Di Paksa Terluka Oleh Cinta

Di Paksa Terluka Oleh Cinta
Papa Baru


__ADS_3

“Maafnyonya, ada telepon untuk anda” bi Wanti menyerahkan ponsel yang iya pegang ke Miana. Dan Miana menerima ponsel tersebut.


“Iya buk, ada apa? “ tanya Miana.


“Oh iya bu, nanti akan Miana cari. Kalau misalnya jatuhnya di sini, pasti masih ada” Miana menjawab panggilan tersebut.


“Baiklah” Dan panggilan itu berakhir. Miana menyerahkan kembali ponselnya ke bi Wanti.


“Makasih ya bi” Setelah menerima ponselnya, bi Wanti segera kembali masuk ke dalam rumah


lagi.


“Apa terjadi sesuatu? “ tanya Parlan.


“Anu, kalungnya mama hilang entah kemana. Aku di suruh untuk melihatkan siapa tahu


jatuh di sekitaran sini” jawab Miana sembari melihat ke sekelilingnya. Setalah


apa yang iya cari di sana tidak ditemukan, iya pindah mencari ke dalam rumah.


“Bi Wanti... tolong bantu aku sebentar ya” Miana masuk ke belakang mencari bi


Wanti. Setelah  bertemu, iya mengatakan apa tujuannya.


“Iya nyonya, apa yang bisa saya lakukan? “ tanya bi Wanti kepada Miana.


“Tolong bantu saya mecari kalung ibu yang hilang. Kalau misalnya jatuhnya di sini pasti masih ada” Miaina menjelaskan apa tujuannya memanggil assisstant rumah tangganya itu.


“Baik nyonya. Dan dengan perlahan dua orang wanita beda generasi itu celingukan mencari kalung bu Yanti yang hilang.

__ADS_1


Hampir setengah jam mencari benda yang kalau dijual akan mendapatkan banyak uang itu, Miana dan Bi Wanti hampir saja menyerah. Pasalnya mereka sudah mencari kemana-mana, namun hasilnya masih saja nihil. Padahal, saat mencari di luar rumah, Parlan juga ikut membantu mencarinya. Karena sudah benar-benar tidak menemukan, akhirnya Miana menghubungi nyonya Yanti untuk memberi kabar.


“Bu, aku sudah mencari kemana-mana tapi kalung ibu ngga ada” Miana mengatakan setelah panggilan terlepon tersebut sudah tersambung.


“Ya sudah nak. Kamu istirahat saja. Mungkin jatuh di tempat lain” bu Yanti mengatakan itu. Dan tak lama setelahnya, panggilan itu berakhir.


Pov


Atika dan Prasetyo


“Terimakasih atas kunjungannya tuan, nyonya” ucapp seorang yang memakai seragam berwarna coklat di sekolah baru yang akan menjadi tempat untuk Firman mengenyam pendidikan.


“Sama-sama pak. Kalau begitu saya akan pamit untuk pulang terlebih dahulu” Prasetyo menjabat tangan kepala sekolah itu, setelahnya iya keluar dari ruangan kepala sekolah dan langsung menuju tempat parkir.


“Firman, mulai besok kamu harus bersekolah di tempat yang tadi. Apa kamu menyukainya? “ Pertanyaan dari Prasetyo hanya di jawab anggukan oleh Firman. Melihat hal itu, Atika tidak tinggal diam karena putranya masih merasa sungkan kepada ayah


tirinya.


“Firman... Mulai sekarang, om Tiyo ini adalah ayah kamu ya. Jadi kamu jangan memanggil om lagi. Kamu harus memanggil papa kepada om Tiyo” penjelasan Atika membuat Firman sedikit terkejut. Namun karena Firman masih anak kecil, iya tak mampu mengungkapkan keterkejutannya.


“Ma, om Tiyo kan papanya Dara dan Jelita. Kenapa harus menjadi papanya Firman juga” pertanyaan dari Firman membuat Atika memikirkan jawabnnya.


“Karena mama sudah menikah dengan om Tiyo. Jadi mulai sekarang om Tiyo papa nya Firman juga” Atika dengan perlahan menjawab pertanyaan dari sang anak. Sedangkan Prasetyo yang berada di sampingnya menoleh, mereka pun saling menatap.


“Berarti papa Roni sudah ngga jadi papanya Firman lagi ya ma? ” Firman masih terus mengejar Atika dengan pertanyaan polosnya.


“Emmm, ya masih. Kan papa Roni sudah pergi untuk selama-lamanya. Karena mama takut


sendirian, mama ingin om Tiyo menemani mama dan kamu” Atika takut salah menjawab.

__ADS_1


“Oh begitu. Berarti kalau begitu, tante Miana, Dara dan Jelita juga takut kalau di tinggal sama om Tiyo. Kan om Tiyo papanya mereka.” Atika semakin bingung menjawab pertanyaan dari sang putra.


“Kalau tante Miana kan di rumah banyak temannya. Ada pak satpam, pak Parlan, terus ada Dara dan Jelita. Terus ada lagi bibi Wanti yang akan menemani mereka. Jadi tante Miana tidak akan takut kalau di tinggal sama om Tiyo” Atika menjawab dengan lugas. Dan kebohongan demi kebohongan iya lontarkan demi menutupi kebusukannya dari sang anak. Dan Firman merasa percaya dengan apa yang di katakan oleh sang mama.


“Makasihya om Tiyo, sudah ma menemani aku dan mama” dengan polosnya, Firman mengatakan


itu kepada Prasetyo.  “Sama-sama. Kalau begitu, mulai sekarang kamu panggil om papa ya. Jangan memanggil om lagi. Kan sekarang om sudah menjadi papa kamu” Prasetyo memberitahu Firman. Dan Firman pun mengangguk menganggapi apa yang di katakan oleh Prasetyo, ayah tirinya itu.


“Aku lapar ma” Firman yang merasa perutnya keroncongan mengatakan kepada mama nya.


“Kitamampir untuk makan dulu ya sebelum pulang” Demi menyenangkan anak tiri barunya itu, Prasetyo ingin mengajaknya berhenti. Dan Atika beserta anaknya mengangguk. Mereka melanjutkan perjalanan menuju ke rumah baru.


Pov Miana.


“Parlan, sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan sama kamu” Ucap Miana kepada Parlan yang saat ini berada di dalam satu mobil dalam perjalanan menuju ke sekolah untuk menjemput Dara dan Jelita. Karena rasa penasaran membuat Miana harus menanyakan kepada Parlan.


“Kalau saya bisa menjawab, akan saya jawab nyonya Miana” Parlan tak main-main saat iya menjawab. Karena iya harus fokus pada kemudi setirnya sekaligus juga harus mendengarkan Miana, iya tak menoleh sama sekali.


“Sebenarnya kamu tahu dari mana semua informasi tentang kak Tika dan Prasetyo? “ Miana pun dengan serius mengatakan apa yang menimbulkan rasa penasaran di fikirannya.


“Oh masalah itu. Sebenarnya aku memiliki kemampuan khusus untuk melihat apa yang di lakukan orang lain” dengan santai Parlan menjawab.


“Kamu bisa meramal ya? “ pertanyaan dari Miana benar-benar membuat Parlan tertawa.


“Di zaman yang seperti ini kenapa masih percaya dengan orang yang bisa meramal sih Mian. Kalau misalnya aku bisa meramal, sebelum kamu menikah dengan prasetyo sudah aku ramal. Dan aku akan melarangmu untuk melabuhkan cinta kepada bajingan itu. Aku akan menunjukkan kepadamu siapa orang yang tepat menurut ramalan ku agar kamu tidak harus terluka seperti ini” Parlan msih dengan santai menjawab.


“Terus siapa yang memberikan informasi tentang mereka? “ Kali ini Miana sedikit memaksa Parlan.


“Ada sesuatu yang tidak kamu mengerti, ini tentang kecanggihan tekhnologi masa kini” Jawaban Parlan benar-benar membuat Miana pusing tujuh keliling.

__ADS_1


“Oh jadi begitu... Jadi kamu tidak mau mengatakan kepadaku. Oke” dengan perlahan tangan Miana terulur mendekat ke pinggang Parlan. Dengan cepat iya mencupit pinggang Parlan. Parlan terlihat meringis karena cubitan Miana begitu terasa, antara sakit dan geli.


“Miana stop. Ini aku sedang menyetir. Jangan bercanda. Nanti saja aku jelaskan” setelah Parlan mengatakan itu, Miana melepaskan cubitannya.


__ADS_2