
Pagi ini Miana telah sibuk dengan kedua putrinya. Iya merasa lelahnya hilang di saat bangun tidur. Rasanya seluruh badan begitu segar. Namun di lihatnya jika Prasetyo tidak kembali malam ini.
"Maafkan aku yang tidak bisa lagi menemanimu dalam keadaan susah mu. Bukan aku tidak mau, tapi keadaan membuatku tidak mampu." Gumam Miana di saat bangun tidur tadi. Iya segera bangun lalu melaksanakan sholat wajib 2 roka'at. Setelahnya iya membangunkan Dara dan Jelita. Hingga saat ini iya masih di sibukkan dengan aktivitas rumah tangga yang tidak ada habisnya.
"Bu Mian, ada telepon dari bapak. Katanya dia tidak bisa pulang karena lang pergi ke kantor pusat. Baru saja bapak menghubungi saya. Bapak bilang tadi menghubungi ibu tapi tidak bisa" Seorang ART menyampaikan pesan Prasetyo kepada Miana.
"Iya, terimakasih. Dari semalam saya belum melihat HP" Miana menjawab dengan baik apa yang di sampaikan oleh ART nya tersebut.
"Kalau begitu, saya kesana dulu ya bu" Art bernama bi Wanti itu izin mundur untuk menyelesaikan pekerjaannya.
"Iya..." Setelah Art nya pergi, Miana melanjutkan aktivitasnya.
"Mama nanti jemput kita lagi ya" Jelita ingin mama nya menjemput lagi.
"Iya nak, pagi ini mama nganterin kalian berdua. Insya Allah nanti siang kalau tidak ada halangan, mama jemput kalian. "Bersamaan dengan itu, Miana mendengar deru sebuah mobil berhenti di halapan rumahnya.
"Itu om Parlan datang. Ayo cepat selesaikan sarapannya" Miana pun juga segera menghabiskan sarapannya setelah menyuruh anak-anaknya.
" Selamat pagi om Parlan." sapa Dara dan Jelita ketika mereka membuka pintu mobil. Entah kenapa saat ini Parlan tidak membukakan pintu untuk kedua anak itu. Ternyata iya mengajak Devan.
" Wah Devan ikut ya... asik berangkat sekolah nggak jadi sepi deh kalau ada Dedek gemes" Jelita terlihat begitu senang di saat ada Dedek gemas yang berada di depan.
" maaf nyonya Miana... Saya mau menitipkan Devan sebentar ke Bi Wanti. baby sitter yang menjaga Devan hari ini tidak masuk karena ada kepentingan keluarga. Jadi saya terpaksa membawa Devan" di saat Miana datang, Parlan memberitahukan alasan mengapa ia membawa anaknya bekerja.
" Tidak masalah Parlan. Jangan di titipkan ke bi Wanti. Biar aku saja yang menggendongnya. Kita ajak mengantarkan anak-anak sekalian ya" Miana dengan sigap meminta Devan dari gendongan Parlan. Lalu iya masuk ke mobil dan duduk di samping Parlan.
"Yee... Dedek gemes ikut kita. Seharusnya seperti ini om setiap hari" Jelita benar-benar menyatakan rasa sukanya kepada bayi yang berusia 8 bulan itu.
"Kalau setiap hari seperti ini nanti malah menggangu om Parlan Jelita" Parlan mengatakan.
"Kan ada mama yang gendong Si dedek gemes. Kenapa om Parlan yang repot" Dara kali ink mengimbuhi.
"Iya in aja napa sih Lan. Dari pada kamu berdebat sama anak-anak. Kaya kurang kerjaan aja kamu ini" Kali ini Miana membela putrinya.
__ADS_1
"Iya tuan putri Dara dan Jelita" Ucapan itu langsung di katakan oleh Parlan. Akhirnya mereka pun berangkat mengantarkan anak-anak ke sekolah.
" Dedek gemes jangan nangis ya... Ada Kak Dara sama Kak Jelita di sini. Dedek jangan nakal ya, nanti pulang sekolah kita bermain bersama" Jelita berusaha mengajak bicara Devan sebelum dia turun dari mobil. Setelahnya ia pun bersalaman kepada Miana dan Parlan. Sebagaimana yang telah ditegaskan oleh Miana, bahwa orang tua siapapun itu wajib mereka hormati. Jangan memandang ke arah status sosial. Dan buktinya Miana mampu mendidik anak-anaknya sejak kecil untuk bersikap hormat dan menghargai ke sesama.
" Belajar yang baik ya..." ucap Miana ketika anak-anak turun dari mobil. Iya tidak mengikuti anak-anak sampai ke halaman seperti biasanya. Dan di saat Parlan pun ingin turun ia melarangnya.
" Dadah adik... Kakak sekolah dulu ya" ucapan Jelita seperti menganggap bahwa Devan adalah Adiknya sendiri.
Setelah Dara dan Jelita turun dan sudah dipastikan mereka masuk ke sekolah, Miana pun mengajak Parlan untuk kembali.
" Bagaimana Kemarin nyonya? " tanya Tarlan ketika mobilnya sudah berbalik arah untuk pulang.
" Baguslah tidak ada yang buruk." Miana menjawab dengan nada dinginnya. Parlan tahu apa yang sedang dirasakan miana. Namun ia tidak berani terus-terusan untuk mencampuri urusan rumah tangga majikannya itu walaupun sebenarnya mereka sudah lebih dari saudara kandung. Selalu ada di saat satu sama lain saling membutuhkan.
" Alhamdulillah..." Hanya itu yang diucapkan Parlan.
" Aku seperti hidup dalam sebuah dongeng. Yang bagaimana ceritanya pun aku tidak begitu paham. Ada seorang penulis yang ingin menulis kisahnya sama sepertiku. Hingga ia tega menghancurkan dongeng yang telah aku buat. Aku ingin dongeng itu berhenti sampai di sini" apa yang dikatakan Miana membuat Pqrlan menghentikan mobilnya. Iya memandang Miana yang terlihat begitu sayu.
" Kamu ingin dongeng kamu itu berhenti sampai di sini saja. atau kamu bisa memilih, dongengmu akan tetap ada tanpa adanya salah satu peran utama di sana" setelah sadar dari keterkejutannya, Parlan mengatakan hal tersebut.
" Jika seperti itu, hidupkan dongengmu itu dengan mengisahkan sebuah kisah yang terbaik dalam hidupmu. Ambillah hikmah dari semua yang terjadi. satu lagi, Ubahlah takdir yang belum pasti dengan ikhtiarmu itu. Kamu pasti akan merasakan sebuah perubahan" Parlan mengatakan hal tersebut seolah membuat Miana tersadar.
" Kamu tahu Parlan, padahal yang membuat hati kita menjadi terasa sangat berat. Dan ada hal yang membuat hidup kita terasa begitu terbebani" Miana terdiam sesaat.
" Apa itu? " tanya Parlan, ia ingin mengetahui maksud Miana.
" Kamu tahu apa itu... Dendam dan amarah"
" Aku ingin menceritakan suatu hal. Seperti yang aku katakan tadi malam, bahwa Prasetyo pergi untuk mengurus sebuah urusan genting di kantor cabang yang dipegang oleh ayah dan ibu. Prasetyo mengatakan jika keadaan di kantor ada masalah besar. Tapi aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Hatiku tidak tergerak untuk mencari tahu apa masalah besar yang tengah terjadi itu. Bahkan aku bersikap seolah tidak ada apa-apa" Miana menceritakan tentang perasaan yang semalam ia alami.
" Aku bahkan tidak peduli sama sekali dengan urusan Prasetyo dan orang tuanya... Apa aku sudah mati rasa tentang kepedulian. Rasa Peduli yang dulu ada apakah ini sudah hilang ya? " bahkan Miana tidak bisa menjelaskan dengan gamblang apa yang ia rasakan.
" Jangan menyimpan dendam seperti yang kamu katakan. Semua orang pernah mengalami sakit dan terluka. Semua orang pernah berada di posisi begitu sakit dan tak tahu arah tujuannya."
__ADS_1
"Sungguh, dalam luka batin yang teramat mendalam itu terdapat Rahmat Allah, Ini adalah kata Maulana Jalaludin Rumi"
"Miana, aku juga pernah belajar, bahwa air mata yang paling berharga dan paling jujur adalah yang mengalir pelan tanpa terlihat oleh siapapun."
"Tapi aku belum bisa melakukan itu. hatiku masih terlalu rapuh untuk menjalankan semua nasehat. Namun semua yang kamu katakan, sedikit memberi pencerahan kepadaku" Miana mengatakan jujur bahwa ia belum bisa seperti yang Parlan katakan.
""Aku tahu Miana. Tapi, kamu tidak akan ada di posisi ini jika Allah tak mengarahkanmu ke posisi ini. Bersyukurlah. Ketika Allah memberi yang berbeda dari rencanamu. Percayalah. Allah sedang mengarahkanmu ke rencana-Nya yang lebih baik. Jangan lelah berdoa. Teruslah berusaha, dan jangan menyerah."
" Doakan aku kuat untuk menjalani semuanya. Doakan aku mampu supaya aku bisa melewati sakit nya luka di hati" Miana mengatakan itu sambil menunduk.
" Apa kamu tidak ingin ke rumah Ayah dan ibumu. Mungkin setelah dari sana Kamu bisa melihat sesuatu dengan lebih jernih." kali ini Parlan menyarankan agar miana ke rumah orang tuanya.
" Tapi aku tidak berani bercerita tentang semua ini. Aku tidak mau hal ini menjadi beban untuk orang tuaku" Miana masih ragu untuk datang ke rumah orang tuanya.
" Aku sudah berapa kali mengatakan kepada dirimu, kalau aku sama Ibu tidak terlalu dekat. Berbeda dengan antara Kak Atika dengan ibu" Miana masih merasa sungkan untuk datang ke rumah orang tuanya. Apalagi dirinya sedang berada dalam masalah seperti ini. masalah keluarga yang harusnya ia selesaikan.
" Bagaimana kalau kita ke makam ayah saja. Aku rasa di sana kamu akan lebih leluasa untuk menceritakan semua rasa sakitmu itu" Parlan mencoba untuk mengajak miana bertakziah ke makam ayahnya.
" Baiklah kita ke sana saja. Tapi sebelumnya kita mampir dulu ke toko baju. Aku mau beli baju yang pantas untuk mengunjungi makam ayah" Miana seperti ada harapan mendengar Iya diajak Parlan ke makam Ayah kandungnya. Parlan mengangguk, dan tak jauh dari jalan yang ia lewati, Parlan berbelok ke sebuah toko baju muslim.
" Tapi Parlan, Apa tidak masalah kalau Devan kita bawa ke sana? " Sebelum turun dari mobil Iya menyatakan keraguan untuk membawa Devan ke makam Ayah kandungnya.
" Tidak akan terjadi apa-apa, Percayalah. justru Ayahmu akan senang melihat anakku. Dan juga selama ini aku juga belum pernah mengenalkan anakku kepadanya" Parlan yakin bahwa tidak akan terjadi apa-apa kepada Devan. Akhirnya Miana mengangguk. Dia langsung membuka pintu mobil dan turun.
Berjalan masuk ke dalam toko baju muslim, Miana membawa Devan dalam gendongannya.
" Kamu Pilihlah baju yang sesuai, biar aku yang menggendong Devan" Parlan segera mengambil Devan dari gendongan Miana. Setelah itu Miana pun memilih baju yang akan ia Kenakan. Tidak harus menunggu lama, miana menjatuhkan pilihannya pada sebuah dress muslim panjang berwarna hitam. Setelah mencobanya Ia pun tak melepas kembali pakaian itu. Miana langsung ke kasir untuk membayarnya. Begitu selesai Iya segera keluar menyusul Parlan yang menunggu di mobil.
" Mana Devan biar aku yang gendong saja." setelah duduk di dalam mobil Miana meminta Devan dan meletakkannya di pangkuan.
" Ini... tunggu sebentar di sini ya" entah apa yang akan dilakukan oleh Parlan miana tidak tahu. Hampir 5 menit Miana menunggu Parlan bersama Devan. Akhirnya Parlan keluar dengan membawa sesuatu di tangannya. Setelah masuk dan menutup mobilnya, Parlan membuka kantong plastik yang tadi dibawanya.
" Miana... Kamu Berharga. pakailah ini" Parlan membuka lipatan kerudung berwarna coklat susu dan langsung memakaikannya kepada Miana. Miana pun tersenyum lalu menunduk.
__ADS_1
Readers, jangan lupa berikan dukungan kalian ya...
Like dan comment serta share novel ini. Terimakasih