Di Paksa Terluka Oleh Cinta

Di Paksa Terluka Oleh Cinta
Kenyataan yang di Ketahui Dara


__ADS_3

Miana terkejut di saat bangun. Iya melihat seseorang sedang menggenggam tangannya dengan erat. Karena baru bangun tidur, penglihatannya masih belum begitu sempurna. Setelah mengucek matanya beberapa kali. Iya baru menyadari. Bahwa yang menggenggam tangannya adalah Dara. Si putri sulungnya. Begitu pun sebaliknya dengan Dara. Iya merasa tidurnya terusik oleh pergerakan di atas kasur itu.


"Mama sudah bangun? " Dengan perlahan Dara bangkit dari tidurnya.


"Sayang, kenapa kamu tidur di sini? " tanya miana kepada putrinya.


" Aku mau menemani mama" jawaban Dara membuat Miana terkejut.


" Memangnya kenapa Mama harus Ditemani sama kamu? " Miana yang belum tahu kalau Putrinya sudah mengetahui apa yang terjadi pada keluarganya bertanya.


" Mama kenapa nggak pernah cerita sama Dara kalau Papa selama ini sudah berbuat jahat kepada kita? " Hal yang paling ditakuti oleh Miana benar-benar terjadi. Iya terkejut saat putrinya mengatakan itu.


"Dara... Kenapa harus mengatakan hal seperti itu tentang papa? " Miana ingin mengalihkan perhatian. Mencoba membuat Dara tidak membenci ayahnya. Miana takut anak-anaknya akan terluka dan luka itu akan ia bawa sampai mereka dewasa.


" Mama Dara udah tahu semuanya. Kenapa Mama harus menghapus air mata Mama sendiri. Dara Ini anak Mama dan Dara sudah besar. Kenapa Mama harus menyembunyikannya dari Dara? "Dara mengatakan hal tersebut sambil mengusap air mata yang menetes di pipinya.


" Dara Kenapa kamu menangis. Mama Bukannya tidak ingin bercerita kepada kamu. Tapi mama tidak ingin kamu membenci papamu sendiri. Mamah takut kalian berdua akan terluka. Dan itu akan mempengaruhi kepada kalian" niana mencoba menjelaskan kepada putrinya.


" Bagaimanapun keadaannya, seharusnya Mama tidak menutupi dari kita berdua. Bagaimanapun juga semua akan diketahui oleh Dara dan Jelita. Kalo selama ini Papa sudah menyakiti mama, Berarti Papa juga menyakiti kita berdua" Dara tetap pada pendiriannya. Iya kembali mengusap air mata yang terus menetes itu. Akhirnya Miana luluh juga dengan putrinya. Iya berusaha mengusap air mata itu lalu menarik Dara dalam pelukannya. Dalam pelukan itu mereka menangis bersama.


" Tak ada yang lebih sakit daripada melihatmu menangis sayang. Mama hanya tidak ingin membuat kamu sedih. Jadi tolong jangan menangis lagi." di mana Miana semakin erat memeluk putrinya.


" Papa... Papa tidak kembali karena dia sudah tidak ingin melihat kita lagi ya ma? " pertanyaan dari Dara membuat air mata Miana mengalir semakin deras. Bahkan ia tidak mampu untuk menjawab pertanyaan itu. suaranya seperti tertahan di tenggorokan.


" Kalau Papa sejahat itu, kita tidak boleh membalasnya dengan kejahatan ya Ma. Kita tunggu saja sampai Papa benar-benar sadar. mu2lai sekarang kita harus membiasakan diri hidup tanpa papa" dan apa yang dikatakan oleh putrinya Itu seakan benar-benar membuat Miana Semakin rapuh. Bagaimana mungkin seorang anak berusia 9 tahun memiliki pemikiran yang begitu dewasa. Bahkan Miana pun masih suka mengeluh dalam kesendiriannya.

__ADS_1


" Tapi kamu janji ya nak. Jangan kasih tahu adikmu terlebih dahulu. Nanti kita beri tahu kepada adik secara pelan-pelan. Dia masih terlalu kecil untuk menerima sebuah kenyataan pahit seperti ini" Miana mengatakan dengan suara seraknya.


" Berarti mulai sekarang kita tidak boleh mengharapkan papa untuk kembali lagi ya ma. Dara akan menganggap jika Papa sudah pergi dan tidak akan pernah kembali lagi" semakin deras air mata yang mengalir dari sudut mata mereka berdua.


" Kita salat malam ya" Miana melepaskan pelukan putrinya lalu mengajaknya untuk salat malam. Dara pun menanggapinya dengan menganggukkan kepala.


" kita ambil wudhu dulu" Miana mengusap air mata yang masih mengalir di kedua pipi putrinya. Setelah itu mereka pun berdiri dan berjalan menuju ke kamar mandi yang ada di kamar itu untuk mengambil wudhu.


"Mama... Jadi kita harus merahasiakan ini dari Jelita? " Pertanyaan Dara membuat Miana mengangguk mendengar pertanyaan dari putrinya.


"Jelita itu masih terlalu kecil sayang. Kalau kamu sudah sedikit dewasa dari pada adikmu. Jadi biarkan nanti dia tahu dengan perlahan-lahan." Miana nenjelaskan kepada putrinya.


"Baik mah. Dara janji akan mencoba merahasiakan dari Jelita" Dara berjanji kepada sang ibu. Mereka kembali berpelukan.


"Iya ma. Besok kalau sudah terdengar adzan dan mama bangun terlebih dahulu, mama bangunkan Dara ya" Dengan perlahan Dara mengucapkan.


"Iya sayang. Insya Allah mama akan membangunkan kamu" Miana mengangguk dengan senyuman di bibirnya. Dan mereka pun naik ke atas tempat tidur.


"Mama... Dara balik ke kamar Dara sendiri saja ya. Kasihan Jelita kalau bangun terus Dara ngga ada di sana" Baru akan terlelap. Dara kembali membangunkan Miana.


"Iya sayang. Lebih baik kamu temani adik mu" Miana mengangguk. Akhirnya Miana terbangun kembali. Iya ingin mengantarkan Dara ke kamarnya sendiri.


"Mama... Sampai sini saja ya. Dara bisa masuk sendiri. Mama kembali aja ke kamar mama sendiri" Dara meminta Mama nya untuk kembali. Dan Miana mengangguk.


"Ya sudah, mama ke kamar dulu ya. Kamu cepat tidur. Selamat malam nak" Balas Miana.

__ADS_1


"Malam ma. Mama juga segera tidur ya" Balas Dara kembali. Setelah memastikan Dara naik ke tempat tidurnya, Miana menutup pintu dengan pelan-pelan. Setelahnya iya kembali kamarnya sendiri. Setelah masuk, Miana pun tertidur.


Pov Atika Dan Prasetyo.


"Tika... Bangunlah. Ini sudah siang" Panggil Prasetyo kepada Atika yang masih tertidur dengan pulas. Mendengar panggilan dari Tiyo, Atika merasa tidurnya benar-benar terusik. Padahal iya tadi tertidur sudah sangat larut. Iya harus beradaptasi dengan tempat tinggal barunya, makanya iya tidak bisa langsung tertidur.


"Hmmm... Apa sih. Aku masih ngantuk banget ini" Ucap Atika dengan mata yang masih terpejam. Iya menepis tangan Prasetyo yang berusaha membangunkannya.


"Tika, bangunlah. Katanya kamu mau mendaftarkan Firman ke sekolah barunya. Kita harus mencari sekolah terdekat dari sini. Mencari perlengkapan nya juga. Dan semua itu memerluka Waktu." Prasetyo berkata panjang lebar ke Atika yang masih tertidur dengan pulas. Seketika Atika pun langsung bangun di saat mendengar apa yang di katakan oleh Prasetyo.


"Sekarang jam berapa sih? " Tanya Atika yang masih belum mengumpulkan nyawanya semua.


"Jam setengah 9" Jawab Prasetyo.


"Apa? " Atika langsung membuka matanya lebar-lebar. Seketika nyawanya langsung terkumpul mendengar Prasetyo mengatakan jam setengah 9.


"Kamu kenapa ngga bangun dari tadi sih? " Atika merajuk. Saat ini ganti Prasetyo yang membulatkan mata karena terkejut dengan apa yang di katakan oleh Atika, istri siri nya itu.


"Atika, aku sudah membangunkamu berkali-kali. Tapi kamu hanya menggeliat setelah itu tidur lagi.


"Udah telat banget kan Tiyo kalau kita mau mencari sekolah untuk Firman" Atika berkata dengan ketus.


"Untung kamu cantik Tika. Jadi aku ngga jadi marah. Yang salah siapa yang di salahkan siapa" Prasetyo hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Atika.


"Sudah... Cepat bangun terus bersiap-siap. Mumpung masih ada waktu" Prasetyo meninggalkan Atika yang masih termangu di atas tempat tidur.

__ADS_1


__ADS_2