
Parlan yang mendapat telepon dari Dara dan Jelita segera masuk ke dalam rumah miana. Iya tidak peduli, tanpa permisi Ia pun langsung masuk. Dilihatnya Miana yang berjalan terlebih dahulu di depan mertuanya.
" Apa maksud ayah sama ibu melakukan hal seperti itu kepada saya? " perkataan miana didengar oleh Parlan.
" Kamu jangan pura-pura tidak tahu ya. Kamu kan yang menyuruh seseorang untuk menghancurkan perusahaan cabang yang ayah pegang? " Tuan Adi langsung mengatakan tujuannya.
" Lebih baik kamu mengakui saja semuanya. Sebelum..." perkataan bu Asti terpotong oleh bantahan Miana.
"Sebelum anda membuat hidup saya dan anak-anak menderita? " Miana dengan berani menentang apa yang dikatakan dua orang paruh baya itu.
" Kamu ya...! " rasa jengkel sekaligus marah langsung muncul di hati bu Asti.
" Lebih baik anda berpikir dua kali sebelum melakukan hal bodoh seperti ini" ucap Miana tak mau mengalah.
" Beraninya kamu mengucapkan hal seperti itu pada kami. Kamu pikir kamu siapa? " bu Asti dengan geram mengatakan.
" Anda lupa siapa saya? Anda benar-benar tidak tahu bahwa saya ini adalah nyonya Prasetyo" jawab Miana dengan santainya.
" Berani kamu ya mengatakan hal seperti ini. Kamu mau mencari masalah? " Bu Asti mengangkat kedua tangannya siap untuk menampar Miana. Saat tangan itu sudah melayang, tangan Miana dengan sigap menangkapnya.
" Berani Anda menyentuh saya sedikitpun, saya pastikan tangan anda akan patah saat ini juga" Miana menjatuhkan tangan ibu mertua yang hampir menamparnya. Sesuai dengan tekadnya dalam hati, tidak mau diinjak-injak kembali.
" Tidak sopan kamu ya kepada orang tua" Tuan Adi yang melihat kejadian itu membentak menantunya.
" Kalau anda tidak ingin hal seperti ini terjadi, seharusnya anda bisa mendidik istri anda dengan baik. Oh ya saya lupa, jangankan untuk mendidik istri anda, anda sendiri pun pasti belum pernah belajar tentang bagaimana cara menghargai" ucapan Miana semakin terdengar berani.
" Kalau anda bisa menghargai kepada sesama, tidak mungkin hal salag seperti ini akan terjadi. Sebagai seorang yang berpendidikan, anda seharusnya tahu bagaimana cara mengetahui informasi yang akurat dan tidak" Miana masih tetap berdiri. Iya tetap ingin menjaga kewarasan di hatinya.
__ADS_1
" Saya sudah bilang berkali-kali. Saya tidak takut dengan ancaman Anda berdua. Saya juga tidak merasa bersalah dalam hal ini sedikit pun. Tapi kalau anda sudah melewati batas dalam menuduh saya yang yang bukan-bukan, maka saya akan memastikan anda berdua akan menyesali semua keputusan ini " kedua mertua Miana yang saat ini berdiri hanya diam mematung.
" Pastikan semua informasi yang kalian dapatkan dapat dipercaya. Karena bagaimanapun, masalah sebesar ini tidak boleh kalian dengar hanya dari satu sisi" Miana masih meneruskan kalimatnya. Namun apa yang dikatakan mampu membungkam Ibu Asti yang terlihat berapi-api serta Tuan Adi.
" Pastikan semua kebenaran sudah anda ketahui dan seluruh bukti sudah ada kantongi kalau kalian tidak ingin salah dalam langkah untuk menuduh orang lain. Bisa saja aku mengajari anak-anak untuk membenci sikap kalian yang terlalu bodoh itu. Namun hal itu tidak akan pernah terjadi. Saya masih menghormati Anda sebagai orang tua dari suami saya. Jadi jika di lain waktu saya mengetahui Anda berdua melakukan hal seperti ini lagi, maka aku bisa berbuat yang lebih dari ini" selesai mengucapkan kalimat peringatan itu, Miana pergi meninggalkan kedua mertuanya yang berada di ruang tamu.
"Berani kamu berbuat tidak baik kepada mertuamu Miana. Aku akan melaporkan semua hal ini kepada Prasetyo, biar dia menceraikan kamu dengan tidak terhormat" Teriak Bu Asti seperti kesetanan.
"Lakukan saja sesuka anda apa yang ingin anda lakukan nyonya Asti. Bahkan saya tidak takut dengan semua ancaman anda" Saat Miana berjalan sudah hampir menjauh, tiba-tiba iya berhenti karena mendengar perkataan itu. Dan sikap acuh tak acuh Miana membuat kedua mertuanya bertambah kesal. Mereka jadi semakin membenci Miana karena sebab yang tidak jelas itu.
Pov Prasetyo.
"Selamat siang tuan" Direktur Staf IT yang bernama amdre itu masuk ke ruangan Prasetyo.
"Bagaimana? " Tanya Prasetyo seakan ada harapan baru. Andre pun langsung duduk di atas kursi yang berada di depan Prasetyo.
"Tapi... Teman saya itu punya teman yang paham. Saat dia bertanya, ternyata dia menyanggupi." Ucap Andre dengan rasa takut.
"Lalu? " Prasetyo masih dengan sabar menanti kata-kata selajutnya dari karyawannya tersebut.
"Teman saya bilang, orang itu mau membantu... Asalkan... Asalkan anu tuan" Amdre merasa tidak enak untuk mengatakan.
"Asalkan apa? Bicaralah yang jelas" ucap Prasetyo dengan tegas.
"Dia meminta imbalan yang tidak sedikit. Permintaannya tidak main-main tuan" Kata Andre dengan takut-takut.
"Apa yang dia mau? " Tanya Prasetyo.
__ADS_1
"Anu... Dia mau ehhmmm..."
"Apa? " Bentak Prasetyo yang tidak sabar untuk mengetahui apa yang diminta orang tersebut
" dia minta separuh saham dari perusahaan Itu tuan" Andre langsung menunduk setelah mengatakannya.
"Apa dia gila? " Ucap Prasetyo.
" maka dari itu. Sebenarnya saya tidak ingin menyampaikan hal ini. Tapi berhubung kemarin Tuan mengatakan hal itu, saya jadi bergerak untuk mengatakannya kepada anda" antri dengan sedikit rasa takut menjelaskan.
" Nanti aku pikirkan kembali. Kembalilah kamu ke ruanganmu sendiri." Prasetyo terlihat begitu lesu. Andre pun akhirnya mundir dengan perlahan.
"Andre..." Panggil prasetyo kembali saat dia akan membuka pintu ruangan tersebut.
"Iya tuan" Andre pun menjawab sambil menoleh kembali ke belakang.
" Kamu berbuatlah sesuatu! Kalau kamu bisa mengatasi semua masalah ini, aku akan memberikan hadiah besar untukmu" perkataan Prasetyo membuat Andre menjadi Bimbang. Di satu sisi Iya tidak percaya diri untuk bisa melakukan pekerjaan seperti ini. Dan di sisi lain ia tergiur dengan tawaran yang diberikan oleh bosnya tersebut.
" Baiklah tuan, saya akan berbuat sesuatu untuk membuat sistem tersebut kembali normal. Namun jika saya tidak berhasil, Anda harus memakluminya" yang disampaikan oleh Andre adalah sebuah pernyataan ragu-ragu. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Kecuali mengiyakan Apa yang diperintahkan oleh Prasetyo.
" Baiklah... lakukan sebisamu dan semaksimal mungkin. Kalau kamu bisa berhasil aku akan memberikan hadiah besar dalam hidupmu" Prasetyo mencoba untuk mencari hal termudah terlebih dahulu.
Setelah Andre keluar dari ruangannya, Prasetyo menyandarkan punggungnya di kursi. Iya memejamkan matanya sambil memikirkan sesuatu.
" Setengah dari saham perusahaan cabang bukan sesuatu yang sedikit. Kenapa harus meminta separuh dari saham perusahaan sih. Tapi kalau perusahaan itu tidak selamat, maka aku akan kehilangan salah satu sumber penghasilanku. Tapi di sisi lain, aku hanya akan memperkaya orang lain... Hufffttt, aku harus bagaimana? " Prasetyo bergumam sendiri dalam ruangan itu. Iya masih sibuk memikirkan Bagaimana cara mengatasi masalah sebesar ini.
" lalu Siapa orang itu. Kenapa dia meminta imbalan setengah dari saham perusahaan? " Prasetyo masih berpikir dengan keras.
__ADS_1
" Aku akan menunggu Andre Apakah dia bisa mengusahakan yang terbaik atau tidak. Kalau tidak, aku harus mengambil keputusan lain" Prasetyo kembali menyandarkan punggungnya. Ada kegelisahan di dalam hati kehilangan dunia yang tidak seberapa. namun ia tidak takut kehilangan istri dan anak-anaknya di saat ia melakukan hal-hal buruk terhadap keluarganya. Mungkin Prasetyo benar-benar dibutakan oleh cinta dunia. Hingga Ia lupa bahwa akhirnya kita semua hanya akan kembali kepada Sang Pemberi yang abadi.