Di Paksa Terluka Oleh Cinta

Di Paksa Terluka Oleh Cinta
Celah


__ADS_3

" Pergilah... Dan saya tidak ingin hal seperti ini terjadi lagi. Kalau sampai hal seperti ini terulang kembali, Aku pastikan kalian akan menyesal seumur hidup" Rendy yang tidak ingin melihat mereka berlama-lama di hadapannya segera berkata dengan tegas.


" Baik Tuan, saya berjanji hal seperti ini tidak akan pernah terjadi kembali" saking takutnya dengan ancaman Rendy. ayah mertua Miana segera pergi dari Cafe tersebut.


"Jangan seperti itu kepada mertuaku. kalian tahu aku sudah menganggap mereka seperti orang tuaku sendiri" Miana berkata dengan wajah lesu.


"Aku rasa, titik ini kamu merasa kesal pada mereka. Terutama kepada Ibu mertuamu. Dan juga tentang suami kamu. Aku pastikan sebentar lagi pasti kamu akan menganggap mereka orang lain" tanpa memandang ke arah mana bagi semua mengatakan hal tersebut.


" Suami kamu bukan suami yang baik. dan kakak kamu juga bukan kakak terbaik. kamu tahu, penggoda dan penghianat Memang pantas bersatu. Jangan bersedih Miana, mereka pasti akan menyesal telah membuat kamu merasakan sakitnya terluka" Bagas begitu perhatian dengan mengatakan hal tersebut. Namun Miana hanya terdiam. Iya terlihat menunduk.


"Jadi yang pernah kamu ceritakan waktu itu Miana? " Rendi menatap ke arah Bagas mencoba mencari jawaban. Dan Bagas pun mengangguk.


" Saat itu Bagas belum mengetahui bahwa wanita yang ditolongnya adalah kamu. Tapi dia punya feeling yang kuat bahwa kamu adalah wanita yang harus dia tolong" Rendy mengatakan apa yang telah diceritakan oleh Bagas pada saat setelah menolong Miana.


" Saat itu aku tidak tahu bahwa kamu adalah sahabatku di SMK. Tapi aku punya feeling yang kuat bahwa aku pernah mengenal kamu. Dan ternyata semua itu benar" Bagas mengulangi apa yang diceritakan oleh Rendy. Dan Miana hanya mendengarkan.


" Ke mana sopir kamu yang waktu itu? " Bagas bertanya kepada miana.


" Aku tidak bisa membuat dia berada dekat di sini. Dia sudah banyak membantu. Saat ini Tiyo sedang berpura-pura menangani proyek yang ada di luar kota. Aku masih belum ingin Prasetyo tahu kalau aku sudah mengetahui semuanya" Miana mengusap air matanya ketika menjawab hal tersebut.


" Aku yakin kamu akan mampu melewati semua ini dengan baik. Jangan menyerah kita semua berada di pihak kamu" Bagas pun menepuk pundak miana dengan pelan. Seakan Ia juga merasakan sakit yang teramat dalam. Karena bagaimanapun juga Ia juga pernah berada di posisi seperti Miana.


" Saat Ini sudah waktunya untuk menjemput anak-anak. Aku berjanji akan membawa mereka ke suatu tempat" Miana yang merasa jamnya sudah terlalu dekat untuk waktu anak-anak pulang sekolah.

__ADS_1


" Mau aku antarkan? " Bagas bertanya kembali.


" Aku diantarkan sama sopir" tanpa permisi lagi Miana langsung melangkahkan kakinya keluar dari kafe tersebut.


Setelah Miana pergi, kali ini Rendy dengan cepat mengatakan sesuatu.


" Apakah kamu akan mendkung Miana untuk bercerai dengan suaminya? " Sebuah pertanyaan konyol yang diucapkan oleh Rendy, Membuat Bagas kembali menatap tajam ke arah sahabat sekaligus orang kepercayaannya itu.


" Aku memang memiliki niat seperti itu. Tapi hati aku tidak sejahat yang kamu kira. Kalau memang mereka bisa memperbaiki hubungan dalam rumah tangganya. Maka aku akan mendukung Miana untuk kembali kepada suaminya. Tapi kalau misalnya Miana menginginkan hal lain, Aku adalah orang yang akan berdiri paling depan untuk membela dan membantunya. Tapi jujur, dalam hati aku menginginkan miana lepas dari b******* itu" dengan mengucapkan kata yang terakhir, Bagas menekankan kata b*******.


" Kenapa nggak jadi dulu sih ada kesempatan seperti ini. Kalau gitu aku juga akan mendukung Miana dengan cepat" kali ini Rendy kembali memprovokasi Bagas.


" Kalau sampai kamu berani mengambil start terlebih dahulu, akan aku pastikan rumah masa depanmu tidak akan lama lagi aku bangun" sambil mengatakan hal tersebut, Bagas langsung melangkah keluar dari Cafe. Sedangkan Rendy berjalan menuju ke kasir untuk membayar apa yang telah mereka makan.


Pov Miana


"Sayaang" Miana mendekat lalu menggandeng lengan kecil kedua putrinya.


"Ma, kita jadi ya kerumah dedek gemes" Jelita yang begitu bersemangat langsung menanyakan kembali rencana mereka. miana pun mengangguk.


" Hore... Ayo mah kita berangkat. Aku udah nggak sabar ketemu sama dedek gemes" Dara pun menarik lengan Miana dan segera menuju ke mobil.


" Kita mampir ke mana ya Ma. Kita kan harus beli oleh-oleh buat dedek gemes" Jelita masih ingat bahwa mereka belum memiliki oleh-oleh untuk anaknya Parlan.

__ADS_1


" Kita mampir ke toko mainan aja. Biar dedek gemas makin banyak mainannya, gimana Mah? " Usul dari Dara langsung di Iyakan oleh Miana. Mereka kan akhirnya mampir ke sebuah toko mainan yang gak jauh dari sekolah Dara dan Jelita.


" Ayo mah kita udah dapat apa Kita cari"Dara dan jelita sudah menenteng masing-masing 1 kantong plastik yang berisi mainan yang akan Ia berikan kepada Devan. Dan mereka segera melaju ke tempat dimana Devan berada.


Beberapa menit berlalu, Miana dan kedua putrinya telah sampai di depan rumah Parlan. Begitu mereka turun dari mobil, mereka dikejutkan dengan adanya mobil yang sangat mereka kenal.


" Mama ini kayak mobil yang biasanya dipakai sama papa deh" suara kecil Jelita mampu membuat miana terdiam. Iya tidak tahu jika Parlan saat ini berada di rumah. Dan bodohnya, Miana tidak mengabari Parlan terlebih dahulu jika dirinya akan ke rumahnya.


" Maaf sayang mama tidak tahu kalau masalah ini. Mungkin saja Om Parlan baru saja pulang atau bagaimana. Atau mungkin ada hal yang lebih penting jadi papa menyuruh om Parlan pulang" Miana mencoba menjelaskan kepada kedua putrinya dan juga dia tidak ingin berbohong.


" Kan nggak apa-apa dek kalau Om Tarlan ada di rumah" Dara yang lebih besar lebih mengerti apa yang diucapkan oleh Miana. Akhirnya mereka bertiga pun mengetuk pintu.


'Tok tok tok'


" Assalamualaikum..." Suara Dara dan Jelita mengucapkan salam terdengar begitu jelas. Namun belum ada jawaban dari dalam rumah yang ia datangi.


" Kira-kira dedek gemes Ada nggak ya di rumah. kok kayaknya sepi banget rumahnya" Jelita bertanya seorang diri.


" Mungkin belum dibuka sayang... kan batas kita mengucapkan salam kan sampai tiga kali. Kita kan baru mengucapkannya sekali. Jadi Ayo dicoba kembali" Miana sering mengajarkan yang terbaik keadaan anak-anaknya.


" Oke mah kita akan mencobanya kembali"


"Tok tok tok... Assalamu'alaikum"

__ADS_1


" Waalaikumsalam..." terdengar suara lelaki menjawab salam dari dalam rumah. Dan Tak lama kemudian pintu pun terbuka.


"Om Parlan? " Dara dan Jelita kaget karena ternyata Parlan ada di rumah. Bukan di luar kota seperti yang dikatakan oleh papa dan mamanya.


__ADS_2