Di Paksa Terluka Oleh Cinta

Di Paksa Terluka Oleh Cinta
Kembalinya Jelita


__ADS_3

"Satu minggu setelah Jelita saya temukan dan tinggal di sini, Jelita selalu menangis. Iya tidak ingin makan. Walaupun hanya satu suap dua suap. Saya sudah berusaha membujuknya. Hingga pada akhirnya saya terpaksa harus berbohong kepada anak Anda nyonya. Saya bilang kalau kamu mau makan maka akan lebih cepat sembuh dan akan cepat untuk pulang ke rumah kamu di kota" Mbok Darmi mengatakan kepada Miana.


"Setelah itu? " Miana masih penasaran dengan apa yang terjadi kepada putrinya.


"Setelah itu, Jelita baru mau makan dan tidak menangis sepanjang hari. Membuat saya lega dan bisa menjalani hidup dengan normal seperti sedia kala" penjelasan Mbok Darmi mampu membuat miana kembali terharu. Tanpa menunggu lama, Miana memeluk mbok Darmi. Rasa syukur di hatinya tidak bisa diungkapkan dengan peribahasa ataupun dengan kata-kata. Miana sangat berterima kasih kepada Mbok Darmi karena sudah lebih dari 3 bulan ia merawat Jelita dengan penuh kasih sayang.


" Mbok Darmi orangnya sangat baik ma. Mbok Darmi selalu memberikan apa yang Jelita minta kalau ia bisa" Jelita mengatakan itu kepada Miana di depan semua orang.


" Mama, kalau boleh Mbok Darmi ikut kita saja ya. Kasian kalau Mbok Darmi di sini sendirian. Di sini tidak ada siapa-siapa kecuali kita berdua mah. Kalau Jelita pulang ke kota, berarti Mbok Darmi bakal sendirian lagi. Boleh ya ma Mbok Darmi kita ajak pulang saja" Jelita memohon kepada mamanya untuk membawa mbok Darmi pergi dari tempat terpencil ini. Karena Jelita merasakan betapa susahnya hidup di tengah hutan tanpa ada siapa-siapa. Bahkan tetangga pun Mbok Darmi tidak punya. Hanya hewan ternak yang ia miliki di hutan ini. Itu pun kalau sedang tidak dimangsa oleh binatang buas seperti Serigala, ular maupun yang lain.


" Iya sayang mama bakal ngajak Mbok Darmi tinggal di rumah kita. Kasihan beliau kalau harus tinggal sendirian di sini" Miana nuruti apa yang diinginkan oleh jelita. Karena di saat ia memandang di sekitar rumah, Yang ada hanyalah pepohonan. Bahkan tidak ada televisi di sana. Namun untuk penerangan, Mbok Darmi menggunakan sebuah listrik bertenaga Surya.


" Jelita, jangan meminta kepada Mamamu seperti itu ya cah ayu. Mbok Darmi senang bisa tinggal di tempat ini. Dan nyonya miana, Terima kasih atas ketersediaan anda untuk menampung Saya di rumah Anda tinggal bersama jelita. Tapi jujur saja saya tidak bisa meninggalkan rumah ini. Rumah ini penuh kenangan dengan almarhum suami saya. Saya berjanji untuk tetap setia hingga maut mempertemukan kita kembali" Mbok Darmi yang mendengar permintaan Jelita kali ini mengatakan bahwa ia tidak bisa pergi dari rumah yang telah bertahun-tahun di tempatinya itu.


" Mbok Darmi, di tempat kami ada banyak tempat tinggal yang bisa Mbok tinggali. lebih baik Mbok hidup bersama kami daripada harus tinggal di tengah hutan tanpa siapapun di sini. Mbok Darmi sudah semakin tua. Kalau ada apa-apa, kita bisa membantu Mbok. Bukan kita berharap yang bukan bukan. Tapi demi kemudahan Mbok Darmi sendiri. Mbok Darmi harus menjalani kehidupan yang normal seperti orang-orang yang lain" Miana harus menjelaskan kepada wanita yang berusia lebih dari 45 tahun itu.


" Tapi di rumah ini begitu banyak cerita dan kenangan tentang suami saya nyonya. Bagaimana mungkin saya bisa meninggalkan semuanya" terlihat kesedihan di raut wajah tua Mbok Darmi yang sudah terlihat ada kerutan tersebut. Sekali lagi, Miana memeluk Mbok Darmi tanpa aba-aba.

__ADS_1


" Saya berjanji akan membuatkan rumah yang sama dengan ini. Mbok Darmi bisa tinggal sendiri sesuai dengan keinginanmu. Mbok Darmi bisa membawa semua yang ada di sini. Saya akan mengurus semuanya. Mbok Darmi harus hidup layak jangan seperti ini" sambil memeluk Miana mengatakan itu kepada Mbok Darmi dengan air mata yang terus menetes.


" Tapi ada alasan lain Kenapa saya tidak ingin pergi dari sini nyonya Miana" Mbok Darmi ingin berterus terang mengapa ia tak ingin pergi dari sini.


" Apa itu, kalau bisa tolong beritahu saya." Miana melepaskan pelukan Mbok Darmi lalu bertanya.


" Sebenarnya saya tinggal di hutan ini karena ingin benar-benar terlepas dari orang tua dan mertua yang tidak menyetujui pernikahan saya dengan almarhum suami. Jadi kami memutuskan untuk tinggal di tempat terpencil seperti ini. yang bahkan sampai saat ini saya tidak pernah menghubungi orang tua ataupun mertua saya." Mbok Darmi mengatakan kepada Miana sebuah alasan yang membuatnya ingin tetap bertahan di rumah itu.


" Apa tidak ada rasa rindu di hati Mbok Darmi meninggalkan semua keluarga? " tiba-tiba Bagas bertanya kepada Mbok Darmi yang sedang mengusap air matanya sambil menceritakan kisahnya.


" Rasa rindu itu selalu ada. Bahkan sampai sekarang saya masih selalu merindukan mereka. Tapi saya berpikir, kalau rindu ini tidak harus Berujung." Mbok Darmi berkata kepada Bagas. Membuat semua orang yang berada di sana merasa sangat kasihan terhadap nasib Mbok Darmi.


" Mencoba menyambung silaturahmi kembali tidak ada salahnya Mbok Darmi. Bahkan hal tersebut akan membawa kita pada kebaikan-kebaikan." Parlan melanjutkan kata-katanya. membuat Mbok Darmi kembali mengusap air mata yang terus mengalir di pipinya itu.


" Apa yang harus saya lakukan tuan? " sepertinya hati Mbok Darmi telah berubah. pikirannya sudah tidak lagi kolot seperti beberapa menit yang lalu. Iya bertanya kepada Parlan apa yang harus dilakukannya.


" Menyambung tali silaturahim antar keluarga" jawaban Parlan membuat Mbok Darmi seketika langsung mengangguk. niana dan yang lain tersenyum.

__ADS_1


" Berarti kita bisa meninggalkan rumah ini hari ini. Kita pindah ke kota" Miana tersenyum, kedua tangannya memegang tangan Mbok Darmi yang sudah terlihat keriput.


"Terima kasih atas semuanya" Mbok Darmi mengatakan itu sambil terisak. semuanya terharu memandang Kejadian ini.


" Kalian semua tolong bawa semua barang-barang Mbok Darmi. Kita akan membawa Mbok Darmi saat ini juga kembali ke kota" Bagas begitu antusias. takut jika Mbok Darmi akan berubah pikiran kembali. Mbok Darmi tidak pernah menyangka jika kehidupannya akan berubah setelah bertemu dengan Jelita. Ada perasaan berat untuk meninggalkan rumah itu. namun Ia berpikir, apa yang di katakan oleh orang-orang tadi sangat benar.


lebih dari 20 orang membantu membawa barang-barang Mbok Darmi. Mbok Darmi terharu dengan kehadiran miana dan rombongannya. sebelum meninggalkan tempat yang penuh kenangan tersebut, Mbok Darmi sekali lagi menatap rumah yang telah bertahun-tahun di tempatinya itu. ada air mata yang menetes.


" Boleh saya kembali sebentar saja. beberapa hewan ternak harus saya lepaskan supaya mereka bisa hidup di alam bebas. kalau dibiarkan terkurung, mereka akan mati karena kelaparan" Mbok Darmi membuka pintu rumahnya lebar-lebar. membiarkan hewan ternak yang selama ini dirawatnya masuk ke dalam rumah itu.


" Selamat Tinggal Kenangan. Selamat tinggal semua cerita indah" gumam Mbok Darmi pelan di depan pintu rumahnya. Ia pun kembali berjalan mendekat ke arah miana dan yang lain.


Seseorang menuntun Mbok Darmi untuk menaiki ATV. Mbok Darmi, Miana, Dara, Jelita, Parlan, serta Bagas berada di barisan paling depan. Mereka mulai menyalakan ATV dan berjalan menuju ke tempat di mana helikopter mereka berada.


" Mbok Darmi sama Jelita naik ke sana ya." Bagas menunjuk Sebuah helikopter yang berada di paling pinggir.


" Baik Om Bagas. Mbok Darmi Ayo kita ke sana" Jelita dengan antusias menarik lengan Mbok Darmi dan mengajaknya menuju ke helikopter paling ujung. Miana dengan sabar menuntun Jelita yang kakinya masih sakit untuk berjalan. Sedangkan Mbok Darmi benar-benar gugup, pasalnya setelah beberapa tahun tinggal di dalam hutan, Baru kali ini ia akan menaiki kendaraan udara.

__ADS_1


Setelah semua penumpang naik ke atas helikopter. Satu persatu helikopter tersebut lepas landas. Beruntung sekali karena cuaca sedang tidak hujan. Sehingga tidak ada tanah becek di hutan tersebut. Mereka pun terbang menuju ke kota di mana Miana keluarganya tinggal.


__ADS_2