
Miana menatap lekat ke arah pria yang sedang menyeberang di depan mobilnya. Iya masih ingat dengan jelas siapa lelaki itu. Di pandangnya lelaki itu yang semakin menjauh. Dan bayangan saat lelaki itu menolongnya malam itu kembali terlintas di benaknya. Meskipun saat itu pikiran yang Miana sedang kacau balau, namun ia tidak bisa lupa dengan orang yang sudah membantunya supaya tidak terjatuh dan terluka. Miana juga ingat apa yang dikatakan lelaki itu kepada Parlan. "Jaga dia baik-baik" hanya itu kalimat yang bisa Miana ingat kembali.
" Pak tolong ikutin lelaki itu ya! " karena tak ingin kehilangan kesempatan untuk mengucapkan terima kasih, Miana menyuruh sopirnya untuk mengikuti lelaki yang hampir ditabraknya tersebut. Sopir pun mengangguk dan mulai membelokkan mobilnya sesuai dengan apa yang diminta oleh Miana.
" Tunggu..." Miana memanggil lelaki itu dari belakang setelah Ia turun dari mobil dan meninggalkan sopirnya di tengah jalan. Iya tak ingin kehilangan kesempatan karena terlalu lama putar balik. Karena jika melawan arah pun akan sangat berbahaya, dan itu melanggar rambu lalu lintas. Lelaki yang dipanggil miana itu menoleh ke belakang. Mungkin bagi lelaki itu miana terasa asing. Namun ia masih ingat siapa wanita yang berada di depannya saat ini.
" Anda lelaki yang sudah menolong saya saat itu kan? " Pertanyaan yang diutarakan oleh Miana membuat lelaki itu mengerutkan keningnya.
" Saya tidak terlalu ingat, tapi sepertinya memang benar. Anda adalah wanita yang mengikuti pasangan di hotel itu. Sungguh saya tidak menyangka akan bertemu Anda di sini kembali" lelaki itu dengan cepat mampu mengingat Miana.
"Apakah anda sibuk? " Miana bertanya kepada lelaki di depannya. Dan lelaki itu pun menjawab dengan menggelengkan kepala.
" Bisa kita bicara sebentar saja, sebagai tanda terima kasih, saya akan mentraktir anda. Mari kita ke cafe yang sebelah sana! " Miana tanpa sungkan mengajak lelaki itu ke cafe.
" Baiklah, niat baik seorang wanita cantik tidak akan pernah saya tolak" lelaki itu kan memandang Miana sambil memberikan jawaban.
"Mari" Dan mereka pun berjalan menuju cafe yang telah ditunjuk oleh Miana.
Di dalam Cafe.
"Anda bisa memesan apa saja yang anda sukai di sini" Miana sambil tersenyum mengatakan hal tersebut.
__ADS_1
" Apakah anda yakin ingin mentraktir saya. Saya seorang lelaki, tentunya harga diri menjadi prioritas utama saya" sambil mengatakan itu lelaki yang berada di depan miana tersebut tak pernah memalingkan wajahnya dari memandang Miana.
"Apakah rasa terima kasih juga akan diukur dengan sebuah harga diri? " Miana kembali bertanya dengan nada bercanda.
" Okelah Kalau anda memaksa, saya tidak bisa berbuat apa-apa" akhirnya lelaki itu pun menuruti kemauan Miana. dan mereka mulai membuka buku menu yang telah tersedia di atas meja. Setelah mereka menentukan menu apa yang ingin mereka beli, Miana memanggil seorang pelayan Cafe. Sambil menunggu pesanan datang, Miana dan lelaki tersebut berbincang-bincang.
" Jadi... sebenarnya siapa mereka berdua? " lelaki itu memulai percakapannya. Dan terlihat raut wajah bingung di Miana. Bagaimana mungkin ia mampu menceritakan semua yang telah terjadi dalam rumah tangganya sementara ia belum mengenal siapa lelaki yang berada di depannya tersebut. Sama saja itu membuka aib keluarga. Miana pun menunduk merasa bingung harus menjawab apa dan bagaimana.
" Sebelumnya saya belum mengenal anda. kalau Boleh saya tahu siapa nama anda? " Miana mengalihkan pembicaraan dengan membuat perkenalan.
" Oh iya saya sampai lupa. Nama saya Bagas. Terserah Nyonya Mau manggil saya apa. Dan Kalau boleh tahu nama kamu siapa? " lelaki itu memperkenalkan diri dan sekaligus juga ingin tahu siapa nama wanita di depannya tersebut.
" Perkenalkan nama saya Miana" sambil mengulurkan tangannya miana memberikan jawaban siapa nama dirinya kepada lelaki tersebut. Dan yang membuat Miana bingung, lelaki tersebut merasa terkejut setelah mengetahui bahwa nama dirinya adalah miana.
" Bagaimana mungkin Anda tahu kalau saya adalah miana Damayanti? " Miana Damayanti merasa aneh karena lelaki yang bernama Bagas itu mengetahui Nama lengkapnya.
" Kamu nggak kenal siapa aku? " dan Bagas pun semakin membuat bingung miana.
" Maksudnya... Kamu Bagas Nurdiansyah? " Miana teringat tentang sesuatu begitu mendengar nama Bagas. Merasa apa yang dikatakan oleh Miana benar, Bagas mengangguk.
"Masyaa Allah... Ini beneran kamu? Bagas Nurdiansyah? " Seolah tak percaya, Miana mengulangi pertanyaan yang sama. Dan lagi-lagi Bagas mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
"Kenapa kamu mengaku sebagai Bagas. Bukannya dulu nama panggilan kamu Nurdin? " Miana mengmentari nama panggilan teman semasa SMA nya dulu yang kini sudah berubah 360 derajat. Itulah sebabnya miana Tidak mengenali Bagas dengan baik.
" Nama panggilan Nurdin begitu Extreme Untuk didengar Miana. Kamu tahu kan siapa Nurdin beberapa tahun yang Silam" Bagas menjawab dengan candaannya.
" Jadi maksud kamu, Nurdin si ******* itu? " Miana terkekeh mendengar apa yang dikatakan oleh Bagas.
" Bisa aja kamu..." Miana menunduk karena Bagas selalu memperhatikannya.
" Jadi kamu nggak mau cerita sama aku? " Bagas kembali melanjutkan pertanyaannya.
" Ini masalah aku... Masalah dalam rumah tangga yang sudah aku bangun bertahun-tahun. Apa pantas aku menceritakan masalahku kepada orang lain. meskipun kamu sudah lama aku kenal" Miana mencoba menjelaskan.
" Jadi maksud kamu lelaki itu adalah suami kamu. dan perempuan yang bersamanya adalah selingkuhannya. Atau dengan kata lain perempuan itu adalah pelakor? Dan kalau kamu tahu, manusia itu setidaknya butuh sandaran. kalau kamu seperti ini terus, kamu akan menghadapi segala sesuatunya sendiri. Apalagi menghadapi manusia-manusia licik seperti pasangan yang aku lihat kemarin itu. Sepertinya mereka terlalu jauh dalam melangkah. Sehingga mereka tidak berhati-hati dalam melakukan sebuah hal" Bagas mencoba memancing miana agar menceritakan apa yang sedang terjadi.
" Perempuan itu Kakakku, Kak Atika" Miana menunduk mengatakan siapa sebenarnya perempuan itu.
" Kak Atika... Tunggu... Itu kakak kamu yang dulu aku pernah ketemu? " seakan tak percaya dengan apa yang Iya dengar, Bagas mencoba memperjelas pertanyaannya Supaya apa yang ia dengar tidak salah. dan miana menjawab dengan menganggukkan kepala.
" Luar biasa... Bagaimana mungkin seorang kakak berani dan tega menghancurkan kehidupan Adiknya sendiri. padahal sudah jelas-jelas dia tahu bahwa lelaki itu adalah suamimu" Bagas merasa heran mengapa hal seperti itu terjadi di kehidupan nyata.
" Aku kira hal seperti itu hanya akan terjadi di dongeng atau dalam drama sinetron saja. Ternyata teman lamaku ini mengalaminya sendiri" Bagas yang merasa heran tak sanggup berkata.
__ADS_1
" Ya begitulah gas, aku juga nggak nyangka kalau kakak dan suamiku akan sanggup untuk menghancurkan hidupku. Mungkin memang sudah menjadi kehendak Tuhan nasibku seperti ini. Atau memang laki-laki dan perempuan itu sama-sama mau. Menurut aku sih kalau misalnya salah satu dari mereka tidak menanggapi, mungkin hal sehina itu tidak akan pernah terjadi" miana mencoba menjelaskan. Dan tiba-tiba ada seseorang yang memanggilnya dari arah pintu masuk.
"Miana? " Panggil seorang lelaki.