
"Kamu mau tahu mas? Iya, kamu mau tahu apakah aku bisa memaafkan mu atau belum. Baik, biar aku kasih tahu ya" Miana yang merasa jengkel pun bangun lagi dan mendekat ke arah suaminya yang menurutnya sudah hilang dari hatinya.
" sekarang aku tanyakan kepadamu, apa yang ingin kamu ketahui dari aku selain aku sudah memaafkanmu atau belum" niana berjalan perlahan-lahan hingga membuat beberapa langkah. Liana tidak merasa takut ataupun bagaimana. Iya Malah semakin geram kepada sang suami yang yang menganggap dirinya tidak punya salah kepada niana.
" sekarang aku juga ingin bertanya... Apakah kamu memiliki salah kepadaku ataukah tidak? " miana menatap tajam kedua mata milik Prasetyo. sambil terus berjalan maju. membuat Prasetyo semakin menabrak tembok di belakangnya.
" jawab pertanyaan aku, apa kamu merasa memiliki salah kepadaku? " pertanyaan miana membuat Prasetyo merasa ngeri dengan sikap sang istri saat ini.
" kalau kamu diam. maka aku juga akan diam" miana masih melotot ke arah Prasetyo yang di mana miana dalam melihat mata Prasetyo sambil mendongak karena perbedaan tinggi badan mereka.
" 1... 2... 3... Baiklah karena kamu tidak mau menjawab apapun yang aku tanyakan, maka aku pun juga akan diam" miana berbalik arah membelakangi Prasetyo. Iya kembali ke sofa untuk tidur di sana.
" Kalau kamu tidak mempunyai salah kepadaku, Kamu tidak akan setakut ini ketika aku ingin memintamu jujur" miana berjalan ke sofa sambil bergumam sendiri. sedangkan Prasetyo benar-benar Siap dengan apa yang dilakukan oleh istrinya. dia tidak mengira jika miana akan bersikap lebih ganas daripada orang jahat sekalipun. membayangkan suatu saat kebusukannya diketahui oleh miana, membuat Prasetyo bergidik ngeri. Iya terus memandang ke arah miana yang terlihat benar-benar marah. hingga sebuah ketukan menyadarkan Prasetyo yang sedang melamun membayangkan Bagaimana miana nanti. Prasetyo segera berjalan ke arah pintu untuk mengetahui Siapa yang mengetuk pintu kamarnya malam-malam seperti ini.
beberapa langkah saja Prasetyo sudah tiba di depan pintu. di saat ia akan memutar knop pintu, terdengar suara TV dinyalakan. dan di saat ia menoleh, ternyata miana menyalakan tv. Prasetya pun langsung kembali fokus untuk membuka pintu kamarnya.
"Iya sebentar" Suara prasetyo menghentikan orang yang mengetuk-mgetuk pintu itu.
"Kak Tikaa..." Prasetyo terkejut karena Atika berani mengetuk pintu kamarnya di saat orang-orang sudah akan beranjak tidur.
" Ada apa kak? " tanya Prasetyo pura-pura.
"Si Firman nelepon aku nih. katanya dia nggak berani di rumah sendirian, apapun aku minta tolong kamu untuk mengantarkan aku pulang malam ini" ketika membuat alasan bahwa putranya mencarinya dan ia harus segera pulang.
" siapa Mas? " miana yang mendengar bahwa yang mengetuk pintu adalah etika segera bangun dari duduknya. Iya pun berjalan mendekati pintu untuk melihat apa yang terjadi. dan ternyata Atika meminta Prasetya untuk mengantarkannya pulang malam ini.
" aku harus pulang malam ini miana, Firman mencari aku terus dari tadi. katanya dia takut di rumah sendirian" ketika mencoba menjelaskan kepada adiknya, miana malah kembali ke sofa dan mengambil sesuatu, lalu ia kembali lagi ke depan pintu.
__ADS_1
" Iya Pak sekarang siapkan mobilnya, karena Kak Tika ingin pulang malam ini juga. sebentar lagi Kak Tika akan keluar" entah sedang berbicara dengan siapa, yang pasti miana sedang menggenggam ponsel di tangan kanannya.
" Kak Tika tidak perlu meminta Prasetya Untuk mengantarkan Kakak pulang malam ini. satpam di luar sudah menyiapkan mobil Untuk mengantarkan Kakak pulang" miana tidak perlu berbasa-basi untuk melarang suaminya mengatakan artikel.
" Mas Tio malam ini sangat lelah, jadi tidak akan aku biarkan dia keluar. dia harus beristirahat karena besok pagi harus kembali bekerja" setelah berkata seperti itu, niana menarik lengan Prasetyo untuk segera kembali masuk ke dalam kamar. sedangkan Atika yang sejak tadi berdiri di depan pintu, memutar badannya lalu berjalan menuju ke arah pintu keluar. perasaan di hatinya kesal bukan main. Iya yang telah merencanakan sesuatu, Ternyata harus gagal di tangan miana. Bahkan ia tak menjawab miana sepatah kata pun.
" kamu di sini saja mas... Aku mau mengantarkan Kak Tika keluar dulu" miana meninggalkan prasastinya di dalam kamar sendirian.
" Tolong antarkan Kak Dika sampai ke rumahnya dengan selamat ya Pak. kasihan kalau sampai Firman menunggu di rumah kelamaan" ucap miana kepada satpam yang ia suruh Untuk mengantarkan Atika.
"Baik nyonya, saya pasti akan mengantarkan nyonya Tika sampai di rumah dengan selamat" mobil pun perlahan bergerak keluar gerbang, miana segera masuk ke dalam rumah dan mengunci kembali pintu utama. Iya tersenyum getir ketika mengingat Bagaimana sang kakak meminta suaminya Untuk mengantarkan pulang ke padahal ada istrinya di sana.
" kita lihat saja nanti bagaimana akhir dari semua ini. Aku tidak mau ambil pusing dengan semua kejadian yang ada" miana mengusap setitik air mata yang kini perlahan membasahi pipinya. begitu dirasa air mata itu sudah cukup kering, miana segera kembali masuk ke dalam kamar.
"Miana...? " Panggil Prasetyo. miana hanya menoleh lalu terus berjalan menuju ke arah sofa.
"Miana..."Dengan nada membentak, Prasetyo memanggil istrinya lago karena sejak tadin tidak mendapat jawaban.
"Kamu bukan sopirnya kan? " Kini Miana menjawab dengan pelan sambil memakai selimut di tubuhnya.
"Iya aku tahu aku bukan sopirnya, tapi setidaknya kamu punya hati sedikit lah kepada saudara mu sendiri. Masa kamu tega..."Perkataan Prasetyo mendadak terhenti karena Miana memotongnya.
"Punya hati sedikit atau banyak? "Pertanyaan ini membuat Prasetyo terdiam.
"Memang nya kamu siapanya kak Tika. Hingga harus repot-repot mengantarkannya di tengah malam begini? " Miana masih menghujani Prasetyo dengan pertanyaan. Iya ingin Prasetyo menjawabnya dengan jujur melalui pertanyaan sindiran yang ia lontarkan.
" kepadaku saja kamu tidak segesit ini, tapi kepada kakak ku kamu begitu merespon dengan baik. ada apa? " miana yang telah bangun dari tidurnya segera memberikan pertanyaan itu kepada Prasetyo.
__ADS_1
" apa ada alasan khusus Kamu Harus mengantarkannya Pulang? " Miana masih berkata dan Prasetyo masih dengan ke bisuannya.
" atau memang pada larangan, aku menyuruhmu tetap di rumah? toh sama saja kan, dengan diantarkan oleh satpam Kak Tika juga akan sampai di rumahnya. dan tidak diantarkan dengan kamu pun dia juga akan sampai. apa yang menjadi masalah untukmu? " Prasetyo tidak mampu menjawab apa yang diucapkan oleh miana saat ini.
" atau ada alasan lain lagi? " Diana masih stay dalam pertanyaan yang menyudutkan Prasetyo. ada air mata yang hampir tumpah dari semua pertanyaan-pertanyaan itu. namun hati miana yang sudah terasa kebas hanya mampu membendungnya. Iya tak ingin disangka lemah di hadapan lelaki yang tidak punya hati itu.
" Kalau kamu tidak bisa menjawab, aku anggap kamu memang memiliki salah yang begitu besar kepadaku. sudah malam tidurlah! " miana kembali merebahkan tubuhnya di atas sofa sempit. setelah menutupi tubuhnya dengan selimut, miana berusaha memejamkan matanya. meninggalkan Prasetyo dalam gelapnya kamar yang lampunya sudah ia matikan. Prasetyo masih mematung di samping sofa yang ditiduri miana. hingga menit berikutnya, Iya kembali ke tempat tidur.
"Siaall... Bahkan aku tidak bisa menjawab semua perkataan wanita ini" Prasetyo pergi dengan rasa penuh ke khawatiran dalam hatinya.
"Apa mungkin Miana tahu tentang hubungan ku dengan Atika? "
"Aku rasa dia tidak tahu... Tapi... Ah sudahlah, mungkin dia sedang mengarang cerita. Untuk membuatku tunduk kepadanya. Jangan harap Miana" Prasetyo merasa takut juga merasa jengkel terhadap istrinya. Akhirnya prasetyo menarik selimut untuk menutupi dirinya.
Pov Atika.
"Kurang ajar si Miana. Padahal aku sudah beralasan Firman untuk membohonginya. Tapi kenapa dia malah malah bersikap seperti itu." Atika berkata dalam hati. Iya benar-benar merasa jengkel atas apa yang di katakan oleh Miana. Dia merasa begitu geram di saat Miana melarang suamimya untuk mengantarkannya pulang.
"Biasanya kalau masalah Firman, Miana akan langsung luluh. Tapi kenapa hari ini dia begitu protektiv. Beralasan prasetyo lelah harus beristirahat. Awas saja kamu Miana." Dalam hati, Atika benar-benar ingin menjambak rambut Miana. Iya ingin melimpahkan semua kekesalan dalam hatinya kepada adiknya yang menurutnya sombong itu.
"Huuuhh, bug bug bug" Atika meninju jok mobil yang di dudukinya. Hingga satpam yang menjadi sopir di depannya itu merasa kaget.
"Maaf nyonya, ada apa? " Dia bertanya karena tiba-tiba saja Atika memukul kursi.
"Jangan ikut campur, aku tidak butuh pertanyaanmu" Jawaban atika membuat satpam tersebut langsung terdiam. Iya tidak berani bertanya lagi. Pengemudi mobil tersebut hanya fokus pada kendali setirnya saja. Dan pada saat mereka melewati sebuah jalan yang cukup sepi, mobil yang di naiki Atika tiba-tiba oleng. Atika menjerit karena sebuah bayangan yang cukup tinggi menghentikan laju mobil tersebut. Bayangan tersebut membuat Atika kehilangan kesadarannya.
Hai reader tercintahh kuuu, jangan lupa kasih dukungan yaaa.. Like sama commentnya jangan lupa. Apalagi tekan subcribe, gratis loh...
__ADS_1