Di Paksa Terluka Oleh Cinta

Di Paksa Terluka Oleh Cinta
Rencana Miana


__ADS_3

"Anak om kok ngga ikut? " Tanya Dara yang masih ingat jika Bagas memiliki keponakan.


"Dia sudah kembali ke Singapura" jawab Bagas dengan penuh kelemah lembutan. Membuat Dara membalasnya dengan senyuman.


"Namanya Ken" Dara tiba-tiba berkata. Membuat Bagas mengangguk.


" kamu masih ingat? " tanya Bagas penuh harap kepada gadis kecil anak dari sahabatnya semasa sekolah itu.


" Ingat dong Om. Aku kan punya ingatan yang kuat. jangankan hanya untuk mengingat nama anak Om itu, Bahkan aku pun ingat ketika dia mengganggu kami saat bermain" cara mengatakan dengan jelas apa yang diingatnya saat pertama kali bertemu dengan keponakan Bagas.


" Jangan diingat keburukannya saja. tapi ingat kebaikannya juga" Bagas berkata kepada Dara.


"Kebaikannya apa om? " Kini Dara balas bertanya. Membuat Bagas menatap bocaj kecil itu.


"Mampuss.." Bisik Rendy di dekat telinga Bagas tanpa di dengar siapapun kecuali bagas di sana.


" Sebenarnya Ken itu orang baik... Tapi ya gitu, dia suka usil" Jawab Bagas.


" Sudah-sudah... Pesanan sudah datang. Ayo di makan dulu" Kali ini Miana menengahi. Akhirnya Dara tak menjawab lagi apa yang di katakan oleh Bagas.


Bertepatan sekali, yang mengantarkan makanan adalah Desita. Membuat Parlan, Miana dan Bagas saling memandang. Lain hal dengan Rendy yang malah menunduk saat tahu yang mengantarkan pesanan adalah Desita. Kini muncul ide dari Miana.


"Ehhmm... Mbak, saya pesan Mie yang ini 1 lagi ya. Janngan lama-lama" Miana memesan lagi satu porsi mie bumbu hitam. Terlihat begitu menggoda. Iya lalu memberi kode kepada Bagas. Bagas yang memandang pun terlihat langsung memahami.


"Bagas makan lagi? " Tanya Miana basa-basi.


"Terimakasih, aku masih kenyang. Oh iya, kamu masih ingat ngga teman kita yang ini? " Bagas mengeluarkan ponselnya, iya lalu berdiri dan mendekat ke arah Miana. Karena di sana ada kursi kosong, Bagas langsung duduk di samping Miana. Setelahnya iya mengetikkan sesuatu.


"Apa kamu merencakan sesuatu? " Tulis Bagas di layar ponselnya.


"Iya..." Jawab Miana.

__ADS_1


"Oke... Kita lakukan hal yang sama" Tulis Bagas krmbali. Dan anehnya hal tersebut tidak membuat yang lain curiga.


"Mohon maaf, ini Mie pesanan anda nyonya" Ucap Desita yang kembali mengantarkan makanan pesanannya.


"Terimakasih" Jawab Miana. Namun...


"Desita...? " Miana memanggil gadis itu saat iya akan kembali bekerja lagi.


" Iya nyonya, ada yang bisa saya bantu.? Tanya Desita.


"Iya ada. Saya mauinta tolong untuk menyuapi anak bungsu saya. Apa kamu mau? " Tanya Miana sopan sekali memperlakukan Desita.


"Saya akan meminta kepada atasan kamu. Anak saya belepotan makan sendirian" Yang di jadikan alasan jyga hanya bisa diam saja. Mungkin karena dalam fikirannya, selalu menurut kepada sang mama.


"Tapi saya bekerja nyonya. Saya tidak enak kepada boss saya" Desita menunduk mengatakan itu. Merasa tidak enak.


"Jangan khawatir... Aku akan bilang kepadanya." Miana mengeluarkan ponselnya lalu mengetikkan pesan.


Tak sampai 3 menit, penanggung jawab resto itu keluar dengan tergopoh-gopoh.


"Terimakasih. Kembalilah bekerja" Jawab Miana.


"Desita, duduklah. sebelumnya, saya ucapkan terimakasih" Ucap Miana. Dan Desita langsung melihat kursi kosong di samping Rendy. Membuatnya ragu-ragu untuk menempati kursi tersebut.


"Rendy, boleh aku minta tolong" Ucap Miana. Membuat Rendy menangguk.


"Apa itu? " Tanya Rendy.


"Tolong biarkan Desita duduk di sana! " Rendy terdiam, dan malah memandang ke arah Desita yang mematung. Dengan segera Rendy memundurkan kursi di sampingnya untuk di duduki oleh Desita. Bagas dan Miana tersenyum.


"Pasti ini adalah rencana Miana. Mereka kompak sekali" Gumam Rendy dalam hati.

__ADS_1


"Terimakasih" Dengan malu-malu Desita mengatakan itu kepada Rendy. Namun dengan segera pula iya mengahadap ke arah Jelita untuk melakukan pekerjaannya.


"Adek kecil. Yuk kakak suapin. Lihat, belepotan sekali" Suara lembut Desita mempu menghipnotis gadis kecil itu. Iya langsung menurut.


"Kakak suapin ya.. Aaaa" Ucap Desita membuat Jelita menuruti apa yang di katakannya. Desita tersenyum. Dan Rendy memandangnya dengan penuh perhatian. Melirik terus tanpa membiarkan wajah manis Desita berlalu dari pandangannya. Dan sebenarnya, iya sudah senam jantung sejak pertama Desita duduk di sampingnya itu.


"Apa yang kita lihat memang tidak salah Bagas. Parlan, kamu lihat sendiri kan bagaimana Rendy? " Miana berbisik ke arah Bagas dengan pelan, setelah itu menoleh ke sampingnya ganti berbisik kepada Parlan. Parlan dan Bagas tersenyum mengangguk.


"Alhamdulillah... Sudah selesai. Minum dulu yaa" Desita mengambilkan minum di depan Desita.


"Alhamdulillahirobil'alamin. Jangan lupa baca do'a sesudah makan" Ucap Desita, membuat semua orang yang ada di sana memandang kagum atas ketelatenan gadis itu. Dan Jelita pun menurut. Desita tersenyum.


"Makanannya sudah habis nyonya. Biarkan saya kembali bekerja" Ucap Desita dengan begitu sopan. Membuat semua orang di sana terpaku dengan kesopanan gadis itu.


"Kamu makan dulu ya Mie ini" Miana menyodorkan satu oiring Mie yang dibawa oleh Desita sendiri di saat Miana memesannya.


"Tapi nyonya, saya tadi sudah makan" Jawab Desita.


"Makan saja, sebagai tanda terimakasih ku karena kamu sudah menemani Jelita makan" Miana memang ingin merencanakan sesuatu antara Desita dan Rendy. Terlihat Bagas dan Parlan yang tersenyum. Sepertinya mereka memahami apa yang Miana rencanakan. Sedangkan Rendy hanya terdiam. Sepertinya iya baru saja memutar bola matanya, mungkin merasa malas.


"Baiklah... Terimakasih" Desita mendekatkan piring berisi mie goreng hitam yang harganya memang fantastis. Karena mie buatan sendiri tanpa pewarna dan pengawet. Di tambah semua bumbu rempah-rempah pilihan. Sehingga menghasilkan cita rasa yanh berbeda.


Miana memperhatikan cara makan Desita. Terlihat begitu sopan dalam memakannya. Namun juga tidak terlihat malu-malu.


"Pelan-pelan... Tidak akan ada yang meminta makananmu" tiba-tiba Rendy berkata di saat melihat Desita hampir tersedak. Iya segera menyodorkan satu gelas air putih di depannya. Desita menerima dengan cepat dan langsung meminumnya. Miana yang melihat itu langsung tersenyum. Di susul oleh kedua orang lelaki yang berada di satu meja itu.


"Hess heesss..." Nafas Desita ngos-ngos an.


"Kaya habis lari maraton sepuluh kilo aja. Makanya kalau makan pelan-pelan. Ngga ada yang minta" Rendy mengulurkan tangannya untuk memberikan tisue.


"Terimakasih tuan." Desita menerima tisue tersebut lalu menunduk.

__ADS_1


"Maaf. Saya bukannya takut makanannya di minta, tapi..." Jawab Desita. Namun ucapannya terhenti ketika ada orang-orang yang mengganggu mereka.


"Waah... Wanita tak tahu diri ternyata sudah bisa bersenang-senang dengan selingkuhannya" Seorang wanita paruh baya mendekat sambil menepuk meja yang tak ada apa-apanya di samping Miana. Membuat Miana langsung menoleh.


__ADS_2