
"Tapi mbok, mama ku pasti mencari" Jelita tidak langsung menurut saja.
"Sembuh dulu ya cah ayu. Nanti kalau audah sembuh, mbok antarkan kamu pulang." Mbok Darmi berkata dengan pelan. Dan akhirnya Jelita harus menerima nasib, harus bertahan hidup di tempat ini dengan orang asing. Yang di mana nya tempat yang saat ini iya berada, Jelita pun tak tahu.
Dua minggu kemudian.
Hari berlalu dengan begitu cepat. Sudah dua minggu Miana mengerahkan semua orang-orangnya untuk mencari Jelita. Namun hasilnya sama saja. Semua usahanya masih belum membuahkan hasil.
"Jelita... Di mana kamu nak. Mama yakin kalau kamu masih hidup. Sedang apa kamu saat ini. dan dengan siapa kamu hidup" miana yang sedang merenung di ruang kerjanya pun bergumam sendiri. Iya sangat merindukan Putri kecilnya.
" Maafkan Mama yang begitu egois mengajakmu pergi ke tempat yang akan membuatmu kecelakaan seperti ini. Maafkan Mama sayang" miana masih terus menyalahkan dirinya sendiri. Dia merasa bahwa penyebab hilangnya Jelita adalah dirinya.
" Parlan kemarilah" setelah panggilan telepon diangkat, Iya menyuruh Parlan untuk masuk ke ruang kerjanya.
Tok tok tok
Parlan mengetuk pintu tempat kerja Miana.
"Masuklah" setelah mendengar ketukan dari luar, miana menyuruh Parlan untuk segera masuk.
" Ada apa Miana? " setelah duduk di kursi di depan Miana, Parlan bertanya ada apa Miana memanggilnya.
" Apa belum ada info tentang Jelita? " Miana kembali bertanya tentang putrinya yang sampai saat ini belum ada kabar sama sekali.
__ADS_1
" bahkan sampai saat ini, mereka belum menemukan tanda-tanda di mana Jelita berada." Parlan menyampaikan hal ini dengan berat hati.
" Sudah dua minggu Parlan, tapi tidak ada kabar sama sekali tentang Jelita. Aku merasa kalau Jelita masih hidup. Yang aku khawatirkan, bagaimana ia bisa bertahan hidup seorang diri" Miana benar-benar merasa khawatir tentang keadaan Putri bungsunya itu.
"Miana, Semua orang pasti akan merasa khawatir tentang keadaan seorang anak kecil yang hidup sendirian tanpa orang-orang di sekitarnya. tapi kamu masih akan tetap percaya kalau Jelita pasti akan selamat. kamu percaya kan, kalau Tuhan pasti akan selalu melindungi Jelita mu itu" Parlan sedikit berbicara untuk sekedar menenangkan hati Miana. yang ia lihat, selama hilangnya jelita, Miana sering murung memikirkan sang anak.
"Aku yakin dan percaya jika Jelita akan selamat. Dia pasti akan kembali" Miana meyakinkan diri sendiri.
"Tolong tambah lagi kru untuk mencari Jelita. Supaya lebih cepat di temukan" Ucap Miana.
"Baik... Untuk kebaikan semuanya. Aku akan segera menambah tim pencarian untuk Jelita" Parlan selalu siap dengan apa yang di katakan oleh Miana.
Pov Jelita.
" Iya cah ayu, Mbok masih ngambil lauk." jawab Mbok Darmi sembari memegang satu mangkok lauk yang tadi ia masak. Hidup di desa terpencil membuat Mbok Darmi tidak bisa menikmati hidup dengan makanan enak. Iya hanya bisa makan seadanya dari hasil kebun. Kalau untuk makanan yang mengandung protein seperti daging dan telur, Mbok Darmi lebih mudah untuk mendapatkannya karena ia memiliki ternak ayam. Banyak ayam dan telur yang bisa ia kelola untuk dimasak. Dan selama Jelita ada di sana, Mbok Mbok Darmi selalu menyembelih ayam dan juga mengambil telur bebek serta telur ayam yang diinginkan oleh Jelita. Mbok Darmi benar-benar ingin membuat Jelita nyaman berada di rumahnya.
" Mbok masak apa toh hari ini? " cerita yang terlihat begitu polos sangat senang ketika Mbok Darmi datang dengan membawa satu mangkok sayuran.
" Ini sayur bobor Nduk. Ada Bayam sama pepaya" sambil meletakkan mangkok yang berisi sayuran tersebut, Mbok Darmi memberitahu kepada Jelita. Dan mereka pun menyantap makanan yang telah dipersiapkannya sejak tadi.
" Mbok kenapa sih kalau masak tuh enak banget. Mama tuh juga bisa masak kayak gini. Tapi kalau masakan Mbak jauh lebih enak dari Masakan mama" sambil makan Ia pun menceritakan tentang mamanya.
" Jelita apa kangen sama mamanya? " tanya Mbok Darmi.
__ADS_1
" Jelita kangen banget mbok sama mama. Tapi kan kalau belum sembuh kita nggak bisa jalan jauh. Jadi Jelita harus sembuh dulu untuk bisa pulang ke Mama" gadis kecil itu menuruti apapun yang dikatakan oleh Mbok Darmi. Ia ingin segera sembuh dan bisa menemui mamanya.
" Nanti kalau misalnya Jelita udah pulang menemui mama, Mbok Darmi ikut sama Jelita saja ya. Jelita kasihan kalau lihat Mbok Darmi tinggal di rumah seperti ini. Kalau di rumah Jelita, nanti Mbok Darmi bisa nyaman" Jelita dengan polosnya mengajak wanita yang sudah dianggapnya sebagai ibu itu untuk tinggal bersama nanti ketika ia sudah sembuh dan kembali.
"Memangnya rumah Jelita ada di mana? " tanya Mbok Darmi Yang penasaran karena selama ini Jelita belum pernah menyebutkan Di mana rumahnya berada.
" Rumah Jelita ada di kota Mbok Darmi. Kalau saja, Misalnya Mbok Darmi punya HP untuk Jelita bisa menghubungi Mama, Jelita Pasti akan dijemput sama Mama ke sini. tapi karena Mbok Darmi tidak punya HP. Jelita harus bersabar menunggu sampai kaki Jelita benar-benar sembuh" Jelita mengatakan hal tersebut yang membuat Mbok Darmi benar-benar terenyuh.
" Nanti kalau sudah ketemu sama mama, Jelita bakal minta Mama untuk membelikan Mbok Darmi HP supaya kita bisa tetap berkomunikasi. Tapi Jelita tetap berharap kalau Mbok Darmi mau tinggal sama Jelita dan mama dan juga Kakak" Mbok Darmi menangis terharu. Bagaimana mungkin seorang anak kecil mampu mengatakan hal yang membuat hatinya benar-benar menghangat. Selama ini karena Mbok Darmi tinggal sendirian, Iya tidak pernah merasakan kehangatan dari sebuah keluarga. Terlahir dari keluarga miskin yang sedari kecil sudah menjadi yatim piatu. Dan dinikahi oleh seorang lelaki tampan Namun kedua orang tuanya tidak menyetujui. Akhirnya Mbok Darmi dan suami tinggal sendirian di sebuah terpencil yang jauh darj keramaian serta tetangga. Menempati tanah tak bertuan karena itu milik perhutani agar hidupnya tenang. Namun tak lama setelah menikah, sang suami kecelakaan di hutan dan meninggal dunia. Itulah sebabnya, Kenapa Mbok Darmi merasa takut untuk menikah lagi.
" Terima kasih ya Jelita. Mbok sudah sangat senang bisa bertemu sama kamu. Kamu mau nggak menganggap Mbak sebagai ibu atau nenekmu sendiri? " Mbok Darmi bener-bener merasa bahagia karena memiliki seorang putri cantik, walaupun itu bukan anaknya sendiri dan yang pasti Jelita hanya sementara menemaninya.
" Jelita bakal menganggap Mbok sebagai nenek Jelita sendiri. Nenek nya Jelita itu orangnya jahat mbok. Nenek Asti selalu marah-marah kepada mama dan tidak sayang kepada Jelita sama kakak. kadang aku suka iri sama anak-anak yang lain, karena kakek dan nenek mereka begitu menyayangi mereka sampai mereka bisa bermanja-manja. Tapi kalau neneknya Jelita nggak pernah kayak gitu. kecuali nenek Yanti dan kakek Heri. kalau mereka orangnya baik" Jelita menceritakan apa yang ia rasakan kepada Mbok Darmi.
" Yang sabar ya Nduk cah ayu. Anggap saja Mbok ini adalah nenekmu yang akan menyayangimu selamanya" Mbok Darmi sambil menyiapkan nasi ke mulutnya mengatakan hal tersebut kepada Jelita. Jelita pun dengan senang mengangguk Dan Tersenyum. mereka berdua segera menghabiskan makanan yang berada di piring.
"Mbok, sekarang Jelita sudah menyukai nasi singkong ini. Ternyata nasi singkong tidak kalah enak dengan nasi beras ya" Jelita dengan lahapnya memakan makanan yang berada di piring tersebut hingga habis.
" Karena di sini adanya cuma singkong cah ayu. Mbok Darmi punyanya hanya nasi singkong. Bukan nasi beras seperti di rumahmu" jawab Mbak Darmi sembari mengusap kepala jelita.
" Oh iya setelah ini nanti Mbok Darmi mau ke mana? " tanya jelita yang merasa senang tinggal di daerah terpencil tempat mereka berada saat ini.
" Nanti mbok mau mengumpulkan kayu bakar. Jelita mau ikut? " Tanya Mbok Darmi.
__ADS_1
"Ikut mbok. Jelita janji tidak akan merepotkan" Mbok Darmi mengangguk. Iya merasa bahagia karena Jelita mampu beradaptasi dengan kehidupannya yang jauh dari kata sederhana. Bahkan kekurangan.