
Prasetyo masih terdiam dalam posisinya. Sedangkan Atika memungut sebuah foto yang di lemparkan oleh Awan tadi.
"Apa? " Atika merasa syok dengan apa yang di lihat di tangannya. Sebuah foto pernikahan sederhana dirinya dengan Prasetyo.
"Mereka sudah tahu semuanya Tiyo" Atika berlari ke arah Prasetyo.
"Apa yang harus kita lakukan? " Prasetyo bertanya dengan tatapan kosong.
"Kita harus segera kesana menjelaskan semuanya. Kita harus mengatakan kalau kita benar-benar saling mencintai satu sama lain" Ucap Atika tetap ingin beralasan seperti yang di dalam fikirannya.
"Kamu mau cari mati? " Pertanyaan Prasetyo membuat Atika membulatkan matanya.
"Apa alasan kita terlalu sederhana? " Atika semakin terlihat bodoh dengan pertanyaan yang baru saja iya tanyakan.
"Kita bukan anak kecil lagi Tika. Yang bisa beralasan saling mencintai lalu mereka semua akan memberikan restunya kepada kita. Keadaan saat ini sangat sulit" Prasetyo tetap pada tatapan yang lurus ke depan.
"Lalu... ? "
"Hanya ada satu cara..." Ungkap Prasetyo.
'Tok tok tok' Tika Dan Tiyo saling pandang. Sebelum akhirnya iya memandang ke arah pintu. Ternyata Hendra yang datang.
"Maaf tuan" Hendra membungkuk saat tahu Prasetyo bersama seorang wanita.
"Masuklah! " Ucap Prasetyo. Miana segera membalik foto yang din pegangnya.
"Maaf tuan jika saya menganggu. Tapi teman saya ini datang kesini untuk menyampaikan pesan dari orang yang akan membantu kita menyelesaikan masalah." Hendra berkata sambil menunjuk seseorang yang baru masuk.
__ADS_1
"Katakan apa yang kamu inginkan? " Prasetyo tak ingin membuang waktu lama-lama.
"Langsung saja ke intinya tuan. Teman saya menyanggupi untuk menyelesaikan masalah yang terjadi di perusahaan tuan. Dan persyaratannya adalah sudah di sampaikan oleh teman saya, Hendra. Tapi sebelumnya, orang itu berpesan. Dia akan menyelesaikan permasalahan ini terlebih dahulu. Setelah selesai dan seluruh system telah normal, iya meminta anda untuk menandatangani dokument ini. Tapi jika anda berbohong, iya tidak segan-segan untuk menghancurkan semua perusahaan milik anda. Hanya itu yang bisa saya sampaikan. Jadi jika ada hal yang kurang berkenan di hati tuan Prasetyo Nugraha, saya mohon maaf" Ucap lelaki yang menyebut dirinya adalah teman dari Hendra. Direktur staf IT.
"Apa teman mu bisa di percaya? " Tanya Prasetyo.
"Saya yakin tuan, Arlando bukan orang sembarangan. Dia pasti akan menyelesaikan semuanya dengan baik" Ucapnya kembali meyakinkan Prasetyo.
"Baiklah... Suruhlah dia bekerja terlebih dahulu. Oh iyaa, tadi siapa namanya? Arlando? " Prasetyo kembali bertanya.
"Benar tuan, namanya adalah Arlando Davian. Dia adalah seorang peretas kelas dunia yang banyak di elu-elukan oleh banyak peretas karena kehebatannya" Penjelasan lelaki itu membuat Prasetyo menganggukkan kepala.
"Baiklah... Sekarang suruh dia untuk bekerja. Jangan sampai membuat saya kecewa"Prastyo mengancam. Maka tanpa menunggu lama, Lelaki itu menghubungi lelaki bernama Arlando Davian untuk menjelaskan.
"Baik.. Akan saya sampaikan" Ucap lelaki itu. Dan seketika ponselnya kembali mati.
Hampir 10 menit menunggu. Prasetyo benar-benar ingin melihat kehebatan orang yang bernama Arlando Davian itu. Hingga akhirnya, Sebuah panggilan masuk ke ponselnya. Dengan segera iya mengangkat panggilan dari nomor yang tak di kenalnya itu.
"Sekarang tanda tangani dokumen yang ada di depanmu itu. Kalau sampai kamu berbohong, aku tidak akan segan-segan menghancurkan perusahaanmu" Ucap seorang dari sebrang telepon.
"Ini siapa? " Tanya Prasetyo kebingungan.
"Arlando" Jawabnya tegas. Prasetyo menoleh ke arah Hendra.
"Hendra, cepat periksa seluruh system di kantor cabang. Apa benar Arlando telah menyelesaikan tugasnya" Perintah Prasetyo.
Hampir 7 menit Hendra menghubungi kantor cabang untuk memastikan Apakah yang dikatakan oleh lelaki yang bernama Arlando tersebut benar-benar terjadi.
__ADS_1
" Tuan Prasetyo, apa yang dikatakan oleh Arlando benar-benar terjadi. Dia telah menyelesaikan seluruh masalah yang terjadi di kantor cabang" Hendra menyampaikan apa yang dikatakan oleh staff IT di kantor cabang. Prasetyo pun terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Hendra. Dia menoleh ke arah lelaki yang menjadi teman Hendra tersebut.
" Saya sudah mengatakan kepada tuan, kalau Arlando bukan orang sembarangan. Dia adalah seorang peretas terbina. siapapun yang membuat hatinya kesal, maka ia akan membinasakannya. Tidak pandang bulu siapapun orang tersebut" Prasetyo mendengarkan dengan seksama.
" Kalian tidak berencana menipuku kan? " Prasetyo masih merasa ragu-ragu untuk menandatangani dokumen surat perjanjian di depannya itu. Hingga akhirnya ia mengajukan pertanyaan seperti itu.
" Anda tidak usah khawatir Tuan Prasetyo. Arlando bukan orang rendahan yang akan mengingkari janjinya" mendengar apa yang dikatakan orang itu, Prasetyo percaya begitu saja. akhirnya dengan berat hati ia menandatangani dokumen tersebut.
" Karena imbalan yang saya berikan tidak cuma-cuma. Tolong katakan kepada temanmu itu, semua ini harus ada garansinya" Prasetyo pun mengeluarkan satu lembar surat perjanjian yang telah dibuatnya tadi pagi dengan menyuruh sekretarisnya.
" Baik tuan saya akan menyampaikan kepada Arlando"
" Kalau begitu, dokumen perjanjian ini saya tinggal di sini dulu untuk menemui Arlando. Nanti kalau dia setuju dengan semuanya, saya akan kembali lagi untuk menukarkan dokumen ini. Saya permisi dulu dan saya mengambil ini" teman Hendra pun keluar setelah mendapatkan satu lembar surat perjanjian dari Prasetyo yang dimasukkan ke dalam stopmap berwarna hijau tersebut. Hendra pun setelah berpamitan untuk undur diri dari Prasetyo, Iya segera mengikuti temannya yang keluar dari ruangan tersebut.
Pov Miana.
" Ayah aku tidak mau bertemu dengan Prasetyo...Hiks hiks hiks hiks. Aku merasa jijik melihatnya. Tolong Ayah bawa aku pergi dari sini" Miana benar-benar berada di titik terlemahnya. Bahkan untuk membuka matanya itu, ya merasa begitu berat.
" Istighfar Miana. Ingat masih ada anak-anak yang kamu miliki. Kamu tidak sendirian. Ada Ayah dan ibu serta Awan. Kedua anakmu yang saat ini sangat membutuhkanmu. Jangan lemah" Tuan Heri memberikan nasehat kepada putrinya.
" Parlan tolong Kamu dijemput Dara dan Jelita ya. Jam berapa mereka pulang? " Tuan Heri berkata kepada Parlan yang saat ini masih menunggu Miana di dalam kamarnya.
" Biasanya jam 12.00 lebih Tuan pulangnya. Nanti biar saya yang menjemput mereka saja. Keadaan Miana benar-benar tidak memungkinkan untuk menjemput anak-anak ke sekolah" Parlan begitu mengerti Bagaimana keadaan Miana saat ini.
" Miana kamu dengarkan? Kamu harus kuat demi anak-anak kamu. Anak-anak kamu begitu membutuhkanmu. Kalau kamu tidak rela anak-anak diasuh oleh Atika. Kamu harus bangkit. Anggaplah Rasa sakitmu Ini sebagai pembelajaran untuk kedepannya. Jangan membuang-buang air matamu hanya untuk lelaki yang tidak tahu diri" Tuan Heri benar-benar kehabisan akal untuk memberitahu Miana. Sesaat kemudian ia teringat sesuatu. ya langsung bangkit dan mencari di mana ponselnya berada. Dan disaat sudah mendapatkannya, Tuan Heri langsung menghubungi seseorang.
" Pastikan tidak ada yang tersisa. Urus semuanya dengan baik" panggilan terakhir Ketika tuan Heri mengakhirinya. Iya Pun kembali ke arah Miana yang kini terbaring lemah.
__ADS_1