
Atika yang baru saja tak sadarkan diri merasa kepalanya begitu pusing. Saat iya membuka matanya, iya tak bisa menggerakkan badannya. Dia duduk di sebuah kursi dengan tangan dan kaki di ikat serta mulutnya di bekap. Atika berteriak sekeras mungkin untuk meminta pertolongan.
"Eeemmmm... Eee eeemmmmm" Hanya kalimt itu yang terdengar ketika Atika berteriak. Tak lama setelah itu, datanglah 2 orang yang tak iya kenal. Karena dua orang itu mengenakan masker dan juga penutup kepala. Mereka perlahan-lahan berjalan mendekati Atika. Dan tak lama setelah dua orang laki-laki dan perempuan itu datang, masuklah seorang laki-laki dengan tubuh tegap. Terlihat begitu menakutkan bagi Atika. Mereka bertiga berdiri tepat di hadapan Atika yang duduk dengan tangan dan kaki terikat. Atika memandang takut ke arah Ketiga orang tersebut.
"Selamat malam Nyonya Atika" begitu Salah satu dari Ketiga orang tersebut berbicara, Atika langsung mengenali Siapa orang tersebut.
"Eeemmm..." Mulut Atika yang tersumpal lakban warna hitam tak bisa berkata dengan jelas.
"Hmmm... Mau apa? " Tanya wanita yang di kenali oleh Atika itu.
"Ooh... Kamu mau di lepaskan? Okee, Kamu, lepaskan wanita berandal ini! " Wanita itu menyuruh salah satu lelaki di belakangnya untuk melepaskan lakban di mulit Atika. Dan lelaki itupun melangkah lalu melepas lakban tersebut dengan kasar.
"Haaahh Haahh..." Teriak Atika menahan rasa sakit di wajahnya karena tarikan untuk melepas lakban tersebut begitu keras.
"Miana... Kamu..." Ucapan Atika terhenti.
"Sssstttt... Kakak ku Atika tersayang, aku tidak ingin mendengar kamu berkata apa-apa" Miana meletakkan satu jarinya di atas bibir Atika sambil mengatakan itu. Tentu saja Atika melotot kaget dengan apa yang diucapkan oleh Miana. Namun karena rasa takut, Atika tidak berani berkata sesuai dengan yang diucapkan oleh Miana.
" Kenapa? Kamu terkejut aku berbuat seperti ini kepadamu? Ngga nyangka ya kalau aku juga bisa berbuat jahat. Ngga ngira kan? " Miana berkata sambil mengitari sang kakak.
"Apa mau mu? " Tiba-tiba dengan penuh perjuangan, Atika bisa bertanya kepada miana walaupun dengan rasa aku takut.
" Kamu mau tahu apa mau aku? Hmmm, mau tahu? " Kini seakan Miana berubah menjadi wanita terjahat yang pernah Atika temui.
" Kalau kamu nggak mau bicara, otomatis itu berarti kamu nggak mau tahu apa yang aku inginkan. Iya, seperti itu kan maunya kamu? " Miana semakin menjadi-jadi membuat Atika semakin ketakutan.
"Tapi... Aku ngga akan pelit hanya untuk sekedar memberitahumu. Parlan, kasih tahu wanita tidak tahu diri ini apa mau ku" Miana memanggil Parlan yang terlihat seperti pengawal mata Atika. Setelah mendengar apa yang diperintahkan oleh miana, Parlan maju dengan mengeluarkan sebuah pisau yang terlihat begitu tajam.
"Miana... Apa-apa an kamu? Apa yang mau kamu lakukan? " Atika semakin ketakutan melihat Parlan berjalan mendekat.
"Dan kamu Agung, tunjukkan kepada dia juga" Miana masih berkata dengan tegas. Lelaki yang bernama Agung itu pun maju, mengeluarkan sebuah samurai panjang yang terlihat begitu mengerikan. Atika semakin menciut nyalinya.
"Miana, apa kamu sudah gila. Aku ini kakak kamu. Apa yang mau kamu lakukan ke aku? " Atika berteriak sekuat tenaganya.
__ADS_1
"Apa lagi kalau bukan..." Miana menghentikan ucapannya, lalu melirik ke arah Atika sambil tersenyum sinis.
"Bagaimana? Apa kamu sudah siap? Kalau sudah, aku akan mengabulkan permintaanmu yang terakhir. Tapi kalau kamu belum siap saat ini juga, maka aku akan membiarkanmu terlebih dahulu. Tapi akan aku lepaskan 2 ekor buaya jantan, 3 ekor harimau betina dan 5 ekor singa pejantan. Supaya apa? Supaya kamu bisa merasakan sakit sebelum kamu pergi" Miana tersenyum saat mengatakan hal sadis tersebut.
"Miana, apa maksud kamu. Kamu ingin aku mati dengan di cabik-cabik oleh semua tadi? " Atika berteriak. Dan saat mendengar itu, Miana menutup telinganya. Begitu Atika sudah selesai bicara, Miana menurunkan kedua tangan yang menutupi telinganya.
"Jangan berteriak kakak ku yang paling jahat. Kamu tahu kan tujuan ku sekarang. Dan tanpa kamu berteriak pun aku sudah mendengar" Miana berbisik di samping telinga Atika.
"Kenapa kamu berubah Miana? Kenapa kamu melakukan ini semua? " Atika menangis saat mengatakan itu. Air matanya kini benar-benar menetes membasahi ke dua pipinya.
"Karena kamu sudah merusak mimpiku. Mimpi anak-anakku serta semua harapan yang ku bangun bersama Prasetyo. Dan kamu tahu, benar kata pepatah. Bahwa cinta itu bisa merubah seseorang. Dan ini buktinya" Miana berkata dengan keras seperti berteriak di dekat telinga Atika.
"Kenapa kamu melakukan itu? Kenapaaa? Apa tidak ada lelaki lain di luaran sana yang tidak memiliki tanggung jawab selain suamiku. Apa kamu tidak menemukan lelaki sebaik suamiku, hingga kamu tega merebutnya dariku. Lalu kenapa aku tidak boleh berubah menghadapi wanita murahan sepertimu? " Miana menyatakan kekesalan kepada kakak kandungnya.
"Lalu... Siapa yang jahat? Kamu lebih sadis menyakiti hati ku dan anak-anak ku. Kamu lebih kejam menghancurkan mimpi Dara dan Jelita di saat mereka sangat membutuhkan kasih sayang dari ayahnya. Lalu siapa yang jahat di sini? " Miana berteriak tepat di depan Atika. membuat Atika menutup matanya karena takut.
" Kamu tahu Atika... Kalau luka yang kamu goreskan Hanya seperti ini, Ssiiir..." Miana tak melanjutkan ucapannya.
"Aahh, sakit Miana" Teriak Atika kembali karena Miana menggoreskan luka kecil di pipinya.
"Sakit ini tidak seberapa di bandingkan dengan luka batin yang sudah kamu goreskan di hatiku dan kedua anak ku. Apa kamu tidak punya otak untuk berfikir? Apa kamu tidak punya hati nurani untuk merasakan sebuah kebaikan? Kenapa kamu begitu sadis mencabik-cabik hati adikmu sendiri? Terbuat dari apa sebenarnya hatimu itu? " kali ini Miana merendahkan suaranya seakan berbisik tepat di samping telinga Atika.
" Kenapa? Apa kamu menyesal dengan semuanya? Tapi sayangnya, Hatiku sudah berniat dan bertekad bulat untuk membuatmu pergi dari kehidupan keluargaku" Miana dengan tegas Berkata sambil berdiri tegak kembali.
" Ini adalah imbalan yang setimpal karena kamu sudah menyakiti hati banyak orang"
"Parlan, Agung... Lakukan sekarang juga" Perintah Miana langsung di laksanakan oleh Parlan dan Agung. Keduanya berjalan ke depan mendekati Atika. Di saat sebuah benda tajam itu mendekat, Atika berteriak kencang.
"Tidaak... Tolong jangan lakukan itu. Tolong, aku mohon. Miana... Tolong hentikan tolong. Aku berjanji tidak akan menggangumu kembali..." Atika memohon.
"Sayangnya sudah terlambat Atika. Parlan, Agung. Lakukan sekarang juga! Perintah Miana sekali lagi.
"Baik nyonya" Parlan menatap Atika dengan tajam. Dan Agung sidah menghunuskan samurai nya. Iya mengangkatnya tinggi-tinggi.
__ADS_1
"Aaaaaaa... Tidaaakkk" Teriak Atika.
"Nyonya Atika.. Nyonya Bangun! " Tiba-tiba Atika mendengar namanya dipanggil oleh seseorang. Ia pun dengan perlahan membuka matanya.
"Heh heh hehh..." Nafas Atika terdengar begitu ngos-ngos an.
"Apa nyonya mengalami mimpi buruk? " Satpam yang bernama pak Agung tersebut bertanya.
"Apa? Mimpi buruk? Berarti aku tadi hanya mimpi? " etika bertanya sambil mengatur nafasnya yang tidak karu-karuan.
" Setelah nyonya Atika menyuruh saya untuk diam di dalam mobil tadi, Nyonya Atika tertidur. Dan tidak lama sebelum kita sampai di rumah, Nyonya Atika berteriak. Saya sudah berusaha membangunkan Nyonya tapi tidak kunjung bangun juga. terakhir Nyonya berteriak, dan akhirnya bangun" penjelasan satpam tersebut membuat etika bernafas dengan lega.
" jadi hanya mimpi. semua itu tidak benar-benar terjadi. Syukurlah" Atika bergumam sendiri.
" tapi kita sudah sampai Nyonya. Anda mau turun atau tidak? " Pak Agung bertanya kepada Atika yang masih betah duduk di dalam mobil sambil mengingat-ingat mimpi buruk yang barusan ia alami.
" aku mau turun..." setelah mengumpulkan seluruh kesadarannya, Atika pun membuka pintu mobil lalu turun.
"Pulanglah! Terima kasih sudah mengantarkanku" Hanya itu yang diucapkan oleh Atika kepada Pak Agung. Setelah turun Ia pun hanya berjalan masuk ke dalam rumahnya. tanpa berbasa-basi menyuruh Agung untuk istirahat atau untuk masuk terlebih dahulu.
setelah masuk dan berada di dalam kamarnya, Atika duduk termenung di atas tempat tidur. Iya kembali mengingat-ingat mimpi buruk yang dialaminya barusan.
" miana kalau sudah marah ternyata sangat menakutkan. semoga saja itu semua hanya terjadi di dalam mimpi. dan tidak dalam dunia nyata. kalau sampai miana berubah dan sangar seperti dalam mimpi tadi, maka aku tidak akan bisa berbuat apa-apa" Atika bergumam sendiri ketika ia mengingat kembali seluruh rangkaian mimpi nya.
" tapi mimpi itu pertanda apa ya? " miana masih berpikir dengan keras setelah ia merebahkan tubuhnya di pinggiran ranjang.
" Apa mungkin ini pertanda kalau aku harus mundur dan tidak mengganggu keluarganya? " saya akan terus terngiang di dalam pikirannya tentang mimpi itu. etika masih memikirkannya.
" tidak tidak... itu hanya sebuah mimpi. dan mimpi hanyalah Bunga Tidur. jadi aku tidak boleh takut" Atika menghibur dirinya sendiri. setelah mengatakan itu, Atika langsung bangun dan menuju ke kamar mandi. dia ingin mencuci muka lalu mengganti bajunya dengan baju tidur. Setelah selesai iya kembali ke kamar dan langsung merebahkan diri di atas tempat tidur. Namun saat akan kembali memejamkan mata, Atika kembali teringat akan mimpi buruknya. akhirnya miana hanya bisa berguling ke kanan dan ke kiri sambil menunggu rasa kantuk menyerang.
Pov Miana.
"Aku tidak boleh lemah menghadapi semua ini. kalau aku lemah berarti aku kalah. kalau aku menyerah Aku tidak akan bisa melihat anak-anakku bahagia" niana berbaring di atas sofa yang sempit, dalam diamnya, air mata yang menetes itu tidak ada hentinya. ya menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut yang diambilnya tadi.
__ADS_1
" Dara dan Jelita tidak boleh tahu tentang semua ini. tentang ayahnya yang brengsek, tentang budenya yang begitu sadis. mereka harus tumbuh tanpa luka. kalau sampai mereka mengetahui semuanya, maka hati mereka akan terluka. dan itu akan dibawanya hingga nanti mereka dewasa." Miana bertekat dalam hatinya untuk tidak memberitahu ke dua putrinya. Miana pun kembali memejamkan matanya Walaupun sulit.
Belum ada 10 menit Miana terlelap dalam tidurnya. Tiba-tiba saja ras haus yang teramat sangat menyerang tenggorokannya. Karena air yang di simpan dalam botol habis, Miana terpaksa harus mengambil air minum ke dapur. Dengan perlahan iya keluar kamar. Dan di saat iya sudah sampai depan pintu dapur. Miana mendengar suara aneh. Karena penerangan yang tidak jelas, Miana tak bisa melihat apa yang sedang berada di dapur.