
Dalam perjalanan mengantarkan kedua putrinya, Miana mendengar jika ponselnya berdering. Dengan sigap iya meraih ponselnya di dalam tas. Melihat nama seseorang yang kini statusnya masih menjadi suaminya. Namun terasa telah mati di hati Miana. Ada rasa sedikit kesal dan malas untuk menjawab.
"Siapa yang telepon ma? " Tanya Jelita.
"Ehhmm.. Papa yang menghubungi" Miana dengan berat hati mengatakan siapa yang menelpon. Dan disaat itu juga, sebenarnya iya berat untuk memanggil kata 'papa'. Namun Miana tidak biaa egois demi menjaga kebahagiaan anak-anaknya.
"Ngga usah di angkat ma, aku malas sama papa. Papa ngga mau nyuruh om Parlan pulang buat ketemu sama dedek gemes" Jelita yang masih merasa kesal menjawab berbicara dengan suara ketus.
"Jelita... Dara. Mama Tanya boleh? " Ucap Miana dengan mengelus rambit kedua putrinya. Dan mereka berdua pun mengangguk.
"Papa kerja untuk siapa? Kalau papa sibuk seharusnya kita mengerti dan memahami kondisi serta situasinya. Jangan merasa atau berfikir kalau papa dan mama tidak menyayangi kalian hanya karena tidak menuruti keinginan kalian. Kalian tahu kan papa sibuk bekerja. Dan pastinya papa membutuhkan om Parlan untuk mengantar kemanapun. Paham sayang? " Miana tetap memberikan pelajaran terbaik untuk anak-anaknya disaat dirinya disakiti dengan sadis.
"Paham ma... Maafkan kita" Kedua anak itupun mengerti setelah Miana memberikan penjelasan.
"Kan ada mama. Bagaimana pun juga. Papa bekerja untuk kita. Dan kalau kita mau bersenang-senang, tinggal izin sama papa. ngerti kan? " Miana tersenyum dengan berucapbsedemikian rupa. Senyum pun terukir kembali di bibir kedua putrinya. Mereka paham apa yang di lakukan orang tuanya adalah untuk mereka.
Pov Tiyo dan Tika.
"Begitu panggilannya tak di jawab oleh Miana, Tiyo segera melanjutkan sarapan. Setelah sarapan, mereka ingin berjalan keluar. Namun sekali lagi Tiyo tidak ingin Miana curiga.
"Bagaimana kalau kita ke Vila saja. Kita kesana supaya tidak ada yang tahu" Tiyo mengungkapkan rencananya. Rencana yang amat bagus, namun begitu menyesatkan.
__ADS_1
"Aku setuju. Bosan juga seharian di kamar hotel. Apalagi kita ngga bisa leluasa keluar. Karena masih ada perempuan kampungan itu" Kalin inni Tika mengatakan tanpa rasa sungkan.
"Sebenarnya aku juga malas lama-lama berada di sisinya. Sikapnya yang begitu monoton membuat aku merasa muak. Lebih baik kita bersenang-senang saja" Tiyo pun mengatakan rasa malasnya kepada sang istri di rumah. Padahal yang terjadi sesungguhnya adalah kenyataan bahwa meskipun saudara kandung, antara Atika dan Miana terdapat banyak sekali perbedaan. Mulai dari ciri fisik sampai dengan sikap dan sifat. Namun entah karena apa Tiyo mampu berpaling. Mungkin karena Tika pandai bersolek diri . Sedangkan Miana, tanpa bersolek pun cantik natural sudah menjadi ciri khasnya. Atika yang memiliki rambut ikal lebih ke keriting, bibir sedikit lancip dan muka yang terlihat judes. Sedangkan Miana, terlahir dengan rambut hitam lurus, bibir sexy serta wajah yang enak dipandang serta tidak membosankan. Keduanya terlihat seperti bukan kakak adik.
"Kamu tenang saja... Tante Aya siap membantu kita. Dia akan melakukan apapun supaya kita bisa bersatu. Dan menyingkirkan Miana pembawa sial itu" Tika mengatakan dengan penuh kebencian.
"Apa om Roni tahu tentang semua ini? " Tiyo takut jika semua diketahui selain tante aya dan Parlan.
"Tenang saja, tante Aya sama om Roni berada di pihak kita. Mereka akan membantu rencana kita berjalan mulus"Tika membisikkan kata-kata tersebut tepat di dekat telinga Tiyo. Membuat Tiyo menyinggingkan senyum kemenangan.
"Kalau begitu, kita harus bersenang-senang. Semakin banyak yang berpihak kepada kita, semakin lancar apa yang akan kita rencanakan" Tiyo tersenyum puas.
"Kamu tahu... Bahkan ibu pun sepertinya juga berpihak kepada kita. Aku bisa melihat bagaimana ibu selalu membelaku daripada Miana. Sedangkan si tua bangka itu, meskipun bukan ayah kandung kami. Dia tidak pernah pilih kasih antara aku, Miana sama kak Wendi. Dia sangat menyayangi kami bertiga. Kamu paham kan sayang apa maksudku? " Kini Atika mulai lebih mendramatisir keadaan.
"Benar sekali. Ayah tidak akan tinggal diam kalau sampai tahu aku menyakiti anak tiri kesayangannya itu" Atika berkata semakin tidak suka kepada Miana.
"Dan kamu baru saja memanggil ayah dengan sebutan tua bangka. kenapa kamu tidak suka kepada ayah. Padahal ayah selalu baik kepada kita semua" Tiyo mengerutkan keningnya heran.
"Apa kamu sedang membujukku supaya aku bisa lebih hormat kepada ayah yang sudah tua dan tidak berguna itu? Kalau disuruh memilih, aku akan lebih mengedepankan kamu daripada ayah yang sudah setulus hati menyayangiku" Atika berkata dengan ketus.
"Sadar ya kamu kalau ayah tulus menyayangimu? " Tiyo mencolek dagu Tika den mulai menggodanya.
__ADS_1
"Tidak ada yang tidak mungkin. Dulu aku menyukai tua bangka itu sewaktu diriku masih terlalu bodoh. Menganggapnya ayahku sendiri.bTapi melihat keadilan di antara hati dan jiwanya. Aku merasa tidak bisa berbuat apa-apa. Apalagi saat melihat kamu dan Miana yang begitu menikmati hidup sebagai orang sukses. Membuat aku ingin memilikimu" Tia berkata dengan jujur.
"Sekarang kamu sudah memilikiku sayang... Apalagi..." Ucapan Tiyo terhenti.
"Tapi belum sepenuhnya" Belum selesai Tiyo mengatakan. Atika sudah menyela.
"Ini yang aku suka darimu. Pantang menyerah dan yang pasti, pandai mengatur keuangan. Aku sudah muak pada Miana yang selalu menghabiskan uang bulanan yang aku kasih. Sedangkan kamu. Kamu bisa sedikit menyisihkan uang itu. Aku yakin, jika bersama Miana yang seperti itu saja bisa sukses. Bersamamu akan semakin sukses" Tiyo semakin yakin dengan wanita penggoda di depannya.
"Bukannya kamu sudah melihat sendiri kemampuannku mengelola keuangan? " Atika merasa bangga.
"Itu sudah pasti. Dan aku akan segera melakukan yang terbaik untuk hubungan ini" Tiyo pun tak kalah senangnya. Tanpa sadar, mereka ternyata saling mengharapkan akan sebuah kesempurnaan. Mereka saling pandang dan tersenyum.
Pov Miana.
"Pak, kita ke tempat pak Parlan dulu ya sepulang anak-anak dari sekolah. Tapi, sebelumnya kita harus membeli oleh-oleh untuk Devan" Miana berkata dengan lembut kepada sopir yang duduk di kursi kemudi.
"Baik nyonya" Dengan penuh santun sopir tersebut menjawab. Mobil yang ditumpangi Miana dan sopirnya melesat.
"Kita mau kemana nyonya? "Tanya sopir.
"Kita ke rumah ayah saja pak. Aku mau nunggu anak-anak disana" Miana tanpa menoleh menjawab pertanyaan sang sopir. Akhirnya mobil melaju dengan kecepatan tenang. Membuat Miana kembali melamun. Tanpa di sadari air matanya kembali menetes.
__ADS_1
"Sungguh... Kenapa terasa semenyakitkan ini. Kenapa nasib baik belum berpihak kepadaku" Dalam hati Miana berkata. Hingga tiba-tiba, mobil yang iya tumpangi menginjak rem dengan mendadak. Membuat Miana mengusap kenongnya karena terbentur kursi di depannya.
"Maaf nyonya, it ada yang berlari saat lampu sudah hijau. Hampir saja menabrak nyonya" Sopir itu merasa bersalah. Miana yang penasaran pun segera memperhatikan ke depan mobil. Dan betapa terkejutnya iya ketika melihat siapa yang menyebrang jalan dengan tidak hati-hati.