
"Bagaimana? " Setelah Miana masuk dan duduk di kursi penumpang di sampingnya, Parlan bertanya. Miana tak menjawab dengan ucapan. Namun iya tersenyum dan memandang Parlan sambil memegang dadanya. Bermaksud memberitahu jika ada kelegaan di dalam dadanya yang tadinya terasa sesak seperti terhimpit.
"Terimakasih... Aku merasakan sesuatu yang berbeda pagi ini" Miana tersenyum. Kali ini wajahnya terlihat lebih fress dan segar.
"Efek air wudhu memang beda" Gumam Parlan.
"Kenapa ngga dari kemarin-kemarin sih? " Perkataan Miana membuat Patlan menoleh kepadanya.
"Kamu juga, kenapa baru sadar di saat sudah mendapat ujian? " Kini Tanpa menoleh dan fokus pada kendali setirnya, Parlan mengatakan.
"Sudah sudah nyonya Miana. Kita tidak boleh dalam mode kakak adik lagi. Takut timbul fitnah yang tidak-tidak" Parlan kembalin dalam mode cueknya.
"Sebenarnya aku lebih nyaman kalau kamu panggil Miana saja, bukan nyonya" Miana terlihat tidak suka.
"Ini adalah batas nyonya. Karena bagaimana pun, menjadi seorang kakak dari majikan itu sesuatu yang berbeda" Parlan mengatakan hal yang iya rasakan.
"Terserah mu lah..." Miana sudah tahu bagaimana karakter Parlan. Iya pun tersenyum. Karena sejak dulu, jika dirinya ada masalah, Parlan selalu ada.
"Wanita itu simple, yang ribet cuma kata terserah sama gpp aja" Parlan berkata sambil tersenyum menanggapi wanita di sampingnya.
"Gitu ya? Terserah sama gapapa? Berarti dulu almarhum Arum juga seperti itu? " Miana bertanya.
"Kurang lebih" Dengan santai Parlan mengatakan. Tanpa mereka sadari, mereka sudah sampai di depan gerbang rumah Miana.
__ADS_1
"Ingat Miana... Jangan terpancing emosi. Kamu harus menjadi wanita kuat" Parlan sekali lagi berkata.
"Siap kakak... Aku akan melakukan apa yang kakak katakan" Miana tersenyum. Walau sebenarnya dalam hati, dia begitu tersiksa. Membayangkan saja begitu jijik untuk bertemu dengan Prasetyo. Parlan pun juga tersenyum.
Miana turun dari mobil lalu melangkah masuk ke dalam rumah. Di lihatnya sekeliling rumah untuk mencari tahu keberadaan Prasetyo. Semua ruangan sudah tersapu oleh pandangannya, namun prasetyo tidak ada dalam ruang tamu. Miana pun beranjak ke ruangan lagi.
"Assalamu'alaikum..." Miana mengucap salam. Namun hanya jawaban dari ART yang terdengar.
"Bapak kemana ya bi? " Miana bertanya.
"Ada di kamar nyonya" Seorang ART datang dan mendekat begitu Miana bertanya.
"Oke... Aku akan kesana" Miana pun meninggalkan ART nya sendiri. Iya segera masuk ke dalam kamar.
"Miana" miana mendengar suara Prasetyo. Dan setelah ditelusuri, ternyata Prasetyo duduk di sofa. Miana pun mendekat.
"Dari mana kamu? " Tanya Prasetyo dingin.
"Aku dari mengantarkan Dara dan Jelita. Ada apa mas? " Miana menjawab sambil duduk.
"Apa ini? Aku butuh penjelasan" menunjukkan sebuah gambar di layar ponselnya. Di sana terdapat foto Miana dan Bagas yang duduk satu meja di caffe saat itu.
"Itu Bagas mas. Temen aku waktu SMK" Miana menjawab dengan jujur.
__ADS_1
"Kenapa kamu menemuinya... Disaat aku tidak ada din rumah? " Pertanyaan Prasetyo membuat Miana menghirup nafas panjang. Iya terus mengingat perkataan Parlan. Bahwa dirinya tidak boleh terpancing emosi.
"Kita tidak sengaja bertemu mas. Saat itu..." Perkataan Miana terhenti.
"Saat itu kamu memang sengaja menemuinya sebagai undangan khusus kan? " Prasetyo berkata dengan lirih namun menusuk. Air mata Miana kembali menetes. Namun iya menahannya.
"Ibu sudah menceritakan semuanya. Dia bahkan melihat dengan mata kepalanya sendiri kamu berduaan dengan lelaki itu" kali ini Prasetyo lebih percaya kepada orang tuanya.
" Mas aku nggak pernah berbuat seperti yang kamu tuduhkan. Awalnya kita tidak sengaja bertemu, lalu sambil menunggu Dara dan cerita pulang sekolah. Aku menyarankan untuk minum sebentar Cafe itu. Lagian aku nggak cuma berdua kok dengan Bagas. Ada Rendy di sana" miana mencoba menjelaskan kepada suaminya.
" Jangan beralasan dengan adanya Rendy, Kebusukan kamu itu tidak ada yang tahu. Dalam foto itu sudah jelas-jelas kamu berdua dengan Bagas. Dan tidak ada Rendy di sana" Prasetyo tetap bersihKukuh menuduh istrinya.
" Terus alasan apalagi yang akan kamu berikan tentang putusnya kerjasama antara AIA corporation dengan perusahaan ayah? " kini Prasetyo lebih mendukung orang tuanya.
" Aku bahkan tidak tahu apa-apa tentang kerjasama itu. Kenapa Mas Tio malah menuduhku yang bukan bukan. Apa kamu sudah kehilangan kepercayaan kepada istrimu yang sudah kamu kenal luar dalam ini. Apa kamu lebih percaya kepada orang lain dari pada krpada istrimu yang sudah menemani kamu bertahun-tahun? " Miana berkata di dekat Prasetyo.
" Apa... apalagi yang akan kamu katakan untuk menjadikan alasan semua ini. Bahkan di saat kamu bernafas pun aku tidak percaya itu. Apa kamu tahu tentang semua yang telah Ibuku ceritakan tentang kamu. Apa kamu masih terlalu percaya diri untuk mengelak dari semua kenyataan." Prasetyo benar-benar kehilangan kepercayaan kepada istrinya. Dan ia lebih mempercayai ucapan ibunya.
" Oh jadi begitu... Baiklah kalau memang kamu sudah tidak bisa lagi percaya kepadaku" Miana pun meletakkan tasnya setelah itu ia berlalu dari hadapan Prasetyo. Iya tidak ingin membuang energinya hanya untuk menahan amarah ketika berhadapan dengan suaminya yang saat ini benar-benar sudah hancur di pandangannya. Terlihat Prasetyo yang tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Miana beserta sikapnya.
" Kalau ada apa-apa, Jangan pernah mencariku. Kalau kamu sudah tidak percaya kepadaku, maka aku pun akan seperti itu. Kalau kamu memang orang pandai, dan kalau kamu orang yang profesional dalam segala hal, Seharusnya kamu tidak membuat keputusan untuk percaya kepada satu pihak yang menceritakan sebuah kisah. Seharusnya kamu mencari kebenaran dari apa yang diceritakan dari kedua belah pihak. Namun ketika hatimu sudah membeku, pikiranmu sudah tak sejalan denganku, beserta ego yang lebih kau kedepankan. Maka lakukan saja apa yang menjadi niat di dalam hatimu. Terserah! " Miana sudah muak dengan semua kebohongan Prasetyo. Iya berjalan dan masuk ke kamar mandi. hatinya seakan ditusuk sebilah pedang, dicincang dengan pisau daging, serta dipanah dengan anak panah yang begitu banyak. Hingga lukanya bertubi-tubi. miana duduk di atas bathtub. Iya terdiam, mencoba meredam segala amarah dan emosi yang kian memuncak. Untuk leboh menenagkan hatinya, Miana berwudhu. Sakit di hatinya melebihi ketika melihat bahwa Prasetyo menggandeng tangan Atika dan memasuki Hotel saat itu. Sebuah takdir yang memang harus Miana jalani. Ketika ia sudah pasrah dengan semua keadaan yang Tuhan kehendaki untuk dirinya, masih ada lagi hal baru yang terus muncul untuk memberatkan semua keadaan.
Miana sadar, bahwa menghindari masalah bukanlah pilihan yang tepat. akhirnya Ia memutuskan untuk keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
"Miana... Maafkan aku" Kini Prasetyo sudah berdiri di depan pintu kamar mandi. Miana terdiam. Iya terus berjalan melewati Prasetyo. Entah apa yang iya rencanakan.