuno dari Leluhur di Istana Kekaisaran. Ribuan tahun yang lalu telah terjadi pertarungan besar antara kedua Dewa yang telah mencapai kultivasi melebihi dunia ini. Mereka saling bertarung selama tujuh hari tujuh malam dan menghancurkan lautan, pulau, dan daratan.


"Hal ini menyebabkan beberapa Benua hanya di pisahkan oleh hutan luas. Namun berbeda dengan Benua Barat, dimana saat kita akan pergi ke sana harus melewati pulau dan kabut es. Hanya itu yang aku ketahui, Nona." Jelas Jenderal Zhiang.


"Lalu?"


"Jika kita melewati hutan lebih jauh dari benteng perbatasan, aku mendengar akan ada banyak siluman hewan buas yang sebelumnya menempati pulau-pulau yang telah di hancurkan."


Yun Yunyue menganggukkan kepala mengerti. Lalu kembali bergerak semakin menjauhi benteng perbatasan.


Jenderal Zhiang menatap Yun Yunyue dengan mulut terbuka. "Apa Nona Muda tidak mendengar penjelasanku?"


Jenderal Zhiang semakin bingung, namun ia dengan patuh mengikuti perintah Yun Yunyue.


Lima belas menit kemudian, mereka berdua kini memasuki hutan yang di penuhi kabut.


"Whuss... Whuss..." Dua kilatan cahaya melesat di tengah-tengah kabut yang semakin tebal.


"Nona.." Ucap Jenderal Zhiang yang merasakan tekanan di tempat itu semakin kuat.


"Terus bergerak, aku merasakan ada sebuah pulau di depan sana." Ucap Yun Yunyue dengan tenang.


"Tap-..."


"Tenanglah, aku juga merasakan aura yang sangat kuat itu. Selama kita tidak mengganggu mereka, maka mereka juga tidak akan mengganggu kita. Jadi tidak perlu terlalu khawatir."


"Baik Nona.."


Setelah bergerak sepanjang waktu, mereka berdua kemudian secara perlahan turun di pulau yang Yun Yunyue maksud.


"Nona, tempat ini sangat beracun..."


Yun Yunyue mengeluarkan sebuah pil dari cincin penyimpanannya. "Telanlah pil itu."


"Baik Nona.." Patuh Jenderal Zhiang langsung menelan pil tersebut.

__ADS_1


Yun Yunyue dengan tenang mengeluarkan pedang usang, lalu membuat segel tangan.


"Whuss..." Pedang usang bergetar, terus menyerap racun di tempat itu secara ekstrim.


"Sangat mengerikan." Batin Jenderal Zhiang dengan tubuh bergetar hebat.


Yun Yunyue sendiri terus fokus memeriksa tempat di sekitarnya.


Jenderal Zhiang hanya diam seperti orang bodoh memperhatikan apa yang di lakukan Nonanya.


"Jenderal, setiap tempat berbahaya memiliki sesuatu yang sangat berharga. Ini alasanku membawa Jenderal ke tempat ini!" Jelas Yun Yunyue dengan santai.


"Jadi-..." Suara Jenderal Zhiang tercekat ludahnya sendiri. Dia tidak menyangka jika Yun Yunyue memang sengaja ke tempat ini untuk menantang kematian.


Yun Yunyue terkekeh pelan melihat raut wajah Jenderal Zhiang. Ia kemudian mengambil kembali pedang usang setelah racun di tempat itu kini sudah menipis.


"Nona Muda?"


"Kita akan beristirahat di goa yang berada tidak jauh dari tempat ini. Aku penasaran dengan situasi di sana, jadi kita akan kembali melanjutkan perjalanan besok pagi."


Jenderal Zhiang menggelengkan kepala, dia benar-benar tidak dapat membaca pikiran Yun Yunyue.


Mereka berdua terus bergerak menuju goa yang Yun Yunyue maksud.


Hingga tidak lama kemudian, mereka berdua tiba di depan mulut goa. Yun Yunyue berjalan memeriksa keadaan di dalam menggunakan kesadaran Dewi Keabadian.


Setelah merasa semua baik-baik saja, Yun Yunyue kemudian berjalan memasuki goa di ikuti Jenderal Zhiang di belakangnya.


Mereka berdua terus bergerak lebih ke dalam dengan hati-hati. Yun Yunyue terus menggerakkan tangan membuat formasi di sekitar tempat itu.


"Nona, tempat ini sepertinya sudah cukup lama tidak di tempati.."


"Benar, aku rasa tidak lama lagi mereka akan datang ke tempat ini." Ucap Yun Yunyue dengan tenang, namun ucapan itu langsung membuat Jenderal Zhiang berhanti dengan tubuh menegang.


Yun Yunyue menggelengkan kepala, melihat bagaimana Jenderal Zhiang yang sejak tadi sangat ketakutan.


"Aku hanya bercanda." Ucap Yun Yunyue dengan santai.


Lima puluh meter kemudian, mereka akhirnya tiba di ujung goa tersebut.


"Ini!" Jenderal Zhiang benar-benar tidak menyangka dengan kondisi di ruang utama goa tersebut.


Terlihat banyak sumber daya serta tanaman Spiritual yang tumbuh dengan subur.


"Jangan sentuh!" Ucap Yun Yunyue menghentikan gerakan tangan Jenderal Zhiang.


Jenderal Zhiang dengan cepat menarik tangannya kembali dengan wajah ketakutan.


"Aku khawatir mereka akan merasakan kehadiran kita saat tanaman-tanaman itu kita sentuh." Jelas Yun Yunyue dengan serius.


"Nona benar. Akan terasa sangat aneh jika kita menemukan hal seperti ini dengan sangat mudah."


Yun Yunyue menganggukkan kepala, membenarkan ucapan Jenderal Zhiang.


*

__ADS_1


*


Bersambung......


__ADS_2